jaka sembung di jalan tol

Kenapa ya kebijakan pelayan publik(*) kita selalu seperti ini? Lihatlah kebijakan yang baru-baru ini dtelorkan: menaikkan tarif tol.

Gue dalam posisi abstain untuk yang satu ini. Pertama, gue bukan pengguna kendaraan pribadi dan bukan pengguna tol. Kedua, gue merasa belum perlu ikut memikirkan nasib kaum menengah-atas-terpelajar-mapan yang terganggu kenyamanannya (dan kenyamanan bukanlah kebutuhan primer) dengan kebijakan pemerintah ini. He..he..he.. sori de mori stroberi… Ketiga, mungkin ini shock terapi yang bagus untuk kaum menengah-atas-terpelajar-mapan untuk juga mau sedikit menoleh ke soal-soal kebijakan publik yang sudah amat sering sekali merugikan kelompok survivor –suatu ranah yang amat sangat jarang mereka pedulikan. Who knows suatu hari nanti mereka mau membagi solidaritasnya dan ikut bersuara ketika para survivors ini ditindas.

Kembali kepada kebijakan menaikkan tarif tol. Respon gue kepada pelayan publik kita: Jangan ada dusta diantara kita!!! Alasan menaikkan tarif tol untuk menurunkan kemacetan adalah satu alasan yang mengada-ada. Kenapa sih nggak terus terang aja: Pelayan publik kita ini lagi perlu duit. Entah untuk apa. Mungkin untuk persiapan para elit menjelang kampanye. Atau, ini akibat tekanan korporat investor jalan tol yang ngebet uanganya kembali, kalau perlu pakai untung. Inilah akibatnya kalau infrastruktur publik yang seharusnya lebih besar kepentingan sosialnya diserahkan kepada korporat yang profit oriented.

Kembali ke soal kemacetan. Kalau pelayan publik mau menurunkan kemacetan, batasi dong impor mobil. Batasi pemberian ijin kendaraan bermotor. Bangun sarana dan prasarana transportasi publik massal. Perbaiki kualitasnya. Jangan cuman masang penjaga banyak-banyak di pintu keluar stasiun KA yang lebih mirip preman kelakuannya (kalau ada penumpang yang ketahuan nggak punya karcis). Kebijakan macam ini kalau bisa gue bilang, ibarat ’mana yang gatal, mana yang digaruk’….’jaka sembung di jalan tol…macet!’. Mereka nggak pernah mikir berdasarkan prinsip elastisitas (terminologi ini gue jiplak dari satu suhu gue). Kalau ada yang ditekan disini, maka akan ada yang membengkak disana. Kayak balon. Mungkin kemacetan di jalan tol akan berkurang. Tapi pasti akan terjadi kemacetan di jalur normal. Itu udah hukum alam, dimana ada aksi pasti ada reaksi. 

Kondisi kemacetan Jakarta Raya menurut gue sudah berada dalam kondisi yang tidak masuk akal. Bayangkan, dua-tiga jam bermacet-macet di pagi hari dan setali tiga ember di sore atau malam hari. What kind of life is that?

Trus what can we do? Menurut gue, daripada para pengguna jalan tol itu menggugat class action atas kenaikan tariff tol, kenapa enggak sekalian menggugat pelayan publik ini karena tidak menyediakan sarana transportasi massal yang murah, aman, dan nyaman? Kalau ingin menyembuhkan penyakit, jangan obati symptom-nya (gejalanya). Obati sumber penyakitnya. Kemacetan itu menurut gue cuma gejala dari sistem transportasi yang amburadul dan tanpa planning. So, sasar sumbernya, sekalian mendorong terjadinya solusi kebijakan yang lebih baik untuk ke depan.


(*) Mulai sekarang gue akan mengganti sebutan ’pemerintah’ (yang memberi perintah) menjadi ’pelayan publik’, dalam rangka melawan hegemoni bahasa kekuasaan yang menyesatkan, yang merusak mindset kita.

1 Comment

  1. pertamax.

    good post Yaya. gue setuju kita perlu merubah paradigma disini dan bisa kita mulai dari istilah ini. gue mau melakukan hal yg sama dan merubah pemerintah menjadi pelayan publik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s