puasa dan ungu

Sudah mau puasa lagi. Padahal utang puasa gue masih bertumpuk-tumpuk. Kayaknya musti serius mikirin strategi pelunasannya, habis lebaran entar, Insya Allah kalo dikasih umur sama Yang di Atas. Entah kenapa masih belum antusias. Padahal sudah ada tanda-tanda perbaikan. Ada kemungkinan bisa ikut lebaran. Nggak kayak 4 tahun belakangan. Serasa udah lupa, kayak apa rasanya lebaran pergi ke mesjid.

Menjelang puasa tahun ini gue juga diingatkan dengan umur. Kayaknya pertobatan harus segera diniatkan dan dilaksanakan, mengingat Tuhan kalau ngasih peringatan ke gue selalu dengan sistem ‘cash-and-carry’, artinya right after gue ngelakuin kesalahan, langsung saat itu juga balasannya gue terima dengan setimpal (atau bahkan bertimpal-timpal ha..ha..ha…).

Selain itu, prinsip lain yang gue pegang adalah ‘never push your luck’. Seringkali kita mendapat keberuntungan bertubi-tubi, dan sebagai manusia yang kadang suka ngelunjak, kita kepingin mendapatkan keberuntungan terus menerus. Contohnya orang yang berjudi. Sekali-dua kali menang bukannya berhenti, malah lanjut lagi. Dan cerita akhirnya bisa ditebak. Kalah total, malah harus nombok.

Balik lagi ke peringatan Tuhan. Beberapa hari yang lalu, waktu melakukan perjalanan ke luar kota, gue terus menerus diperdengarkan lagunya Ungu yang entah apa judulnya, tapi bait pertamanya berbunyi,”Andai kutahu…kapan tiba waktuku…dst, dst.” Nggak di mobil, di restoran, di penginapan, dimana-mana. Mungkin memang lagu itu lagi nge-trend. Nggak tau juga.

Lalu dalam beberapa hari terakhir ini juga, banyak sekali terjadi kemalangan menimpa orang-orang di sekitar gue. Temannya teman gue meninggal, ibunya teman gue meninggal, bapaknya teman gue yang lain meninggal, om-nya teman gue meninggal. Lalu menyusul om-nya yang satu lagi. Ada juga sih berita baiknya. Kakak gue melahirkan anak keduanya. Memang Tuhan Maha Adil. Ada kehilangan, ada kedatangan. Ada kesedihan, ada kesenangan. Ada kemabukan, ada kesadaran. *Dzziiggghhh!*

So, peristiwa-peristiwa bertubi-tubi ini gue anggap sebagai peringatan, untuk bertobat, untuk memperbaiki yang salah-salah, untuk mencoba menjadi orang yang lebih baik –buat diri sendiri, dan terutama buat orang lain. Yah, segala sesuatu memang harus diawali dengan niat. Dan sekarang gue berdoa semoga niat yang barusan tercetus ini diberi kesempatan untuk bisa diwujudkan. Amiin.

Selamat puasa! Selamat bertobat! ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s