life is nothing but a drama

Hari ini gue menghabiskan hari dengan menyaksikan proses pembuatan film. Sudah sering gue dengar bahwa membuat film itu adalah satu proses panjang, ribet dan melelahkan. And that was exactly what I saw.

Dan malam ini atas dorongan seorang teman, gue coba menuliskan hasil refleksi gue dari apa yang gue alami hari ini. Hal pertama yang langsung terlintas adalah lagunya Ahmad Albar: Dunia ini panggung sandiwara. Hal kedua yang terlintas adalah tagline dari film the Illusionist: Nothing is what it seems. Hal ketiga adalah satu quote dari film Good Night and Good Luck: Everybody censors.

Indeed, life is nothing but a drama. It really depends on you what role you want to play. You can be the actor, or the director, or the lighting man, or the script writer…whatever. Or, you want to take the role as I (will) do: the director, and the actor, and the script writer. Small role, big role, doesn’t really matter. Just make up your mind and take it.

There is of course a general scenario, created by the Almighty. Tapi kita diberi kebebasan untuk memilih seperti apa jalan cerita yang ingin kita lalui. Mau yang lurus-lurus aja, bisa. Mau agak mengkol kesana kesini, boleh. Atau mau bikin a sudden and sharp turn every now and then? Monggo. Intinya, lakukan aja dengan sepenuh kesadaran dan keikhlasan. Life is too short to be worry. And life is too precious to be spent in an ordinary way.

Dan iya, nothing is what it seems. Lihat aja film-film yang kita saksikan. Smooth, indah, wonderful. Itu yang ditampilkan di layar. Tapi coba kita tengok apa yang ada di balik layar. Banyak perintilan yang tak kita bayangkan sebelumnya. Baru gue saksikan betapa ribetnya detail-detail yang harus diperhatikan agar wajah si artist kelihatan natural di layar kaca. Atau betapa hebohnya upaya membuat hujan yang ‘bagus’. Juga, betapa banyaknya tangan dan otak yang terlibat dalam pembuatan film.

And so does life. Tanpa kita sadari, untuk membuat kehidupan kita seperti sekarang ini (entah kita menganggap kehidupan kita sebagai sebuah sukses atau kegagalan), banyak sekali orang dan pihak-pihak lain yang berperan.

Satu lagi, everybody censors. Bayangkan, untuk membuat film berdurasi kira-kira 5 menit, temanku harus merekam adegan seharian penuh. Tentu saja adegan-adegan itu harus disensor, diedit sehingga layak tampil. Sound familiar? Yes of course. That’s how we live our life. We even do censorship to ourselves. And it’s very tiring.

Dalam kehidupan, seringkali kita menampilkan diri kita seperti yang orang lain inginkan. Atau menampilkan self image yang bukan sepenuhnya diri kita, karena “apa kata dunia” jika kita tampilkan diri kita yang sejati. Dan itu tidak sepenuhnya salah. Prinsip gue, do it consciously dan lakukan sepenuh hati.

Seperti buku Enid Blyton yang sering gue baca dulu waktu kecil: “Pilih Sendiri Petualanganmu”, jangan biarkan orang lain menentukan jalan cerita drama atau film kehidupan kita, karena kita bisa merasa tidak bertanggung jawab atasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s