parallel life

Ini semua berawal dari cerita keponakan gue siang itu. Dia bilang, bokap gue ngelihat penampakan gue memasuki halaman rumah dan langsung menuju kamar tidur tanpa ba bi bu. Padahal siang itu pada saat yang bersamaan gue masih berada di kantor.

Seperti halnya beberapa orang yang diberi privilege untuk bisa menyaksikan penampakan dunia lain, bokap juga terkadang bisa menyaksikan apa yang nggak bisa disaksikan oleh orang lain. Dan di sisi lain, gue sering dibikin duplikasinya dan dibuat penampakannya. Dulu jaman masih kuliah di Bandung, teman-teman di kos pernah ngelihat gue berkeliaran di rumah kos dan dari kamar gue terdengar suara tape –yang memang merupakan kebiasaan gue. Padahal pada saat itu gue lagi sedang pulang ke Jakarta.

Terlepas dari apa atau siapa pun itu, gue termasuk orang yang percaya ada kehidupan lain di luar kehidupan kita. Entah kehidupan makhluk yang berbeda sama sekali dengan kita, maupun makhluk yang merupakan duplikasi kita namun hidup di dunia yang berbeda –paralel dengan kehidupan kita. Jodie Foster di film Contact pernah bilang, “If God creates the whole universe only for human, what a waste”.

Yes, what a waste. Padahal kita tahu bahwa bumi kita ini hanyalah sebuah noktah kecil di tengah-tengah jagat raya tak berbatas. Dan jika Tuhan menciptakan seluruh jagat ini hanya untuk diobok-obok oleh yang namanya manusia yang hidup di muka bumi, bukan hanya itu such a waste tapi juga bisa membuat manusia jadi GR dan besar kepala. Bayangkan, the whole universe is only for us! Siapa kita gitu lhooo! Apa iya sih Tuhan segitu memanjakan kita?

Kembali ke cerita bokap tadi, seorang teman yang gue ceritain bertanya-tanya kayak apa kehidupan gue di dunia paralel tersebut. Gue juga jadi bertanya-tanya apakah di dunia paralel tersebut ada temen gue itu di dalam kehidupan gue, atau apakah dunia yang gue tinggali disana serupa dan sebangun dengan dunia yang gue tinggal saat ini.

Tapi, apapun kehidupan yang dijalani oleh duplikat gue di dunia lain, gue berharap dia juga mengalami kehidupan luar biasa seperti yang gue alami. Bertemu dan berteman dengan orang-orang luar biasa seperti yang gue temui, dan pergi ke tempat-tempat luar biasa seperti yang gue datangi. Dan above all, gue berharap dia juga bebas menentukan kehidupan seperti apa yang ingin dia jalani dan dengan siapa dia ingin ditemani menghabiskan jatah hidupnya.

1 Comment

  1. Yaya,

    Kayaknya aku juga lihat penampakanmu di tipi… Di sinetron “Lenong Betawi” wuikikikiki…

    Kalau orang jawa percaya bahwa ada orang2 tertentu, yang terpilih, yang punya teman yang kadang berfungsi sebagai pengawal juga, dari dunia lain. Itu kayaknya yang sering disebut sebagai ‘teman imajiner’ di masa kita kecil.

    Dulu kecil kau punya teman imajiner gak?
    Kalo iya, mungkin saja dia masih disekitarmu (huiiii…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s