sekali lagi busway

Lagi heboh-hebohnya isu busway di Jakarta. Busway dituduh oleh banyak pengguna jalan raya sebagai penyebab kemacetan dimana-mana. Warga di satu kawasan perumahan elit protes karena sebagian badan jalan dan jalur hijaunya akan dipotong untuk jalur busway. Belum lagi jalur baru yang diperuntukkan bagi busway ini sudah mulai rusak dan berlubang, fenomena yang sudah tidak asing lagi yang diakibatkan oleh penyelewengan spec pada saat pembangunan jalan.

Bagi saya pribadi, sebagai pengguna angkutan umum, adanya busway jelas bermananfaat.  Dari Ragunan ke Kuningan yang biasanya memakan waktu satu sampai satu setengah jam di jam-jam sibuk bisa ditempuh hanya dengan 20-30 menit saja. Memang tidak bisa dipungkiri kebijakan busway ini adalah kebijakan tambal sulam untuk ‘mengatasi’ kemacetan di Jakarta Raya. Tidak bisa dicegah juga bila banyak pihak menganggap kebijakan ini bau proyek-nya cukup keras tercium.

Saya menyebut kebijakan busway Pemda DKI sebagai unplanned plan –rencana yang tidak direncanakan, pun tidak realistis. Di satu sisi membatasi jumlah jalur jalan, namun di sisi lain tidak menerapkan kebijakan apapun untuk menghentikan influx kendaraan bermotor baru memasuki jalan-jalan di Jakarta. Tidak heran jika kemudian kendaraan bermotor luber tumplek blek tak mengenal waktu. Di Jakarta, setiap jam adalah jam sibuk dan jam macet. Bahkan sampai tengah malam.

Kalau pemerintah mau serius mengatasi kemacetan di Jakarta, sudah seharusnya ada pembatasan jumlah kendaraan pribadi. Keengganan warga ibukota untuk menggunakan transportasi publik adalah akibat pelayanannya yang amburadul, serta tidak terjaminnya keselamatan, keamanan dan kenyamanan. Pengguna transportasi publik dari golongan menengah ke bawah pun sebenarnya merasa terpaksa karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Tidak seperti golongan yang lebih mampu, mereka tidak mampu membeli kendaraan pribadi.

Kalau pemda mau lebih serius menunjukkan keberpihakan pada transportasi publik, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk ‘menebus dosa’ dari unplanned plan ini.

Pertama, seperti namanya, busway, maka jalur khusus ini seharusnya diperuntukkan bagi semua jenis bus, dan bukan hanya bus Transjakarta. Dengan demikian, pengguna transportasi publik memiliki insentif berupa waktu tempuh yang lebih cepat, dan sebaliknya pengguna kendaraan pribadi mendapat disinsentif harus mengalami kemacetan, sulit mencari parkir, dll.

Kedua, untuk meningkatkan insentif bagi pengguna transportasi publik, pemda bisa melakukan gerakan peremajaan bus-bus kota yang sudah tua renta dan menyebabkan polusi berat, menjadi bus-bus yang secara fisik lebih manusiawi. Kemudahan kredit harus diberikan kepada pengusaha dan koperasi angkutan. Bus-bus lama diwajibkan untuk didaur ulang. Lalu, industri perakitan kendaraan bermotor diwajibkan untuk menggunakan materi daur ulang sehingga industri daur ulang memiliki pasar dan bisa berkembang. Hal ini juga dapat mendorong penghematan bahan mentah (raw material).

Ketiga, tentu saja dengan meningkatkan pengawasan di jalan. Sediakan petugas di setiap halte dan beberapa jalur rawan penumpukan kendaraan, sehingga supir-supir bus yang bandel bisa ditegur untuk tidak berhenti berlama-lama. Penggunaan busway secara meluas juga akan menjadi pendidikan bagi warga untuk lebih tertib. Paling tidak warga mau tidak mau harus berjalan ke halte untuk naik kendaraan umum dan tidak menghentikan bus di sembarang tempat. Ini juga dapat mengurangi kemacetan dan clogging di perempatan-perempatan jalan. Tentu saja, konsekuensinya, halte harus diperbanyak. Jarak antara halte satu dengan yang lain haruslah walkable dan tidak terlalu jauh.

K alau gubernur DKI yang baru memang serius berpihak pada pengguna transportasi publik dan bukan hanya melontarkan basa-basi, maka jalur bus atau busway haruslah menjadi inklusif dan tidak hanya diperuntukkan bagi bus Transjakarta. Kalau tidak, maka boleh lah masyarakat menuduh proyek busway pemda hanyalah sekedar proyek belaka, yang –seperti biasa– merupakan sumber ‘pemasukan’ beberapa gelintir oknum pemda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s