climate circus is over, what’s next?

bali unfccc
Bulan Desember ini dipenuhi kehebohan jagat dengan berlangsungnya konferensi bangsa-bangsa yang mencoba mengatasi suatu fenomena yang dinamakan pemanasan global dan perubahan iklim. Indonesia mengambil bagian cukup besar dalam kehebohan ini karena kebetulan pertemuan bangsa-bangsa itu diselenggarakan di Bali, tropical island of gods. Sejak awal tahun pemerintah Indonesia sudah sibuk mempersiapkan diri jadi event organizer –mulai dari menyiapkan tempat hajatan, menyusun kepanitiaan, menulis laporan-laporan dan paper-paper yang harusnya sudah ditulis bertahun-tahun yang lalu, sampai membuat proyek-proyek kecil sebagai showcases bahwa pemerintah Indonesia juga berbuat sesuatu untuk mengatasi pemanasan global.
Sebenarnya, gue adalah orang yang tidak sepenuhnya percaya bahwa konferensi-konferensi macam ini bisa benar-benar membuat perubahan, atau dalam hal ini, bisa benar-benar membuat konsentrasi gas rumah kaca, yang dianggap biang pemanasan global itu, menurun. Tapi gue masih percaya bahwa jalan ini perlu dilalui otherwise pihak-pihak yang sudah berdosa menimbulkan bencana bagi the rest of the world –yang miskin, rawan bencana dan hidup terseok-seok ini– bisa berlenggang kangkung tidak mau bertanggung jawab.

Emisi historis negara-negara industri (yang saat ini udah menikmati kenyamanan akibat memerah habis sumberdaya negara-negara ‘the rest of the world’) sejak masa revolusi industri lah yang jadi biang keladi kemungkinan suramnya masa depan 80% populasi dunia. Oleh karenanya mereka musti bertanggung jawab. Terlepas dari ketidaksempurnaan dan kekurangefektifan institusi macam PBB, gue masih berpikir dunia masih memerlukan institusi multilateral semacam ini sebagai tempat pelampiasan, kalu tidak mau dunia lebih didominasi dan dikuasai lagi oleh pihak-pihak yang menginginkan unilateralisme, dimana yang kuat, yang punya uang, yang akan menguasai dunia. PBB menurut gue adalah the last frontier untuk yang namanya sistem demokrasi global, dimana the power of the many masih memiliki tempat (walaupun tidak secara keseluruhan).

Dan dua minggu menyaksikan circus ini sungguh bukanlah pengalaman yang menyenangkan, apalagi mencerahkan. Disana dipertontonkan secara telanjang bagaimana kekuatan dunia –the super powers, bermain-main dengan yang namanya nasib milyaran populasi dunia lainnya. Negara-negara miskin dan berkembang harus mengalah dan berkompromi atau dalam bahasa negosiasi mereka “menghormati prinsip-prinsip fleksibilitas dan konsensus” demi kesuksesan hajatan yang berkeinginan menghasilkan suatu peta jalan (roadmap) bagi kondisi lingkungan global yang lebih baik.

Belum lagi, sebagai tuan rumah, Indonesia ternyata menghadapi situasi ‘air susu dibalas air tuba’. Negara-negara maju yang sudah dikasih hati ternyata tega-teganya menunjukkan keinginan mereka menggagalkan pertemuan yang notabene bagi pemerintah Indonesia adalah hal yang cukup memalukan. Apa kata dunia???

Belum lagi harapan-harapan kosong dan mimpi-mimpi yang tak terkabul bahwa negara-negara maju itu akan mengucurkan dana bagi negara-negara berkembang. Ternyata, negara-negara maju itu pergi pelesir ke Bali tapi lupa membawa dompetnya. Sedih ya?

Dua minggu yang gue habiskan di Bali berusaha untuk memengkolkan sedikiiiit saja gagang kemudi ke arah Utara kompas keadilan global cuma menghasilkan rasa frustrasi dan kekecewaan. Belum lagi harus menyaksikan kurangnya sense of urgency para pemimpin negeri sendiri yang amat sangat enggan menunjukkan kepemimpinannya sebagai tuan rumah yang bermartabat (dan tidak hanya tuan rumah yang ramah tamah), yang harusnya bisa mewakili suara-suara the victims, the oppressed and the marginalized.

Terus, what’s next?

Mungkin sudah saatnya warga masyarakat mulai mencari peta jalannya sendiri-sendiri. Menunggu pemerintah hanya akan membuang waktu. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan. Mungkin terdengar simplistik atau even apatis. Tapi, apa mau dikata, the science is clear and what we need is an action. Jadi ya, lakukan saja.

3 Comments

  1. Yaya yang baik. kok nggak nambah2 catatannya. ditunggu para penggemar yang kecewa ketika buka blog eh masih yang lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s