gegar budaya

twofeet

Pernahkah mengalami berada di dua tempat pada masa yang bersamaan? Saya pernah, beberapa tahun lalu di Greenwich –lokasi nol derajatnya garis imajiner yang membelah bumi menjadi dua, barat dan timur. Satu kaki saya di belahan bumi barat, dan satu kaki lagi di belahan bumi timur.

Dalam kehidupan sehari-hari kita pun sering mengalami hal semacam itu, satu kaki di barat, dan satu kaki di timur.

Seorang teman saya bercerita bagaimana upaya seorang temannya ‘mengungsikan’ anggota keluarganya yang masih agak kolot agar dia bisa menyelenggarakan pesta yang sophisticated a la city sleekers. Atau cerita adik saya tentang temannya yang bergaya hidup metropolitan di luaran namun harus berlagak alim ketika di rumah.

Mungkin masa ini adalah masa transisi. Lihat saja cerita Nagabonar Jadi Dua. Nilai-nilai atau moral yang menjadi kesepakatan di masa lalu belum tentu menjadi kesepakatan di masa kini. Budaya pop dan paparan media yang bertubi-tubi dan tanpa sekat pun ikut mempengaruhi pergeseran nilai-nilai yang bergerak dinamis menuju suatu kesetimbangan baru.

Sayangnya pergeseran nilai tersebut terbatas di nilai-nilai yang superficial sifatnya, yaitu di gaya hidup instan yang membebek pada gaya hidup barat yang konsumtif dan individualistik, dan tidak diiringi dengan perubahan mindset yang lebih progresif dan mengacu pada nilai-nilai keadilan dan solidaritas.

Tak heran, banyak kalangan yang tetap lancar dan tanpa beban berparty-ria dan bersenang-senang, ketika di saat yang lain banyak saudaranya yang lain harus berdingin-dingin hidup di tenda-tenda pengungsian akibat berbagai bencana. Atau membuang-buang makanan sementara ada saudaranya yang mati kelaparan. Seolah bencana di tempat lain tak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan kita masing-masing. It’s just another sad story. So what gitu lho. Life goes on.

Society kita telah gagal menangkap makna empati yang sesungguhnya. Lebih jauh ini sebenarnya mengindikasikan terjadinya krisis perasaan sebangsa setanah air yang dulu mati-matian diperjuangkan oleh para founding father.

Mumpung sedang hari Nyepi, mungkin kita bisa berpikir sejenak dua jenak, apa yang bisa kita masing-masing lakukan untuk menemukan dan mengasah kembali apa yang disebut empati dan solidaritas tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s