kopi solong, ayam tangkap, dan mie razali

Sekali lagi saya menginjakkan kaki di Aceh. Pergi ke Aceh hampir selalu berarti menikmati pengalaman kuliner. Sudah sejak lama saya ingin membagi pengalaman tersebut sebenarnya, namun entah kenapa baru sekarang kesampaian. Mungkin karena baru sekarang saya tidak lupa mengabadikan beberapa jenis makanan dan minuman yang saya nikmati disana.

Pergi ke Banda Aceh tidak akan lengkap tanpa mampir di Warung Kopi Solong yang terletak di Jalan Ulee Kareng. Walaupun beberapa teman mengatakan bahwa kopi disana bukanlah yang terenak, namun sebagai tempat berkumpul warkop Solong adalah yang paling terkenal. Sejak pagi hingga larut malam, warkop ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

sanger


Disini dijual 2 jenis kopi, yaitu kopi hitam biasa dan kopi susu atau biasa disebut sanger (pengucapan huruf e-nya seperti pengucapan e dalam kata dengar). Seperti di warkop-warkop tradisional pada umumnya mereka sudah memasukkan sejumlah gula pasir ke dalam minuman. Ingin manis atau setengah manis, tergantung kita mengaduknya.

Selain kopi (dan teh), warkop Solong juga menyajikan berbagai jajanan tradisional, seperti di bawah ini. Mulai dari ketan, berbagai jenis kue yang saya tak tahu apa namanya, sampai srikaya. Yang terkahir ini  adalah favorit saya. Terbuat dari campuran telur dan gula merah yang dikocok sampai mengembang, dimasak, dan kemudian dimasukan cetakan dan didiamkan hingga mengeras. Euunnnaaak tenan!! Almarhum nenek saya dulu sering membuat srikaya yang dituang di atas ketan. Beliau bilang, ketan srikaya ini adalah makanan raja-raja.

dsc00270.jpg

dsc00269.jpg

Warkop Solong juga menjual martabak telur, mie kocok dan juga mie Aceh yang rasanya nyam…nyam… Bila memesan martabak telur di Aceh jangan membayangkan martabak telur atau martabak mesir seperti yang biasa kita temui di Jakarta. Disini yang namanya martabak ya basically cuma telur dadar yang dicampur daun bawang, kol, dan bawang. Yah, lumayan lah untuk cemilan di sore hari.

Selain warkop solong, tenpat lain yang juga wajib dikunjungi adalah restoran yang menyajikan menu ayam tangkap. Entah kenapa disebut ayam tangkap. Beberapa orang bahkan menyebutya ayam sampah. Mungkin penyebutan yang terakhir ini lebih bisa menggambarkan penyajian masakan ayam ini –ayam utuh atau setengah utuh dipotong kecil-kecil, digoreng dengan berbagai campuran daun seperti daun pandan dan daun temurui, yang kabarnya cuma terdapat di  Aceh. Jangan tanya pada saya apa bumbunya, karena saya bukan orang yang ahli dalam masak memasak. Kalau dalam urusan cicip mencicip lain ceritanya..he..he.. Yang jelas, kalau makan makan ayam ini kita memang harus mengais-ngais potongan-potongan ayam diantara tumpukan dedaunan tadi. Tak lupa diletakkan pula cabe hijau yang digoreng utuh bagi mereka yang suka pedas.

ayam.jpg

The last but not the least, mie Razali. Mie Razali menjual berbagai jenis makanan mie aceh. Bentuk mie aceh lebih menyerupai udon, mie khas Jepang yang bentuknya bulat agak besar. Di warung mie Razali mie aceh dimasak dengan dengan 2 cara, direbus atau disebut mie masak, dan digoreng. Campurannya macam-macam, ada kepiting, udang, dan daging. Jangan lupa juga untuk memesan minumam dingin ketimun kerok yang menyegarkan dan bisa meminimalisir kolesterol hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s