if transjakarta bus is the answer, what is the question?

Pertanyaan tersebut di atas sempat menghantui saya beberapa malam terakhir ini. Asumsinya, pertanyaan atau persoalan yang ingin dijawab dengan adanya bus transjakarta (selanjutnya saya singkat TJ) ini adalah ‘bagaimana mengatasi kemacetan Jakarta’. Padahal, berkurangnya kemacetan di ruas-ruas jalan yang dilalui TJ tidak menjadi kenyataan.

Pagi ini seperti biasa, saya pergi ke terminal TJ di Ragunan. Saya hitung secara kasar jumlah mobil yang terparkir disana. Mobil-mobil ini ditinggalkan di lapangan parkir kebun binatang Ragunan dan pemiliknya memilih untuk menumpang TJ. Secara kasar saya hitung tak lebih dari 300 mobil yang terparkir disana. Dan bila diasumsikan 9 pemberhentian di ruas Ragunan-Mampang, lokasi tempat warga banyak tinggal, masing-masing berkontribusi atas diparkirnya 20 mobil di garasi rumah, maka tak lebih dari 500 mobil yang batal memenuhi jalan-jalan di ruas Ragunan-Latuharhary Menteng. Bayangkan, hanya 500 dari ribuan mobil dan kendaraan bermotor lain yang tetap memenuhi ruas-ruas jalan tersebut. Pantas saja tidak nampak adanya penurunan kemacetan di ruas jalan yang dilalui jalur TJ.

Dan seperti beberapa teman yang saya temui ketika menumpang TJ, mereka ternyata bukan continous TJ rider, tapi hanya sesekali saja, occasional rider. Mereka pada umumnya naik TJ di hari-hari yang macetnya sudah kebangetan, seperti hari Senin atau Jumat.

Jadi, kesimpulan awal saya, penumpang TJ yang setia sebenarnya adalah penumpang kendaraan umum, yaitu mereka-mereka yang memang tidak memiliki kendaraan pribadi dan menggantungkan transportasi mereka sepenuhnya pada transportasi publik, ya seperti saya ini. Umumnya mereka ‘malas’ harus berganti-ganti kendaraan. dan memang keuntungan naik TJ adalah kita tidak perlu berganti-ganti kendaraan dari tempat kita berangkat ke tempat tujuan –selain terhindar dari macet dan menghemat waktu tentunya.

Oleh karenanya, bila Pemda DKI Jakarta menyatakan bahwa kebijakan TJ diterapkan untuk mengurangi kemacetan, yang notabene diakibatkan oleh membludaknya jumlah kendaraan pribadi, maka bisa saya katakan bahwa jawaban mereka atas persoalan tersebut salah besar, dan dengan sangat mudah bisa didebat.

Lalu kalau tujuannya adalah untuk menyediakan sarana transportasi publik massal yang nyaman, pertanyaannya kemudian, seberapa efektif dan seberapa nyaman, jika dibandingkan misalnya dengan kereta api AC?

Ucapan Gubernur Fauzi dulu saat kampanye, “Serahkan pada ahlinya”, nampaknya harus mulai ditagih. Kebijakan transportasi yang tidak terintegrasi dengan perencanaan pengembangan wilayah dan pemukiman, hanya akan jadi kebijakan tambal sulam yang semakin menambah keruwetan persoalan. Seperti TJ ini.

4 Comments

  1. Kalau di inget ketika rencana pengoperasian Trans Jakarta, Gubernur Jkt nyang dulu pernah bilang dan cukup yakin kalau beroperasinya TJ adalah salah satu solusi kemacetan jakarta. Secara gamblang diliat sekarang, pendapat, asumsi atau apapun namanya, jelas salah total. Bukan mengurangi tapi malah menimbulkan kemacetan yang cukup fatal. Bisa dibandingan ketika jalur Kuningan – Mampang – Ragunan, dulu sebelum ada busway, kemacetannya gak terlalu parah. Tapi kini bisa diliat, lebih parah dari yang dulu. Akan sangat pecuma memperbanyak jalur Basway kalau pasokan kendaraan pribadi ke Indonesia, Jakarta pada Khususnya gak berkurang.

    Dan akan sangat pecuma kalau masyarakat Jakarta masih hobby menggunakan kendaraan pribadinya sebagai alat pendukung aktivitasnya. Kalau di perhatikan juga, Jakarta punya masa-masa “Indah” dari kemacetan ketika Musim Liburan panjang, nampak sekali Jakarta sepi dari kemacetan. Itu artinya penyebab dari kemacetan jakarta adalah makin banyaknya jumlah pengendara pribadi yang menggunakan kendaraannya sebagai alat transpotasinya.

  2. untuk macetnya jakarta, emang gak mungkin ada solusi tunggal yang cespleng sih.. TJ mungkin belum berhasil bikin pengguna kendaraan pribadi pindah haluan, tapi kalo gak ada ni TJ, dan juga bener2 gak ada angkutan yang nyaman, ‘pengguna bus’ mungkin akan mempertimbangkan beli kendaraan pribadi juga, yang berarti tambah muaceeet..

  3. sebagai anak jalanan, ay sih penggemar busway (kadang) cuman tangganya, ampun…kasian nyokap gua gak bisa ikutan, kejauhan jalan. padahal dia pengen banget. anyway, gua sih setuju semua jakarta dilalui busway. yakin kalo dirawat tuh busway, aksesnya di buat enak, pasti orang malas bawa mobil pas hari kerja…..kalo perlu emang semua jalan dibikin 3 in 1 aja….atau 5 in 1 kalo perlu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s