kenaikan harga bbm untuk siapa?

Akhirnya pertanyaan yang cukup mengganggu saya akhir-akhir ini terjawab juga. Akhir-akhir ini saya bertanya-tanya mengamati satu fenomena yang saya anggap cukup aneh. Di satu sisi berbagai media massa menggembar-gemborkan bahwa di Indonesia telah terjadi krisis BBM. Namun di sisi yang lain saya melihat di berbagai tempat di Jakarta dan di sepanjang jalan tol dibangun SPBU-SPBU baru. Lho, katanya krisis, kok malah banyak SPBU baru?? Begitu pertanyaan yang menggantungi benak saya.

Ternyata oh ternyata, fenomena di atas sangat terkait erat dengan fenomena kenaikan harga BBM yang terjadi saat ini.

Kenaikan harga BBM sangat erat kaitannya dengan kebijakan liberalisasi sektor energi. Liberalisasi dan privatisasi sektor-sektor publik (yang notabene menguasai hajat hidup orang banyak) merupakan SOP dari sistem ekonomi neoliberal yang direngkuh secara sukarela oleh pemerintah Indonesia sebagai konsekuensi dari paket utang luar negeri.

Melalui UU Minyak dan Gas No.22/2001, negara mensahkan dilakukannya liberalisasi sektor hilir dari industri migas. Artinya, SPBU-SPBU tidak lagi hanya dioperasikan oleh Pertamina, tapi juga terbuka bagi swasta asing, seperti Shell dan Petronas. Namun menurut pemerintah, bila harga BBM masih rendah karena disubsidi, maka pemain asing akan enggan untuk masuk.

Maih segar di ingatan kita, mungkin, di tahun 1997, alm mantan presiden Soeharto duduk menandatangani Letter of Intent (LoI) disaksikan oleh Direktur IMF, Michel Camdesus, yang berdiri dengan berlipat tangan. Menimbulkan kesan arogan. LoI yang ditandatangani ini adalah konsekuensi dari utang luar negeri di atas kertas yang bertujuan untuk menyelamatkan anggaran negara yang hancur akibat terjadinya krisis keuangan yang berlanjut menjadi krisis ekonomi. Mengapa di atas kertas? karena memang ‘utang’ tersebut hanya berupa angka yang ditulis di APBN untuk menyeimbangkan anggaran kita yang defisit. Tidak ada uang secara nyata yang diberikan kepada pemerintah. Jadi, ketika pemerintah dengan bangga dan heroiknya menyatakan bahwa mereka memutuskan hubungan dengan IMF, saya cuma tertawa. Kenapa nggak dari dulu saja? Toh duitnya nggak ada.

LoI membawa dampak pada dibukanya sektor-sektor layanan publik yang seharusnya dikuasi oleh negara (karena menyangkut pada kewajiban negara atas pelayanan sosial bagi warga negaranya) kepada swasta asing, atau yang lazim disebut sebagai privatisasi.

Nah, liberalisasi sektor energi adalah salah satu JANJI pemerintah Indonesia yang termaktub dalam LoI. Namun seperti yang saya tulis di atas, swasta asing enggan masuk jika harga BBM masih rendah akibat subsidi. Oleh karenanya, untuk memenuhi janji tersebut, pemerintah Indonesia harus memotong subsidi sehingga harga BBM cukup menarik (baca: cukup tinggi) sehingga swasta asing mau masuk Indonesia sehingga pemerintah Indonesia kembalimenjadi good boy yang memenuhi janjinya.

3 Comments

  1. Hai vick…i told the chair of Pertamina Workers Union abt your point of view. I said that unless Pertamina showed its good deed and political will to really clean up their mess and get rid of the corruption (for example, doing internal corruption investigation and bring all the corrupters to court) it is really difficult to get public’s trust towards them.

    But in case of oil business, there’s no such more choices and benefit for consumers, as all decision in this sector is actually decided by only a handful of people working as a global cartel.

  2. Well, setelah sekitar setengah abad memonopoli fuel business di Indonesia dengan segala ketidakbecusannya, it’s about time Pertamina acts like a real company, surviving the business competition.

    As a consumer, I refuse to pay all the innefficency and corruption they have in their company.

    And more choices will benefit the consumer.

  3. wow… interesting. yang gue tau adalah yg buka spbu2 baru itu orang2nya itu itu aja.
    seakan akan cuman dia yg cukup punya duit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s