insya allah

Sering banget kita dengar frase di atas. Insya Allah, semoga Allah mengijinkan. Filosofi dari frase ini adalah bahwa pada dasarnya manusia itu haruslah tawakkal, menerima apa yang telah diputuskan oleh Tuhan. Berserah diri. Tapi, ada yang sering dilupakan. Sebelum kita berserah diri padaNya, Tuhan bilang: Berusahalah dulu! Jadi, jangan berharap dapat nilai bagus kalau tidak belajar. Jangan berharap kaya kalau tidak mau bekerja. Jangan berharap keledaimu tak hilang bila tak kau ikat dia di pohon ketika kau tinggalkan –itu cerita tentang tawakkal yang sering diceritakan nenekku dulu waktu aku masih kecil.

Namun sekarang, frase yang bermakna dalam dan mulia itu sudah mengalami pergeseran makna. Insya Allah hampir selalu berarti negatif. Ketidakbisaan. Excuse. Euphimisme. Insya Allah dijadikan cara halus untuk melakukan penolakan. Padahal kalau memang menolak, kenapa juga bawa-bawa Tuhan. Bukankah itu keputusan kita sebagai manusia? Kenapa juga menjadikan Tuhan sebagai tameng.

Bila aku mendengar ada teman yang mengatakan frase ini, kadang aku nyelepet: Kenapa nggak bilang aja Insya Gue? Itu lebih jujur aku kira.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s