back to card

Saat saya masih kuliah dulu, seorang kawan saya yang tahun lalu baru saja lulus dari Harvard Business School pernah nyeletuk, “Technology sucks”. Begitu katanya. Saya lupa apa latar belakang lontaran tersebut, kalau enggak salah akibat komputer yang ada di unit kegiatan kami dulu sering hang, yang mengakibatka terhambatnya pekerjaan-pekerjaan kita. Lontaran ini sangat saya ingat karena ironinya. Ironinya adalah, kawan saya ini dulu mengambil jurusan teknik informatika, yang nota bene sehari-harinya berurusan dengan teknologi.

Well, kadang-kadang teknologi malah jadi menyusahkan, alih-alih mempermudah kerja kita. Bayangkan, komputer hang dan bervirus (ehhmm…itu karena gak pake Mac hehehe…). Belum lagi setting-an printer yang salah. Tinta habis. Kertas jammed. Dan lain lain, dan lain lain. Coba kalau kita pakai mesin tik, nggak ada tuh segala masalah itu. Kertas tinggal discroll, ketik-ketik, hasilnya langsung kita dapatkan saat itu juga. Mesin tik juga mati-listrik-proof, yang sangat penting artinya di saat pemadaman listrik bergilir diberlakukan pemerintah.

Bayangkan lah kondisi sekarang. Kalau listrik mati, banyak orang yang hampir tidak bisa bekerja. Mereka helpless tanpa komputer dan printilannya. Makin canggih teknologi, makin besar pula resiko dan safety mechanism-nya.

Lihatlah pula telepon genggam. Tak dapat dipungkiri telepon genggam memberi kemudahan luar biasa pada kita. Dimana pun kapan pun siapa pun bisa kita hubungi. Kalau mau hemat, pesan teks alias sms selalu tersedia. Tinggal pencet-pencet.

Ucapan selamat pun tak perlu susah-susah dikirimkan. Cukup pencet-pencet. Atau satu kali pencet ‘forward’, sms indah yang dikirimkan teman pun langsung terkirim ke kotak pesan teman kita yang lain. Gampang kan?

Namun, datangnya sesuatu selalu saja membuat hilangnya sesuatu yang lain. Dulu ketika sms belum dikenal, setiap kali menjelang hari raya, entah itu Lebaran, Natal atau tahun baru dan hari raya lainnya, kita akan bela-belain pergi ke toko buku dan memilih kartu-kartu ucapan untuk dikirimkan ke sanak saudara, handai taulan, dan teman-teman.

Ketika memilih kartu tersebut, kita selalu berpikir tentang orang yang akan menerima kartu tersebut. Bila orangnya suka bercanda, maka kita pilihkan kartu yang lucu-lucu. Bila orangnya serius dan ‘dewasa’ maka kita pilihkan kartu-kartu yang bernuansa dewasa. Selallu ada pemikiran di balik pilihan kita atas kartu-kartu tersebut yang membuatnya jadi sebuah kiriman yang personal sifatnya. Well, kadang kita pilih kartu yang netral dan senada untuk orang-orang yang tidak terlalu dekat hubungannya dengan kita, biar cepat. Namun tetap, selalu ada pemikiran tentang si penerima. Dan hal itu sangatlah spesial.

Nah berhubung sebentar lagi bulan puasa dan lebaran (eh, masih lama ya? hehhehe), maka saya mau memulai mengirimkan kembali kartu-kartu ucapan tersebut. Saya ingin kirim sesuatu yang personal kepada orang-orang yang sangat berarti buat saya. Saya berniat untuk enggak mengirinkan ucapan yang generik yang saya kirimkan kepada semua orang. Saya pikir, seharusnya mereka deserve perlakuan seperti itu lah, paling tidak satu kali setiap tahun. Bukan begitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s