lapindo dan hari anak nasional

Kemarin, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, diputar suatu film dokumenter tentang nasib anak-anak korban lumpur lapindo yang telah dua tahun terakhir ini tinggal di pengungsian di Pasar Porong. Mereka tinggal di los-los pasar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ruangan yang tidak memadai, kondisi air yang cekak dan kualitasnya sangat memprihatinkan, serta situasi kehidupan sehari-hari yang sangat mencederai rasa kemanusiaan.

Mereka terpaksa tinggal disana, karena rumah mereka terendam lumpur panas berbau akibat misbehaved industri pemboran gas Lapindo yang sampai sekarang tidak tertangani. Mereka dianggap mbalelo karena mereka tidak mau dipaksa menerima uang sejuta setengah rupiah sebagai harga beli rumah mereka yang terendam (berapapun luasnya), ditambah satu juta perak sebagai harga beli tanah mereka (berapapun luasnya). Lapindo memaksa membeli tanah mereka dengan harga yang sangat murah yang sangat menghina akal sehat. Karena berkeras untuk tinggal di pengungsian dan berkeras menolak menjual tanah dan rumah mereka, pada 1 Mei lalu Lapindo menghentikan jatah makan mereka. Lapindo bilang, itu salah mereka sendiri, kenapa tiak damu menerima skema jual-beli dan masih ‘nekat’ tinggal di pengungsian.

Diantara ratusan keluarga yang tinggal disana, tersebutlah Agung. Pihak sekolahnya sama sekali tidak memberi keringanan biaya sekolah bagi warga masyarakat korban Lapindo. Agung malu karena sering menunggak dan mendapat teguran dari sekolah. Ayah dan ibunya tidak bekerja secara tetap. Mereka mencari makan secara serabutan. Tidak tahan menanggung rasa malu, akhirnya, Agung tidak mau lagi melanjutkan sekolah.

Puluhan anak sekolah dasar lainnya harus rela berpindah-pindah tempat belajar, tergantung rumah mana di desa tetangga mereka yang bersedia ketempatan. Mereka terpaksa berpindah-pindah karena sekolah mereka terendam lumpur panas berbau yang dikirim Lapindo. Di tengah-tengah penderitaan tersebut, mereka masih sempat berdeklamasi dan memohon kepada Tuhannya. Katanya, “Ya Allah, berilah aku ketegaran dan kekuatan”.

Detik itu saya bertanya dalam hati, apakah Tuhan benar ada? Bila memang ada, adakah Dia mendengar? Adakah Dia melihat? Mengapa perbuatan batil dan orang-orang batil selalu menjadi pemenang? Mengapa doa anak kecil tak berdosa itu tidak mendapatkan jawaban?

Di mata anak-anak itu, selain kekuatan dan ketegaran, saya melihat luka. Saya melihat kepedihan. Saya juga melihat kemarahan. Dan saya bertanya, apakah bapak-bapak bangsa ini ingin menghasilkan generasi masa depan yang penuh dendam?

[sumber foto: korbanlapindo.blogspot.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s