monthly husband, weekly mommy

Barusan ngobrol-ngobrol dengen seorang teman yang terpaksa harus berpisah dengan istrinya karena tuntutan pekerjaan dan profesi. Sang suami harus menetap di Jakarta, karena selain bekerja, dia juga sedang menyelesaikan studi S-2 di satu universitas di Jakarta. Istrinya bekerja di Sulawesi sana. Kebetulan mereka baru saja dianugerahi seorang anak, so berhubung keluarga besar sang istri ada di Sulawesi mereka lebih merasa secured jika sang ibu dan anak bersama dengan extended family mereka. Si suami bilang udah bagus kalau mereka bisa bertemu satu bulan satu kali.

Satu ketika, saya bertemu kembali dengan teman perempuan satu kampus dulu. Dia bercerita bahwa sekarang dia tidak lagi bekerja di bidang yang selama ini digelutinya, yang juga merupakan bidang studinya dulu di kampus. Dulu dia sering bekerja di lapangan karena dia mengambil jurusan geologi. Hitungannya, 3 minggu di lapangan, 2 minggu di rumah. Nampaknya pola ini kurang cocok dengan kehidupan rumah tangganya, so dia meninggalkan pekerjaannya dan menyeberang ke bidang yang sama sekali berbeda dengan bidang yang dulu ditekuninya, yaitu sebagai market analyst.

Kehidupan rumah tangga mengharuskan terjadinya berbagai penyesuaian. Bagi sebagian pasangan yang beruntung, mereka tidak harus berbeda kota. Namun bagi sebagian lainnya, beda kota adalah kondisi yan tak terelakkan. Kakak saya dan suaminya pun dulu mengalami hal itu. Mereka menjadi pasangan PJKA (Pergi Jumat Kembali Ahad).

Bagi sebagian yang beruntung tidak tinggal beda kota dengan pasangannya, nampaknya kehidupan kota besar seperti Jakarta tidak terlalu menawarkan keberuntungan juga. Kondisi disini mengharuskan para bapak dan para ibu untuk pergi dari rumah di awal pagi dan kembali ke rumah di larut malam. Practically, anak-anak harus puas dengan pengasuhan extended family seperti para nenek dan kakek, atau bahkan harus puas dengan ditemani mbak baby sitter saja.

Praktis, mereka baru bisa menikmati waktu kumpul dengan ayah atau ibunya pada saat weekend. Itu pun bila ayah-ibu mereka nggak ada tugas ke luar kota atau lembur dari kantor, atau harus menghadiri kegiatan pergaulan lainnya.

“Anak-anak jaman sekarang harus menyesuaikan diri”, begitu kata teman saya yang lain. Well, walaupun saya masih bisa mendebatnya, tapi rasanya tak berhak saya memberi penilaian karena saya belum pernah mengalaminya, mengalami kompleksitas kehidupan rumah tangga. “Elo tuh masih wacana”, begitu selalu ucap teman saya itu. “It’s easier said than done” lanjutya lagi.

Yah, mungkin memang begitulah fenomenanya. Masyarakat kita sedang bergerak-gerak, berusaha menemukan nilai-nilai baru yang disesuaikan dengan tuntutan jaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s