mentang-mentang konvoi

Malam Sabtu yang lalu, saya bersama 5 orang teman perempuan berkumpul dan berniat membagikan makanan sahur bagi para fakir miskin. Nggak banyak sih, secukupnya saja, sesuai dengan kemampuan kami. Ini sebenernya kebiasaan satu-dua orang teman yang kemudian ditularkan ke yang lainnya. Alhamdulillah.

Well, untuk menghindari riya (insya Allah), maka tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menceritakan kegiatan kami tersebut, tapi lebih ke hal-hal yang kami temui di sepanjang perjalanan Sabtu dini hari tersebut.

Ternyata, Sabtu dini hari yang kami kira akan sunyi senyap menunjukkan kondisi sebaliknya. Ternyata, banyak sekali orang yang juga membagi-bagikan makan sahur kepada saudara-saudara lainnya. Ini tentu satu pertanda bagus. Ini mungkin menunjukkan bahwa solidaritas sosial orang Jakarta mulai terbangun (semoga).

Namun asumsi positif itu somehow ‘ternodai’ ketika kami merasakan konvoi-konvoi pasukan ‘sahur on the road’ ini mulai melakukan tindakan-tindakan yang menyebalkan. Seperti layaknya konvoi yang sering kita jumpai di jalanan, konvoi ini pun tak berbeda. Mereka seenaknya menutup jalan, menghadang persimpangan jalan, menghalangi kendaraan lain untuk lewat, melanggar lampu merah, dan membuat kemacetan.

Seringkali kami jadi heran sendiri dan bertanya-tanya, apakah efektif membagikan makanan dengan berkonvoi ria seperti itu? Bukankah sebarannya jadi terbatas? Kenapa mereka nggak menyebar saja, sehingga akan lebih banyak fakir miskin yang terlayani?

Kadang terlintas asumsi negatif bahwa mereka cuma mau tebar pesona, cari nama (maklum ada konvoi partai politik juga), sampai bahasan soal kebiasaan orang Indonesia yang cuma senang dengan keriaannya aja, kumpul-kumpulnya, dibandingkan dengan substansi aktifitas tersebut.

Well, semuanya sah-sah saja. Dan apa pun itu, bukan hak kita untuk menghakimi. Tapi mbok ya lakukan hal-hal itu dengan cara-cara yang sesuai dengan asas-asas kesopanan umum lah. Paling enggak, belajar lah untuk co-exist, jangan menimbulkan kesebalan pada pihak lain. Berbuat baik kok masih pake asas ‘mentang-mentang’. Capek deeh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s