creative murder

Sering saya merasa takjub dengan kreatifitas umat manusia. Manusia itu katanya adalah makhluk kreatif. Kalau selama ini terminologi ‘kreatif’ selalu dihubungkan dengan mencipta, kali ini saya ingin melihat terminologi ini dari sisi yang lain: menghancurkan.

Sejarah mencatat begitu banyak kreatifitas manusia dalam melakukan pemusnahan, penghancuran, pembunuhan, pembinasaan. Mulai dari jaman gladiator dulu (para budak diikat kaki dan tangannya ke empat penjuru mata angin dan ditarik oleh kuda), sampai kematian agen rahasia Rusia yang diracun zat radioaktif beberapa tahun lalu, atau pembunuhan pahlawan kita Munir yang diracun arsenik –seperti dalam kisah-kisah Agatha Christie dengan Hercule Poirotnya.

Belum lagi kalau kita baca dan tonton cerita-cerita holocaust di kamp-kamp konsentrasi Nazi (orang-orang dimasukkan ke kamar gas, setelah sebleumnya disiksa dengan berbagai macam metode, dibiarkan kelaparan, dll), juga cerita-cerita pembunuhan massal yang dilakukan oleh Polpot di Kamboja, menabrakkan pesawat ke gedung bertingkat tinggi seperti persitiaw 9/11, sampai pemboman Hiroshima dan Nagasaki dengan bom nuklir.

Kejadian di dalam negeri pun gak kalah menakjubkannya. Disini dunia tak kasat mata pun dilibatkan. Ada yang tewas akibat kiriman paku, duri, dll ke dalam tubuhnya, sampai kasus-kasus mutilasi, sampai dengan kasus bom bunuh diri.

Yang baru-baru ini dilakukan oleh Kepolisian Republik Indonesia terhadap warga masyarakat Suluk Bongkai di Riau pun tak kalah kreatifnya. Polisi merasa tidak cukup mengusir orang-orang tak bersenjata tersebut dari kampung mereka hanya dengan mendatangkan berkompi-kompi pasukan, tapi juga perlu mendatangkan helikopter yang terbang di atas kampung dan melontarkan bom-bom bakar ke rumah-rumah penduduk. Kepolisian Republik Indonesia tidak peduli di dalam rumah tersebut ada Warga Negara sah Republik Indonesia –anak kecil, perempuan, laki-laki, orang tua, semua dibabat habis. Dua orang tewas korbannya: keduanya anak kecil, satu orang jatuh ke sumur akibat lari ketakutan, dan satu lagi balita 21 bulan terbakar akibat rumahnya dijatuhi bom.

Saya nggak tahu bagaimana perasaan polisi-polisi itu ketika menjatuhkan bom-bom tersebut ke rumah-rumah warga –apa mereka tersenyum, menyeringai, tertawa, atau dingin saja seperti zombie. Jangan-jangan mereka lagi giting dan nggak sadar. Atau jangan-jangan mereka semua mengidap schizophrenia dan berilusi menyangka dirinya Rambo yang sedang melakukan aksi melawan teroris.

Sayangnya yang mereka jatuhi bom itu bukan gudang senjata teroris, atau sarang penyamun. Sayangnya yang mereka buat terbirit-birit ketakutan itu bukan penjahat kelas kakap atau rampok garong yang meresahkan warga.

Apakah mereka sadar kenyataan itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s