coffee culture

cup-of-coffee

Bisa dikatakan saat ini saya tidak bisa hidup tanpa kopi. Lebay mungkin terdengarnya, tapi begitulah yang saya rasakan. Minum kopi di pagi hari sudah menjadi semacam ritual, yang mana bila tidak dilakukan rasanya hidup saya hari itu kurang lengkap. Minum kopi di pagi hari juga menjadi pengumpul nyawa dan semacam natural clock buat saya yang menandakan bahwa saya siap melakukan apa saja hari itu.

Kebiasaan saya minum kopi berawal dari masa-masa saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bukannya saya mulai terbiasa ngopi pada saat itu, tapi karena pada masa itu menjadi tugas saya lah untuk membuatkan kopi buat bapak saya. Ya, bapak pada masa itu punya kebiasaan ngopi, dan karena saya masuk siang, jadi saya bertugas membuatkan kopi untuknya setiap pagi sesaat sebelum dia masuk mobil dan berangkat ke kantor. Takarannya sangat sederhana, seperti ibu saya ajarkan, dua sendok teh rata gula pasir, dan satu sendok kecil munjung kopi bubuk, masukkan ke dalam cangkir kecil dan seduh dengan air panas, lalu aduk. Setiap pagi saya mencicip satu sendok kecil kopi yang saya buat tersebut untuk memastikan bahwa rasanya enak. Dan bukannya sombong, tapi memang kopi buatan saya selalu enak dan bahkan abang saya pun sering minta dibuatkan kopi oleh saya. Satu sendok kecil seruputan kopi setiap pagi ini lah mungkin yang mengawali kegemaran saya terhadap kopi, sampai sekarang.

Dulu, ibu biasa membeli kopi bubuk di pasar Blok M. Di pasar itu dijual bijih kopi asli yang bisa digiling di tempat. Bubuk kopi gilingan tersebut kemudian dimasukkan dalam kantong kertas kopi yang biasa dipakai untuk sampul buku tulis kami sewaktu sekolah dasar. Entah sekarang apakah penjual kopi semacam itu masih ada.

Kegemaran saya minum kopi untuk mengawali hari mulai menjadi kebiasaan sejak saya duduk di bangku kuliah. Dinginnya kota Bandung tempat saya kuliah membuat minum kopi pagi menjadi satu hal yang menyegarkan dan membangunkan seluruh simpul-simpul syaraf saya. Namun pada masa itu kopinya saya campur dengan susu, sesuai dengan anjuran ibu saya agar saya minum susu demi menjaga stamina, maklumlah menjadi mahasiswa itu berat dan menguras pikiran dan tenaga, begitu kata beliau…hehehee… Kopi dan susu menjadi menu sarapan saya dan cukup menjadi asupan energi sampai waktu makan siang.

Pengalaman minum kopi yang cukup strong saya alami ketika saya memasuki masa-masa ujian tengah dan akhir semester. Masa-masa itu adalah masa-masa SKS alias sistem kebut semalam. Karib saya Meri yang orang Makassar memperkanlkan saya pada kopi toraja yang terkenal itu. Satu gelas kopi toraja dengan sedikit gula bisa menahan kantuk hingga jam 3-4 pagi. Lumayan berguna buat saya yang malas dan mengandalkan SKS dalam ujian. Bergelas-gelas kopi toraja di malam-malam ujian menjadi pengalaman kopi-mengopi yang tak terlupakan buat saya.

Pengalaman kopi-mengopi lain yang tak terlupakan adalah ketika pertama kali saya ke Eropa dan membuat kopi yang disaring. Hmmm… apa pula ini? Orang Eropa memang ada-ada saja. Mereka menyebut kopi tubruk a la Indonesia sebagai mud kopi alias kopi lumpur. Mereka lebih senang kopi disajikan dalam bentuk yang sudah disaring. Padahal bagi saya minum kopi yang enak adalah ketika kita bisa minum sambil menggigiti dan menikmati pahitnya ampas kopi di dasar cangkir kita. Yah, lain orang lain selera. Di Eropa pula lah saya mengenal kopi yang dicampur dengan sedikit alkohol, semacam Irish Coffee. Well, enak juga… ;p

Pengalaman lainnya adalah ketika saya menetap agak lama di Aceh pasca tsunami. Aceh, sangat terkenal dengan kopinya. Satu versi kopi susu versi Aceh, sanger namanya (sebut huruf e-nya seperti dalam kata ‘tengger’), adalah satu versi kopi susu favorit saya (thank God di Jakarta ada satu kafe yang menjual kopi susu semacam ini juga).Konon kabarnya kopi Aceh ini dicampur dengan G (you knoww…) sehingga alih-alih dapat membuat jantung berdebar, minum kopi Aceh malah membuat kita relaks dan sedikit mengantuk…hahahhaa…

Walaupun hobi minum kopi, sampai sekarang saya tidak pernah tahu apa bedanya kopi Arabica, Robusta, atau kopi jenis lainnya. Demikian pula, saya tidak tahu apa bedanya capuccino dan latte. Yang jelas, saya tidak suka kopi-susu versi kafe. Setiap kali pergi ke kafe-kafe yang banyak bertebaran di Jakarta, saya pasti memesan black coffee. Saya juga tidak suka kopi instan yang banyak dijual di warung-warung.

Entah karena kopi sudah merasuki darah saya atau karena kebiasaan, minum kopi tidak lagi membuat saya terjaga semalaman, atau membuat saya tidak bisa tidur. Walaupun baru minum kopi satu mug, bila waktunya tidur saya akan tetap dapat tidur dengan mudahnya. Well, ada sih sebagian teman saya yang menyebut saya si penidur, alias pelor (nempel-molor). Namun beberapa waktu yang lalu, pengalaman terjaga separuh malam akibat minum kopi kembali saya alami ketika malam itu saya minum semug kopi Sidikalang di satu kafe. Hmm…ternyata ada juga kopi yang strong enough to make me wide awake half thru the night. Pengalaman ini menjadi pertanda baik bagi saya karena ternyata saya belum kebal kopi 🙂

1 Comment

  1. Baru-baru ini gue ke sebuah kafe, lalu karena gue juga merasa sekarang nggak ngaruh kalo minum kopi, maka gue pesenlah capuccino yang paling kentel… Eh ternyata gue baru bisa tidur jam 3 pagi!! Padahal gue bangun pagi tuh afterwards.. Sialan 😀 Gimana ngetesnya tuh ya?

    Btw, sanger is great!! Setuju gue.. Sama roti tawar srikaya itu.. yum yum.. Eh dah pernah ke Phoenam? I think you’re gonna like it 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s