anak dan media massa

tv

Cukup lama juga saya tidak menulis, dan ini membuat otak jadi beku. Menulis adalah satu media pelepasan saya, menuangkan apa yang ada di pikiran, apa yang ada di hati. Terlalu banyak yang saya pikirkan sehingga sering jadi bingung sendiri, mana yang terlebih dahulu harus dituangkan.

Well, topik pertama untuk hari ini adalah tentang anak-anak dan media massa. Tak sengaja saya terdampar di satu group facebook (hehhee…facebook lagi, facebook lagi…) yang mengusung misi untuk mencegah anak-anak kecil dan di bawah umur menyanyikan lagu-lagu dewasa.

Akhir-akhir ini memang banyak kontes dan lomba yang diadakan oleh berbagai stasiun televisi untuk mencari idola anak-anak. Di satu sisi, lomba semacam ini bagus dalam menjaring bakat-bakat tersembunyi dan memberi kesempatan mereka untuk maju. Pun membangun rasa percaya diri anak-anak muda dan memberi keyakinan bahwa mereka punya seusatu yang layak dibanggakan. Nilai positif lainnya saya kira juga adalah memperkenalkan konsep multiple intelligent, dimana kecerdasan seseorang seharusnya tidak hanya dinilai dari kecerdasan akademis atau yang menyangkut kecerdasan otak kiri saja, tapi juga menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan rasa. Ini sisi positifnya.

Namun sayangnya, dalam berbagai lomba ini mereka tidak diminta untuk menyanyikan lagu yang sesuai dengan umurnya. Sehingga tak heran kita bisa melihat berbagai calon idola tersebut menyanyikan dan meniru gaya idola dewasa. Pemandangan yang awalnya aneh (anak kecil belum genap sepuluh tahun umurnya menyenandungkan lagu bernuansa roman dan menceritakan kisah percintaan manusia dewasa) kemudian menjadi suatu pemandangan yang biasa akibat pemaparan yang bertubi-tubi. Hal yang dianggap aneh kemudian berubah menjadi suatu kelaziman. Dan parahnya, para orang tua anak-anak tersebut menjadi demikian permisif karena berharap anaknya menang. Apa pun dilakukan untuk menggapai popularitas instan.

Saya kemudian menjadi bertanya-tanya sendiri, apakah kita kehabisan stok lagu anak? Atau, apakah lagu anak yang biasa kita senandungkan dulu semasa SD dianggap terlalu mudah dan tidak menantang bagi kontes-kontes semacam ini? Kalau pun iya, apakah wajar, anak usia di bawah 12 tahun diharapkan memiliki suara dan kemampuan seperti orang dewasa? Saya benar-benar tidak habis pikir.

Satu hari saya bercakap-cakap dengan dua orang kawan yang bergerak di bidang permediaan dan periklanan. Mereka sepakat bahwa media massa saat ini memang sama sekali tidak ramah-anak. Lihat saja berbagai tayangan yang ada. Anak-anak sama sekali tidak punya pilihan selain menyaksikan film dewasa, feature dewasa, dan lagu-lagu dewasa. Kalaupun ada segmen anak-anak di stasiun televisi, jumlah durasinya tidak sebanding dengan jumlah durasi acara untuk dewasa.

Beberapa kali topik diskusi semacam ini tercetus diantara teman-teman saya, terutama mereka yang sudah menjadi orang tua. Tanggapannya bermacam-macam. Satu teman bilang, daripada susah-susah protes ke stasiun TV lebih baik langganan TV kabel saja yang jelas lebih berkualitas dan memang khusus untuk konsumsi anak. Satu lagi yang lain bilang, mulai aja dari keluarga kita dulu, bilang ke pembantu untuk nggak nonton sinetron, padahal menurut saya saat ini saatnya para orang tua bergerak dan membuat protes langsung, karena pemerintah tidak bisa lagi diharapkan menjadi pengawas dan pengontrol media yang sudah sangat liberal dan dikuasai market. Oh iya, teman saya yang terakhir ini bilang bahwa tanggapan saya terlalu serius. Hmmmmm….interesting, isn’t it?

Walaupun saya belum punya anak, tapi saya sangat prihatin dengan kondisi anak saat ini. Seorang teman bilang bahwa anak perempuannya yang duduk di kelas 1 SD mengalami kekerasan dari teman laki-lakinya. Banyak saya saksikan anak-anak yang membentak orang tuanya ketika berbicara (yang nota bene nggak akan berani saya lakukan dulu ketika seumurnya). Belum lagi omongan-omongan dan celetukan-celetukan yang rasanya tidak saya dengar dan ucapkan ketika saya seumur mereka.

Jadi, what to do? Well, ketika yang paling berkepentingan (orang tua yang memiliki anak) menganggap bahwa hal ini tidak perlu direspon berlebihan, apa yang bisa saya katakan lagi? Biarlah alam dan kehidupan masa depan nanti yang akan bisa memberi penilaian pada kita semua.

4 Comments

  1. hai, Yaya!

    iseng neh baca blog elo…
    good good point
    gw setuju banget..

    btw Ya, boleh dong minta nama group di facebook yang tentang anak tsb..
    ada temen gw lagi bikin skripsi tentang idola cilik dan hubungannya terhadap eksploitasi oleh ortunya..

    thanks pisan…

    timmy

  2. ini agak intermezzo sih, cuma mungkin salah satu hal adalah orang tua (lebih baik jika dibantu lingkungannya) kudu tau juga lagu2 anak mulai dari lagu daerah, lagu lullaby, lagu nasionalis, dan sebagainya…

    Soale pernah ada anaknya temen gue, namanya Kenya, pas di-ninabobo-in, tante2 temannya Emaknya yang aktipis nyanyinya ‘Tolak Nuklirrr.. Tolak Nuklirrr…’ 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s