confessions of a shopaholic

Isla_Fisher_in_Confessions_of_a_Shopaholic_Wallpaper_2_800

“It’s desperately important scarf!” begitu seruan Rebecca Bloomwood untuk menunjukkan kekerasan hatinya mendapatkan scarf yang dia inginkan, yang kebetulan dia lihat di etalase toko saat dia berjalan menuju tempat wawancara kerjanya yang baru. Menonton film ini, Confessions of A Shopaholic, menjadi geli sendiri seolah-olah melihat diri kita yang seringkali menjadi impulsive shopper.

Well, sekali dua kali menjadi impulsive shopper mungkin masih bisa dimaklumi, namun kalo sudah menjadi addicted dan keterlaluan mungkin lain lagi ceritanya. Apalagi kalau ternyata situasi dan kondisi keuangan sebenarnya pas-pasan, bahkan seringkali buka lubang tutup lubang.

Kartu kredit kemudian menjadi “dewa penyelamat” birahi belanja yang berlebihan. Dengan kartu kredit dimungkinkan untuk belanja melebihi pendapatan ataupun uang real yang kita punya. Tak jarang satu orang memiliki lebih dari 1 kartu kredit, bahkan sampai lebih dari 5! Demikian juga dengan Rebecca di film ini. Lucu ketika melihatnya membayar scarf impian dengan cara diicrit-icrit. Scarf seharga US$120 itu dibayarnya dengan cara: $50 cash, $30 dengan kartu kredit A, $20 dengan kartu kredit B, $5 dengan kartu kredit C dst. Hahahhaaaa…. terkikik-kikik gue melihatnya. Bagi gue itu hal yang sama sekali nggak masuk di akal….. Weiitttss, tapi jangan salah, ternyata seorang temen gue mengaku pernah melakukan hal yang seperti itu. Oooopppssss….

Ketika semua kartu kredit yang dia miliki telah mencapai limit kreditnya, Rebecca bingung karena dia tak punya uang untuk melunasi, bahkan untuk membayar tagihan minimumnya, sehingga dia harus berkelit dan menghindar dari debt collector yang mengejar-ngejarnya –mulai dari menelpon, mendatangi rumah, bahkan mendatangi kantornya. Lagi-lagi gue terkikik-kikik melihat Rebecca terbirit-birit menghindari debt collector. Tapi jangan salah, sekali lagi temen gue bilang bahwa that kind of situation exists! Bahkan disini si pengkredit bisa sampai tersedu-sedu dibuatnya! Ooooppppssss, lagi…. It’s not really funny if it happens to you, is it?

Tapi kalau kita kembali ke pertanyaan mendasarnya, why??? Why being a shopaholic? Rebecca Bloomwood bilang, shopping makes her happy. When she touches the things that she wants to buy, matanya berbinar-binar, hatinya berdebar-debar, dan ketika mendengar kartu kreditnya digesek ke mesin pendebit dan it says ‘accepted’ perasaannya bahkan seperti terbang ke awang-awang, knowing that the thins is going to be hers. Lalu Rebecca juga bilang bahwa ketika dia keluar dari toko, hatinya kembali unhappy, sehingga dia membutuhkan shopping so desperately sampe sakaw to create the sensations and then makes herself happy. Begitu terus menerus. Hmmm…pathetic isn’t it?

Tapi ada juga yang jadi impulsive shopper karena gengsi. Nggak mau kalah hawa, kalau kata nenek gue, nggak mau dibilang ketinggalan jaman dan nggak ngikutin trend. Atau even cuma supaya dibilang gimanaaaa gitu… Well, sama aja parahnya, especially if you can not afford it.

Gue ngerasa beruntung tinggal di Indonesia yang masih menghargai budaya cash. Waktu gue ke USA beberapa tahun lalu, gue mengalami peristiwa lucu. Waktu check-in di hotel, si resepsionis minta kartu kredit gue. Gue bilang, gue nggak punya kartu kredit, dan gue deposit pake cash aja, $100. Terus mbak resepsionis menjawab dengan terheran-heran, “How come you don’t have a credit card?” Terus gue jawab,”Must I? In my country I always pay cash” Hahahaa…lucu banget. Cultural hiccup. Si mbak keukeuh nggak mau terima duit gue sehingga gue harus telpon temen gue dan meminjam kartu kreditnya sebagai jaminan.

Tidak berhutang, apalagi untuk hal-hal yang kita konsumsi, adalah prinsip utama yang diajarin oleh orang tua gue. Kalau memang ada rezeki, ya dibeli, kalau nggak ada, ya tunggu aja sampai ada uangnya. Toh kita nggak akan mati kalau nggak punya itu barang kan? Begitu selalu prinsip yang mereka ajarin ke kami anak-anaknya. Bapak gue bilang, hidup tenang adalah hidup yang tanpa hutang. Dan gue ngerasa beruntung mengetahui prinsip hidup semacam itu yang bisa jadi rem ketika hasrat belanja impulsive gue mulai muncul… 😉

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s