consume more, it’s good for you…

Di satu hari Minggu aku berjalan masuk ke restoran cepat saji franchise dari Amerika Serikat untuk memenuhi rasa laparku. Di depan counter aku memesan satu buah cheese burger, satu kentang goreng ukuran kecil, dan satu gelas cola ukuran kecil. Mbak di counter kemudian menghitungnya dan memberitahukan harga makan siangku, Rp. 27.500,-

Sambil menyantap makan siangku kulihat di daftar harga di belakang counter kasir, untuk satu paket dengan jenis makanan dan minuman yang sama namun dalam ukuran lebih besar, harganya Rp. 27.800-an. Hanya berbeda Rp.300-an namun kita bisa mendapatkan porsi makan yang lebih besar – satu buah cheese burger, kentang goreng ukuran sedang, dan cola ukuran sedang. Mereka menyebutnya sebagai paket hemat.

Sambil makan aku merenung, ternyata konsep paket hemat seperti yang banyak diterapkan di berbagai restoran cepat saji memang ditujukan untuk memperbanyak konsumsi. Apakah kemudian kita memerlukan tingkat konsumsi sebanyak itu menjadi tidak relevan. Selisih harga yang tidak seberapa dipakai sebagai alat penarik minat konsumen untuk membeli lebih banyak dan mengkonsumsi lebih banyak.

Dorongan untuk mengkonsumsi lebih banyak tidak hanya terjadi di dunia makanan cepat saji, namun juga sudah merasuk ke hampir semua sektor perdagangan. Alat-alat yang memungkinkan kita mengkonsumsi lebih banyak dari apa yang kita perlukan diciptakan untuk mendukung sistem yang berlangsung seperti saat ini -sebut saja, kartu kredit, kartu diskon, voucher belanja, dan lain-lain.

Perangkat lainnya adalah public relation dan advertising, yang diciptakan untuk memanipulasi otak manusia melalui media audio visual tentang nilai-nilai baru ‘modernitas’ untuk menggantikan kebajikan masyarakat jaman dulu yang serba self-sufficient dan seadanya.

Dan untuk melepaskan diri dari jebakan image semu ini tidaklah mudah, karena setiap saat, setiap sisi kehidupan kita dikelilingi oleh perangkat-perangkat dan kaki tangan nilai-nilai baru tersebut. Aku pun masih sering terjerat perangkapnya.

Well, minimal yang bisa kita lakukan adalah tetap waspada dan selalu mengingatkan diri sendiri atas adanya jebakan-jebakan konsumsi ini.

1 Comment

  1. yaya.. sudah lama tidak berkunjung.. gue baru resurrection nih di dunia per-blog-an :p

    i cudn’t agree more with your writing ya… banyak tempat yang nggak bisa menerapkan ‘less is more’. Kadang tuh penjual2 nyangka kalau kita mau mengurangi sesuatu, itu karena kita ngarep harganya lebih murah.

    Di Urban Kitchen, let’s say Nasi Liwet, itu mereka jual per paket. Ada ayam, jeroan, tahu, telor, etc dalam satu paket. Pas gue minta cuma pake tahu doang dengan nasi setengah, mereka bilang gak bisa dan gak mau ngurangin porsi. Sampai gue yakinkan ke mereka, ‘Saya cuma mau pakai nasi setengah, sayuran, dan tahu. Nggak papa saya bayar full.’ Baru lah mereka ngeladenin.. Walau kalo dipikir2, jatah ayam dan telor gue diambil siapa yaaaa.. 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s