upah rendah dan pekerja anak: magnet bagi investasi?

Beberapa hari yang lalu temanku memberi tahu adanya pamflet promosi investasi pemerintah Indonesia yang dilihatnya dalam penerbangan Garuda. Dia –yang kebetulan WNA, mengkritik kok bisa pemerintah Indonesia secara terang-terangan mempromosikan rendahnya upah buruh di Indonesia sebagai salah satu daya tarik bagi investor asing. Tertampar juga rasanya mendengar kritik seperti itu, walaupun fakta memang sudah terpampang di depan mata.

Saking penasarannya, dalam penerbangan pagi ini, kucuri satu pamflet yang diterbitkan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) dari kantong di depan kursiku. Dan mulai kubaca.

Pamflet yang berjudul “Invest in Remarkable Indonesia” ini berisi argumen singkat mengapa inevstor asing harus berinvestasi di Indonesia. Hal ini juga diperkuat dengan testimoni beberapa perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia, beberapa diantaranya bahkan sudah puluhan tahun.

Dari 5 perusahaan multinasional (MNC) dan 1 institusi keuangan internasional yang melakukan testimoni, 4 perusahaan MNC menyatakan bahwa mereka terus beroperasi di Indonesia karena Indonesia adalah pasar/market yang menjanjikan bagi barang-barang konsumsi mereka. Ya iya lah, 240 juta orang tentu bukan jumlah yang main-main sebagai pasar. Jadi bisa disimpulkan dari sini, bahwa peran sebagai market adalah satu peran yang dimainkan oleh Indonesia, selain sebagai pemasok bahan mentah, seperti yang ditunjukkan dalam pamflet ini sebagai “abundant natural resources”.

Dalam pamflet juga disebutkan bahwa satu keunggulan Indonesia adalah memiliki pertumbuhan ekonomi yang signifikan, walaupun dunia sedang dilanda krisis ekonomi global. Huh, lagi-lagi mantra “pertumbuhan ekonomi”. Menurutku, pertumbuhan ekonomi itu tidak menggambarkan apapun. Parameter ini hanya berguna bagi investor, dan tidak menggambarkan kondisi kesejahteraan warganya.

Harusnya kita sudah mulai memakai parameter yang agak lebih komprehensif seperti Human Development Index (HDI). HDI adalah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan warga satu negara, terutama kesejahteraan anak,  berdasarkan usia harapan hidup, tingkat melek huruf, pendidikan, dan standar kehidupan. Parameter ini digunakan untuk melihat sejauh mana dampak kebijakan ekonomi terhadap kualitas kehidupan warga.

Hal ini penting dilihat karena tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta berarti bahwa warga negara sejahtera. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dibarengi dengan HDI yang tinggi sebenarnya menggambarkan kondisi ekonomi yang semu. Sebagai gambaran, pada tahun 2003, dalam peringkat HDI, Indonesia berada di urutan 112 dari 175 negara. Ini jauh di bawah negara-negara ASEAN lain seperti Singapura (urutan 28), Brunei (31), Malaysia (58), Thailand (74), dan Filipina (85).

Di tahun 2009 Indonesia menempati urutan 111 dari 182 negara. Sementara Singapura di peringakt 23, Brunei di 30, Malaysia di 66, Thailand di 87, dan Filipina di 105.

Kembali kepada keprihatinan di atas mengenai murahnya upah buruh. Di dalam pamflet tersebut disebutkan bahwa upah buruh Indonesia adalah USD 0,6 per jam –bandingkan dengan China yang USD 2,11 per jam dan India yang USD 1,03 per jam, dua negara yang selalu disebut sebagai magnet investasi di dunia. Dibandingkan dengan Malaysia, Thailand dan Filipina, upah buruh Indonesia masih jauh lebih rendah (lihat gambar di bawah).

Grafik di atas juga menunjukkan bagaimana rendahnya perlindungan pemerintah terhadap anak-anak. Dari grafik di atas ditunjukkan bahwa usia kerja di Indonesia adalah dari umur 15-64 tahun. Hmmm….bukankah usia 15 tahun masih dikategorikan sebagai anak-anak? — yang notabene masih harus menjalani wajib belajar?

Aku tidak tahu hasil sensus yang baru-baru ini diselenggarakan, bagaimana komposisi demografi Indonesia. Namun dari pengamatan sekilas dari grafik di atas, bukankah ini berarti pemerintah kita secara sadar mempromosikan bukan hanya upah buruh yang rendah, tapi juga pekerja anak? Sungguh, nggak habis pikir aku dibuatnya.

Well, mungkin analisaku yang bukan ahli ekonomi ini dangkal. Tapi setidaknya itu lah yang bisa dibaca oleh orang awam. Atau mungkin para ahli ekonomi memiliki cara membaca yang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s