batubara untuk siapa?

“Saya sudah bangkrut Mbak,” seorang nelayan dari Desa Waru Duwur Cirebon bercerita pada saya dengan mata berkaca-kaca. “Sejak setahun lalu saya sudah tidak punya kapal lagi untuk cari ikan. Kapal saya rusak dan saya nggak mampu memperbaikinya. Sekarang saya ikut teman lain kalau ada yang melaut.”

Dua tahun yang lalu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon memulai proses pembangunannya. Sejak PLTU mulai dibangun komunitas nelayan di Desa Waru Duwur mengalami penurunan hasil tangkapan. “Mereka menguruk laut untuk lokasi PLTU. Laut jadi dangkal. Ikan-ikan pada hilang. Kami harus melaut lebih jauh, jadi bahan bakar harus nambah, padahal tangkapan menurun,” lanjutnya.

Para nelayan yang semula bisa membawa pulang bersih Rp.100.000 per hari saat ini mengalami kesulitan bahkan untuk membawa pulang Rp.25.000 per hari. “Sering juga kami nombok,” tambahnya, dengan mata menerawang. Belum lagi beroperasi, PLTU telah menimbulkan dampak negatif sedemikian pada warga Waru Duwur.

Sehari kemarin kembali saya harus mendengar berbagai cerita penderitaan yang dialami berbagai anggota masyarakat yang berasal dari Cirebon, Cilacap, Kutai Timur dan Kutai Barat di Kalimantan Timur. Saya juga mendengar cerita penderitaan masyarakat dari Cina, India, Thailand dan Filipina. Satu kesamaan penyebab penderitaan mereka, batubara.

Batubara dipakai untuk membangkitkan listrik. Selain membawa terang ke kehidupan kita, batubara juga membawa kegelapan dalam kehidupan banyak warga masyarakat di seluruh dunia. Dan hal terakhir ini tak banyak orang mengetahuinya.

Batubara telah menimbulkan berbagai permasalahan sejak mulai batuan itu ditambang di pelosok-pelosok Kalimantan sana hingga dibakar di berbagai tungku pembakar di dalam PLTU. Batubara dibakar di dalam PLTU untuk memanaskan air yang akan menghasilkan uap air . Uap air kemudian dialirkan untuk memutar turbin yang akan menghasilkan listrik.

Pak Sugrisno dari Cilacap bercerita bagaimana 60% dari anak-anak usia di bawah 14 tahun di tiga desa di sekitar PLTU Cilacap harus menderita penyakit infeksi saluran pernafasan. Mesjid di area perumahan mereka harus mereka tutupi pintu-pintu dan jendelanya dengan terpal plastik agar debu batubara tidak mengotori lantainya setiap saat. Suaranya meninggi dan tangannya mengepal-ngepal ketika menceritakan ketidakpedulian pemerintah dan operator PLTU menghadapi keluhan masyarakat. “Tak ada sedikitpun perhatian dari pemerintah. Lalu kami harus mengadu kemana lagi?” tanyanya menggantung di udara.

Pengalaman Ibu Faa dari Thailand pun tak berbeda. Dengan suara yang lembut dia bercerita bagaimana pembangkit listrik tenaga batubara Mae Moh di Thailand menimbulkan berbagai penyakit pada warga yang tinggal di sekitarnya – mulai dari penyakit saluran pernafasan hingga kanker paru-paru. Diperlukan 8 periode pemerintahan di daerahnya agar keluhan masyarakat benar-benar diperhatikan. Tak terkatakan segala pengorbanan yang harus mereka keluarkan, mulai harta benda, waktu, tenaga dan perasaan, agar pihak-pihak yang memiliki kuasa mau menoleh pada masyarakat.

Ah, lagi-lagi pemerintah. Lagi-lagi aparat negara. Ternyata perilaku mereka dimana pun tak berbeda.

Di akhir waktu berbagi pengalaman ini pikiran saya melayang-layang, teringat kata-kata Martin Luther King, Jr. –I have a dream. Ya, saya punya mimpi. Suatu hari negara ini bisa benar-benar menegakkan konstitusinya sendiri, bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat .”

Yah, saya punya mimpi. Dan seperti Matin Luther King, Jr. saya tidak ingin hanya bermimpi.

Cirebon, 4 Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s