sang pencerah

Terkena imbas hip-nya film Sang Pencerah — film terbaru besutan sutradara Hanung Bramantyo dan diperani oleh Lukman Sardi dan Slamet Rahardjo, diantaranya. Film ini bercerita tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri salah satu organisasi muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, di awal-awal pendiriannya.

Sesuai dengan judulnya, Sang Pencerah, KH Ahmad Dahlan membawa perubahan yang cukup radikal di kalangan penganut Islam di Jawa dalam hal memperbarui cara pandang dan perubahan praktik-praktik ritual keagamaan. Beliau mendobrak praktik Islam kejawen yang masih diselimuti unsur mistik dan mengarah pada kemusyrikan seperti memberi sesajen, dan membongkar praktik pengkultusan imam Mesjid Besar Kauman sebagai sumber utama kebenaran.

Dalam mengajarkan agama Islam beliau memadukan unsur logika dan hati, otak kiri dan otak kanan, dan lebih berperan sebagai fasilitator dibandingkan guru yang menjadi sumber pengetahuan.Beliau juga mengajarkan bahwa praktik jauh lebih penting daripada hanya membaca ayat-ayat Quran yang tanpa implementasi. Bahwa besar atau kecilnya suara kita dalam mengaji tidak ada pengaruhnya pada Allah, karena Allah tetap dapat mendengar apa yang disuarakan oleh hati.

Tentu saja setiap perubahan pasti akan menimbulkan riak, bahkan gelombang. Demikian pula upaya pencerahan yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan mendapat tentangan yang tidak kalah kerasnya dari kaum staus quo yang khawatir bahwa perubahan ini akan menimbulkan gejolak yang negatif dalam masyarakat. Alih-alih dendam dan berusaha membalas dendam pada pihak-pihak yang memusuhi dan memfitnahnya, KH Ahmad Dahlan tetap fokus pada tujuan semula, dan secara sistematis melakukan berbagai langkah dan pengorganisasian hingga cita-citanya dapat terwujud.

Ah, banyak benar pelajaran berharga yang disampaikan dalam film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini. Belum lagi kenikmatan yang diberikan pada mata ini ketika melihat kain lurik, batik tulis, surjan, blangkon dan kebaya yang sangat jarang kita lihat tampil dalam film-film nasional kita.

Two thumbs up!!

Diputarnya film ini masih dalam suasana Idul Fitri dan di tengah karut marutnya kehidupan sosial keagamaan di Indonesia sangatlah tepat. Dan bila kelompok masyarakat yang peduli untuk mengambil alih kembali prinsip Islam sebagai ajaran yang penuh damai, kasih sayang, kesetaraan, keadilan dan mengakui keberagaman, maka inilah saatnya.

Masyarakat muslim Indonesia seharusnya menyimak kembali pelajaran yang telah dicontohkan oleh KH. Ahmad Dahlan dan tidak membiarkan kesucian agama dan misi damainya dibajak oleh kepentingan-kepentingan yang membenarkan teror dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s