invictus

Walaupun kata “invictus” tidak bisa aku cari artinya dalam Bahasa Indonesia, namun setelah meng-google kata tersebut aku dapatkan bahwa kata itu adalah judul puisi yang digubah oleh Willian Ernest Henley. Judul puisi ini kemudian diambil menjadi judul film yang ingin kubahas dengan sepenuh hati berikut ini.

Film Invictus bercerita tentang Afrika Selatan di masa-masa awal pembebasannya dari politik rasis Apartheid. Nelson Mandela yang terpilih sebagai presiden memiliki tugas berat untuk menyatukan 43 juta rakyat Afrika Selatan, membebaskan mereka dari prejudice, dari ketakutan, dari dendam serta perasaan saling curiga dan saling membenci.

Nelson Mandela mengajarkan bagaimana memafkan dengan sepenuh hati — tidak dengan omongan dan peraturan, tetapi dengan tindakan dan tingkah lakunya. Mandela adalah seorang pemimpin yang melandaskan kepemimpinannya dengan memberi contoh dan keteladanan — leading by example. Mandela memberi contoh bagaimana memaafkan dan mencintai orang yang semula musuh. Forgiveness is a powerful weapon, begitu katanya.

Dia menunjukkan bagaimana dia menginspirasi bahkan orang-orang yang semula tidak mengakui keberadaannya, keberadaan negara Afrika Selatan dan warganya kebanyakan, sehingga mereka secara sukarela mengikutinya.

Uniknya Mandela memunculkan rasa persatuan warganya melalui sport. Dan sport-nya pun bukanlah sport yang dimainkan oleh warga mayoritas, namun dimainkan oleh warga minoritas kulit putih yang tidak menang dalam sistem yang demokratik, yaitu rugby. Tidak hanya akhirnya Mandela memudarkan sekat rasial diantara warganya, warga kulit putih pun mulai mengapresiasi presiden kulit hitam mereka. Bahkan tim rugby elit ini pun bersedia menyanyikan lagu kebangsaan Afrika Selatan yang semula tidak mereka akui.

Mandela menyebut negerinya the Rainbow Nation — bangsa Pelangi. Melalui film ini aku bisa merasakan beban yang sama yang harus dipikul oleh Soekarno di awal-awal berdirinya Negara Republik Indonesia ini, yang bhinneka, yang warna-warni, yang bak pelangi. Dan aku tidak rela bila keindahan pelangi itu harus diganti secara paksa oleh satu warna hitam, yang kelam, dan menakutkan. Na’udzubillahi min dzalik..

Benar-benar film yang sangat menginspirasi! Seharusnya film ini ditonton mulai dari SBY sampai lurah. Film ini pun sangat kontekstual dengan kondisi Indonesia saat ini, yang mulai terpecah belah akibat sentimen SARA dan munculnya kelompok-kelompok garis keras yang berusaha melawan sunatullah — keberagaman.

Puisi Invictus ini selalu dibaca Mandela di dalam penjara, dimana dia dijebloskan oleh pemerintah apartheid dan harus mendekam disana selama 30 tahun. Puisi ini membuatnya ‘tetap berdiri ketika apa yang dia inginkan hanyalah tiarap’. Puisi ini menginspirasinya dan memberinya kekuatan menjalani hari-hari yang berat dan membosankan di dalam penjara.

i n v i c t u s

OUT of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbow’d.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate;
I am the captain of my soul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s