relativity

20110921-064729.jpg

Bagaimana kita menjelaskan teori relativitas Einstein? Cara termudah adalah dengan memberi contoh dari hal-hal yang tidak “ilmiah”. Misalnya, bagi dua orang yang sedang jatuh cinta, ngobrol di telpon semalam suntuk sampai mulit dower dan telinga budeg bukan masalah. Malahan kantuk seolah-olah tak menyapa dan semalam suntuk seolah berjalan bagai sedetik (haha…mungkin ini agak lebay ya…). Namun sebaliknya, jika salah satu atau keduanya tidak saling suka, maka telpon sedtik pun sangat mengganggu dan sudah terlalu lama rasanya, sehingga ingin cepat-cepat disudahi.

Dan kita semua, menjalani kehidupan ini, menurutku, akan selalu berada dalam kondisi relatif. Nisbi. Variabel. Bukan konstanta. Bahkan kita sedetik yang lalu sangat berbeda dengan diri kita saat sekarang ini.

Dalam relatifitas akan selalu ada referensi, karena relatifitas intinya adalah perbandingan. Dan untuk membandingkan kita butuh referensi. Misalnya, dulu begini sekarang begitu. Bumi, bisa dianggap bergerak, bisa juga dianggap tetap. Bergerak jika dibandingkan dengan matahari — yang notabene dijadikan titik yang tetap/referensi. Namun bumi juga bisa dianggap tidak berpindah jika dibandingkan terhadap poros bumi itu sendiri, misalnya.

Begitu juga dengan orang. Kita sering mendengar orang bilang,”Ah, dia sudah berubah!” Pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena bukan hanya si dia saja yang berubah, tapi juga orang yang membuat pernyataan tersebut. Masalahnya, apakah perputaran atau pergeseran atau perubahan itu mengarah semakin mendekati satu sama lain, atau sebaliknya menjauhi. Tentu saja pergerakan tersebut tidak lah steril, ada pengaruh gaya-gaya dan energi dari luar yang membuat perubahan atau pergeseran kita bukanlah sepenuhnya kemauan kita, tapi merupakan resultanta dari berbagai gaya yang ada tersebut.

Kembali pada titik awal perenunganku. Sering aku bertanya, mungkinkah orang berada di dua tempat sekaligus? berada di dua hati sekaligus?

Well, aku pernah berada di 2 tempat sekaligus pada saat yang bersamaan, yaitu ketika aku ke Greenwich Inggris. Tepat di garis bujur nol derajat yang membagi bumi dengan garis imajiner menjadi 2 belahan, kaki kiriku berada di belahan bumi barat, dan kaki kananku berada di belahan bumi timur. Ya, aku berada di dua tempat sekaligus! (lihat foto di atas). Tapi kalau kita lihat secara fakta, aku hanya berada di satu tempat, yaitu di Greenwich. Aku berada di dua tempat sekaligus itu relatif terhadap garis bujur nol derajat.

Jadi, dasar itu lah yang membuatkau mengambil kesimpulan bahwa tidak mungkin seseorang berada di tempat, dua hati sekaligus. Sebenar-benarnya dia hanya berada di satu tempat. Sejujur-jujurnya, hatinya hanya ada di satu tempat. Ketika terlihat ada di dua tempat, atau lebih, maka itu sebenarnya relatif. Relatif terhadap apa, hanya yang bersangkutan yang bisa menjawabnya.

Ada pula yang terlihat di banyak tempat, tapi sebenarnya dia tidak berada dimana-mana. Ini dikarenakan dia tidak tau apa yang dia mau. Seperti ada orang bijak yang berkata,”How can you be at two places at the same time, when you are not anywhere at all.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s