gunung gede, part-2

Jumat malam itu hujan sangat deras. Ibuku bertanya apakah aku yakin mau mendaki gunung di tengah cuaca seperti ini. Namun aku berusaha menenangkan dan kubilang, bagus hujan sekarang jadi besok di perjalanan nggak hujan lagi. Kubilang juga, bahwa akan ada 3 anak SD yang akan ikut mendaki, jadi bisa dipastikan organizer pendakian akan sangat memikirkan faktor keamanan.

Pendek kata, sepatu baru sudah kubeli, matras, kaos kaki hangat sudah lengkap. Mbak Sandra akan membantu menyewakan sleeping bag dari organizernya. Dan untuk carrier, aku tak perlu khawatir karena akan ada porter yang akan membawakan barang-barangku. Aku hanya perlu bawa air minum dan makanan kecil untuk di perjalanan. Malam itu aku tidur cepat karena harus bangun jam 3.30 pagi untuk segera berangkat ke Cibodas.

Jam 3.30 adikku sudah siap di belakang kemudi dan berangkatlah kami berdua menuju arah Puncak. Sekitar jam 4.30 kami sudah sampai Cibodas, thanks to the empty roads. Sesampainya di warung tempat rombongan menginap, aku serahkan barang bawaanku — pakaian ganti, matras, sandal, dan peralatan bersih-bersih. Berkenalan aku dengan anggota rombongan yang lain, sebagian besar teman-teman Mbak Sandra, yang ternyata hampir semuanya pendaki gunung ketika mereka masih kuliah. Untuk mengantisipasi keleletanku nantinya (sudah bisa kupastikan, hehehhee…) kubilang bahwa ini adalah pendakianku yang pertama.

Sekitar jam 7 pagi, kami berkumpul di depan warung untuk mendengarkan briefing dan berkenalan dengan tim organizer/pemandu. Jumlah mereka hampir sama dengan jumlah rombongan kami yang berjumlah 13 orang — termasuk 3 orang anak SD dan 2 orang pemula (aku dan Mbak Yanti). Kelima orang ini belum pernah mendaki sebelumnya. Selebihnya adalah pendaki berpengalaman. Maklumlah, barang bawaannya banyak sekali.

Setelah briefing kami berangkat dengan 2 angkot menuju titik awal pendakian. Tim pemandu bilang kami berangkat melalui jalur Gunung Putri. Sesampainya di titik awal pendakian, kami kembali berdoa dan pendakian di mulai, literally.

20111228-155133.jpg

Titik awal pendakian ini menyajikan jalur yang tanpa basa basi. Jalur panjang berbatu dengan kemiringan sekitar 60 derajat lebih. Belum 50 meter berjalan nafasku sudah ngos-ngosan. Suara jantungku bukan lagi berdetak tapi sudah gaduh saking kencangnay berdegup. Langsung aku menyesal mengapa selalu malas berolahraga. Bang Martua, suami Mbak Sandra bilang, kalau capek, istirahat saja, jangan memaksakan diri. Apalagi ditambah cerita ada satu orang temannya yang meninggal karena memaksakan diri walaupun jantungnya sudah berdegup kuat dan akhirnya tak tahan lagi. Sumpah, jalur ini adalah jalur yang terberat menurutku. Rasanya ingin menyudahi saja perjalanan ini sampai disini dan kalau perlu memanggil ojek untuk membawaku pulang kembali ke Cibodas. Tapi untung ada yang namanya gengsi, sehingga keinginan ini kubatalkan…hehehhee….

20111228-160207.jpg

Entah berapa lama berjalan, melewati pos pelaporan, sampailah kami di jalur bertangga. Beberapa orang pekerja nampak sedang membangun jalur bertangga ini yang oleh para pendaki senior tidak diinginkan keberadaannya. Mereka bilang jalur bertangga ini tidak nyaman bagi pendaki. Dan mereka benar. Namun dengan sabar dan tabah kulewati cobaan ini. Kudaki satu demi satu anak tangga tanah yang tak ada habisnya ini, hingga di satu titik kami tiba di suatu gerbang batu bertuliskan “Taman Nasional Gede Pangrango”. Disitu kami beristirahat dan membuka bekal makanan kecil yang kami bawa.

20111228-160457.jpg

Setelah beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Di satu daerah yang dinamakan Buntut Lutung kami istirahat untuk makan siang. Dan disinilah nikmatnya naik gunung dengan rombongan. Sambil menunggu masakan siap kami ngobrol-ngobrol sambil kembali makan snack. Dan kali ini aku merasakan lapar yang teramat sangat. Rasanya tak sabar untuk menunggu masakan siap. Benar saja, ketika masakan siap –nasi, rendang, ikan pindang dan sayur, aku dengan lahapnya makan satu bungkus nasi yang porsinya cukup besar. Satu keputusan yang cukup kusesali belakangan.

Setelah makan siang kami kembali mendaki. Jalur Gunung Putri ternyata cukup curam dan terjal. Berkali-kali aku harus beristirahat dan mengatur nafas. Belum lagi lutut yang mulai bergetar dan perut yang rasanya penuh dan berat. Ini lah akibat makan siang yang terlalu rakus tadi. Rasanya aku sedang membawa karung di perutku. Berat banget. Dengan cepat aku tertinggal oleh anggota rombongan yang lain. Rasa kagumku pada Ahimsa, Rugun, dan Aruna — 3 anak SD yang semangatnya nggak habis-habis dan masih bisa menyanyi-nyanyi dengan riangnya sambil mendaki.

20111228-155520.jpg

Entah berapa lama kami mendaki hingga kudengar satu demi satu anggota rombongan berteriak-teriak karena sudah sampai di atas, di alun-alun Suryakencana. Walau tak sabar rasanya untuk segera sampai, aku terus mengingatkan diri pada cerita Bang Martua — bagaimana temannya yang terlalu excited akhirnya tumbang dan meninggal. Jadi, aku tetap dengan ritmeku semula — sangat perlahan tapi pasti.

Hasil renunganku selama mendaki adalah, bahwa kupikir setiap orang wajib hukumnya, at least once in their life time, mendaki gunung. Disinilah ketabahan, kesabaran, ketidakputusasaan, persistensi kita diuji. There is no other way but moving forward. Bukan hal yang gampang. Dan sering dalam kehidupan, kita dihadapkan pada situasi seperti ini. Ingin menyerah, ingin berhenti. Well, seperti kata Lenny Kravitz, it ain’t over til it’s over.

Dan akhirnya, sampai juga aku di Alun-alun Suryakencana, bersama Mbak Sandra. Yeaaayyyy!!! Kami adalah yang terakhir yang tiba disana. Alhamdulillaah…

20111228-155629.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s