kerinci i’m in love, part-2

Esok paginya, tanggal 31 Desember 2013, kami bersiap lagi melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah langsung ke Shelter-3 –perhentian terkahir sebelum perjalanan menuju puncak dan atap Sumatera. Kali ini, aku bergabung dengan grup kecil para pendaki gaek yang happy happy joy joy dan selalu bercanda sepanjang perjalanan. Grup ini juga adalah grup sweeper, artinya grup paling belakang yang memastikan bahwa semua anggota rombongan memang dipastikan telah lewat. Track dari Shelter-1 ke Shelter-2 ini bahkan lebih menanjak lagi, dan seringkali juga tanjakan harus dilalui dengan memanjat dengan bergantung pada akar-akar pepohonan.

photo 1

 

IMG_5987

Dan perjalanan selanjutnya, dari Shleter-2 ke Shelter-3 adalah fase yang benar-benar menguji ketahanan fisik dan mentalku secara pribadi. Pada track ini, kami harus berpindah-pindah dan memilih-milih apakah harus berjalan melewati ceruk yang menjadi jalan air, ataukah lewat bibir gunung, memanjat dan bergantungan pada batang dan akar pohon. Dari seuruh jalur pendakian, jalur inilah yang terberat menurutku 0–misalnya saja, dari satu pijakan ke pijakan lain dengkul kita bisa menyentuh dada sakin tingginya. Satu yang kami mohonkan, agar hujan lebat tidak turun. Jika hujan lebat turun, maka cerukan yang kami lewati akan menjadi jalur air, dan akan sulit berjalan sambil melawan aliran air hujan yang mengalir ke bawah. Dengan kemiringan lereng yang cukup tajam, niscaya aliran air akan deras. Di track ini pulalah di satu titik aku nyaris putusa asa dan ingin menangis rasanya, akibat kehilangan fokus sehingga sulit bagiku memilih pijakan dan ke mana harus bergerak. Yang membuatku kehilangan fokus adalah teriakan-teriakan dan seruan kegembiraan orang-orang yang sudah sampai di Shelter-3 yang terdengar sampai di tempatku berada, membuatkau ingin segera sampai di sana. Namun di sisi lain pula kurasakan mengapa perjalanan ini tak ada habis-habisnya, dan mengapa tak juga sampai aku di Shelter-3 tersebut. Beruntung aku bersama para pendaki senior yang siap siaga membantuku, mengulurkan tangan, menunjukkan ke mana kakiku harus kupijakkan, dan ke mana aku harus bergerak.

IMG_6015

Pada satu posisi yang relatif aman, tak sengaja aku menengok ke belakang dari bibir lereng. Dan Subhanallaah pemandangan yang kulihat membuat mulutku ternganga dan ingin menangis karena haru rasanya. Gumpalan awan putih dan semburat jingga matahari yang mulai terbenam adalah pemandangan senja terindah yang pernah kualami seumur hidupku. Awan-awan seputih kapas ada di depan kita seakan-akan kasur empuk yang menunggu untuk dilompati ke atasnya. Dan tak kusia-siakan kesempatan itu untuk berfoto-foto sejenak, sambil mengatur nafas, mengembalikan fokusku pada pendakian, dan memicu semangat lagi.

photo 5

photo 4

photo 21

Menjelang Maghrib, sampailah rombongan kami di Shelter-3. Angin keras menerpa begitu kami tiba di Shelter-3 yang memang posisinya terbuka mirip lapangan kecil. Dingin udara bercampur angin menusuk hingga ke tulang. Seluruh persediaan jacket akhirnya aku pakai –jacket polar di paling dalam, lalu jacket windbreaker dan jacket raincoat. Tak lupa kupluk dan sarung tangan pun aku kenakan. Kembali aku menatap tiada henti tumpukan awan putih tebal yang ada di bawahku –ya, aku literally berada di negeri di atas awan, serta semburat matahari yang perlahan menghilang dan mengubah sekelilingku menjadi semesta berwarna biru. Tak ingin rasanya mata ini berkedip agar bisa kuabadikan pemandangan indah ini di dalam benakku selamanya.

photo 22

photo 20

Malam itu tidurku tak terlalu nyenyak. Angin keras menderu-deru. Udara dingin menusuk menembus sleeping bag-ku. Tenda kami cukup besar dan tinggi sehingga angin leluasa masuk ke dalam. Ini pelajaran bagi tim untuk tidak membawa tenda besar ke atas gunung. Berkali-kali aku buang air kecil akibat udara dingin, yang terpaksa kulakukan tak jauh dari tenda karena cuaca gelap sehingga sulit berjalan terlalu jauh.

Dan saat yang dinanti-nanti pun tiba. Sejenak angin berhenti bertiup. Semua orang keluar dari tenda dan merayakan tahun baru!! Yeiiyyy!! Riuh rendah suara orang berteriak-teriak. Bahkan ada yang membawa terompet dan kembang api. Letupan warna-warni menerangi angkasa yang beku. Namun aku tak kuasa bergerak dari posisi nyamanku di dalam sleeping bag. Biarlah mereka-mereka bergembira. Bagiku tahun baru sama saja. Hanya kali ini aku tak merayakannya bersama keluarga di rumah. Dan lucunya, setelah perayaan yang berlangsung sekitar 10-15 menit, angin kembali menderu-deru. Dalam hati kuputuskan bahwa aku akan berdiam saja di tenda dan tak akan naik ke puncak. Manalah aku berani menghadapi angin yang menderu-deru seolah ingin menerbangkanku.

Maka ketika kawanku si Mukri membangunkan aku sekitar jam 3 dini hari untuk mengajakku ke puncak, kutolak ajakannya. Kubilang aku sudah bulat hati tidak mau ke puncak. Mendengar suara angin yang menderu-deru saja sudah ciut nyaliku. Apalagi harus berjalan di tengah-tengahnya. Maka berangkatlah Mukri dengan rombongan pertama menuju puncak Kerinci di 3.805 meter di atas permukaan laut. Sekita jam 04.30 kawanku Nik serta para pendaki senior lainnya, kembali membangunkanku untuk mengajak ke puncak. Semula aku masih bertahan untuk tidak ikut, namun entah kenapa hati kecilku mendorong untuk ikut saja. I am in a good hand. Jangan khawatir, mereka pasti menjagaku –begitu kata hati kecil, yang kemudian kuikuti. Maka kukenakan sepatu, kupluk, sarung tangan, dan jacket tumpuk tiga. Tak lupa senter kecil yang kupegang dengan jari-jari yang hampir tak bisa merasakan apa-apa. Keluarlah aku dari tenda. Di luar sudah banyak kawan-kawan berkumpul. Kami pun mengatur barisan dan tata tertib selama pendakian ke puncak. Mereka bilang pendakian ini sekitar 3 jam dengan jalur berpasir berbatu yang suka lepas. Jadi hati-hati melangkah adalah pesan utama yang diberikan.

Berjalanlah aku bersama rombongan, dengan mata yang setengah rabun karena gelap dan angin yang menderu-deru hebat bagai ingin menerbangkanku. Jalur menanjak sekitar 60-an derajat menyambut kami. Pelan kami bergerak. Sekali-sekali kami naik dibantu tali saking sulitnya kaki mendapat pijakan yang ajeg dan tidak berguguran. Kadang kami harus berhenti dan duduk di dalam parit jika angin kencang bertiup. Untung kami bersama dengan pendaki senior yang sangat paham seluk beluk dan sifat dari Gunung Kerinci ini.

Setelah agak lama juga berjalan, aku bertanya kepada temanku, masih jauh kah puncak Kerinci itu. Dia menunjukkan, nah itu yang di sebelah kiri namanya Puncak Geger, sementara puncak Kerinci itu yang di atas sebelah kanan itu, katanya. Wooww masih jauh juga ternyata. Tiba-tiba kakiku terasa lemas, dan dayaku seolah-olah terbang, aku jadi tak bertenaga. Dalam hati aku bilang, wah nampaknya aku nggak akan bisa sampai puncak. Tak terlalu jauh di atasku, kulihat banyak orang berhenti untuk berfoto-fot. Kutanya pada temanku, tempat apa itu. Dia bilag, itu Batu Gantung –karena posisi batu besar itu memang bergantung, alias di bawahnya tidak ada penyangganya. Serta merta aku bilang, ya sudah, puncakku di sana aja. Puncakku di Batu Gantung itu. Aku udah nggak sanggup lagi.

So ikutlah dua orang temanku berhenti di sana. Mereka nggak tega meninggalkan aku sendirian di sana sambil menunggu rombongan turun dari puncak. Di sana kami mengabadikan pemandangan yang tak ada duanya dalam hidupku. Awan-awan putih bergumpal bagai kasur empuk yang siap menampung badan siapa pun yang lelah. Ingin rasanya melompat ke atasnya! Lihat saja foto-fot di bawah ini!

photo 31

photo 30

photo 32

Singkat cerita, tercapailah hajatku mendaki Gunung Kerinci. Dan Alhamdulillah rombongan kami turun dengan selamat tanpa kurang suatu apa.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s