pemilupres dan sepak bola

Pemilihan presiden kali ini memunculkan fenomena yang menarik, di mana terjadi perdebatan di antara warga negara yang akan menggunakan haknya di tanggal 9 Juli yang akan datang, yang suasananya mirip-mirip dengan keriuhrendahan supporter sepak bola menjelang pergelaran Piala Dunia. Kalau ditilik dan dilihat, perdebatan yang muncul mulai dari yang ideologis, teknis, sampai yang klenik atau berbau SARA. Beda-beda tipis lah sama argumentasi para penggemar sepak bola tentang tim favoritnya maupun tim lawan.

Saya ingat waktu Piala Dunia tahun 2006 (kalau nggak salah), di mana waktu itu Zinedine Zidane naik daun dan dielu-elukan seantero dunia karena kejagoannya bermain. Para penggemarnya saat itu, terutama yang muslim, merasa ikut bangga dan “terwakili” karena Zidane itu keturunan Aljazair dan konon kabarnya muslim. Padahal apakah kejagoannya bermain bola itu akibat dia memeluk agama Islam atau akibat dia rajin latihan, juga nggak jelas –belum ada yang meneliti, kan? Nah, mirip-mirip juga dengan mempermasalahkan keislaman atau ketidakislaman capres-capres. Memangnya kompetensi sebagai presiden ditentukan oleh agama apa yang dipeluk atau tidak dipeluk oleh capres? Kalau moral yang dipermasalahkan di sini, apa parameter moral itu? Berapa orang koruptor yang berkasus di KPK itu yang berkali-kali naik haji atau bangun mesjid di mana-mana?

Mengikuti perkembangan dinamika pemilihan presiden ini, saya justru khawatir bangsa Indonesia ini akan jadi tercerai berai, tawuran dan bentrok di mana-mana –mulai dari yang virtual sampai yang fisik. Saya khawatir kelompok-kelompok pendukung capres ini akan terjebak pada pengkultusan figur capres yang bersangkutan, yang pada akhirnya bisa melakukan pembelaan buta. Mirip-mirip lah dengan supporter  dan penonton pertandingan sepak bola. Padahal, apakah penonton sepak bola ini akan kecipratan duit transferan pemain-pemain dunia tersebut? Nggak juga, kan? 

Nah, belum jadi presiden aja sudah dibela secara buta, apalagi nanti sudah jadi presiden, bisa-bisa terjadi tirani satu kelompok pemenang terhadap kelompok lainnya. Beda-beda tipis juga dengan supporter tim yang menang pertandingan –arak-arakan keliling kota tanpa mengindahkan hak warga lain yang bukan penonton dan bukan supporter. 

Tapi saya harap, pendukung capres ini juga bisa berlaku fair terhadap capres yang dipilihnya kelak. Kalau memang kinerjanya nggak benar, jangan ragu-ragu juga untuk memprotes. Iya, seperti fans sepak bola itu lah. Kalau tim favoritnya bermain nggak benar, mereka nggak ragu-ragu marah-marah dan melempar apapun yang bisa dilempar dari tribun penonton. Bahkan kalau perlu turun ke lapangan.

Dan akhirnya, harapan saya, semoga pilpres tahun ini benar-benar seperti pergelaran pertandingan sepak bola. Habis pergelaran, kembali aja ke peran dan tugas masing-masing lah. Nggak usah dilanjutin tawurannya, dan tetap bisa ketawa-ketiwi bersama, tanpa amarah, tanpa dendam. 

Bisa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s