rinjani day 3: menuju segara anak

Meninggalkan puncak Anjani, matahari sudah tinggi dan hari sudah terang, walaupun hari masih pagi. Saat itu sekitar jam 09:00 waktu setempat. Walaupun ketika aku naik kulihat orang begitu mudahnya berseluncur turun dari puncak, aku tak begitu saja kemudian mengikuti cara mereka. Ketakutanku hanya satu, bagaimana kalau aku meluncur kebablasan terus sampai ke jurang? Hii..ngeri membayangkannya. Maka, kugunakan tongkat batang pohonku untuk menahan laju seluncuranku. Yah, mau nggak mau memang kita harus menapak sambil berseluncur. Jadi mirip-mirip berseluncur di salju, tapi di sini debu akan mengebul jika kita berseluncur terlalu kencang. Sambil berjalan, aku menikmati pemandangan yang tersaji di depanku. Lagi-lagi aku bergidik. Megah sekali Anjani ini. Dan betapa ngerinya penampakan “Trek E” yang kulalui sejak sepertiga akhir malam itu.

IMG_4016-1.JPG

Dan bulan Agustus ini, kuncup-kuncup Edelweiss mulai bermunculan –mungil, cantik, nampak tak berdosa. Namun betapa tangguhnya, tumbuh di antara bebatuan dan di ketinggian yang membekukan.

IMG_4011-0.JPGIMG_4012-0.JPG

Singkat kata, sesampainya aku di camp kami di Pelawangan Sembalun hari sudah jam 12:00. Lama juga perjalananku meluncur dari atas. Oh ya, perlu juga kusampaikan bahwa sebaiknya kita tidak sendirian saja turun dari atas. Walaupun jalurnya terlihat straight forward, tak urung aku sempat tersasar dan keluar dari jalur. Saat itu aku turun sendirian, dan memang kuakui, saat itu pikiranku sempat ke mana-mana. Padahal aku hanya berpikir, betapa indahnya, betapa damainya, betapa tak ada pikirannya, betapa kecilnya aku ini. Dan “untungnya” aku diselamatkan oleh adanya tanda-tanda kehidupan manusia, semacam tissue bekas, feses manusia, dan botol minuman bekas yang berserakan sehingga aku bisa mengira-ngira ke arah jalur yang sebenarnya. Ironis ya, sampah yang dibuang sembarangan lah yang membawaku pulang. Hiks…

Setibanya di camp, ternyata Ahmad dan Hamzan, dua kawanku itu belum tiba. Ya aku memang meninggalkan mereka di atas karena mereka sibuk membantu orang-orang yang kepayahan mau naik ke puncak. Baik hati memang mereka. Tak kuasa lagi, aku langsung rebahan saking capeknya, juga minum air sampai puas, karena praktis dari atas aku tidak minum sama sekali. Tapi istirahatku kali ini tak lama. Sekitar jam 15:00 kami sudah harus bergerak untuk menuju Danau Segara Anak. Kawan-kawan bilang jalurnya menurun. Yeiiyyy!! Begitu memang responku saat itu. Dan setelah mengalami jalur menurun itu, nyesel rasanya sudah bergirang hati.

Yah, yang namanya jalur menurun dari Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak itu bukanlah perjalanan menuruni punggung gunung. Perjalanan ini adalah perjalanan menuruni tebing nyaris 90 derajat dengan jalur memutar dan jalur berbatu-batu yang terjal. Huhuhuhuuuu… Sungguh mau nangis rasanya!!! Dan jalur ini benar-benar konsisten turunnya, hampir nggak ada jalur bonus yang rata. Jika pendakian menuju Pelawangan Sembalun dikenal dengan Tanjakan Penyesalan, maka perjalanan turun dari Pelawangan Sembalun ini kusebut Turunan Penyiksaan. Seperti halnya tanjakan yang tak ada habisnya, turunan ini pun tak ada habisnya. Beberapa kali kami bertemu masyarakat lokal yang baru pulang memancing dari danau. Mereka selalu “menghibur” dan bilang, danaunya ada di balik jembatan, nggak jauh lagi. Oke, tapi where the hell is the jembatan???? Helloooooo???

Sesungguhnya perjalanan menurun ini pun pemandangannya cukup oke, tapi sungguh aku sudah nggak berselera lagi mengabadikannya di kamera. Betisku tegang dan lututku kaku dan terasa sakit jika ditekuk, akibat menahan beban berat badan yang lebih berat jika menurun. Sebenarnya akan lebih enak jika kita tidak menahan badan, dan menggunakan momentum berat itu untuk turun dengan setengah berlari. Namun, jalur yang sempit berliku dan sudut yang curam membuat ngeri, khawatir kebablasan malah nyungsep masuk ke jurang di depan.

Dan ketika akhirnya berjumpa dengan jembatan yang disebutkan penduduk lokal tadi, betapa senang hatiku. Yeiiyy… Dan jalur pun sudah tidak terlalu terjal lagi. Saat itu hari sudah mulai gelap. Tapi aku optimis kami akan sampai sebelum malam, karena kan danaunya ada di balik jembatan. Namun apa mau dikata, ternyata itu hanya harapan hampa. Danau Segara Anak ini tak jua menunjukkan mukanya. Di mana dikau, wahai Danau? Dan ternyata lagi, setelah berjalan dengan suntuk karena seolah tak sampai-sampai, di depan terlihat ada jembatan lagi. Omaygaaaaaatt… jadi ada berapa jembataaaaan??? Jangan-jangan jembatannya ada banyak dan jarak yang satu dengan yang lainnya sebegitu jauhnya pula. Oh no!!!

IMG_4014-3.JPG

IMG_4013-4.JPG

Dan ketika wajah danau akhirnya terlihat, aku menghela nafas panjang. Akhirnya nampak juga, walaupun aku tak tahu masih berapa jauh aku akan sampai ke danau itu. Dan menjelang senja itu, suasana sekitar lumayan indah, dan semangatku muncul lagi untuk segera sampai ke sana. Setelah ambil beberapa foto, kupaksa kaki ini berjalan cepat. Walau di setiap langkahnya yang kurasakan hanya nyeri dan ngilu saja. Hiks what the hell!!

IMG_4015.JPG

Setibanya di danau sudah malam, dan Astaghfirullaah… ternyata suasananya sungguh crowded dan macam pasar. Tenda-tenda bersesakan di mana-mana, dan orang-orang sedang sibuk memasak untuk makan malam. Tim Advance dari grupku sudah tiba sedari tadi, dan ketika aku sampai, tenda-tenda kami sudah didirikan. Aku langsung terkapar di tenda, tak dapat menahan kelelahan. Setelah berganti kaos yang sudah basah kuyup oleh keringat, aku langsung tertidur. Aku terbangun ketika Farhan, seorang anggota grupku membangunkanku untuk makan malam. Setelah makan malam, aku tak kuasa untuk ngobrol-ngobrol dengan kawan-kawan seperti malam-malam sebelumnya. Langsung aku tertidur dengan pulas, sampai pagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s