rinjani day-3: muncak

Agustus adalah bulan favoritku, karena di bulan inilah aku dilahirkan. Dan istimewa banget bulan Agustus kali ini, karena diawali dengan mendaki salah satu gunung terindah di Indonesia. Malam itu aku tidur tidak terlalu nyenyak, karena udara yang dingin, dan mungkin juga karena hati yang excited menjelang waktu-waktu muncak. Yup, jam 02:00 nanti grupku akan memulai perjalanan ke puncak Anjani. Aku selalu menolak istilah-istilah yang biasa dipakai para pendaki yang menurutku melambangkan kesombongan dan dominasi manusia atas alam, misalnya “menaklukkan gunung”, atau “summit attack”. Entahlah, di sini, di tengah alam yang semesta ini, aku merasa sangaaaaat kecil. Apa pun bisa terjadi padaku. Makanya kalau ke gunung atau ke alam bebas seperti ini aku sangat menjaga omongan, bahkan pikiran. Aku ingin gunung ini ‘mengayomi’-ku dan menjagaku sebagai ‘tamu’-nya. Tentu saja sebagai tamu, aku nggak boleh kurang ajar, kan?

Malam itu langit indah sekali. Alhamdulillaah selama perjalanan cuaca ramah, cerah dan sumringah. Langit malam ditaburi bintang yang banyaaak sekali. Sayang aku nggak bisa mengabadikannya karena gak punya kamera dan kemampuan yang memadai untuk mengabadikan pemandangan itu. Makanya, sepuas-puasnya kupandangi langit malam itu dan kusimpan potretnya dalam kepalaku.

Menjelang jam 02:00 dibluar tendaku suasana sudah cukup ramai dengan suara-suara. Akupun siap-siap dengan pakaian lengkapku seperti biasa kalau muncak: jaket polar di atas kaos, jaket ringan windbreaker, dan raincoat. Tak lupa sarung tangan, penutup kepala dan kacamata hitam untuk di puncak nanti hahaa. Oh iya, headlamp tentunya juga!

Setelah briefing singkat dan berdoa, mulailah kami berjalan satu persatu. Memulai pendakian, kami harus antri. Tidak seperti Gunung Kerinci yang punggungan menuju puncaknya cukup terbuka, di sini jalurnya sempit, dan harfiah kita musti antri. Tak lama nafasku sudah ngos-ngosan. Aku nggak suka berjalan dalam gelap dan nggak tau apa yang ada atau tidak ada di sekitarku. Belum lagi jalur berpasir kerikil kecil-kecil sehingga menjadikan jalur ini licin dan kaki sering merosot.

Mungkin karena kasihan melihatku yang kepayahan, Hamzan, pimpinan grup dan guide kami yang sudah mengenal seluk beluk Rinjani, menawariku untuk berpegangan pada tali webbing yang diikatkan di badannya. Menyesal aku nggak jadi beli hiking stick atau nggak minta dibuatkan tongkat dari batang pohon. Memakai tongkat akan sangat membantu kita mendapatkan pijakan yang lebih ajeg dan menahan kaki kita agar tidak merosot. Selain aku, temanku Ahmad pun dibantu Hamzan dengan tali webbingnya, apalagi Ahmad mengalami cedera lutut.

Secara psikologis sesungguhnya aku nggak terlalu suka berada di belakang. Kondisi semacam ini bisa membuatku terdemoralisasi dan bisa menyurutkan semangatku. Being slow is fine, so long as I am not the last one. Maka, di setengah perjalanan, kuputuskan untuk melepaskan diri dari tali webbing dan berjalan sendiri. Walaupun, posisiku tidak terlalu jauh dari Hamzan dan Ahmad. Apalagi ketika matahari sudah terbit dan aku lebih bisa menilai kondisi sekitar, aku merasa lebih percaya diri untuk berjalan.

IMG_3451.JPG

Ketika hari semakin terang, semakin jauh pula aku meninggalkan Hamzan dan Ahmad. Kulihat jalur yang masih harus kulalui, Astaghfirullaah, jalurnya masih panjang dan terus menanjak. Kulihat pula di kanan-kiri jalur, jurang cukup curam di sebelah kanan, dan punggung gunung yang licin di sbelah kiri. Kulihat-lihat, jalur sempit yang menyerupai huruf E ini ibarat shirathal mustaqiim –titian serambut di belah tujuh, yang menentukan kita ke surga atau neraka. Heeuuu..

Beberapa kali pula aku berpapasan dengan anggota grupku yang ternyata sudah turun dari puncak. Hiks hiks.. tambahlah ciut hatiku. Namun kumantapkan tekad dan pelan tapi pasti aku terus berjalan. Benar kata Hamzan, mendaki Rinjani itu 80% psikologis. Tak berapa lama, Irvan, anggota grup kami yang termuda –dia kelas 3 SMP, berpapasan denganku dan menawarkan tongkat kayunya untuk kupakai. Alhamdulillaah.. Dengan tongkat Irvan, mempermudah dan mempercepat langkahku menuju puncak. Pun, Wawan, satu lagi anggota grup menyemangatiku dan bilang setibanya di batu besar di atas, jalur sudah lebih mudah. Yah, beberapa puluh meter menjelang batu besar yang seolah sebagai gerbang ke puncak adalah jalur terberat dari perjalanan muncak ini kurasa: terjal, berpasir-kerikil lepas-lepas.. pokoknya sangat menguji ketabahan dan kesabaran. Entah berapa kali tersebut nama Tuhan dalam perjalananku ke puncak Anjani ini.

IMG_3456.JPG

IMG_3454.JPG

Singkat kata, akhirnya dengan susah payah berhasil pula aku mencapai puncak Anjani!! Yeeiiyyy..!!! Aku harus menunggu beberapa saat di sana sampai Hamzan dan Ahmad tiba. Dan seperti pendaki-pendaki lainnya, puas-puas kami berfoto dan menikmati pemandangan dari puncak Anjani yang cantik jelita.

Alhamdulillaah..

IMG_3455.JPG

IMG_3452.JPG

IMG_3457.JPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s