rinjani, i’m addicted to you

Banyak pendaki Indonesia bilang: Jangan mati dulu sebelum pergi mendaki Rinjani! Sudah sejak lama Gunung Rinjani menjadi semacam cita-cita bagi para pendaki gunung, paling tidak mendakinya sekali seumur hidup. Bagiku sendiri, Rinjani menjadi semacam what’s next yang logis setelah perjalanan mendaki Gunung Kerinci. Yah, kalau bukan Rinjani, Semeru lah.. begitu keinginanku.

Maka ketika seorang temanku menawari untuk menemaniku mendaki Rinjani, tanpa pikir dua kali kuiyakan tawarannya, dan kupastikan bahwa itu tidak menjadi hanya sekedar basa-basi. Setelah menyepakati waktu sehabis Lebaran tahun ini, maka kubeli tiket pesawat dengan kelas paling murah, alias nggak bisa diubah tanggalnya, yaitu 30 Juli 2014. Yup, itu hari ketiga Lebaran! Sesial-sialnya jika rencana ke Rinjani gagal –misalnya jika temanku sulit meninggalkan keluarga di dalam suasana Lebaran, aku toh masih bisa liburan ke tempat lainnya di Lombok. I am easy going. No need for drama.

Seperti halnya rencana-rencana lain dalam hiupku, kujalani rencana ke Rinjani ini dengan biasa-biasa saja. Nggak ngoyo, tapi juga dipersiapkan dengan matang. Soal fisik dan kesehatan misalnya, aku nggak mau main-main. Alhamdulillaah bulan puasa pun memberi kesempatan pada tubuhku untuk mendapat asupan yang lebih teratur dan sekaligus menjaga berat badan agar tidak berlebihan. Juga, kebetulan, klub lari di mana aku bergabung, mengikuti challenge dari satu produk olah raga, sehingga ini pun menambah semangatku untuk menambah dosis lari/joggingku di malam-malam bulan puasa lalu. Latihan jogging malam secara teratur 2-3 kali per minggu, plus 50 km komitmenku untuk berlari dalam satu minggu terakhir di bulan puasa, telah berhasil meningkatkan staminaku. Alhamdulillaah.

Sekitar 10 hari terakhir bulan puasa, kabar yang dinanti-nanti dari temanku pun tiba! Dia bilang, yup, kami akan ke Rinjani pada tanggal yang telah kami tetapkan. Bukan hanya itu, grup kami pun berkembang hingga 27 orang!! Woww!! Aku senang sekali mendengarnya. Teringat pengalaman mendaki Kerinci di akhir tahun 2013 lalu yang juga aku lakukan bersama grup besar 30 orang. The merrier the better! Selalu itu prinsipku.

Singkat cerita, tanggal 30 Agustus bersiaplah aku sedari pagi: mencek ulang semua perlengkapan, dan packing ulang semua bawaan di dalam carrier 26-literku. Tak lupa, aku juga membawa daypack kecil untuk perjalanan muncak.

Setibanya di Bandara Lombok, hari sudah malam. Temanku menjemput dan mengatakan bahwa kami akan langsung menuju Sembalun. Menginap semalam di sana, esok paginya kami akan segera melakukan perjalanan. Malam itu aku diperkenalkan dengan pimpinan rombongan dan pimpinan pendakian yang keduanya adalah saudara dari temanku. Tak lupa aku juga berkenalan dengan anggota grup yang lain. Dan barulah kusadari, dari 27 orang peserta pendakian, cuma aku perempuannya, dan nampaknya aku pula yang paling senior secara umur di antara mereka. Haha..

Temanku menginformasikan bahwa kami akan naik lewat jalur Sembalun, dan kembali pulang lewat jalur Senaru. Dengan demikian, pengalaman yang akan kami dapatkan menjadi lengkap.

Bismillaahirrahmaanirrahim..

IMG_3386.JPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s