rinjani day 4-5: segara anak & senaru

Hari keempat perjalananku mengunjungi Anjani. Ketika bangun matahari sudah tinggi. Nyenyak sekali aku tidur semalam. Itulah tidur ternyenyakku selama berjalan-jalan di sini, karena hari sebelumnya memang hari super lelah buatku –bisa dikatakan aku berjalan secara total kurang lebih 15 jam, mendaki, merangkak, berseluncur, menuruni tebing, dan sempat pula manjat-manjat karena ada jalur yang putus.

Ketika keluar tenda, sebagian besar anggota grup sudah pergi memancing. Sebagian lagi siap-siap mandi di spa alami Aik Kalaq. Aik Kalaq adalah sumber mata air panas yang mengalir dari tubuh Anjani dan membentuk aliran sungai. Karena letaknya bertingkat-tingkat, kita bisa mendapatkan suhu air berjenjang pula. Yang terpanas –terletak di lokasi yang tertinggi, dijuluki level-1. Aku sendiri hanya berani menjajal level-3.

Untuk menuju ke sana dari camp di pinggir danau, kita perlu menuruni bukit. Yah seperti kukatakan, menikmati Rinjani tidak seperti berjalan-jalan di taman kota. Kita selalu perlu usaha. Semula, Wiwin sang ketua rombongan, menawarkan kami untuk mandi air panas di Gua Susu. Namun dia bilang lokasinya cukup jauh dan harus berjalan beberapa kilometer. Langsung aku tolak usulan itu dengan cepatnya. Hahhaa.. Next time, kalau aku datang ke sini lagi, aku akan eksplorasi lebih lanjut sekitar danau, karena ternyata masih banyak tempat-tempat menarik yang layak dikunjungi.

IMG_3997.JPG

So pergilah kami ke Aik Kalaq. Untuk menikmati Aik Kalaq ini kita perlu melakukan proses aklimatisasi tubuh. Pertama-tama masukkan kaki, lalu perlahan-lahan seluruh tubuh kita rendam di mata air mengalir yang membentuk kolam-kolam alami. Enak rasanya berendam air panas ini. Pegal-pegal serasa diberi pijatan alami. Apalagi di beberapa tempat, mata air keluar dari dasar kolam membentuk gelembung-gelembung udara yang bisa memijat-mijat kaki kita. Selain itu, batu-batuan di kolam-kolam ini pun mengandung lapisan belerang kekuningan. Kita pun bisa lakukan lulur sulfur alami kalau mau. Banyak penduduk lokal dari berbagai wilayah di Lombok khusus datang ke mari untuk berobat, maupun memohon sesuatu. Kata temanku, niat untuk berobat atau memohon sesuatu tersebut harus sudah diucapkan sejak berangkat dari rumah.

IMG_3995.JPG

IMG_3996-0.JPG

Setelah puas berendam, hari sudah siang. Kami kembali ke tenda dan disambut dengan hidangan brunch. Yumm.. Hari itu kami, aku khususnya, bermalas-malasan saja. Ya kami memang tinggal dua malam di sana. Pendaki lainnya sudah beres-beres dan pulang sejak pagi. So, suasana malam tadi yang bagai pasar, siang ini menjadi cukup lengang. Baru aku sadar bahwa semalam itu malam minggu. Tak heran banyak pendaki yang datang. Hari ini tak terlalu banyak pendaki yang turun dari Pelawangan Sembalun, sehingga suasana di tepi danau relatif lebih tenang.

Sekitar sore hari, kawan-kawan yang memancing sudah kembali. Jauh-jauh juga mereka pergi mancing. Maka malam itu menu makan malam kami adalah ikan, ikan, dan ikan –dibikin sup, digoreng dan dibakar.

Keesokan harinya, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Sedih juga rasanya meninggalkan tempat yang bagai surga ini.

IMG_3998.JPG

IMG_3999.JPG

Kami akan pulang lewat jalur Senaru. Syukurlaah.. walaupun beberapa teman bilang bahwa tanjakannya lebih gila, kubilang biarlah, yang penting aku nggak perlu merasakan jalur Turunan Penyiksaan kembali.

IMG_4002.JPG

IMG_4003.JPG

Oh iya, aku lupa bilang bahwa naik ataupun turun Rinjani, tetap aja kita harus mendaki. Hahhahaa.. Yup, dari Danau Segara Anak kita harus mendaki bukit hingga sampai di puncaknya, yang disebut Pelawangan Senaru. Danau Segara Anak ini memang danau kawah, sehingga menuju dan keluar dari danau ini kita harus melalui bukit-bukit.

IMG_4004-0.JPG

IMG_4005-0.JPG

Dan ternyata, temanku memang benar adanya. Walaupun bukit Senaru ini lebih rendah dari bukit Sembalun, tapi jalurnya lebih terjal, dan melipirnya tipiiiiss sekali. Di pertengahan jalur, kami sempat berhenti di lokasi yang disebut Batu Ceper. Foto-foto sejenak di sana, dan setelah berjalan kembali barulah aku diberi tahu bahwa Batu Ceper itu adalah lokasi pemakaman orang-orang yang meninggal di Rinjani. Hmmm.. oke deh…

IMG_4035.JPG

IMG_4033.JPG

Setelah 3 jam mendaki dan memanjat, sekitar jam 12:00 siang kami sampai di Pelawangan Senaru. Yeeiiyyy!!! Pemandangan dari sini pernah diabadikan di salah satu mata uang kertas lama Indonesia. Selama proses pendakian pulang ini, aku dikawal oleh Wawan dan Opik. Mereka berdua baik sekali membantu aku melewati jalur-jalur sulit yang memerlukan panjat memanjat.

IMG_4037.JPG

IMG_4038.JPG

IMG_4034.JPG

Turun dari Pelawangan Senaru adalah jalur yang benar-benar menguji mentalku. Yah mungkin karena kondisiku yang sudah lelah, kaki yang mulai sakit, panas yang sangat terik dan jalur turun licin berdebu yang tak ada habisnya ini benar-benar membuat pertahananku jebol. Aku menangis (untung nggak ada yang lihat). Kakiku semakin sakit karena saat menurun, harus menahan agar nggak meluncur tanpa kendali. Ujung-ujung jariku sampai mentok ke bagian depan sepatu. Berkali-kali. Nyeri sekali rasanya. Dan nggak terkatakan lagi rasanya lutut dan betis. Untung ada Wawan yang memegang tanganku dan berjalan di depan untuk menahanku juga. Belum lagi persediaan air yang menipis, dan sumber air baru akan ada di dalam hutan Senaru –setelah turunan penderitaan ini.

Saat akhirnya jalur savana ini berakhir dan kami tiba di batas hutan Senaru, kuputuskan melepas sepatu dan mulai berjalan dengan telanjang kaki, alias nyeker. Aku sudah tak tahan lagi. Lagian, di hutan itu jalurnya adalah tanah humus dan bukan batubpasir seperti jalur sebelumnya. Bagiku, jalur tanah lembab itu lebih mudah kujalani.

Memasuki hutan, aku merasa lebih tenang. Udara lebih sejuk, nggak terpapar matahari langsung, dan banyak batang-batang pohon sebagai pegangan. Saat istirahat di Pos-2, kawan-kawan mulai mengambil air dan memenuhi botol-botol minum kami. Aku juga ganti memakai sandal jepit. Karena khawatir kemalaman di dalam hutan, grup kami pun makan siang seadanya dengan nasi goreng sisa sarapan yang memang sengaja dibuat lebih banyak. Nggak ada acara masak-memasak seperti biasanya. Makan siang terlambat dan super kilat ini tak menggugah selera makanku. Aku cuma mau minum, dan minum, dan minum.

IMG_4039.JPG

Untuk mengantisipasi gelap, kami pun mengeluarkan head lamp dan senter masing-masing. Aku masih berjalan dengan Wawan, yang juga memgalami sakit lutut setelah menahanku beberapa lama di jalur turunan di atas tadi. Hiks, poor him.

Singkat kata, menjelang maghrib sampailah kami di gerbang Pintu Rimba Senaru, setelah melewati 3 pos dan 1 pos ekstra. Yeiiiyyy!!! Senangnya hatikuuuu.. Aku merasa seperti orang yang baru lulus ujian. Dan gerbang ini seperti upacara wisudaku.

IMG_4040.JPG

Memang, mendaki Rinjani ini memberi pengalaman yang sangat lengkap. Fisik, mental, dan pegalnya pun merata mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki –mendaki, memanjat, merangkak, memanjat, meluncur, bergelantungan. Pemandangannya pun lengkap: tanjakan, turunan, puncak gunung, lembah, danau, savana, hingga hutan hujan tropis dataran tinggi, sedang, hingga rendah. Di bawah ini adalah aku dan Wawan, teman seperjalanan yang dengan baik hati menjagaku dalam perjalanan pulang.

IMG_4041.JPG

Akhirnya, hanya ucapan Alhamdulillah sajalah yang bisa kuucapkan sebanyak-banyaknya. Semoga aku diberi kesempatan lagi mengunjungi Anjani. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s