sekali lagi: kenaikan harga BBM untuk siapa?

Sekarang sedang heboh-hebohnya orang membahas kenaikan harga BBM premium, yang dianggap terlalu murah karena mendapatkan subsidi negara.

Pertama, yang musti digarisbawahi, pemotongan subsidi BBM adalah keniscayaan, siapa pun presidennya, mau Beye kek, Wowok kek, atau sekarang Pak Wiwik. Kenapa? Nah, alasan ini yang penting diketahui. Alasannya bukan karena subsidi itu diperlukan untuk membantu rakyat miskin, atau membangun fasilitas umum bla bla. Bukan, bukan itu. Alasan sesungguhnya adalah karena Indonesia dengan dua ratus juta lebih penduduknya itu adalah pasar. Konsekuensi liberalisasi sektor hilir industri migas akibat Letter of Intent IMF tahun 1997 adalah sektor hilir migas tidak lagi hanya didominasi Pertamina, namun juga oleh pemain lainnya. LoI ini juga memerintahkan pemerintah Indonesia membuka keran impor mobil built-up, yang tentu saja perlu BBM yang khusus pula.

Ciri pasar adalah persaingan bebas, di mana keberadaan bensin bersubsidi membuat bensin lain kurang kompetitif dan profit kurang maksimal. Selain tuntutan “pasar”, penghapusan subsidi juga adalah konsekuensi keanggotaan Indonesia di G20. Cek saja statement-statement presiden, baik Beye maupun Wiwik di pertemuan G20, pasti meng-highlight juga dengan heroik bagaimana pemerintah memotong subsidi BBM. Kalo presidennya Wowok, ceritanya pun gak akan beda. Haqqul yaqin saya mah.

Kedua, soal pemberantasan kemiskinan dan perlindungan orang miskin. Please deh, jangan lagi pakai argumentasi usang itu lagi. Logika dan prinsipnya, perlindungan orang miskin dan pemenuhan fasilitas umum oleh pemerintah itu wajib hukumnya –mau ada subsidi BBM atau enggak. Bagaimana mencari duitnya, itu soal lain lagi yang bisa didiskusikan. Bisa dari naikin pajak orang kaya, potong belanja birokrasi, tambal kebocoran-kebocoran pajak industri, dll dll.

Prinsipnya, subsidi orang miskin itu nggak bisa adhoc, yang dinomorduakan, yaa kalo ada dikasih, kalo enggak ya tunggu aja kalo pemerintah ada dana cadangan. Ini kan ngaco, dan logika ini yang sekarang sedang dilestrikan pemerintah dari rejim ke rejim. Lagian selama ini yang memelihara orang miskin itu rakyat kok mayoritasnya. Lihat aja berbagai panti asuhan, yayasan yatim piatu dll dll sejenisnya. Bangun fasum juga sudah biasa bagi rakyat, karena nunggu pemerintah kelamaan. Rakyat sudah biasa bikin mesjid, gereja, pura, dll sendiri, perbaikin jalan sendiri, dll dll.

Saya juga bilang gak nyambung antara kenaikan harga BBM dengan peningkatan produktifitas masyarakat miskin. Kalo untuk ini, kenapa enggak bank-bank diperintahkan memberi kemudahan kredit untuk pengusaha kecil dan bisnis rumahan? Kenapa enggak kemudahan bibit dibuka bagi petani? Kenapa enggak lahan-lahan pertanian dilindungi dan tidak dialih fungsi? Kenapa enggak sumber-sumber air dan hutan-hutan dijaga? Percuma kan perbaikin saluran irigasi kalo airnya nggak ada?

Selanjutnya, soal kedaulatan energi. Ini yang gak pernah disinggung oleh banyak pihak. Gambar yg saya ambil dari akun FB-nya Pak Wiwik ini menarik. Kelihatan di sini betapa kecil cadangan minyak Indonesia dibanding negara lain. Nah sudah tahu begini kok ya masih kecanduan minyak dan terus menumpukan sumber energi pada minyak bumi? Sudah tau sumbernya sedikit, kilangnya gak ada, kok ya masih berani terus menerus menumpukan moda transportasi pada kendaraan pribadi berbasis bahan bakar fossil? Kapan mau beralih ke moda yang lebih efektif dan efisien?

IMG_6623.JPG

Dari rejim ke rejim, roadmap melepaskan diri dari kecanduan bahan bakar fosil ini yang saya tunggu-tunggu. Kita ini sekarang ibarat orang sakaw BBM yang rela beli berapa pun dan rela dikibulin sebagaimana pun oleh mafia minyak, plus rela dikerjain industri otomotif dan kontraktor jalan raya.

Yah saya memang bukan ekspert banget di soal-soal ekonomi dan pembangunan. Tapi saya juga nggak bodoh-bodoh amat lah menilai fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang nggak masuk di common sense saya –seperti lakon sandiwara subsidi BBM dari rejim ke rejim yang menyebalkan seperti saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s