pictures are additional

Seperti sudah sering saya ungkapkan dalam blog ini, bahwa saya pada dasarnya adalah pembosan. Teperangkap dalam rutinitas bisa jadi mimpi buruk bagi saya. Namun di sisi lain, saya juga pada dasarnya adalah pemalas. Saya tidak akan melakukan sesuatu hingga level di-bela-belain jika sesuatu itu tidak menarik buat saya, atau jika saya tidak memiliki kepentingan atas sesuatu tersebut, atau jika sesuatu itu tidak menyangkut orang-orang terdekat saya. I will not move, even an inch. 

Seperti halnya jogging, travelling, dan foto-memoto, semuanya itu saya lakukan selain karena saya suka, tapi juga karena itu bisa melarikan diri saya dari urusan pikir memikir yang memang jadi pekerjaan saya. Don’t get me wrong, I love my job and not consider it as burden. Tapi untuk terus berpikir tanpa jeda juga akan membuat saya suntuk. Hence, saya merasa membutuhkan aktifitas-aktifitas semacam di atas sebagai penjeda.

Makanya, dalam jogging misalnya, walaupun saya suka, tapi saya belum sampai level bela-belain bangun subuh untuk pergi ke tempat race dan mengikuti lomba lari itu sampai finish –apalagi sampai menang! Gak terpikir sama sekali. Dan travelling juga demikian. Walaupun saya suka travelling, jalan-jalan, dan naik gunung, saya belum sampai pada level bela-belain bepergian sendirian ke tempat-tempat yang jauh. Bagi saya, yah, kalau ada waktu, ada dana, dan ada yang nemanin, saya pergi. Kalau nggak ada salah satunya, malas lah. Mendingan leyeh-leyeh di rumah. Bepergian sendirian –kecuali untuk urusan kerja– is a big no buat saya. Apa enaknya coba?

Nah, sekarang untuk urusan foto memoto yang memang saya akui sekarang ini sudah menjadi kebiasaan buat saya. Bukan hobby, tapi kebutuhan. Sehari pokoknya musti njepret at least satu foto. 

 

Dijepret saat saya sedang jogging bersama adik di GBK Senayan
 
Tapi lagi-lagi untuk urusan ini saya belum sampai level bela-belain belajar teknik fotografi. Terus terang saya malas mikir. Apperture, speed dan istilah-istilah fotografi lainnya lewat begitu saja dari kepala saya, nggak ada yang nyangkut sedikitpun, walaupun ada teman yang mengajari saya. 

 

Dijepret saat sedang menunggu bus di satu halte
 
Ada sih keinginan untuk pursuing ini secara lebih serius, terutama dikaitkan dengan studi akademik saya. Nanti, kalau saya berkepentingan dengan urusan studi, saya tau saya pasti akan bela-belain belajar fotografi. Tapi itu nanti, bukan sekarang.

Dalam aktifitas foto memoto ini saya tidak berniat menghasilkan foto dengan kualitas tertentu, atau tema tertentu, atau misi tertentu. Ya, apa yang saya lihat, saya temui, saya suka, dan hati serta pikiran saya clicked, ya saya foto. Bagaimana menampilkannya, dan akan disandingkan dengan apa –entah dengan cerita, entah dengan puisi, entah dengan apapun, ya itu hal lain lagi, tergantung mood dan ide yang muncul di kepala saja. Atau bahkan beberapa foto cuma tersimpan apik di hard disk tanpa saya beri perlakuan apapun. Suka-suka lah pokoknya.

 

Dijepret saat sedang berjalan menuju gerbong kereta, dalam perjalanan pulang
 
Makanya, kalau diajak teman untuk hunting foto, saya merasa kurang sreg. Saya nggak mau dibebani misi berburu seuatu, atau berpikir bagaimana menemukan sesuatu. Wong aktifitas ini untuk melarikan diri dari urusan pikir memikir kok. Dan makanya pula, foto-foto yang saya hasilkan dan saya tampilkan di media sosial pun hampir semuanya candid dan tidak direncanakan atau diatur-atur. Foto-foto itu saya ambil pas ketika saya naik kereta atau bus menuju kantor, sedang dalam perjalanan ke tempat tertentu, lewat daerah tertentu, atau pas lagi pergi makan-makan sama keluarga –misalnya. Memang untuk memungkinkan hal itu saya selalu membawa kamera, ya paling tidak kamera dari iphone.. hahhaa.. Dan sejak saya mulai senang dengan kamera analog, ke mana-mana saya membawa kamera analog tersebut, yang memang ukurannya kecil, nggak bulky, gak macem-macem dan gampang dibawa ke mana-mana.

 

Dijepret dari dalam mobil, saat sedang macet di satu jalan di Jakarta
 
Demikianlah perilaku amatiran saya ini, melakukan apa yang saya senangi, dengan cara yang saya senangi, pada waktu yang saya senangi –dan kadang tanpa tujuan sama sekali.

 

Dijepret saat habis makan siang bersama keluarga, di depan restoran
  
Dijepret sesaat setelah turun dari kereta, dalam perjalanan ke kantor
  
Dijepret saat menuju ATM di dekat kantor, menggunakan kamera analog
  
Dijepret dari dalam pesawat, sesaat sebelum taxiing, menggunakan kamera analog
  
Dijepret saat berjalan di jembatan penyeberangan, dalam perjalanan menuju lokasi pertemuan/meeting
  
Dijepret saat sedang window-shopping dengan teman, di satu mal di Jakarta
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s