Tambora

Dua tahun yang lalu aku mendaki Tambora. Setiap perjalanan pendakian selalu memberikan pengalaman yang berbeda dan meninggalkan kenangan yang berbeda pula. Tambora memberikan arti tersendiri bagiku karena lokasinya yang terletak di kampung halaman bapakku di Pulau Sumbawa sana.

Tambora juga memiliki arti tersendiri bagi nusantara dan juga dunia. Setelah letusan Gunung Toba di masa pra-sejarah yang meninggalkan danau kaldera terbesar di nusantara, letusan Tambora adalah letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah dicatat oleh sejarah. Tahun 2015 yang lalu adalah tahun ke-200 pasca letusan dahsyat Tambora. Letusan tersebut mengakibatkan gunung terpotong hingga hanya tinggal setengahnya, dan konon letusannya menyebabkan musim dingin di Eropa berlangsung lebih lama, selain melenyapkan setengah penduduk pulau Sumbawa di masa itu.

Perjalanan kami ke Tambora dimulai dari Desa Pancasila, satu desa yang berada di kaki Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Tak lama setelah tiba di Desa Pancasila, kami segera packing dan bersiap untuk mendaki. Sudah agak sore ketika kami mulai bergerak. Diperkirakan kami akan tiba di Pos 1 menjelang maghrib. Di Pos 1 ini pula lah kami akan memasang tenda dan bermalam. Perjalanan dari Desa Pancasila menuju pintu rimba melewati kebun-kebun kopi warga. Setelah melewati kebun warga kami tiba di hutan tropis dataran rendah. Gunung Tambora bukanlah gunung yang sangat tinggi. Ketinggiannya sekitar 2.850 meter di atas permukaan laut. Namun perjalanan akan cukup panjang karena diawali dari titik pendakian yang tidak terlalu tinggi, yaitu sekitar 600 meter di atas permukaan laut.

Kami beruntung karena pada saat itu Festival 200 Tahun Tambora baru saja berlalu, sehingga gunung tidak ramai dan tidak sepenuh saat Festival. Pos 1 adalah suatu tanah lapang yang cukup luas dan dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Tak jauh dari sana terdapat sumber mata air yang cukup besar. Karena tiba saat maghrib, maka kami punya waktu yang cukup lama untuk berdiam di Pos 1 hingga keberangkatan kami ke pos berikutnya di keesokan harinya. Dari sekitar 20 orang anggota grup kami, hanya ada 4 orang perempuan yang ikut. Oleh karenanya kami bilang bahwa ini lah saatnya para lelaki yang melakukan tugas-tugas “domestik” semacam memasak. Kami para perempuan mau leyehleyeh saja. Hahhaa.. Sayangnya, satu orang teman perempuan kami menderita sakit, sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian. Pagi-pagi sekali temanku ini diantarkan kembali ke kamp di Desa Pancasila.

Keesokan pagi kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur pendakian adalah jalur yang cukup terbuka, berupa tanjakan landai yang seakan tiada berujung. Jalur mendaki tanpa jeda ini ternyata cukup membuat lelah. Apalagi rutenya yang relatif lurus cukup menguji kekuatan hati yang didera perasaan bosan. Namun seperti biasa, dalam setiap pendakian kita selalu mengalami situasi ‘maju kena, mundur kena’. Artinya, mau lanjut terus kok rasanya gak sampai-sampai, mau kembali pun rasanya nanggung. Maka tak ada solusi lain selain maju terus.

Pos 2 terletak di ujung jalur menanjak landai tak berujung ini. Kami tiba sesaat sebelum tengah hari. Oh iya, hampir lupa, selama perjalanan ke Tambora ini hampir sepanjang waktu kami didera hujan. Kembali, sepatu yang baik –kuat dan tahan air– adalah item yang esensial. Selain itu tentu saja raincoat yang juga berkualitas, serta carrier dan cara packing pakaian yang baik sehingga pakaian kita tidak mudah basah. Anggota tubuh basah kuyup adalah the big NO buat saya. Rute dari Pos 2 menuju Pos 3 adalah rute menanjak melalui lebatnya hutan Tambora. Keuntungannya, air hujan tidak leluasa menghampiri kita karena terhalang oleh rindangnya pepohonan.

Sesampainya di Pos 3 hari sudah menjelang sore. Karena kondisi hujan yang cukup lebat kami mulai mendiskusikan apakah kami mau lanjut berjalan atau buka kamp dan menginap kembali di Pos 3. Kalau kami menginap, maka akan terlalu banyak waktu yang terbuang, namun melanjutkan berjalan dalam kondisi hujan lebat pun tidak terlalu mengenakkan dan bisa memperlambat jalan kita. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan berjalan. Tentu saja perlengkapan jalan malam seperti senter atau head lamp langsung dipersiapkan.

Perjalanan dari Pos 3 ke Pos 4 adalah perjalanan yang cukup menegangkan, bukan karena jalurnya yang terjal, atau kondisi hari yang sudah menjelang malam, tetapi karena jalur ini dikenal jalur yang penuh dengan tanaman jelutung (Girardina palmata). Jelutung atau jelatang adalah sejenis tanaman perdu dengan daun berbentuk menjari seperti daun pepaya dan memiliki duri di sekujur tubuhnya sampai ke batang. Jika kulit kita tersentuh bagian dari tanaman ini maka niscaya kita akan merasakan gatal yang menyengat. Oleh karenanya mengenakan pakaian yang rapat sangat disarankan. Namun untungnya di sepanjang jalur yang dipenuhi semak jelutung ini terdapat batang pohon besar yang roboh dan bisa dijadikan jalan, sehingga paling tidak semak jelutung tersebut tidak sampai menyentuh wajah kita. Selain itu, waktu tempuh dari Pos 3 ke Pos 4 tidak lah selama yang diperkirakan semula. Sekitar waktu maghrib kami telah tiba di Pos 4 dan segera menyiapkan kamp tempat kami bermalam. Dari Pos 4 ini lah kami akan bergerak menuju puncak Tambora menjelang dini hari nanti.

Malam hari kami habiskan dengan ngobrol dan bercanda bersama teman-teman satu grup. Bisa dikatakan grup kami adalah satu-satunya grup yang pada malam itu berada di kaki puncak Tambora. Gunung sebesar ini sepi, seakan kami miliki sendiri. Namun kesendirian grup kami tak lama berubah. Menjelang tengah malam ada 2 grup lagi yang datang dan bikin kamp berdekatan dengan kami. Namun jumlah anggota grup tersebut tidak sebesar kami.

Sekitar pukul 2 dini hari, kami pun bersiap menuju jalur ke puncak. Untungnya cuaca sangat cerah tanpa awan. Mungkin hujan sudah tercurahkan sepenuhnya di dua hari terakhir yang menemani terus sepanjang perjalanan kami dari bawah. Menurut teman-teman yang menemani, ada dua jalur menuju ke puncak. Kami mengambil jalur yang punya nama agak seram, yaitu jalur kuburan, karena kita akan melewati kuburan seseorang yang pertama kali membuka jalur pendakian ke Tambora.

Hampir semua orang dari grup kami adalah pendaki veteran. Mereka adalah anggota kelompok pecinta alam ketika masa kuliah. Dan hanya beberapa orang saja yang masih aktif mendaki gunung. Yang lainnya sudah lama pensiun. Sementara aku adalah pendaki pemula, yang baru mulai mendaki gunung di tahun 2011, dan langsung jatuh cinta pada gunung. Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani adalah dua gunung yang sudah kudaki dan menambah perasaan bangga di hati. Hihihii.. Dan Tambora segera akan menjadi tambahan di dalam daftar kebanggaan diri. :))

Menjelang fajar kami memasuki jalur dataran berpasir yang berada di pinggir kaldera Tambora. Kaldera Tambora adalah salah satu kaldera terluas yang ada di Indonesia. Diameternya 7 km dan kedalamannya sekitar 1 km. Dan sempat aku mengira bahwa kaldera ini lah puncak dari Tambora dan titik akhir pendakian. Ternyata, puncak Tambora bukan berada di sini. Kami haru melalui jalur berbatu dan mendaki terjal dari pinggir kaldera untuk menuju puncak. Dibandingkan Rinjani dan Kerinci, perjalanan ke puncak Tambora tidaklah terlalu sulit. Tidak ada pasir terjal yang membuat kaki kita terseret ke bawah setiap kali kita melangkah, jika kita tidak memiliki pijakan yang kuat.

Puncak Tambora, akhirnya! Matahari sudah naik ketika kami tiba di puncak Tambora. Kami cukup banyak menghabiskan waktu di sana. Istirahat, foto-foto, dan sibuk mengagumi pemandangan dari atap bumi ini. Akibat terlalu lama berada di puncak, kami tiba kembali di Pos 4 dengan cukup terlambat. Tak lama setelah makan siang, kami pun segera packing dan bersiap untuk pulang.

Perjalanan pulang kali ini memiliki cerita tersendiri. Sekitar jam 14:00 kami mulai bergerak dari Pos 4. Seorang teman kami, Mukri, menderita sakit pada malam sebelumnya sehingga dia tidak ikut ke puncak. Namun entah apa yang terjadi, pada perjalanan pulang ini dia bergerak dengan sangat cepat. Temanku yang lain, Yufik, melihat hal yang aneh ini lantas bergerak cepat pula dan berada tepat di belakangnya. Semula aku ingin menjadi sweeper yang berada di belakang, namun ternyata aku tidak terlalu sabar melihat pergerakan teman-teman yang lambat. Yah, karena mayoritas dari kami sudah lama tidak pernah lagi naik gunung, stamina menjadi sangat lemah. Belum lagi beberapa mengalami cedera kaki sehingga musti berjalan pelan-pelan. Maka aku memutuskan untuk berjalan di depan. Bersama dengan seorang guide yang kami ajak dari basecamp Desa Pancasila, aku berjalan cepat mengikuti langkah temanku Mukri dan Yufik.

Memasuki Pos 3 hujan kembali turun, kali ini sangat deras. Teman-temanku yang lain memilihi untuk menunggu hujan agak mereda sebelum melanjutkan pergerakan. Namun aku menimbang-nimbang, dengan pergerakan yang sangat lamban akibat cedera dan kondisi cuaca yang buruk, nampaknya kami tidak akan bisa menembus hingga pintu rimba malam ini. Skenario kedua, kami harus kembali menginap satu malam di salah satu Pos, dan kembali besok pagi. Aku merasa sudah tidak nyaman dengan kondisi baju yang mulai basah, dan sepatu yang mulai basah. Maka aku putuskan untuk mengikuti Tim yang di depan, Mukri dan Yufik, dan menetapkan hati untuk tiba di Desa Pancasila malam itu juga.

Menjelang Maghrib rombongan tim advance –saya, Yufik, Mukri, dan seorang guide, sudah sampai di Pos 1. Hari sudah mulai gelap, kami menimbang-nimbang kembali apakah akan terus jalan atau bermalam satu malam lagi di Pos 1. Rombongan yang kami tinggal di belakang sudah dapat dipastikan akan menginap satu malam lagi, mengingat kondisi yang sudah lemah dan banyak yang cedera kaki. Di tengah-tengah diskusi, tiba-tiba guide kami bilang bahwa dia mengetahui jalan pintas, yaitu jalur di luar jalur yang biasa dipakai pendaki, tapi terkadang dipakai oleh penduduk sekitar dan guide. Dia bilang, kalau kami berjalan dengan pace seperti tadi kami turun dari Pos 4, maka kami bisa tembus sampai pintu rimba dalam dua jam. Karena kondisi sepatu dan baju yang sudah basah ditembus hujan deras selama dalam perjalanan, aku sudah tidak bisa lagi bermalam. Yang aku inginkan adalah segera tiba di basecamp, bersih-bersih, ganti baju, dan tidur dalam keadaan kering.

Maka bergerak lah kami. Jalur ini jarang dilewati, sehingga guide kami harus sering menggunakan goloknya dan menerabas semak-semak atau ranting-ranting yang menghalangi jalur. Terus terang selama perjalanan di jalur ini aku merasa degdegan, apalagi guideku cukup sering berdehem di tempat-tempat tertentu. Aku agak paham maknanya –semacam kode minta ijin lewat kepada makhluk apapun yang ada disana, namun sungguh aku tidak berniat menanyakan atau membahasnya.

Setelah dua jam yang penuh dengan degupan cepat jantung –karena berjalan dengan cepat dan faktor lainnya, tiba lah kami di pintu rimba. Di situ sudah menunggu banyak supir ojek dan motor-motor trailnya. Tanpa ba-bi-bu langsung kami masing-masing loncat ke boncengan. Perjalanan dari pintu rimba ke basecamp dengan menggunakan ojek memakan waktu lebih kurang 15-20 menit (aku tidak menghitungnya, hanya yang kurasakan waktu tempuhnya cukup lama).

Alhamdulillah, akhirnya aku tiba di basecamp. Dan mengingat persediaan logistik teman-teman yang sudah menipis, maka segera aku minta dibuatkan nasi bungkus untuk dibawa oleh guide lainnya kepada teman-temanku yang masih di atas. Dua trip logistik kami kirimkan, yang satu di malam hari sekitar jam 10, dan yang kedua menjelang dini hari untuk mereka sarapan.

Oh iya, saat tiba di pintu rimba, guideku bilang bahwa aku termasuk perempuan yang kuat, “hanya” 6 jam waktu yang kuperlukan untuk turun dari Pos 4 hingga ke Pintu Rimba. Record, katanya! Satu lagi, ketika kutanya kepada Mukri kenapa dia berjalan begitu cepat tanpa henti, tanpa tedeng aling-aling, membuat kami tersengal-sengal mengikutinya, dia bilang, “Gue naik kuda, makanya cepat.” Hahahaa… Tambora, tak akan pernah aku lupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s