policik

Lama kelamaan saya sebal juga dengan dunia perpolitikan nasional di Indonesia ini. Saat ini yang terjadi bukan saling beradu gagasan, ide, dan cita-cita masa depan yang ingin ditawarkan, tapi lebih banyak saling beradu nyinyir dan cela. Incumbent entah kenapa merasa insecured, dan melahap segala umpan yang dilemparkan oposisi. Dicela oposisi begini, langsung di-counter begitu, tak jarang disertai dengan nada-nada mengancam. Kelihatan sekali kejumawaannya, mentang-mentang berkuasa.

Well, namanya juga oposisi, berasal dari kata oppose —artinya menentang, menolak. Jadi ya wajar aja kalau mereka selalu tidak bersetuju dengan pekerjaan rejim penguasa, atau mencari-cari kelemahan atau kekurangan rejim yang berkuasa. Justru disitulah terjadi dinamika dalam politik, disitulah terjadi mekanisme chek and balance. Berharap oposisi memuji-muji itu menurut saya sih aneh dalam dunia politik. Lemparan umpan berupa kritik dari oposisi ini harusnya dihadapi dengan elegan oleh incumbent. Kasih aja data-datanya, dan kalau bisa sekalian meng-kick si oposisi akan bagus juga. Kalau masih ada kelemahan ya akui saja, toh rejim ini juga membawa warisan dari rejim-rejim sebelumnya. Dengan cara seperti ini maka terjadi pendidikan politik bagi warga negara. Warga negara kita sudah pintar kok, sudah bisa memilah-milah.

Ketakutan berlebihan ini sangat terasa mewarnai rejim pemerintahan hari ini. Akhirnya mereka kehilangan fokus. Alih-alih memperbaiki kinerja dan memastikan janji-janjinya terpenuhi, rejim hari ini sibuk main pingpong, dan terus terang situasinya sedang kepayahan juga menghadapi serbuan smash dari oposisi. Yah, salah sendiri, you have chosen to play their game sih!

Sebagai non-partisan, saya terus terang hopeless melihat perkembangan yang ada saat ini. Kedua kubu –baik incumbent maupun oposisi, sedang berlomba untuk menuju ke titik nadir. Race to the bottom. Namun di sisi lain saya melihat ada keuntungannya juga bagi warga negara, karena mereka pada akhirnya saling membuka dan menguak borok-borok mereka sendiri. Seluruh blok politik yang ada saat ini di Indonesia pada dasarnya punya dosanya masing-masing. Nggak ada satu pun yang suci tanpa noda. Yang dulu oposisi dan sekarang memerintah ternyata nggak jauh berbeda dengan rejim yang dahulu dikritiknya. Ada sih perbaikan-perbaikan disana-sini, tapi struktur dan wajahnya masih sama. Tidak terjadi transformasi, apalagi revolusi –entah itu revolusi mental atau revolusi paradigma.

Tinggal lah para warga negara –kita mau apa? Sebenarnya tidak perlu susah-susah untuk mencari tahu bagaimana para elit yang sekarang seolah berseteru, dulunya saling berkelindan, dan menelisik motifnya. Apa iya mereka memperjuangkan kepentingan warga negara? Atau mereka sebenarnya hanya memperjuangkan kekuasaannya, dan menggunakan kita-kita sebagai alatnya?

Seperti kata filosof Jerman, Nietzsche, politisi itu membagi orang menjadi dua kelompok: alat atau musuh. Tinggal lah kita, warga negara, mau jadi yang mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s