kerja, kerja, kerja

Saya sering berkelakar dengan teman-teman terkait slogan yang sering diucapkan oleh Presiden Jokowi dan pemerintahannya, sebagaimana judul di atas. Saya bilang, kita sebagai rakyat harus gencar mendesak pemenuhan janji kampanye presiden di tiga tahun pertama pemerintahannya, karena tahun ke-4 dan tahun ke-5 beliau akan lebih sibuk mengurus kampanye pilpres; makanya penyebutan kata “kerja” hanya 3 kali saja.

Tentu saja itu hanya kelakar. Presiden Jokowi — dan para pembantunya, masih sibuk bekerja sampai saat ini, di tahun ke-4 pemerintahannya. Namun, memasuki tahun ke-4 pemerintahan presiden Jokowi ini nuansa politik dan kalkulasi potensi suara juga menjadi nuansa yang meliputi kerja-kerja pemerintahan ini. Apalagi sejak Pak Jokowi secara resmi didapuk oleh PDI-P sebagai usungan partai untuk menjadi bakal calon presiden Republik Indonesia 2019–2024.

Memasuki tahun ke-4 pemerintahannya, presiden Jokowi juga terasa semakin baperan — kata anak zaman now. Demikian juga para pendukungnya. Apalagi semenjak menjamurnya tagar #2019GantiPresiden yang tidak hanya menyebar di dunia maya, namun mulai termanifestasi di dunia nyata dalam bentuk cetakan di kaos — yang kemudian menyebar dalam berbagai bentuk seperti topi, serta poster dan spanduk yang dipasang di tempat-tempat umum.

Kalau boleh jujur, memanasnya situasi terkait kaos dan tagar tersebut akhir-akhir ini sebenarnya dipicu oleh Pak Jokowi sendiri, yaitu ketika beliau mengangkat soal ini dalam suatu kegiatan relawannya di bulan April 2018 yang lalu. Saat itu, Pak Jokowi di atas panggung menyindir orang-orang yang getol mengkampanyekan tagar #2019GantiPresiden dengan mengajukan pertanyaan retorik,”Masa’ kaos bisa ganti presiden? Yang bisa ganti presiden itu rakyat!” — yang serta merta disambut para pendukungnya dengan sorakan gegap gempita.

Sebagai orang yang senang menggunakan simbol-simbol dan kode-kode, baik dalam keseharian maupun dalam menjalankan pemerintahan, pernyataan Pak Jokowi itu sebenarnya kontradiktif. Tidak ada yang memungkiri bahwa kepopuleran dan citra Pak Jokowi sebagai representasi “orang kebanyakan” dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, dan kemudian sebagai Capres dalam pemilihan umum tahun 2014 juga ditopang oleh kemeja kotak-kotak. Bahkan hingga saat ini, kemeja putih dengan lengan tergulung masih konsisten digunakan beliau sebagai simbol untuk sosok yang selalu bekerja keras tanpa pamrih. Simbol-simbol itu lah sebenarnya yang menyatukan para pendukung kampanye Jokowi saat itu, dan yang mencerminkan cara kerja yang ingin dicitrakan oleh pemerintahan saat ini. Dan saya yakin, Pak Jokowi tahu betul bagaimana kekuatan simbol dalam mindset orang Indonesia.

Seandainya saya berada di posisi Pak Jokowi saat ini, saya tidak akan memberi perhatian yang berlebihan pada simbol-simbol tersebut. Apalagi dengan cukup spesial melontarkannya di acara publik. Ibarat umpan yang dilemparkan para pemancing ikan, tagar #2019GantiPresiden berhasil menjalankan misinya — disantap oleh presiden dan para pendukungnya dengan lahap. Dan ibarat partikel netron yang ditembakkan pada inti atom yang tidak stabil, reaksi Pak Jokowi terebut telah memicu terjadinya reaksi berantai yang akan sulit dihentikan. Dan jangan lupa, yang namanya reaksi berantai disertai juga dengan pelepasan energi. Nah lepasan energi ini lah yang sedang kita rasakan saat ini, yang menyebabkan situasi politik yang memanas.

Terlepas dari alasan mengapa Pak Jokowi melontarkan retorika tagar dan kaos tersebut (saya punya beberapa teori yang mungkin saya tulis nanti, kalau sempat), saya sebenarnya lebih ingin Pak Jokowi dan para pendukung fanatiknya melakukan refleksi diri, dan mencoba mencari substansi utama yang ada di balik noise tagar dan kaos tersebut, dan bukannya terjebak pada bungkus. Alih-alih mendorong presiden dan para pembantunya bekerja lebih giat lagi, pendukung fanatik Jokowi malah melakukan permainan berbalas tagar. Tagar “2019 ganti presiden” dibalas dengan tagar “dia sibuk kerja” dan lain sebagainya.

Tak ada yang memungkiri bahwa presiden dan para pembantunya sibuk kerja — walau ada juga diantara pembantunya yang justru menimbulkan masalah, atau tidak terlihat hasil kerjanya. Namun, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintahan ini akibat permasalahan rezim-rezim sebelumnya sejak orde baru sangat lah banyak. Saat ini, energi warga dan pembantu presiden tersita untuk melakukan respon pengamanan atas citra presiden, dibandingkan untuk benar-benar meng-address berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Infrastruktur dan investasi bukan lah peluru perak atau jawaban singular atas semua permasalahan bangsa ini. Jika masalah-masalah bangsa yang bejibun ini hanya dijawab dengan infrastruktur dan investasi, saya khawatir pemerintahan hari ini ibarat orang yang hanya memiliki palu. Akibatnya, semua hal akan dilihat sebagai paku.

Pemerintahan Jokowi masih memiliki waktu satu setengah tahun lagi. Dari pada menghabiskan waktu menari di gendang pihak lain, lebih baik segera melakukan pembenahan dan kerja-kerja pemenuhan janji — menggiatkan percepatan redistribusi lahan dan reforma agraria, menyelesaikan konflik-konflik sumberdaya alam, menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM, menemukan dan menghukum pelaku penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, menghentikan kriminalisasi terhadap warga yang mempertahankan tanahnya dari seroboton koporasi, menghukum perusahaan pencemar lingkungan, dan benar-benar mengimplementasikan ekonomi kerakyatan — bukan ekonomi berbasis investasi skala besar yang disokong korporasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s