sepenuh hati

Ada satu prinsip yang membuat aku sangat terpesona ketika mengikuti pelatihan fasilitasi yang diselenggarakan Inspirit beberapa tahun yang lalu, yang kemudian kujadikan salah satu prinsip hidupku. Mas Dani, trainerku saat itu, mengatakan bahwa dalam melakukan fasilitasi (dan di kemudian hari aku perluas ini menjadi “dalam melakukan apapun”) kita memegang prinsip dua kaki, artinya peserta yang difasilitasi memiliki freewill atau kehendak bebas apakah dia ingin mengikuti proses ini atau tidak atau hanya setengah-setengah saja, karena pada dasarnya proses tersebut tidak bersifat memaksa, dan hasil akhir adalah milik si peserta dan bukan milik fasilitator.

Mas Dani juga bilang bahwa dalam melakukan fasilitasi (dan di kemudian hari aku perluas ini menjadi “dalam melakukan apapun”) kita haruslah sepenuh hati; artinya tetapkan hati dan hadir sepenuhnya. Sering kita jumpai dalam satu pertemuan hanya jasad orang-orang sajalah yang bertemu dan berkumpul, namun pikiran mereka entah ada dimana. Mereka tidak hadir sepenuhnya. Mereka tidak sepenuh hati.

Hal tersebut mungkin terdengar sepele, pun terdengar mudah untuk dilakukan. Namun dalam kenyataannya, hal tersebut tidak sepele sama sekali (karena menurutku itu menunjukkan penghargaan kita terhadap keberadaan orang lain), dan juga lumayan sulit diimplementasikan –apalagi dengan kehadiran berbagai sarana komunikasi mobile dan media komunikasi serta jaringan sosial virtual yang menggoda. Sarana komunikasi tidak nyata ini ternyata telah membentuk kebiasaan baru dan menimbulkan adiksi (kecanduan) baru.

Sering kita jumpai sekelompok orang berkumpul, namun masing-masing menggenggam alat komunikasinya, atau nampak tekun di menatap laptopnya. Kadang senyum-senyum sendiri atau matanya tiba-tiba berbinar-binar. Jasad mereka ada, berkumpul, namun mereka tidak hadir. Mereka hilang di rimba dunia virtual, dan sepenuhnya sucked in. Mungkin inilah awal dari terwujudnya dunia matrix atau munculnya dreamwalker seperti dalam film Avatar.

Orang-orang seperti itu memilih untuk “berbicara” dan berkomunikasi dengan orang lain secara virtual dibandingkan menggunakan mulut mereka melakukan pembicaraan sebenarnya dengan orang-orang yang duduk di hadapan mereka. Oke lah kalau semuanya sepakat menghilangkan diri di dunia virtual. Tapi bagaimana dengan penghilangan diri secara sepihak, dan membiarkan yang lainnya bengong macam kambing congek? (excuse my language…)

Sudah lama aku memperhatikan fenomena ini. Dan mungkin sudah sekian kalinya aku tuliskan pengalamanku di blog ini. Alih-alih membaik, kondisi adiksi dunia virtual saat ini menurutku justru memburuk.

Jangan salah kira, aku pun penggemar dunia virtual dan jaringan sosial virtual. Namun aku tak akan melakukan penghilangan diri secara sepihak, dan memilih untuk berkomunikasi secara nyata bila sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, karena apa poinnya bertemu jika tidak menggunakan mulut dan anggota tubuh kita untuk berkomunikasi? Lebih baik tinggal di rumah dan menyendiri kalau hanya ingin berasyik-asyik secara virtual.

Jadi menurutku, lakukan sepenuh hati atau tidak sama sekali. Kalau tidak siap untuk hadir sepenuhnya, lebih baik tidak usah bertemu atau berkumpul.

Yah begitulah, curhat colonganku malam ini, yang baru saja dijadikan kambing congek.. (sorry ya ‘mbing, bukan maksudku menghina hewan baik sepertimu).

egoistic

Ini foto yang saya ambil dari atas bus TransJakarta yang penuh sesak di ujung hari menjelang buka puasa. Perjalanan yang biasanya saya tempuh dalam waktu kurang dari satu jam, molor menjadi satu setengah jam akibat pengendara kendaraan pribadi egois yang ikut-ikutan menggunakan busway alias jalur khusus bus. Akibatnya, jalur bus yang tadinya bebas hambatan jadi ikut-ikutan macet. Sial!

Mereka yang di dalam kendaraan pribadi itu tidak pernah berpikir bagaimana kami-kami pengguna kendaraan umum ini berdesak-desak, kaki dan tangan pegal karena menahan beban bawaan sambil berdiri, dan dalam keadaan berpuasa pula. Mereka enak, tinggal duduk di dalam mobil ber-AC, tidak perlu berdesak-desak, nyaman, bisa sambil bercanda pula. Tidak seperti kami yang bergerak pun susah.

Ingin rasanya saya turun dan menggedor kaca-kaca kendaraan pribadi tersebut dan menggugat mereka. Benar-benar tak berperasaan! Tapi Tuhan memang Maha Adil. Alih-alih menjadi lebih cepat, mereka justru terjebak macet di jalur khusus bus. Sementara jalur kendaraan normal justru lebih lancar. Sekali lagi ingin rasanya saya turun dan menggedor kaca-kaca kendaraan pribadi tersebut dan menjulurkan lidah saya sambil berseru,”Emang eennnaaakk???!!!”

living in survival mode

Lupakan saja harapan membangun masyarakat adil makmur sejahtera gemah ripah loh jinawi. Lupakan saja keinginan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, apalagi ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Lupakan! Lupakan! Ini pesan gue kepada pemerintah negara ini (halah…emangnya gue siapa??!!!).

Lebih baik bapak-bapak, ibu-ibu yang ada di tampuk singgasana kekuasaan sana lebih berpikir realistis dan mempersiapkan segenap bangsa dan negara untuk hidup dalam survival mode atau mode bertahan hidup. Itu kalau mereka masih care dan ingat bahwa yang namanya “negara” itu punya “warga”, yang harus diurus, dipenuhi hak-haknya, dan dijamin keselamatannya.

Tapi kelihatannya mereka-mereka itu lupa. Coba saja baca dan tonton apa yang disuguhkan media massa. Antara apa yang dialami oleh warga negara –banjir, longsor, kekeringan, penyakit– dengan apa yang diributkan elit politik, kekuasaan sama sekali nggak nyambung blas. Mungkin mereka berpendapat “bencana itu takdir” maka “hadapilah dengan doa”.

Dimana negara ketika bencana menyambangi warganya? Warga dituntut untuk membantu dirinya sendiri. Gotong royong laaahhh…itu kan budaya kita.

Tahun 2008 ini adalah tahun keprihatinan. Gue prihatin karena tak ada matahari bersinar mengawali tahun baru. Hanya mendung, hujan, dan banjir. Bagi gue, ini pertanda buruk. Kita akan terhisap lebih jauh ke dalam pusaran bencana yang akan bertubi-tubi datangnya. Tak usah berpikir untuk menyekolahkan anak ke sekolah bermutu, atau mencukupi kebutuhan mendasar secara mamadai. Tak usah. Berhemat lah apa yang bisa dihemat. Menabung lah banyak-banyak. Karena biaya tak terduga akibat bencana akan semakin besar. Jangan harap ada bantuan dari negara, atau pemerintah. Selamatkan dirimu masing-masing!

Kita semua akan hidup dalam survival mode. Mau tidak mau, suka tidak suka.

too much ado about nothing

Seorang teman gue pernah bilang, “Udah lah….don’t sweat small things. Focus to your goal and just give a damn to the rest”. Tapi namanya kita punya kuping dan punya otak, masa’ iya pura-pura nggak mendengar… Apa musti seharian pakai earphone? Padahal teman gue satu lagi bilang, pakai earphone itu berbahaya, bisa bikin budeg tuli congek. Tapi setelah gue pikir-pikir, daripada gue involuntary terpolusi oleh whining disini dan whining disana, kayaknya gue mending budek congek tuli sekalian. Musti gue update nih lagu-lagu di dalam komputer gue.

Kadang gue capek dengan segala ‘drama’ yang pop-out di kanan kiri gue. Kerjain dulu aja kenapa sih? Kenapa musti selalu pake ‘drama’ sebagai intro-nya? Drama plus loudmouth plus kiss-ass equals sh*t…. [pls excuse my language, but don’t u agree?]

Capeeeeee deeeehhhhhh…

[buat my best sohib: it’s not about elo loh neeee’….]

dilarang keras!! sakit dan celaka

Seminggu yang lalu, orang kantorku kena demam berdarah. Sialnya, dia mulai menderita panas tinggi pada saat weekend dimana nggak ada orang kantor yang bisa diajak rembukan terkait dengan biaya dll. Dia anak perantauan, nggak ada saudara di Jakarta, cuma punya seorang kakak di Bogor (yang entah kenapa enggak dia kasih tau tentang penyakitnya).

Jadi waktu Hari Senin ketahuan, langsung kami larikan dia ke rumah sakit terdekat. Berhubung nggak ada saudara, jadilah aku sebagai ‘penanggung jawab’ segala sesuatu yang berkaitan dengan perawatannya. Masuk UGD, dia segera direkomendasikan untuk dirawatinapkan. Ini pengalaman pertamaku mengurus tetek-bengek perawatinapan di rumah sakit.

Tepat di depan meja administrasi, tertera daftar kelas-kelas kamar. Cuma ada kelas III yang enggak penuh dan kira-kira sesuai dengan budget. So, aku contreng lah di formulir pendafataran itu jenis kamar yang diinginkan. Lalu mbak-mbak di counter bilang,

“Silakan bayar uang mukanya ya, di loket bank di depan.”

“Berapa?” tanyaku.

“Empat juta rupiah” katanya lagi.

“Wah, saya nggak ada sebanyak itu. Bisa delapan ratus ribu dulu?” (uang di kantongku cuma 1,2 juta perak, dimana 400-ribunya harus dibayarkan ke UGD).

“Bisa. Sisanya dibayar lunas dalam jangka waktu 1×24 jam ya.” lanjut mbak-mbak tadi.

“Wah, bisa ada dispensasi?” tanyaku. Gelengan kepala yang kudapat.

“Bagaimana kalau uang muka itu nggak bisa dilunasi besok?” tanyaku lagi.

“Lihat aja mbak, di buku panduan ini. Sudah seperti itu aturannya, nggak bisa diubah.” katanya dengan raut wajah yang lempeng.

Sudah sering aku mendengar pengalaman orang-orang sakit dan keluarganya yang akhirnya terlantar atau terlambat mendapat pengobatan karena hal-hal seperti ini. Tapi, mengalaminya sendiri membuat aku benar-benar ternganga dan nggak bisa berkata-kata. Kudengar orang di sebelahku berusaha melobby, “Bener deh, kakak kami akan datang besok untuk melunasi.” Si mbak-mbak itu nggak berkomentar dan cuma menggeleng-geleng.

Aku nggak menyalahkan mbak-mbak frontliners itu. Memang begitulah adanya sistem kerumahsakitan. Mau dibilang apa? No money, no treatment.

Dan beberapa hari yang lalu kejadian serupa menghampiri seorang temanku yang lain. Dia ditabrak Kopaja di jalur busway. Parah. Kaki, tangan patah. Perut dan wajah bengkak. Gigi hancur. Tahu apa yang terjadi? Tiga jam dia dibiarkan begitu aja tanpa treatment. Alasannya karena dia nggak ada KTP. Kebetulan temanku ini sering dicopet, jadi dia malas bawa dompet yang berisi surat-surat pentingnya itu. Tiga jam!!! Pihak rumah sakit berpikir, siapa ni orang, dan kalau diberi perawatan, siapa yang harus menanggung biayanya.

Untungnya [*sambil menghela nafas panjang*], ketika akhirnya temanku sadar, dia masih bisa menjawab ketika ditanya perawat nomor yang bisa dihubungi. Mau nangis dan marah rasanya mendengar cerita seperti itu. Bayangkan, gimana kalau dia nggak sadar, atau dia kena amnesia, atau memang benar-benar nggak ingat apa-apa karena kesakitan???!!!

Aku jadi bertanya-tanya, apa sih sebenarnya fungsi rumah sakit? Kayaknya musti ada pendefinisian ulang arti rumah sakit, bukan sebagai tempat menyembuhkan orang sakit, tapi tempat MEMBUAT orang (tambah) sakit.

menepuk air di dulang…

“Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”

“Siapa menabur angin, akan menuai badai”

Dan kadang, yang perlu kita lakukan adalah just sit still and watch all those things happen, so that people can learn their lessons –especially she or he who think they know everything about everything.

resolusi 1747

Ada yang bilang dunia politik itu adalah dunia yang kotor. Kenapa? Well, kalo menurut gue itu karena dunia politik sama dengan dunia dagang. Bedanya, kalo di dunia dagang yang diperdagangkan itu jelas –barang, jasa; sementara kalo di dunia politik yang diperdagangkan itu lebih luas: kepentingan, kekuasaan, nasib orang banyak, bahkan juga bangsa dan negara.

Contohnya soal nuklir-menuklir ini. Secara pribadi gue sangat menolak penggunaan energi nuklir dimanapun. Karena apa? Karena energi nuklir nggak punya mata, telinga, dan hati. Dia cuma punya energi yang maha dahsyat. Begitu dahsyatnya sehingga nggak ada seorang pun di dunia ini yang bisa dipercaya untuk mengelolanya. Karena si pengelola cuman manusia biasa, yang punya nafsu, ambisi, dan sering alpa.

Pemerintah Indonesia mengamini resolusi PBB terhadap Iran yang akan membangun instalasi nuklir. Ironisnya, di Indonesia sendiri pemerintah mendorong dengan nafsunya penggunaan energi nuklir. Isn’t it double standard? Kalau pemerintah setuju dengan PBB, harusnya pemerintah enggak mengaplikasikan energi nuklir disini. Jadi ada apa ini? Apakah orang Indonesia lebih baik daripada orang Iran? Apakah orang Indonesia lebih berhati-hati daripada orang Iran? Aapakah orang Indonesia lebih ahli daripada orang Iran? Atau mungkin orang Indonesia lebih ‘manis’ dibanding orang Iran yang ‘gahar-gahar’ itu. Tapi ‘manis’ menurut siapa? Siapa sih sebenernya sang ‘ndoro’ yang menentukan manis-tidaknya orang-orang di seluruh dunia ini?

Sekali lagi, gue tidak mendukung pemakaian energi nuklir dimanapun, tidak di Iran, apalagi di Indonesia. Tapi seperti yang gue tulis di atas, ini lah yang namanya politik. Nggak ada urusan sebenernya dengan ‘kemajuan teknologi’ atau ‘nasionalisme’ atau apapun yang coba didegung-dengungkan oleh pemerintah –dan orang-orang yang secara sempit mengamininya. Ini power play. Energi nuklir cuma jadi komoditas politik. Nggak lebih nggak kurang.

Coba kita berandai-andai. Katakanlah ada satu negara yang berkuasa banget di kolong jagat. Dia tau ada satu negara besar tapi kerdil yang segelintir orangnya ngebet banget pengen punya teknologi nuklir. Yah, cuma supaya dibilang nggak ketinggalan jaman, atau coba-coba menutupi kebobrokannya dengan kebanggaan semu. Di sisi lain, dia liat ada satu negara kecil tapi bengal banget, and ngeyel. Si cabe rawit ini saking nyolotnya ditindas sama si kuasa, bahkan berani-beraninya bluffing bahwa dia juga mau punya nuklir (yg selama ini cuman dikuasai segelintir elit penguasa jagat). Si kuasa berpikir, ‘wah, bahaya nih, kalo sampae si cabe rawit berhasil memprovokasi bangsa-bangsa lain, bisa terjadi global disobedience nih’. If you’re the powerful, what would you do?

So, politics is indeed as easy as playing card. Or gambling. Elo punya apa, gue punya apa. Elo bisa apa, gue bisa apa. Let’s make a trade.

Dan cerita berjalan seperti apa yang kita saksikan sekarang. Si kuasa bilang sama si kerdil, ‘Gimana kalo gue kasih elo teknologi energi nuklir?’ Si kerdil menjawab sambil ngiler dengan mata berbinar-binar,’Mau..mau..mau..’.

Si kuasa bilang lagi,’Tapi dengan syarat, elo dukung posisi gue terhadap si cabe rawit. Daannn, yang lebih penting lagi, lo harus tetap jadi anak manis! Awas lo kalo ikut-ikutan ngeyel! Gue cabut tuh dukungan nuklir gue! Dan gue sebarin gosip bahwa elo akan ngembangin senjata nuklir! Mau lo diembargo, heee???!!!’ Si kerdil berkata, ‘Siap Bos! Whatever you say’.

Soooo, terjadilah Resolusi 1747 yang didukung penuh oleh si kerdil. Walopun sebenernya si kerdil nggak siginfikan posisinya di resolusi itu. Tapi, si kuasa perlu bukti kepatuhan si kerdil. Dan of course si kerdil dengan senang hati memenuhi keinginan majikannya.

Tak lama, si kuasa mendatangkan berbagai ahlinya, dan ahli-ahli dari negara-negara ‘anak-manis’ asuhannya untuk membantu si kerdil untuk mengembangkan energi nuklir. Kata para anak asuhan,’Welcome to the club of the good boys!’

‘Inget! Kita harus selalu patuh apa kata pak bos! Jangan sampe pak bos marah! Liat tuh akibatnya sama si cabe rawit.’ lanjut good boy-1. Si kerdil menjawab,’Oke deh! Don’t worry be happy.’

Don’t worry be happy, gundulmu!!! –kata gue.