god is great

Tahun-tahun terakhir ini saya merasakan blessings dari Yang Maha Kuasa dan kemurahhatianNya yang sangat luar biasa. Jadi ingat kalau tidak salah di akhir tahun 2016 saya membuat wish list apa-apa saja yang ingin saya lakukan dan saya capai. Dan seperti biasa, saya mengupayakannya secara tidak istimewa. Dan kemudian di tahun ini beberapa wish list saya terjadi begitu saja.

Tiba-tiba di awal Januari, ayah-ibu saya menyatakan kepingin umrah. Mereka kangen Mekkah dan Madinah, setelah berhaji 30 tahun yang lalu. Dan karena mereka sudah sepuh, mereka tentu saja perlu ditemani. Dan siapa lagi yang available setiap saat bisa diminta untuk nemanin selain anaknya yang masih belum punya tanggungan dan nggak repot harus mengurus keluarganya? Iya, saya. Maka jadilah di akhir Februari itu kami pergi umrah bertiga. Ini wish list saya yang utama.

Banyak pengalaman rohani dan jasmani yang saya rasakan selama pergi ibadah tersebut. Mungkin akan saya ulas lain kesempatan. Namun satu hal yang paling saya rasakan pasca umrah tersebut adalah bahwa saya merasa fulfilled. Content. Saya merasa kalau pun Yang Maha Kuasa memanggil saya satu hari setelah umrah, saya akan dengan senang hati memenuhinya.

Saya merasa cukup. Saya merasa tak ada lagi yang harus saya kejar di dunia. Saya sudah merasakan semua hal-hal esensial yang bisa ditawarkan kehidupan di bumi. I went places. Lima benua sudah saya injak semua. Dan melihat ka’bah dengan mata kepala sendiri –ditambah memegang, mencium, dan sujud hanya sekitar dua meter darinya, sudah lebih dari apa yang bisa saya harapkan. Tak ada lagi yang bisa bikin saya penasaran. Kalau pun ada keinginan-keinginan kecil –mendaki Everest, naik kereta Trans Siberia, atau free diving, itu semua bisa dikesampingkan.

I have felt all feelings that are possibly felt by human beings. Saya sudah merasakan yang namanya sedih, suka, gembira, jatuh cinta, dicintai, membenci, dibenci, rindu, malu, dipermalukan, dendam, deg-degan, takut, khawatir, memimpin, dipimpin, bangga, terhina, dihina, menghina, kasihan, marah, tertekan, kecewa, dan lain-lain.

Saya sudah mencapai apa yang mungkin dicapai manusia normal. Saya bisa sekolah di sekolah terbaik dengan hasil yang cukup baik. Saya bekerja di tempat yang bisa menyalurkan idealisme saya. I have created and initiated many things. Saya tidak berusaha merendah dengan itu semua, dan nggak mau sombong juga. Itu full campur tangan Allah saya. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Wish list saya yang lain adalah ikut lomba marathon. Well, memang saya belum sampai ikut full marathon, Tapi half-marathon —berlari 21,1 kilometer, jadi lah. Itu pun tak sekuat tenaga saya upayakan. Memang empat bulan sebelumnya saya berlatih dengan cukup sistematis dengan seorang pelatih profesional. Tapi menjelang lomba tersebut, sebenarnya saya sudah off berlatih karena jadwal saya yang semakin padat dan tidak mampu mengejar jadwal yang sudah ditetapkan pelatih.

Seperti pengalaman waktu naik gunung berapi tertinggi di Indonesia pertama kalinya, ikut half-marathon ini pun nekat-nekatan. Patokan saya, saya sudah pernah berlari 12 kilometer at one shot. Making it to be 21,1 km shouldn’t be a big problem. Itu pikir saya. So, it is a well calculated risk I was taking. Maka jadilah. Bukan lalu saya ikut HM, dan berhasil masuk finish hanya beberapa menit sebelum cut off time (batas waktubterkahir yg dibolehkan). Sekali lagi, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Nah, blessing tak terduga lainnya, yang baru saja kemarin saya alami, membuat saya mesem-mesem sendiri, geleng-geleng kepala sendiri. Kali ini kaitannya dengan jatcin yang saya rasakan akhir-akhir ini (cerita jatcinnya ada di sini). Setelah terjadinya sedikit interaksi, yang bersangkutan tiba-tiba mengontak saya! (Tuuh, menuliskannya aja bikin saya cengar cengir sendiri). Nggak ada yang spesial sebenarnya, cuma casual conversation. Saya tahu sedikit tentang dia, dan dia tahu sedikit tentang saya. Berkaca dari pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, saya akan lebih berhati-hati dan nggak mau GR juga. Apalagi yang bersangkutan ini banyak fans-nya. Apa lah saya ini, remah-remah rengginang. 😜😜😜

Dan seperti saya bilang di atas, saya udah pernah ngerasain perasaan seperti ini. Kalau pun awalan tadi cuma sampai di situ, ya udah gak apa-apa. Nggak penting. No big deal. Yang namanya jatcin ya begitu-begitu saja dari dulu. It’s just adding some excitements in life. And it came at the right time, when I started to feel a bit bored with my routines.

Yah begitulah saya, yang nggak ada apa-apanya tanpa campur tangan Yang Maha Berkehendak. Berbeda dengan orang yang meragukan keberadaan Tuhan, saya yakin sekali dengan keberadaanNya. Dia tahu apa yang ada di hati saya, apa yang ada di sel-sel otak saya –yang saya sendiri pun secara sadar tidak ketahui. What I know, I am just turning the wheel a bit. He fully decides where it will stop.

queen bee

Beberapa waktu yang lalu saya kebetulan membaca satu percakapan dunia maya tentang fenomena queen bee di tempat kerja. Mereka yang percaya pada keberadaan fenomena ini mengatakan bahwa pimpinan perempuan cenderung tidak memberi kesempatan kepada perempuan lainnya untuk maju. Pemimpin perempuan itu menghambat, menjegal, mem-bully, perempuan di bawahnya. Demikian opini terhadap queen bee.

Dan coba tebak siapa yang mengatakan hal-hal tersebut pertama kali dalam percakapan tersebut? Yup, seorang selebrita dunia maya berkelamin laki-laki.

Sedihnya, mansplaining di atas diiyakan pula oleh perempuan. Bahkan ada beberapa komentar agak bias yang mengatakan bahwa ini lah sebenarnya salah satu penyebab mengapa tidak banyak perempuan yang berada di posisi pimpinan, dan bahwa hal ini adalah satu hal yang tidak mau diakui oleh kalangan feminis. Mereka bilang bahwa feminis pasti akan menyalahkan sistem patriarki sebagai penyebab kurangnya perempuan di posisi pimpinan, dan bukannya kelakuan queen bee ini.

Saya tertarik dengan hal di atas karena beberapa hal. Pertama, karena saya baru tahu bahwa ada fenomena “queen bee” ini. Hehhee, iya, saya agak kudet. Alasan kedua, karena ini sangat relevan dengan saya –saya adalah seorang perempuan pemimpin organisasi yang didominasi laki-laki, dan kata banyak orang merupakan satu organisasi yang cenderung bersifat maskulin. Ketiga, sisi feminis saya nggak terima dengan stereotyping macam ini –mengapa hanya ada queen bee tetapi tidak ada fenomena king bee? Mengapa saling “jegal” di kalangan perempuan ada sebutannya, sementara saling jegal di kalangan laki-laki tidak ada sebutannya? Bukankah fenomena jegal menjegal ini tidak hanya dialami atau dilakukan oleh perempuan? Nah, alasan terakhir dan yang tidak kalah pentingnya, saya kebetulan sedang didera tuduhan queen bee ini, walaupun tidak disampaikan secara langsung dan hanya terdengar sebagai rumor yang sayup-sayup sampai di telinga saya.

Karena penasaran dan ingin tahu lebih lanjut, jadi lah saya googling kesana kemari. Dan syukur lah, saya menemukan artikel-artikel yang cukup akademis dan tidak didasarkan pada perasaan. Penelitian ini misalnya, diterbitkan dalam The Leadership Quarterly pada bulan April 2018, menemukan bahwa fenomena queen bee ini kemungkinan hanya mitos. Penelitian ini menyebutkan bahwa dalam lingkungan kerja, pemimpin perempuan bertindak sangat baik pada perempuan bawahannya, dan mereka juga mengangkat perempuan pada posisi-posisi penting. Mereka juga mencegah terjadinya ketimpangan pendapatan antara perempuan dan laki-laki di posisi yang sama. Penelitian ini dilakukan di Brazil dan mengambil sampel 8,3 juta organisasi di 5.600 municipaities (unit pemerintahann daerah).

Peneliti utamanya mengatakan bahwa penelitian-penelitian sebelumnya yang menyimpulkan adanya fenomena queen bee dilakukan berdasarkan studi kasus ilustratif yang tidak representatif, atau berdasarkan survey yang tidak menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang sebenarnya dari penunjukan perempuan dalam posisi kekuasaan.

Baiklah, itu hasil studi. Bagaimana realitasnya? Sebagai perempuan pemimpin, saya bisa bicara dari pengalaman saya sendiri. Menjadi perempuan pemimpin, apalagi di dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang tidak lah mudah. Di organisasi saya yang sudah berdiri sejak 1980 dan mengalami 10 kali periode suksesi, baru tiga orang perempuan terpilih menjadi pimpinan –saya yang ketiga. Untuk mengajukan diri dan membuat diri kita terpilih bukan lah hal yang mudah. Di dalam organisasi masih banyak juga yang meragukan kepemimpinan perempuan –dengan beragam alasannya.

Menjadi pemimpin perempuan, bagi saya, memerlukan kesadaran akan diri sendiri yang jauh lebih besar. Sensitivitas terhadap kesetaraan dan afirmasi bagi perempuan lain termasuk hal-hal yang menjadi perhatian utama saya. Dalam organisasi saya, tidak mudah mencari kader perempuan. Tidak usah lah dulu bicara kompetensi. Walau kesempatan untuk terlibat dalam organisasi saya buka seluasnya, dengan prioritas saya berikan kepada perempuan, tetap saja sulit mengisi posisi yang ada dengan perempuan.

Dilema lain, terkait kecakapan dan kompetensi. Ketika pada akhirnya saya harus melepas seorang perempuan dari posisi pimpinan lapis kedua karena alasan kompetensi despite segala dukungan dan kesempatan untuk perbaikan, deraan sebagai queen bee pun datang kepada saya. Rumor itu mengatakan, begitulah jika kamu punya boss perempuan, dia tidak akan bisa bekerja sama dengan perempuan lain. Hehehee.

Bagi saya, selama itu tidak disampaikan kepada saya secara langsung, itu semua saya anggap non-issue. Tidak eksis. Namun demikian, hal-hal tersebut tetap saya jadikan bahan refleksi, dan mengasah terus sensitivitas saya agar lebih baik lagi.

unsaved by the rain

  

It has been almost three months now most areas in Sumatera and half part of Kalimantan are blanketed by smoke and haze resulted from the burning of lands, especially on the peatlands.

The impacts are enormous. According to the National Disaster Response Agency (BNPB) 40 million people are exposed to the smoke and haze, and more than 400 thousand people are suffered from the acute respiratory infection (ISPA) according to the Ministry of Health. Hundreds of flights have been canceled, thousands of students can not enjoy proper education. The economic loss is predicted to reach 20 trillion rupiahs (approximately USD 2 billion).

For eighteen years now Indonesians have experienced smoke and haze that disrupt their daily lives and affect their livelihoods. And for those years lessons have not been learnt. Moral hazards and bad practices of natural resources extraction persist and unpunished, deep-rooting like cancer that eats up the body piece by piece.

For eighteen years the fires, smoke and haze have been treated as a given situation, and tackled in a responsive mode. If we are honest, none of those responsive mode of action could actually put off the fires in peatlands completely. All these years it has been ‘the hands of God’ that put off the fires once and for all –in the form of rains; heavy heavy rains. And we human forget easily. The bad practices are repeated year after year. And every time we have been ‘lucky’: we have been saved by nature. Nature actually teaches us, but we are too stupid and ignorant to learn. We forget that we can not push our luck.

And this year the most waited rain –heavy heavy rains, has not come yet. Parts of government and corporations –whose concession areas are located on the peatlands, are starting to put the blame on El Nino. Plantation concession holders said that they don’t burn their lands, and that it is burnt automatically because of the hot temperature, and that it is difficult to put off the fires in the peatlands. Yes it is indeed difficult to put off the fire once it happens on the now-naked-and-dried peatland forest! That is why the peatland forest –a wetland in its natural undisturbed condition, must not be clearcut at all in the first place!

Now it seems like nature teaches us harder. But greeds and moral hazards can not be dimmed easily. And unfortunately, the costs of the hard lesson from nature must be borne mostly by the parties that even have nothing to do with those behaviors –like children. Five children from different provinces have died –suffocated and failed to breathe, triggered by the smoke-haze exposures.

For eighteen years the state have done little, and even giving impunities to the perpetrators of the felony. For eighteen years the most fundamental rights of the citizen –human beings, to breathe in good and healthy air has been violated. For eighteen years the state has subsidized corporations –through policies and peoples money, to maintain their moral hazards.

Five casualties and millions of sufferers; Is it not enough? How many more lives it needs to open the eyes that have been blinded by the mantra of profit maximization? How many more lives it needs to make the ears that have been plugged by the whispers of economic growth myth really listen?

261k and keep going

It has been a year now since I started running regularly. Well I wanted it to be an everyday run, but unfortunately because of my busy schedule (uhuk..) that required me to go out of the city, and my chronic laziness, that ‘regularly’ has become not so regularly.

IMG_7136-0.JPG

So far I have run as far as 261.6 km! Yes! And I think it’s not that bad, is it? This morning I finished a 10k –although it was done in a very slow pace. Well It has been a month now since the last time I run, so I don’t want to hurt my feet. Besides, I have just come back from travel that made me sit for 20 hours –one way! Poor my back and my feet, so I need to stretch them out a little bit.

I love running, because it clears my mind, makes me calm, not to think about anything but my step. It is a kind of meditation for me. The sore in the angkle or the leg doesn’t matter, it is part of the experience.

I am not really fond of joining the fun-run competition, as I found it difficult to really run, and just too much efforts to do.. (for example, waking up very early and going to the race place.. eugh!) Hahaaha.. Yes, I am pathetic lazy b*tch! 😜

But, as I plan to go hiking again by the end of this year and need to maintain my health and body strength –so I will not become a burden for someone else, I need to keep my spirit high and drag myself out of my comfy bed for running more often. Besides, I have targetted myself to join and finish a full marathon some time next year. Aamiin.

By the way, currently I am reading an unusual book of Hiraki Murakami’s “What I Talk About When I Talk About Running”. I didn’t know that he is a runner. So when I saw the book at Strand Bookstore, Manhattan, I just grabbed and bought it. Knowing the real side of the authors is one of my interests, understanding their background, how they grew up etc can help me understand their writings, or why they chose a theme for their book, for example. And Murakami’s book makes me smile all the time as I feel quite the same as him, as runner –although I am not that good runner compared to him. But somehow I can relate.

Anyway..

IMG_7137-2.JPG

travelling light

Gue memandang kehidupan ini adalah sebuah perjalanan, life is a journey, kata orang. Dan dalam perjalanan ini, gue pun percaya apa yang dibilang Lao Tszu, bahwa seorang true traveller itu nggak bermaksud untuk tiba di satu tujuan tertentu. Yang ada hanyalah persinggahan, untuk terus melanjutkan berjalan.

Sudah sering gue ungkapkan, bahwa gue suka heran dengan diri gue yang seolah gak punya ambisi ingin menjadi atau mencapai sesuatu –walaupun kenyataannya capaian-capaian itu terjadi juga pada diri gue, tanpa benar-benar gue rencanakan atau gue desain. Dan sekarang gue baru teringat lagi setelah membaca komen seorang teman gue dulu di kampus di salah satu postingan gue di blog ini (l i n k). Dia mengingatkan gue, bahwa dulu jaman kami masih kuliah, dia pernah tanya apa cita-cita gue. Dan saat itu gue menjawab dengan seriusnya bahwa cita-cita gue masuk surga.

Setelah gue refleksikan kembali, well, mungkin ini penyebab gue “seolah-olah” gak punya cita-cita di kehidupan ini. Backmind gue mungkin terprogram, ever since, untuk sebuah cita-cita masuk surga (Aamiin Ya Rabbal Alamiin). Mungkin itu juga kenapa gue mengambil jalur pengabdian sebagai jalan hidup gue di dunia ini (insya Allah untuk seterusnya).

Nah, perjalanan ke tempat-tempat gue bekerja, gue selalu berusaha untuk travelling light. Ini karena gue orangnya nggak suka ribet. Gue cuma bawa apa yang gue perlukan. The essentials.

Ini juga yang jadi prinsip perjalanan hidup gue. Bring only bags that make you happy. In life, travel light. Prinsip Zen juga banyak mempengaruhi pandangan hidup gue. Living in the now. Forget the past, don’t worry about the future. Be in the present. Khusyuk. Ya, gue ingin menjalani hidup ini dengan khusyuk.

Maka, ini pula yang membuat gue dengan mudahnya menghapus semua kenangan dengan my ex tanpa beban. Atau meng-unfriend teman yang annoying di Path, Facebook, Instagram. You name it. Buat gue, hal-hal itu adalah no big deal. Gue gak mau nambah-nambahin hal-hal gak penting di dalam otak gue yang kecil dan punya memori terbatas ini. Dan untungnya lagi, gue orangnya pelupa. Blessed those who are the forgetful, kata salah satu pengarang ternama yang gue lupa namanya.

Tapi yang susah, gue gak bisa lupa how people treat me, karena gue sangat peduli bagaimana gue memperlakukan orang. Hal-hal itu yang sering mengganggu pikiran gue. Misal ada yang tiba-tiba berlaku berbeda. Dulu akrab, sekarang jaga jarak. Dulu baik, sekarang jutek. Sering gue mikir, what did I do wrong? Gue pada dasarnya nggak mau punya masalah dengan orang. Tapi kadang, orang yang punya masalah dengan gue.

Seperti gue bilang, orang sering misunderstood dan salah duga sama gue. Gue baik, dikira naksir. Gue bikin puisi, dikira nyindir. So, sering gue tanya langsung sama yang bersangkutan. Tapi kalau mereka nggak ngaku, well, yang gue lakukan ya delete, delete, delete. No sweat. Drop the bags that weighing us. Bagi gue, see no evil, hear no evil, feel no evil.

What others think about me, is not my responsibility. My responsibility is making sure I don’t hurt people, and how I treat others.

Jadi, begitulah. Bagi gue, lebih baik gue punya 10 orang sahabat yang gak ribet-ribetin hidup gue, dibanding 1000 orang kenalan yang ribet. Toh, pada akhirnya, seperti kata sahabat gue si Duy, hidup kita itu harusnya happy-happy dan bahagia.

diary kota tua

Bung Karno pernah bilang,”Jas Merah!” — jangan sekali-kali melupakan sejarah. Masyarakat yang melupakan sejarah ibarat masyarakat yang terbang melayang-layang, terombang-ambing hanya mengikuti kemana arah angin bertiup, tanpa pijakan, tanpa akar.

Kawasan Kota Tua Jakarta merupakan salah satu peninggalan sejarah Jakarta. Memang ada kepedihan disana — cerita penaklukan dan penderitaan. Namun disana terkandung juga pelajaran yang seharusnya bisa dipetik. Disana, misalnya, ada pelajaran perlawanan, pelajaran untuk tidak bersedia tunduk pada penindasan, dengan berbagai caranya — ada yang melawan secara frontal, namun juga ada yang dengan berbagai karya-karya, seperti karya lukis Raden Saleh yang banyak terpampang di Museum Fatahillah.

Museum Fatahillah adalah salah ikon dari Kawasan Kota Tua Jakarta. Aktifitas di Kawasan Kota Tua Jakarta memang bisa dikatakan hampir sepenuhnya terpusat di sekitar Museum Fatahillah. Informasi mengenai Museum Fatahillah bisa dilihat disini.

Sayangnya, kawasan ini nampaknya belum sepenunya direncanakan dengan baik — baik peruntukkannya maupun pengelolaannya. Beberapa bagunan peninggalan sejarah disana memang menunjukkan adanya pemeliharaan dan pengelolaan yang lumayan, namun nampaknya belum untuk Kawasan Kota Tua secara keseluruhan.

Seorang teman yang sama-sama bergabung di komunitas photo-sharing Instagram satu kali mengungkapkan kegelisahannya melihat situasi Kawasan Kota Tua saat ini yang menurutnya tidak terkelola dengan baik. Nah, temanku kemudian mengajakku berkolaborasi membuat essay foto yang ingin aku share disini. Essay foto ini bermaksud menggambarkan jeritan si Kota Tua yang semakin lama makin terhimpit perkembangan kota “modern” Jakarta, juga sekaligus menggugah dan memunculkan harapan untuk terus menjaga peninggalan sejarah Indonesia tersebut.

Semua foto di bawah ini adalah hasil jepretan yang brilian dari temanku Ciunkz, dan dilengkapi kata-kata oleh aku. Silakan cek hasil jepretan Ciunkz di Instagram, yang bisa dipastikan bakal membuat kita terkagum-kagum, disini

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[1/8]

lalu siapa yang menciptakan zaman, sayangku?
dan siapa pula yang menggerakkan sang waktu?
berharap aku tak diterpanya,
berharap aku tak diterjangnya,
berharap aku tak ditinggalkannya…
terkapar,
mati.

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[2/8]

bertahan aku,
sendirian,
bergantung belas kasihan.

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[3/8]

sampai kapan kita dapat bertahan,
melalui malam demi malam,
dalam resah,
di tengah ketidakpastian,
menanti uluran tangan,
mengharap setitik perhatian,
di antara ketidakpedulian,
dan ketakacuhan..

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[4/8]

bersama kita selalu,
menyusuri kenangan masa…
atau hanya terpekur diam,
menunggu sang nasib,
mengatur putaran roda hidup kita,
membawanya entah kemana…
atau menggerusnya,
membuat tak berdaya.

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[5/8]

kita ayun saut demi satu langkah terakhir
menapaki tonggak demi tonggak monumen masa lalu
yang tak lagi berjodoh dengan masa yang kini…
‘kita hanya lah peringatan’ katamu
‘simbol-simbol penaklukan yang tak ingin diingat zaman’
‘namun kita jua adalah cinta’
‘yang lahir dari kedalaman rasa pemimpi keindahan’ katamu pula
‘seharusnya…’
aku hanya bisa diam, menekuri setapak di depanku;
satu yang kau lupa, sayangku…
zaman tak peduli pada kenangan…
zaman tak peduli pada cinta…
zaman yang tak peduli tidak lah peduli…
bagi zaman, kita hanya lah onggokan,
yang tinggal menunggu waktu
menuju ketiadaan…

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[6/8]

bersimpangan akhirnya
jalanku dan jalannya…
dia anak kandung zaman,
sementara aku,
hanya lah pejalan masa,
yang menjadi saksi anak-anak zaman
menempuhi waktunya,
menikmati hidup yang riuh rendah
penuh suka cita…
anak zaman kadang bertanya,
bagaimana hidup di waktuku…
‘sederhana dan bermakna’ jawabku…
hidup di waktuku adalah perjuangan,
antara keberadaan dan kebinasaan,
yang batasnya hanya setarikan hela nafas,
hidup di waktuku adalah pembebasan,
atau penaklukan,
yang batasnya hanya setipis utas benang..
ku lihat anak zaman tercenung,
sedetik,
lalu kembali sibuk ia
dengan keriuhrendahannya..

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[7/8]

dan zaman telah tentukan,
begini lah wajah anak zaman,
cerlang, gemerlap, penuh pulasan,
terpantul di air sungai warna warni..
senandungnya penuhi udara,
kala cahaya surya digantikan
beribu-ribu lentera raksasa..
namun jangan kau hampiri ia
di tengah hari terang,
kala topengnya tengah ia tanggalkan,
tak ingat lagi ia,
siapa dirinya..

Image[photo courtesy of Ciunkz]

[8/8]

pada akhirnya keberuntungan lah yang berjaya,
si pembawa nasib baik yang selalu berjaga,
berkawan dengan sang zaman,
menemani pejalan masa..
dan pada akhirnya harapan lah yang bermenang,
yang tak henti berdoa dan menebar kebaikan,
selalu menatap ke depan dan tersenyum pada semesta
[closure]”Close your eyes and let the mind expand. Let no fear of death or darkness arrest its course. Allow the mind to merge with the Mind. Let it flow out upon the great curve of consciousness. Let it soar on the wings of the great bird of duration, up to the very Circle of Eternity.”

~ Hermes