unsaved by the rain

  

It has been almost three months now most areas in Sumatera and half part of Kalimantan are blanketed by smoke and haze resulted from the burning of lands, especially on the peatlands.

The impacts are enormous. According to the National Disaster Response Agency (BNPB) 40 million people are exposed to the smoke and haze, and more than 400 thousand people are suffered from the acute respiratory infection (ISPA) according to the Ministry of Health. Hundreds of flights have been canceled, thousands of students can not enjoy proper education. The economic loss is predicted to reach 20 trillion rupiahs (approximately USD 2 billion).

For eighteen years now Indonesians have experienced smoke and haze that disrupt their daily lives and affect their livelihoods. And for those years lessons have not been learnt. Moral hazards and bad practices of natural resources extraction persist and unpunished, deep-rooting like cancer that eats up the body piece by piece.

For eighteen years the fires, smoke and haze have been treated as a given situation, and tackled in a responsive mode. If we are honest, none of those responsive mode of action could actually put off the fires in peatlands completely. All these years it has been ‘the hands of God’ that put off the fires once and for all –in the form of rains; heavy heavy rains. And we human forget easily. The bad practices are repeated year after year. And every time we have been ‘lucky’: we have been saved by nature. Nature actually teaches us, but we are too stupid and ignorant to learn. We forget that we can not push our luck.

And this year the most waited rain –heavy heavy rains, has not come yet. Parts of government and corporations –whose concession areas are located on the peatlands, are starting to put the blame on El Nino. Plantation concession holders said that they don’t burn their lands, and that it is burnt automatically because of the hot temperature, and that it is difficult to put off the fires in the peatlands. Yes it is indeed difficult to put off the fire once it happens on the now-naked-and-dried peatland forest! That is why the peatland forest –a wetland in its natural undisturbed condition, must not be clearcut at all in the first place!

Now it seems like nature teaches us harder. But greeds and moral hazards can not be dimmed easily. And unfortunately, the costs of the hard lesson from nature must be borne mostly by the parties that even have nothing to do with those behaviors –like children. Five children from different provinces have died –suffocated and failed to breathe, triggered by the smoke-haze exposures.

For eighteen years the state have done little, and even giving impunities to the perpetrators of the felony. For eighteen years the most fundamental rights of the citizen –human beings, to breathe in good and healthy air has been violated. For eighteen years the state has subsidized corporations –through policies and peoples money, to maintain their moral hazards.

Five casualties and millions of sufferers; Is it not enough? How many more lives it needs to open the eyes that have been blinded by the mantra of profit maximization? How many more lives it needs to make the ears that have been plugged by the whispers of economic growth myth really listen?

sekali lagi: kenaikan harga BBM untuk siapa?

Sekarang sedang heboh-hebohnya orang membahas kenaikan harga BBM premium, yang dianggap terlalu murah karena mendapatkan subsidi negara.

Pertama, yang musti digarisbawahi, pemotongan subsidi BBM adalah keniscayaan, siapa pun presidennya, mau Beye kek, Wowok kek, atau sekarang Pak Wiwik. Kenapa? Nah, alasan ini yang penting diketahui. Alasannya bukan karena subsidi itu diperlukan untuk membantu rakyat miskin, atau membangun fasilitas umum bla bla. Bukan, bukan itu. Alasan sesungguhnya adalah karena Indonesia dengan dua ratus juta lebih penduduknya itu adalah pasar. Konsekuensi liberalisasi sektor hilir industri migas akibat Letter of Intent IMF tahun 1997 adalah sektor hilir migas tidak lagi hanya didominasi Pertamina, namun juga oleh pemain lainnya. LoI ini juga memerintahkan pemerintah Indonesia membuka keran impor mobil built-up, yang tentu saja perlu BBM yang khusus pula.

Ciri pasar adalah persaingan bebas, di mana keberadaan bensin bersubsidi membuat bensin lain kurang kompetitif dan profit kurang maksimal. Selain tuntutan “pasar”, penghapusan subsidi juga adalah konsekuensi keanggotaan Indonesia di G20. Cek saja statement-statement presiden, baik Beye maupun Wiwik di pertemuan G20, pasti meng-highlight juga dengan heroik bagaimana pemerintah memotong subsidi BBM. Kalo presidennya Wowok, ceritanya pun gak akan beda. Haqqul yaqin saya mah.

Kedua, soal pemberantasan kemiskinan dan perlindungan orang miskin. Please deh, jangan lagi pakai argumentasi usang itu lagi. Logika dan prinsipnya, perlindungan orang miskin dan pemenuhan fasilitas umum oleh pemerintah itu wajib hukumnya –mau ada subsidi BBM atau enggak. Bagaimana mencari duitnya, itu soal lain lagi yang bisa didiskusikan. Bisa dari naikin pajak orang kaya, potong belanja birokrasi, tambal kebocoran-kebocoran pajak industri, dll dll.

Prinsipnya, subsidi orang miskin itu nggak bisa adhoc, yang dinomorduakan, yaa kalo ada dikasih, kalo enggak ya tunggu aja kalo pemerintah ada dana cadangan. Ini kan ngaco, dan logika ini yang sekarang sedang dilestrikan pemerintah dari rejim ke rejim. Lagian selama ini yang memelihara orang miskin itu rakyat kok mayoritasnya. Lihat aja berbagai panti asuhan, yayasan yatim piatu dll dll sejenisnya. Bangun fasum juga sudah biasa bagi rakyat, karena nunggu pemerintah kelamaan. Rakyat sudah biasa bikin mesjid, gereja, pura, dll sendiri, perbaikin jalan sendiri, dll dll.

Saya juga bilang gak nyambung antara kenaikan harga BBM dengan peningkatan produktifitas masyarakat miskin. Kalo untuk ini, kenapa enggak bank-bank diperintahkan memberi kemudahan kredit untuk pengusaha kecil dan bisnis rumahan? Kenapa enggak kemudahan bibit dibuka bagi petani? Kenapa enggak lahan-lahan pertanian dilindungi dan tidak dialih fungsi? Kenapa enggak sumber-sumber air dan hutan-hutan dijaga? Percuma kan perbaikin saluran irigasi kalo airnya nggak ada?

Selanjutnya, soal kedaulatan energi. Ini yang gak pernah disinggung oleh banyak pihak. Gambar yg saya ambil dari akun FB-nya Pak Wiwik ini menarik. Kelihatan di sini betapa kecil cadangan minyak Indonesia dibanding negara lain. Nah sudah tahu begini kok ya masih kecanduan minyak dan terus menumpukan sumber energi pada minyak bumi? Sudah tau sumbernya sedikit, kilangnya gak ada, kok ya masih berani terus menerus menumpukan moda transportasi pada kendaraan pribadi berbasis bahan bakar fossil? Kapan mau beralih ke moda yang lebih efektif dan efisien?

IMG_6623.JPG

Dari rejim ke rejim, roadmap melepaskan diri dari kecanduan bahan bakar fosil ini yang saya tunggu-tunggu. Kita ini sekarang ibarat orang sakaw BBM yang rela beli berapa pun dan rela dikibulin sebagaimana pun oleh mafia minyak, plus rela dikerjain industri otomotif dan kontraktor jalan raya.

Yah saya memang bukan ekspert banget di soal-soal ekonomi dan pembangunan. Tapi saya juga nggak bodoh-bodoh amat lah menilai fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang nggak masuk di common sense saya –seperti lakon sandiwara subsidi BBM dari rejim ke rejim yang menyebalkan seperti saat ini.

mount prau: another love story

This post is long overdue. I should have written it a couple of months ago, but you know, there have always been more urgent things to do, or in my case, more “urgent” things to share. Yeah, this is how my scattered mind works –always jumping from one thing to another. Anyway.

This trip was from last August. My friend and I have planned it long before. We wanted to go to Dieng to see the famous Dieng Festival –a cultural events celebrated by the highland people who live in Dieng Plateau in Central Java. Every year they conduct a kind of celebration during which people give offerings to their gods with hopes to be given back good harvests and fortune year.

Too bad we can not get the tickets to enter the festival, they have been sold out long before the date of the festival! So, we decided to just go hiking to a nearby mountain, Mount Prau. This time my friend took me to a backpacking trip. We joined an open-group trip organized by my friend’s friend. There were about 20 of us joining this trip.

From Jakarta, we took an economy-class train. Nowadays, economy train is as good as the higher-class train –with air condition, and proper seats. It is just the seat is not as comfortable as the executive class. Compared to 5 years ago, when the seat was not prearranged, and whenever the train stopped at any station, food sellers and basically anybody can get on the train making the trip uncomfortable and unsecured. The trip was from Kota Station in Jakarta to Purwekerto –a small town in Cetral Java. The trip took about 12 hours.

IMG_4135.JPG

IMG_4136.JPG

Around 9 AM, we arrived in Purwokerto. To go to Dieng we took a bus ride for about 3-4 hours.

IMG_4161.JPG

IMG_4163.JPG

IMG_4155.JPG

By the time we arrived in Dieng, the area had been already full with people who would see the festival. Traffic jam was everywhere. We stayed at a home stay. It was a nice house owned by a very nice lady. All people in our group stayed there. After having lunch, we went to the Danau Warna. It is a beautiful lake –still had a strong sulphuric smell, and so many caves. This place is considered as a sacred place, where people doing meditation and seek for enlightenment.

IMG_4316.JPG

IMG_4649.JPG

After visiting the lake area and having dinner, we came back to the home stay and took a rest. Some people went out to see the festival, but I preferred to get some sleep because we would start our hiking trip at 2 AM in the morning.

At 2 AM, we started our trip to Mount Prau. It was freezing cold, but fortunately the track was not so hard, although still, since it was quite a high mountain, the trip was also tiring. Because it was dark we couldn’t really see what was around us, or how the track was. At around 5 AM, we arrived at the place where we can see the beautiful sunrise. The location was near the tower of a phone provider. From here we saw how the sun slowly rose and replace the darkness with its golden light. Such a beauty! At first I thought this place was the peak of Mount Prau, but then I realized it was just half of the trip going to the real peak!

IMG_4768.JPG

When the sun fully shone, we continued our hiking trip to Mount Prau. We have to go up and down some hills. People called the track and the hills ‘The Teletubbies Hills’. Don’t ask me why, because I don’t know, until now. The special things about hiking to Mt. Prau is that we can see the view of 5 different mountains that surround the Dieng Plateu. At one peak of a hill, we can see down the whole Dieng Plateu. And afar, we can see the peak of Mt. Slamet. At the time I was there, Mt. Slamet had been “coughing” a bit. Thank God, it didn’t affect the situation in Dieng and Mt. Prau.

IMG_4691.JPG

IMG_4592.JPG

IMG_4635.JPG

IMG_4600.JPG

After several more hills, we arrived at the peak of Mt. Prau! It was signed with a plackard, showing its altitude. Too bad that people who camped in the area littered so much. My friends had planned that we would also do scavenging –took as much garbages as we could and brought them down from the mountain. It was really a pitty that many of us only wanted to just enjoy themselves of the beautiful view but too ignorance and stupid to litter, hence destroyed the beauty.

IMG_4590.JPG

And just like my feeling towards other mountains, there, again, I feel in love. Unfortunately I couldn’t stay longer there. One thing I promised myself, I must come there again next time; not only for scavenging, but really stay and camp up there.

the journey of breaking the heart

IMG_4051.JPG

You know, i call travelling –especially to a new exotic place, a journey of breaking the heart. It is because everytime i go places i’d fall in love with them! And by the time i try to get to know the place deeper, it is also the time i must go.

So for me it is like a vicious cycle of breaking my heart purposedly –you come to a place, you fall in love, you go away, you break your heart!

And the worse is, you’d get a post-travel blues, and it’d be hard for you to move on, unless.. yes, unless you go to other place, to a new place. And then you go there, fall in love again (forget the previous one.. haha), and get your heart broken again, and the cycle continues.

Once you really realize that the world is not as small as a moringa leave, travelling becomes an urgency. You get yourself addicted. And it can only be eased by doing another travelling.

When asked whether I am a beach-type or a mountain-type, I can’t really answer. I thought I was a beach type. But once I got to know hiking in 2011, I have become addicted to it. I am like a kind of crazy newbie in this thing — like a friend said.

Well, definitely I will not stop. Like I always said to myself and to anybody else I know, do everything that the world has to offer, if you are able, at least once in your life time.

May the universe bless my wish. Aamiin.

rinjani day 4-5: segara anak & senaru

Hari keempat perjalananku mengunjungi Anjani. Ketika bangun matahari sudah tinggi. Nyenyak sekali aku tidur semalam. Itulah tidur ternyenyakku selama berjalan-jalan di sini, karena hari sebelumnya memang hari super lelah buatku –bisa dikatakan aku berjalan secara total kurang lebih 15 jam, mendaki, merangkak, berseluncur, menuruni tebing, dan sempat pula manjat-manjat karena ada jalur yang putus.

Ketika keluar tenda, sebagian besar anggota grup sudah pergi memancing. Sebagian lagi siap-siap mandi di spa alami Aik Kalaq. Aik Kalaq adalah sumber mata air panas yang mengalir dari tubuh Anjani dan membentuk aliran sungai. Karena letaknya bertingkat-tingkat, kita bisa mendapatkan suhu air berjenjang pula. Yang terpanas –terletak di lokasi yang tertinggi, dijuluki level-1. Aku sendiri hanya berani menjajal level-3.

Untuk menuju ke sana dari camp di pinggir danau, kita perlu menuruni bukit. Yah seperti kukatakan, menikmati Rinjani tidak seperti berjalan-jalan di taman kota. Kita selalu perlu usaha. Semula, Wiwin sang ketua rombongan, menawarkan kami untuk mandi air panas di Gua Susu. Namun dia bilang lokasinya cukup jauh dan harus berjalan beberapa kilometer. Langsung aku tolak usulan itu dengan cepatnya. Hahhaa.. Next time, kalau aku datang ke sini lagi, aku akan eksplorasi lebih lanjut sekitar danau, karena ternyata masih banyak tempat-tempat menarik yang layak dikunjungi.

IMG_3997.JPG

So pergilah kami ke Aik Kalaq. Untuk menikmati Aik Kalaq ini kita perlu melakukan proses aklimatisasi tubuh. Pertama-tama masukkan kaki, lalu perlahan-lahan seluruh tubuh kita rendam di mata air mengalir yang membentuk kolam-kolam alami. Enak rasanya berendam air panas ini. Pegal-pegal serasa diberi pijatan alami. Apalagi di beberapa tempat, mata air keluar dari dasar kolam membentuk gelembung-gelembung udara yang bisa memijat-mijat kaki kita. Selain itu, batu-batuan di kolam-kolam ini pun mengandung lapisan belerang kekuningan. Kita pun bisa lakukan lulur sulfur alami kalau mau. Banyak penduduk lokal dari berbagai wilayah di Lombok khusus datang ke mari untuk berobat, maupun memohon sesuatu. Kata temanku, niat untuk berobat atau memohon sesuatu tersebut harus sudah diucapkan sejak berangkat dari rumah.

IMG_3995.JPG

IMG_3996-0.JPG

Setelah puas berendam, hari sudah siang. Kami kembali ke tenda dan disambut dengan hidangan brunch. Yumm.. Hari itu kami, aku khususnya, bermalas-malasan saja. Ya kami memang tinggal dua malam di sana. Pendaki lainnya sudah beres-beres dan pulang sejak pagi. So, suasana malam tadi yang bagai pasar, siang ini menjadi cukup lengang. Baru aku sadar bahwa semalam itu malam minggu. Tak heran banyak pendaki yang datang. Hari ini tak terlalu banyak pendaki yang turun dari Pelawangan Sembalun, sehingga suasana di tepi danau relatif lebih tenang.

Sekitar sore hari, kawan-kawan yang memancing sudah kembali. Jauh-jauh juga mereka pergi mancing. Maka malam itu menu makan malam kami adalah ikan, ikan, dan ikan –dibikin sup, digoreng dan dibakar.

Keesokan harinya, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Sedih juga rasanya meninggalkan tempat yang bagai surga ini.

IMG_3998.JPG

IMG_3999.JPG

Kami akan pulang lewat jalur Senaru. Syukurlaah.. walaupun beberapa teman bilang bahwa tanjakannya lebih gila, kubilang biarlah, yang penting aku nggak perlu merasakan jalur Turunan Penyiksaan kembali.

IMG_4002.JPG

IMG_4003.JPG

Oh iya, aku lupa bilang bahwa naik ataupun turun Rinjani, tetap aja kita harus mendaki. Hahhahaa.. Yup, dari Danau Segara Anak kita harus mendaki bukit hingga sampai di puncaknya, yang disebut Pelawangan Senaru. Danau Segara Anak ini memang danau kawah, sehingga menuju dan keluar dari danau ini kita harus melalui bukit-bukit.

IMG_4004-0.JPG

IMG_4005-0.JPG

Dan ternyata, temanku memang benar adanya. Walaupun bukit Senaru ini lebih rendah dari bukit Sembalun, tapi jalurnya lebih terjal, dan melipirnya tipiiiiss sekali. Di pertengahan jalur, kami sempat berhenti di lokasi yang disebut Batu Ceper. Foto-foto sejenak di sana, dan setelah berjalan kembali barulah aku diberi tahu bahwa Batu Ceper itu adalah lokasi pemakaman orang-orang yang meninggal di Rinjani. Hmmm.. oke deh…

IMG_4035.JPG

IMG_4033.JPG

Setelah 3 jam mendaki dan memanjat, sekitar jam 12:00 siang kami sampai di Pelawangan Senaru. Yeeiiyyy!!! Pemandangan dari sini pernah diabadikan di salah satu mata uang kertas lama Indonesia. Selama proses pendakian pulang ini, aku dikawal oleh Wawan dan Opik. Mereka berdua baik sekali membantu aku melewati jalur-jalur sulit yang memerlukan panjat memanjat.

IMG_4037.JPG

IMG_4038.JPG

IMG_4034.JPG

Turun dari Pelawangan Senaru adalah jalur yang benar-benar menguji mentalku. Yah mungkin karena kondisiku yang sudah lelah, kaki yang mulai sakit, panas yang sangat terik dan jalur turun licin berdebu yang tak ada habisnya ini benar-benar membuat pertahananku jebol. Aku menangis (untung nggak ada yang lihat). Kakiku semakin sakit karena saat menurun, harus menahan agar nggak meluncur tanpa kendali. Ujung-ujung jariku sampai mentok ke bagian depan sepatu. Berkali-kali. Nyeri sekali rasanya. Dan nggak terkatakan lagi rasanya lutut dan betis. Untung ada Wawan yang memegang tanganku dan berjalan di depan untuk menahanku juga. Belum lagi persediaan air yang menipis, dan sumber air baru akan ada di dalam hutan Senaru –setelah turunan penderitaan ini.

Saat akhirnya jalur savana ini berakhir dan kami tiba di batas hutan Senaru, kuputuskan melepas sepatu dan mulai berjalan dengan telanjang kaki, alias nyeker. Aku sudah tak tahan lagi. Lagian, di hutan itu jalurnya adalah tanah humus dan bukan batubpasir seperti jalur sebelumnya. Bagiku, jalur tanah lembab itu lebih mudah kujalani.

Memasuki hutan, aku merasa lebih tenang. Udara lebih sejuk, nggak terpapar matahari langsung, dan banyak batang-batang pohon sebagai pegangan. Saat istirahat di Pos-2, kawan-kawan mulai mengambil air dan memenuhi botol-botol minum kami. Aku juga ganti memakai sandal jepit. Karena khawatir kemalaman di dalam hutan, grup kami pun makan siang seadanya dengan nasi goreng sisa sarapan yang memang sengaja dibuat lebih banyak. Nggak ada acara masak-memasak seperti biasanya. Makan siang terlambat dan super kilat ini tak menggugah selera makanku. Aku cuma mau minum, dan minum, dan minum.

IMG_4039.JPG

Untuk mengantisipasi gelap, kami pun mengeluarkan head lamp dan senter masing-masing. Aku masih berjalan dengan Wawan, yang juga memgalami sakit lutut setelah menahanku beberapa lama di jalur turunan di atas tadi. Hiks, poor him.

Singkat kata, menjelang maghrib sampailah kami di gerbang Pintu Rimba Senaru, setelah melewati 3 pos dan 1 pos ekstra. Yeiiiyyy!!! Senangnya hatikuuuu.. Aku merasa seperti orang yang baru lulus ujian. Dan gerbang ini seperti upacara wisudaku.

IMG_4040.JPG

Memang, mendaki Rinjani ini memberi pengalaman yang sangat lengkap. Fisik, mental, dan pegalnya pun merata mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki –mendaki, memanjat, merangkak, memanjat, meluncur, bergelantungan. Pemandangannya pun lengkap: tanjakan, turunan, puncak gunung, lembah, danau, savana, hingga hutan hujan tropis dataran tinggi, sedang, hingga rendah. Di bawah ini adalah aku dan Wawan, teman seperjalanan yang dengan baik hati menjagaku dalam perjalanan pulang.

IMG_4041.JPG

Akhirnya, hanya ucapan Alhamdulillah sajalah yang bisa kuucapkan sebanyak-banyaknya. Semoga aku diberi kesempatan lagi mengunjungi Anjani. Aamiin.

rinjani day-3: muncak

Agustus adalah bulan favoritku, karena di bulan inilah aku dilahirkan. Dan istimewa banget bulan Agustus kali ini, karena diawali dengan mendaki salah satu gunung terindah di Indonesia. Malam itu aku tidur tidak terlalu nyenyak, karena udara yang dingin, dan mungkin juga karena hati yang excited menjelang waktu-waktu muncak. Yup, jam 02:00 nanti grupku akan memulai perjalanan ke puncak Anjani. Aku selalu menolak istilah-istilah yang biasa dipakai para pendaki yang menurutku melambangkan kesombongan dan dominasi manusia atas alam, misalnya “menaklukkan gunung”, atau “summit attack”. Entahlah, di sini, di tengah alam yang semesta ini, aku merasa sangaaaaat kecil. Apa pun bisa terjadi padaku. Makanya kalau ke gunung atau ke alam bebas seperti ini aku sangat menjaga omongan, bahkan pikiran. Aku ingin gunung ini ‘mengayomi’-ku dan menjagaku sebagai ‘tamu’-nya. Tentu saja sebagai tamu, aku nggak boleh kurang ajar, kan?

Malam itu langit indah sekali. Alhamdulillaah selama perjalanan cuaca ramah, cerah dan sumringah. Langit malam ditaburi bintang yang banyaaak sekali. Sayang aku nggak bisa mengabadikannya karena gak punya kamera dan kemampuan yang memadai untuk mengabadikan pemandangan itu. Makanya, sepuas-puasnya kupandangi langit malam itu dan kusimpan potretnya dalam kepalaku.

Menjelang jam 02:00 dibluar tendaku suasana sudah cukup ramai dengan suara-suara. Akupun siap-siap dengan pakaian lengkapku seperti biasa kalau muncak: jaket polar di atas kaos, jaket ringan windbreaker, dan raincoat. Tak lupa sarung tangan, penutup kepala dan kacamata hitam untuk di puncak nanti hahaa. Oh iya, headlamp tentunya juga!

Setelah briefing singkat dan berdoa, mulailah kami berjalan satu persatu. Memulai pendakian, kami harus antri. Tidak seperti Gunung Kerinci yang punggungan menuju puncaknya cukup terbuka, di sini jalurnya sempit, dan harfiah kita musti antri. Tak lama nafasku sudah ngos-ngosan. Aku nggak suka berjalan dalam gelap dan nggak tau apa yang ada atau tidak ada di sekitarku. Belum lagi jalur berpasir kerikil kecil-kecil sehingga menjadikan jalur ini licin dan kaki sering merosot.

Mungkin karena kasihan melihatku yang kepayahan, Hamzan, pimpinan grup dan guide kami yang sudah mengenal seluk beluk Rinjani, menawariku untuk berpegangan pada tali webbing yang diikatkan di badannya. Menyesal aku nggak jadi beli hiking stick atau nggak minta dibuatkan tongkat dari batang pohon. Memakai tongkat akan sangat membantu kita mendapatkan pijakan yang lebih ajeg dan menahan kaki kita agar tidak merosot. Selain aku, temanku Ahmad pun dibantu Hamzan dengan tali webbingnya, apalagi Ahmad mengalami cedera lutut.

Secara psikologis sesungguhnya aku nggak terlalu suka berada di belakang. Kondisi semacam ini bisa membuatku terdemoralisasi dan bisa menyurutkan semangatku. Being slow is fine, so long as I am not the last one. Maka, di setengah perjalanan, kuputuskan untuk melepaskan diri dari tali webbing dan berjalan sendiri. Walaupun, posisiku tidak terlalu jauh dari Hamzan dan Ahmad. Apalagi ketika matahari sudah terbit dan aku lebih bisa menilai kondisi sekitar, aku merasa lebih percaya diri untuk berjalan.

IMG_3451.JPG

Ketika hari semakin terang, semakin jauh pula aku meninggalkan Hamzan dan Ahmad. Kulihat jalur yang masih harus kulalui, Astaghfirullaah, jalurnya masih panjang dan terus menanjak. Kulihat pula di kanan-kiri jalur, jurang cukup curam di sebelah kanan, dan punggung gunung yang licin di sbelah kiri. Kulihat-lihat, jalur sempit yang menyerupai huruf E ini ibarat shirathal mustaqiim –titian serambut di belah tujuh, yang menentukan kita ke surga atau neraka. Heeuuu..

Beberapa kali pula aku berpapasan dengan anggota grupku yang ternyata sudah turun dari puncak. Hiks hiks.. tambahlah ciut hatiku. Namun kumantapkan tekad dan pelan tapi pasti aku terus berjalan. Benar kata Hamzan, mendaki Rinjani itu 80% psikologis. Tak berapa lama, Irvan, anggota grup kami yang termuda –dia kelas 3 SMP, berpapasan denganku dan menawarkan tongkat kayunya untuk kupakai. Alhamdulillaah.. Dengan tongkat Irvan, mempermudah dan mempercepat langkahku menuju puncak. Pun, Wawan, satu lagi anggota grup menyemangatiku dan bilang setibanya di batu besar di atas, jalur sudah lebih mudah. Yah, beberapa puluh meter menjelang batu besar yang seolah sebagai gerbang ke puncak adalah jalur terberat dari perjalanan muncak ini kurasa: terjal, berpasir-kerikil lepas-lepas.. pokoknya sangat menguji ketabahan dan kesabaran. Entah berapa kali tersebut nama Tuhan dalam perjalananku ke puncak Anjani ini.

IMG_3456.JPG

IMG_3454.JPG

Singkat kata, akhirnya dengan susah payah berhasil pula aku mencapai puncak Anjani!! Yeeiiyyy..!!! Aku harus menunggu beberapa saat di sana sampai Hamzan dan Ahmad tiba. Dan seperti pendaki-pendaki lainnya, puas-puas kami berfoto dan menikmati pemandangan dari puncak Anjani yang cantik jelita.

Alhamdulillaah..

IMG_3455.JPG

IMG_3452.JPG

IMG_3457.JPG

rinjani day-1&2: sembalun

Pagi jam 09:00 tanggal 31 Juli, grup kami sudah bersiap. Setelah melapor ke Pos Sembalun, kami pun memulai perjalanan. Perjalanan dari Sembalun menyajikan padang savana terbuka yang menghijau-kuning keemasan. Dinginnya udara –karena Sembalun berada di dataran tinggi, bercampur dengan teriknya matahari pagi yang tanpa malu-malu bersinar, serta langit biru bersih tanpa awan menambah keindahan pemandangan, namun akan mudah membuat kulit terbakar.

Tak lama berjalan, tubuhku sudah kurasakan memanas dan siap untuk berjalan jauh. Namun karena sedari awal kami sudah bersepakat bahwa ini perjalanan santai, maka kami pun tidak ngoyo dalam berjalan. Target kami hari ini adalah tiba di Pos-3 sebelum gelap, dan bermalam di sana.

Rute Sembalun menyajikan padang-padang dan bukit-bukit savana seluas mata memandang. Sepanjang jalan tak lupa kami mengambil sebanyak mungkin gambar. Pemandangan seindah ini tak seharusnya dilewatkan begitu saja.

IMG_3389.JPG

IMG_3387.JPG

IMG_3388.JPG

Sekitar jam 16:00 kami pun tiba di Pos-3 dan mendirikan tenda-tenda kami di sana. Karena aku perempuan sendiri, maka aku mendapat tenda spesial yang sudah disiapkan oleh teman-teman. Memang sedari awal sudah kusampaikan bahwa aku tidak membawa tenda dan logistik, dan meminta bantuan teman-teman untuk membawakannya. Maklum, aku kan pendaki senang-senang. Hahaha..

Sebelum tidur, Hamzan dan Wiwin, pimpinan pendakian kami mengatakan bahwa pendakian sesungguhnya akan terjadi esok hari. Esok kami akan mendaki punggung gunung menuju Pelawangan Sembalun, camp berikutnya tempat kami bermalam sebelum menuju puncak Anjani. Oleh karenanya kami harus beristirahat dengan baik.

Keesokan harinya, perjalanan menuju Pelawangan Sembalun pun dimulai. Setelah kembali melalui padang-padang dan bukit-bukit savana, kami pun tiba di penanjakan tanpa akhir yang terkenal sebagai Tanjakan Penyesalan! Hahaha..

IMG_3391-0.JPG

IMG_3392-0.JPG

Tanjakan Penyesalan ini sangatlah layak menyandang julukannya. Kemiringan lereng hingga 60 derajat, serta terrain licin berpasir-debu tanpa tempat berpegang, benar-benar memerlukan konsentrasi tinggi untuk melaluinya. Belum lagi aliran orang dari atas yang baru selesai muncak dan bergerak turun kembali ke Sembalun membuat trek ini menjadi Trek Penyesalan Berdebu yang aneh. Entah berapa kali aku harus memalingkan muka agar mataku nggak kelilipan. Dan walaupun sudah menggunakan penutup mulut dan hidung, tetap saja aku bisa merasakan butir-butir pasir yang mampir di mulutku.

IMG_3406-0.JPG

Sekitar pukul 15:00 tibalah kami di akhir Tanjakan Penyesalan, memasuki kawasan Pelawangan Sembalun. Sejenak kami beristirahat menikmati puncak Anjani di kejauhan. Sore ini Anjani terlihat malu-malu menampakkan puncaknya, kadang kabut dan awan tebal menutupinya. Seorang teman perjalanan bilang, Anjani malu-malu karena ada aku tamu dari jauh yang ingin menemuinya.

IMG_3408.JPG

Kawasan Pelawangan Sembalun adalah dataran di puncak bukit yang biasa digunakan oleh para pendaki sebagai camping ground sebelum perjalanan ke puncak, karena datarannya yang cukup rata dan ada sumber mata air yang banyak di sana. Kawasan ini juga jadi salah satu pintu masuk menuju Danau Segara Anak.

Pemandangan dari Pelawangan Sembalun sangatlah indah. Di timur kita bisa saksikan puncak Anjani yang menunggu, dan di barat bisa kita saksikan gagahnya puncak Gunung Senkereang serta pemandangan Danau Segara Anak di bawah kaki kita. Jika kita beruntung, kita pun bisa menyaksikan matahari yang perlahan terbenam di balik puncak Senkereang.

Maka senja hari itu kami habiskan dengan berfoto-foto dan menikmati pemandangan alam yang tak ada duanya di dunia. Entah bagaimana, segala kelelahan selama kami melalui Tanjakan Penyesalan hilang seketika.

IMG_3410.JPG

IMG_3409.JPG

IMG_3411.JPG