women’s day dan ayat-ayat cinta

womensday.jpgayatayatcinta.jpg

Hari ini saya terjebak ajakan menonton film Ayat-ayat Cinta yang banyak diperbincangkan itu. Mengapa saya bilang ‘terjebak’? Karena sehabis menonton film ini saya merasa sebal dan merutuk-rutuk sendiri dalam hati.

Sudah beberapa waktu saya mendengar tentang keberadaan film yang berasal dari adaptasi novel ini. Konon film ini bagus nian dan mampu menguras air mata penontonnya. Penasaran dengan hingar bingar promosinya (di banyak bioskop film ini mengokupasi bahkan sampai 3 teater), siang ini pergilah saya menontonnya.

Terus terang saya merasa terganggu sekali menonton film ini. Entah interpretasi cerita dalam novel ke film yang lebih menonjolkan ‘budaya-budaya’ Islam (atau Arab?) yang seolah menempatkan perempuan sebagai makhluk lemah, atau memang demikianlah isi cerita dari novel tersebut. Saya sendiri tidak tahu karena belum baca novelnya (dan nggak ingin juga setelah melihat filmnya). Menurut saya film ini sexist sekali. Hampir seluruh bagian film ini mengambil sudut pandang laki-laki. Mungkin karena memang penulisnya seorang laki-laki ya?

Saya mencatat paling tidak ada 3 penggambaran dalam film yang menempatkan perempuan dalam posisi lemah dan tak berdaya.

Pertama, penggambaran budaya ta’aruf. Ta’aruf adalah suatu cara dimana keluarga laki-laki yang ingin menikah berkenalan dengan pihak keluarga perempuan yang ingin dinikahi. Karena Islam tidak mengenal konsep pacaran, maka si laki-laki dan perempuan yang akan menikah dan tidak saling mengenal sebelumnya ini dipertemukan oleh pihak keluarga masing-masing. Di dalam film digambarkan bagaimana si perempuan dibawa ke hadapan si lelaki dan ‘dipamerkan’, mostly secara fisik, yaitu kecantikannya.  Melihat adegannya saja saya merasa malu. Ibaratnya si lelaki sedang melakukan window shopping dan sedang mencari ‘barang bagus’. Saya kira ini bukanlah ajaran Islam. Mungkin lebih ke budaya Arab. Sudah jamak di negeri kita ini budaya Arab dianggap sebagai ajaran Islam. Padahal tidak demikian adanya. Wallahu a’lam.

Kedua, digambarkan dalam film betapa lemahnya perempuan-perempuan yang cintanya tak kesampaian. Mungkin para lelaki berpikiran, ketika cinta ditolak, mayoritas para perempuan benar-benar patah hati sampai benar-benar kehilangan keinginan hidup. Atau merendahkan dirinya sedemikian sehingga sanggup memfitnah orang yang telah menolongnya. Well, mungkin ada lah sebiji dua biji, tapi itu jelas tidak mayoritas. Dan jangan lupa, fenomena ini pun bisa terjadi pada kaum laki-laki.

Ketiga, digambarkan dalam film bahwa ternyata, sealim-alimnya laki-laki, tetap faktor fisik lah yang menjadi pertimbangan utama mencari jodoh. Lihat saja di film ini. Casting perempuan-perempuan yang akhirnya ‘berhasil’ mendapatkan cinta si laki-laki ini bertampang cuantiik dan indo tentunya. Coba bandingkan dengan perempuan-perempuan yang gagal total dan meraung-raung menyesali nasibnya itu. Semuanya bertampang tidak terlalu cantik. Padahal, kurang alim dan baik hati apa mereka itu. Kasihan sekali. Yah, mungkin mereka harus lebih banyak berdoa…. Ha..ha..haaa…

Dan ironisnya, film ini saya tonton tepat di Hari Perempuan Internasional. Hari yang diperingati oleh gerakan perempuan sedunia yang berusaha merebut kembali hak asasi kaum perempuan yang secara politis dimarjinalkan oleh sistem dunia yang patriarkis.

Hari Perempuan Sedunia sesungguhnya merupakan kisah perempuan biasa menoreh catatan sejarah; sebuah perjuangan berabad-abad lamanya untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, seperti juga kaum laki-laki. Di masyarakat Yunani Kuno, Lysistrata menggalang gerakan perempuan mogok berhubungan seksual dengan pasangan (laki-laki) mereka untuk menuntut dihentikannya peperangan. Dalam Revolusi Perancis, perempuan Paris berunjuk rasa menuju Versailles sambil menyerukan “kemerdekaan, kesetaraan dan kebersamaan” menuntut hak perempuan untuk ikut dalam pemilu.

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional untuk mengingat gerakan perempuan-perempuan Rusia yang menentang perang yang telah menewaskan lebih dari 2 juta orang. Pada bulan Maret 1917 perempuan-perempuan Rusia turun ke jalan membawa pesan “Roti dan Perdamaian”. Para pemimpin politik menentang unjuk rasa tersebut, tetapi para perempuan ini tetap bertahan. Dan sejarah mencatat bahwa empat hari kemudian, Czar (raja) turun tahta dan pemerintahan sementara mengakui hak perempuan untuk ikut serta dalam pemilu.

Menonton film Ayat-ayat Cinta ini saya merasa kekuatan perempuan direduksi sedemikian rupa, sehingga dia menjadi makhluk yang sangat tergantung pada laki-laki.

Memang saya ikut menitikkan air mata, tapi lebih karena perasaan miris dan sedih. Kasihan sekali nasib perempuan-perempuan ini. Mungkin R.A. Kartini, Cut Nyak Dhien atau Dewi Sartika akan meraung-raung prihatin bila menonton film ini.

Saya tidak tahu apa yang dirasakan perempuan-perempuan yang sudah menonton film Ayat-ayat Cinta. Adakah yang berperasaan sama dengan saya?

colorless, cooling down

Musim hujan di Tokyo membuat kota ini jadi makin tak berwarna. Lihatlah gedung-gedungnya yang plain, abu-abu, ugly. Lihatlah orang-orangnya yang berjalan tergesa-gesa dengan pandangan lurus ke depan –black/blue/grey-suited. That were all colors that can be spotted. Cuma beberapa gelintir aja yang berani pakai baju berwarna (termasuk gue dan my loved red coat). Just like many years ago when the first time I got here.

Lihat juga langitnya. Bergantungan awan mendung, abu-abu, nggak lama rintik-rintik hujan pun turun. Ecek-ecek, cuman mbasah-basahin jalanan thok, cuma bikin udara jadi tambah dingin dan menciutkan semangat. Rasanya pengen kembali bergelung di balik selimut tebal di kamar.

Bayangkan harus bertemu dengan orang-orang yang tutur katanya sudah terprogram. Flat. Tanpa emosi. Bayangkan menghadapi poker faces yang seolah nggak mengerti apa-apa. Bayangkan orang saling membungkuk sedalam-dalamnya berkali-kali, padahal setiap bungkukan di dalam hatinya berkata ‘f#ck you’…’a##holes’…dan kutukan sejenisnya –like I did.

What a right place to “cool down”, don’t you think?