jatcin

Sebenarnya saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menulis hal-hal yang bersifat personal, apalagi menyek-menyek di blog ini. Tapi apa daya, perasaan yang ada di dalam dada ini somehow harus dilepaskan. Hahaha.. Huek cuih!

Begini, saya jatuh cinta. Lagi. Jatuh cinta itu rasanya memang menyenangkan. Pantas saja ada yg pernah bilang first best is falling in love. Sementara kalau being in love-nya sendiri cuma second best.

Lagi-lagi saya jatcin ini dengan orang yang saya enggak kenal, dan enggak pernah saya temui. Tapi ya pattern-nya atau type orangnya serupa dengan yang sebelum-sebelumnya. Waktu saya perlihatkan foto orang itu kepada teman saya, teman saya itu bilang,”Ah, itu mah tipe elu banget!” Well, bukan hanya secara fisik yang “gue banget” tapi kepribadiannya –dari yang dia tampakkan ke publik, pun sealiran. Enggak usah lah saya sebutkan secara spesifik, tapi intinya, mereka-mereka yang beruntung pernah kejatuhan cinta saya itu bukan tipe orang kebanyakan.

Terus, apa?

Ya enggak ada. Saya senang dan menikmati saja perasaan ini. Menikmati kerja hormon-hormon yang lagi banjir di otak saya. Segi positif dari jatuh cinta, bagi saya, adalah bahwa akan selalu ada kejutan yang ditunggu di keesokan hari.

Yah begitulah! Recehan banget ya hidup saya? Hahahaa..

queen bee

Beberapa waktu yang lalu saya kebetulan membaca satu percakapan dunia maya tentang fenomena queen bee di tempat kerja. Mereka yang percaya pada keberadaan fenomena ini mengatakan bahwa pimpinan perempuan cenderung tidak memberi kesempatan kepada perempuan lainnya untuk maju. Pemimpin perempuan itu menghambat, menjegal, mem-bully, perempuan di bawahnya. Demikian opini terhadap queen bee.

Dan coba tebak siapa yang mengatakan hal-hal tersebut pertama kali dalam percakapan tersebut? Yup, seorang selebrita dunia maya berkelamin laki-laki.

Sedihnya, mansplaining di atas diiyakan pula oleh perempuan. Bahkan ada beberapa komentar agak bias yang mengatakan bahwa ini lah sebenarnya salah satu penyebab mengapa tidak banyak perempuan yang berada di posisi pimpinan, dan bahwa hal ini adalah satu hal yang tidak mau diakui oleh kalangan feminis. Mereka bilang bahwa feminis pasti akan menyalahkan sistem patriarki sebagai penyebab kurangnya perempuan di posisi pimpinan, dan bukannya kelakuan queen bee ini.

Saya tertarik dengan hal di atas karena beberapa hal. Pertama, karena saya baru tahu bahwa ada fenomena “queen bee” ini. Hehhee, iya, saya agak kudet. Alasan kedua, karena ini sangat relevan dengan saya –saya adalah seorang perempuan pemimpin organisasi yang didominasi laki-laki, dan kata banyak orang merupakan satu organisasi yang cenderung bersifat maskulin. Ketiga, sisi feminis saya nggak terima dengan stereotyping macam ini –mengapa hanya ada queen bee tetapi tidak ada fenomena king bee? Mengapa saling “jegal” di kalangan perempuan ada sebutannya, sementara saling jegal di kalangan laki-laki tidak ada sebutannya? Bukankah fenomena jegal menjegal ini tidak hanya dialami atau dilakukan oleh perempuan? Nah, alasan terakhir dan yang tidak kalah pentingnya, saya kebetulan sedang didera tuduhan queen bee ini, walaupun tidak disampaikan secara langsung dan hanya terdengar sebagai rumor yang sayup-sayup sampai di telinga saya.

Karena penasaran dan ingin tahu lebih lanjut, jadi lah saya googling kesana kemari. Dan syukur lah, saya menemukan artikel-artikel yang cukup akademis dan tidak didasarkan pada perasaan. Penelitian ini misalnya, diterbitkan dalam The Leadership Quarterly pada bulan April 2018, menemukan bahwa fenomena queen bee ini kemungkinan hanya mitos. Penelitian ini menyebutkan bahwa dalam lingkungan kerja, pemimpin perempuan bertindak sangat baik pada perempuan bawahannya, dan mereka juga mengangkat perempuan pada posisi-posisi penting. Mereka juga mencegah terjadinya ketimpangan pendapatan antara perempuan dan laki-laki di posisi yang sama. Penelitian ini dilakukan di Brazil dan mengambil sampel 8,3 juta organisasi di 5.600 municipaities (unit pemerintahann daerah).

Peneliti utamanya mengatakan bahwa penelitian-penelitian sebelumnya yang menyimpulkan adanya fenomena queen bee dilakukan berdasarkan studi kasus ilustratif yang tidak representatif, atau berdasarkan survey yang tidak menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang sebenarnya dari penunjukan perempuan dalam posisi kekuasaan.

Baiklah, itu hasil studi. Bagaimana realitasnya? Sebagai perempuan pemimpin, saya bisa bicara dari pengalaman saya sendiri. Menjadi perempuan pemimpin, apalagi di dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang tidak lah mudah. Di organisasi saya yang sudah berdiri sejak 1980 dan mengalami 10 kali periode suksesi, baru tiga orang perempuan terpilih menjadi pimpinan –saya yang ketiga. Untuk mengajukan diri dan membuat diri kita terpilih bukan lah hal yang mudah. Di dalam organisasi masih banyak juga yang meragukan kepemimpinan perempuan –dengan beragam alasannya.

Menjadi pemimpin perempuan, bagi saya, memerlukan kesadaran akan diri sendiri yang jauh lebih besar. Sensitivitas terhadap kesetaraan dan afirmasi bagi perempuan lain termasuk hal-hal yang menjadi perhatian utama saya. Dalam organisasi saya, tidak mudah mencari kader perempuan. Tidak usah lah dulu bicara kompetensi. Walau kesempatan untuk terlibat dalam organisasi saya buka seluasnya, dengan prioritas saya berikan kepada perempuan, tetap saja sulit mengisi posisi yang ada dengan perempuan.

Dilema lain, terkait kecakapan dan kompetensi. Ketika pada akhirnya saya harus melepas seorang perempuan dari posisi pimpinan lapis kedua karena alasan kompetensi despite segala dukungan dan kesempatan untuk perbaikan, deraan sebagai queen bee pun datang kepada saya. Rumor itu mengatakan, begitulah jika kamu punya boss perempuan, dia tidak akan bisa bekerja sama dengan perempuan lain. Hehehee.

Bagi saya, selama itu tidak disampaikan kepada saya secara langsung, itu semua saya anggap non-issue. Tidak eksis. Namun demikian, hal-hal tersebut tetap saya jadikan bahan refleksi, dan mengasah terus sensitivitas saya agar lebih baik lagi.

sekali lagi: kenaikan harga BBM untuk siapa?

Sekarang sedang heboh-hebohnya orang membahas kenaikan harga BBM premium, yang dianggap terlalu murah karena mendapatkan subsidi negara.

Pertama, yang musti digarisbawahi, pemotongan subsidi BBM adalah keniscayaan, siapa pun presidennya, mau Beye kek, Wowok kek, atau sekarang Pak Wiwik. Kenapa? Nah, alasan ini yang penting diketahui. Alasannya bukan karena subsidi itu diperlukan untuk membantu rakyat miskin, atau membangun fasilitas umum bla bla. Bukan, bukan itu. Alasan sesungguhnya adalah karena Indonesia dengan dua ratus juta lebih penduduknya itu adalah pasar. Konsekuensi liberalisasi sektor hilir industri migas akibat Letter of Intent IMF tahun 1997 adalah sektor hilir migas tidak lagi hanya didominasi Pertamina, namun juga oleh pemain lainnya. LoI ini juga memerintahkan pemerintah Indonesia membuka keran impor mobil built-up, yang tentu saja perlu BBM yang khusus pula.

Ciri pasar adalah persaingan bebas, di mana keberadaan bensin bersubsidi membuat bensin lain kurang kompetitif dan profit kurang maksimal. Selain tuntutan “pasar”, penghapusan subsidi juga adalah konsekuensi keanggotaan Indonesia di G20. Cek saja statement-statement presiden, baik Beye maupun Wiwik di pertemuan G20, pasti meng-highlight juga dengan heroik bagaimana pemerintah memotong subsidi BBM. Kalo presidennya Wowok, ceritanya pun gak akan beda. Haqqul yaqin saya mah.

Kedua, soal pemberantasan kemiskinan dan perlindungan orang miskin. Please deh, jangan lagi pakai argumentasi usang itu lagi. Logika dan prinsipnya, perlindungan orang miskin dan pemenuhan fasilitas umum oleh pemerintah itu wajib hukumnya –mau ada subsidi BBM atau enggak. Bagaimana mencari duitnya, itu soal lain lagi yang bisa didiskusikan. Bisa dari naikin pajak orang kaya, potong belanja birokrasi, tambal kebocoran-kebocoran pajak industri, dll dll.

Prinsipnya, subsidi orang miskin itu nggak bisa adhoc, yang dinomorduakan, yaa kalo ada dikasih, kalo enggak ya tunggu aja kalo pemerintah ada dana cadangan. Ini kan ngaco, dan logika ini yang sekarang sedang dilestrikan pemerintah dari rejim ke rejim. Lagian selama ini yang memelihara orang miskin itu rakyat kok mayoritasnya. Lihat aja berbagai panti asuhan, yayasan yatim piatu dll dll sejenisnya. Bangun fasum juga sudah biasa bagi rakyat, karena nunggu pemerintah kelamaan. Rakyat sudah biasa bikin mesjid, gereja, pura, dll sendiri, perbaikin jalan sendiri, dll dll.

Saya juga bilang gak nyambung antara kenaikan harga BBM dengan peningkatan produktifitas masyarakat miskin. Kalo untuk ini, kenapa enggak bank-bank diperintahkan memberi kemudahan kredit untuk pengusaha kecil dan bisnis rumahan? Kenapa enggak kemudahan bibit dibuka bagi petani? Kenapa enggak lahan-lahan pertanian dilindungi dan tidak dialih fungsi? Kenapa enggak sumber-sumber air dan hutan-hutan dijaga? Percuma kan perbaikin saluran irigasi kalo airnya nggak ada?

Selanjutnya, soal kedaulatan energi. Ini yang gak pernah disinggung oleh banyak pihak. Gambar yg saya ambil dari akun FB-nya Pak Wiwik ini menarik. Kelihatan di sini betapa kecil cadangan minyak Indonesia dibanding negara lain. Nah sudah tahu begini kok ya masih kecanduan minyak dan terus menumpukan sumber energi pada minyak bumi? Sudah tau sumbernya sedikit, kilangnya gak ada, kok ya masih berani terus menerus menumpukan moda transportasi pada kendaraan pribadi berbasis bahan bakar fossil? Kapan mau beralih ke moda yang lebih efektif dan efisien?

IMG_6623.JPG

Dari rejim ke rejim, roadmap melepaskan diri dari kecanduan bahan bakar fosil ini yang saya tunggu-tunggu. Kita ini sekarang ibarat orang sakaw BBM yang rela beli berapa pun dan rela dikibulin sebagaimana pun oleh mafia minyak, plus rela dikerjain industri otomotif dan kontraktor jalan raya.

Yah saya memang bukan ekspert banget di soal-soal ekonomi dan pembangunan. Tapi saya juga nggak bodoh-bodoh amat lah menilai fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang nggak masuk di common sense saya –seperti lakon sandiwara subsidi BBM dari rejim ke rejim yang menyebalkan seperti saat ini.

travelling light

Gue memandang kehidupan ini adalah sebuah perjalanan, life is a journey, kata orang. Dan dalam perjalanan ini, gue pun percaya apa yang dibilang Lao Tszu, bahwa seorang true traveller itu nggak bermaksud untuk tiba di satu tujuan tertentu. Yang ada hanyalah persinggahan, untuk terus melanjutkan berjalan.

Sudah sering gue ungkapkan, bahwa gue suka heran dengan diri gue yang seolah gak punya ambisi ingin menjadi atau mencapai sesuatu –walaupun kenyataannya capaian-capaian itu terjadi juga pada diri gue, tanpa benar-benar gue rencanakan atau gue desain. Dan sekarang gue baru teringat lagi setelah membaca komen seorang teman gue dulu di kampus di salah satu postingan gue di blog ini (l i n k). Dia mengingatkan gue, bahwa dulu jaman kami masih kuliah, dia pernah tanya apa cita-cita gue. Dan saat itu gue menjawab dengan seriusnya bahwa cita-cita gue masuk surga.

Setelah gue refleksikan kembali, well, mungkin ini penyebab gue “seolah-olah” gak punya cita-cita di kehidupan ini. Backmind gue mungkin terprogram, ever since, untuk sebuah cita-cita masuk surga (Aamiin Ya Rabbal Alamiin). Mungkin itu juga kenapa gue mengambil jalur pengabdian sebagai jalan hidup gue di dunia ini (insya Allah untuk seterusnya).

Nah, perjalanan ke tempat-tempat gue bekerja, gue selalu berusaha untuk travelling light. Ini karena gue orangnya nggak suka ribet. Gue cuma bawa apa yang gue perlukan. The essentials.

Ini juga yang jadi prinsip perjalanan hidup gue. Bring only bags that make you happy. In life, travel light. Prinsip Zen juga banyak mempengaruhi pandangan hidup gue. Living in the now. Forget the past, don’t worry about the future. Be in the present. Khusyuk. Ya, gue ingin menjalani hidup ini dengan khusyuk.

Maka, ini pula yang membuat gue dengan mudahnya menghapus semua kenangan dengan my ex tanpa beban. Atau meng-unfriend teman yang annoying di Path, Facebook, Instagram. You name it. Buat gue, hal-hal itu adalah no big deal. Gue gak mau nambah-nambahin hal-hal gak penting di dalam otak gue yang kecil dan punya memori terbatas ini. Dan untungnya lagi, gue orangnya pelupa. Blessed those who are the forgetful, kata salah satu pengarang ternama yang gue lupa namanya.

Tapi yang susah, gue gak bisa lupa how people treat me, karena gue sangat peduli bagaimana gue memperlakukan orang. Hal-hal itu yang sering mengganggu pikiran gue. Misal ada yang tiba-tiba berlaku berbeda. Dulu akrab, sekarang jaga jarak. Dulu baik, sekarang jutek. Sering gue mikir, what did I do wrong? Gue pada dasarnya nggak mau punya masalah dengan orang. Tapi kadang, orang yang punya masalah dengan gue.

Seperti gue bilang, orang sering misunderstood dan salah duga sama gue. Gue baik, dikira naksir. Gue bikin puisi, dikira nyindir. So, sering gue tanya langsung sama yang bersangkutan. Tapi kalau mereka nggak ngaku, well, yang gue lakukan ya delete, delete, delete. No sweat. Drop the bags that weighing us. Bagi gue, see no evil, hear no evil, feel no evil.

What others think about me, is not my responsibility. My responsibility is making sure I don’t hurt people, and how I treat others.

Jadi, begitulah. Bagi gue, lebih baik gue punya 10 orang sahabat yang gak ribet-ribetin hidup gue, dibanding 1000 orang kenalan yang ribet. Toh, pada akhirnya, seperti kata sahabat gue si Duy, hidup kita itu harusnya happy-happy dan bahagia.

sepenuh hati

Ada satu prinsip yang membuat aku sangat terpesona ketika mengikuti pelatihan fasilitasi yang diselenggarakan Inspirit beberapa tahun yang lalu, yang kemudian kujadikan salah satu prinsip hidupku. Mas Dani, trainerku saat itu, mengatakan bahwa dalam melakukan fasilitasi (dan di kemudian hari aku perluas ini menjadi “dalam melakukan apapun”) kita memegang prinsip dua kaki, artinya peserta yang difasilitasi memiliki freewill atau kehendak bebas apakah dia ingin mengikuti proses ini atau tidak atau hanya setengah-setengah saja, karena pada dasarnya proses tersebut tidak bersifat memaksa, dan hasil akhir adalah milik si peserta dan bukan milik fasilitator.

Mas Dani juga bilang bahwa dalam melakukan fasilitasi (dan di kemudian hari aku perluas ini menjadi “dalam melakukan apapun”) kita haruslah sepenuh hati; artinya tetapkan hati dan hadir sepenuhnya. Sering kita jumpai dalam satu pertemuan hanya jasad orang-orang sajalah yang bertemu dan berkumpul, namun pikiran mereka entah ada dimana. Mereka tidak hadir sepenuhnya. Mereka tidak sepenuh hati.

Hal tersebut mungkin terdengar sepele, pun terdengar mudah untuk dilakukan. Namun dalam kenyataannya, hal tersebut tidak sepele sama sekali (karena menurutku itu menunjukkan penghargaan kita terhadap keberadaan orang lain), dan juga lumayan sulit diimplementasikan –apalagi dengan kehadiran berbagai sarana komunikasi mobile dan media komunikasi serta jaringan sosial virtual yang menggoda. Sarana komunikasi tidak nyata ini ternyata telah membentuk kebiasaan baru dan menimbulkan adiksi (kecanduan) baru.

Sering kita jumpai sekelompok orang berkumpul, namun masing-masing menggenggam alat komunikasinya, atau nampak tekun di menatap laptopnya. Kadang senyum-senyum sendiri atau matanya tiba-tiba berbinar-binar. Jasad mereka ada, berkumpul, namun mereka tidak hadir. Mereka hilang di rimba dunia virtual, dan sepenuhnya sucked in. Mungkin inilah awal dari terwujudnya dunia matrix atau munculnya dreamwalker seperti dalam film Avatar.

Orang-orang seperti itu memilih untuk “berbicara” dan berkomunikasi dengan orang lain secara virtual dibandingkan menggunakan mulut mereka melakukan pembicaraan sebenarnya dengan orang-orang yang duduk di hadapan mereka. Oke lah kalau semuanya sepakat menghilangkan diri di dunia virtual. Tapi bagaimana dengan penghilangan diri secara sepihak, dan membiarkan yang lainnya bengong macam kambing congek? (excuse my language…)

Sudah lama aku memperhatikan fenomena ini. Dan mungkin sudah sekian kalinya aku tuliskan pengalamanku di blog ini. Alih-alih membaik, kondisi adiksi dunia virtual saat ini menurutku justru memburuk.

Jangan salah kira, aku pun penggemar dunia virtual dan jaringan sosial virtual. Namun aku tak akan melakukan penghilangan diri secara sepihak, dan memilih untuk berkomunikasi secara nyata bila sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, karena apa poinnya bertemu jika tidak menggunakan mulut dan anggota tubuh kita untuk berkomunikasi? Lebih baik tinggal di rumah dan menyendiri kalau hanya ingin berasyik-asyik secara virtual.

Jadi menurutku, lakukan sepenuh hati atau tidak sama sekali. Kalau tidak siap untuk hadir sepenuhnya, lebih baik tidak usah bertemu atau berkumpul.

Yah begitulah, curhat colonganku malam ini, yang baru saja dijadikan kambing congek.. (sorry ya ‘mbing, bukan maksudku menghina hewan baik sepertimu).

to live is to love

Salah seorang penulis favoritku, Paulo Coelho, berkata “To live is to love. Everything else is just details“. Hidup ini utamanya untuk mencintai, sisanya cuma detail dan pernak-pernik saja. Aku sangat setuju dengan pernyataan ini. Mencintai bisa bersifat universal, bukan saja kepada seseorang tertentu, tapi juga pada apa yang kita kerjakan, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan, apa yang kita alami.. Pokoknya semua hal yang membuat kita bisa mengatakan bahwa kita hidup.

Mencintai apa yang kita kerjakan, pekerjaan kita, pun tak kalah pentingnya. Duabelas tahun sudah aku terjun dan merenangi dunia yang menjadi passionku sekarang. Dan hingga saat ini aku belum berniat untuk menceburkan diri ke jeram lain. Aku cinta pada apa yang aku lakukan sekarang, pada misi yang bercokol di kepalaku sekarang. Nietzsche bilang, “He who has a why to live can bear almost any how”. True, indeed. And I think I have found my ‘why’.

Namun terkadang ada hal-hal yang datang bagaikan dementor dalam cerita Harry Potter. Dementor ini aku juluki ‘deliberate ignorance‘. Tak bisa tidak, kita pasti bekerja sama dengan orang lain. Dan tentu saja kepribadian tiap orang berbeda-beda. Duabelas tahun aku menggeluti dunia ini baru sekarang kutemui pribadi bagaikan robot, yang tak pernah bisa mendengar penjelasan, yang self-righteous, yang di mulut menaburkan kata-kata ‘trust and respect’ tapi nol besar dalam kelakuannya. Dan menurutku sudah saatnya ignorance dihadapi dengan ignorance. Tambeng. Cuek-bebek.

Dan di saat-saat seperti inilah kita memerlukan why-nya kita untuk mengembalikan kita ke jalan kita semula. Memunculkan lagi kecintaan kita, ke alasan awal mengapa kita terjun dan berenang. Jangan biarkan arus negatif menarik kita hingga tenggelam. Ingat, everything else is just details. Biarkan dementor itu berkeliaran sesukanya. Kita nggak akan terganggu. Kita tunjukkan bahwa kita kuat, kita tambeng. Kita selalu punya mantra Patronus yang bisa menghalau dementor. Patronus inilah yang akan membentengi kita dari serangan dementor yang senantiasa berusaha menyedot kebahagiaan kita. Mantra Patronus hanya dapat bekerja jika kita mengingat terus apa yang membuat kita bahagia, mengingat kembali why-nya kita. Think the happy thoughts.

Our work is part of our life. If we don’t love what we do then what’s our life all about? So let the dementors come, we are not afraid, we shall overcome, and we shall win in the end.

 

creative murder

Sering saya merasa takjub dengan kreatifitas umat manusia. Manusia itu katanya adalah makhluk kreatif. Kalau selama ini terminologi ‘kreatif’ selalu dihubungkan dengan mencipta, kali ini saya ingin melihat terminologi ini dari sisi yang lain: menghancurkan.

Sejarah mencatat begitu banyak kreatifitas manusia dalam melakukan pemusnahan, penghancuran, pembunuhan, pembinasaan. Mulai dari jaman gladiator dulu (para budak diikat kaki dan tangannya ke empat penjuru mata angin dan ditarik oleh kuda), sampai kematian agen rahasia Rusia yang diracun zat radioaktif beberapa tahun lalu, atau pembunuhan pahlawan kita Munir yang diracun arsenik –seperti dalam kisah-kisah Agatha Christie dengan Hercule Poirotnya.

Belum lagi kalau kita baca dan tonton cerita-cerita holocaust di kamp-kamp konsentrasi Nazi (orang-orang dimasukkan ke kamar gas, setelah sebleumnya disiksa dengan berbagai macam metode, dibiarkan kelaparan, dll), juga cerita-cerita pembunuhan massal yang dilakukan oleh Polpot di Kamboja, menabrakkan pesawat ke gedung bertingkat tinggi seperti persitiaw 9/11, sampai pemboman Hiroshima dan Nagasaki dengan bom nuklir.

Kejadian di dalam negeri pun gak kalah menakjubkannya. Disini dunia tak kasat mata pun dilibatkan. Ada yang tewas akibat kiriman paku, duri, dll ke dalam tubuhnya, sampai kasus-kasus mutilasi, sampai dengan kasus bom bunuh diri.

Yang baru-baru ini dilakukan oleh Kepolisian Republik Indonesia terhadap warga masyarakat Suluk Bongkai di Riau pun tak kalah kreatifnya. Polisi merasa tidak cukup mengusir orang-orang tak bersenjata tersebut dari kampung mereka hanya dengan mendatangkan berkompi-kompi pasukan, tapi juga perlu mendatangkan helikopter yang terbang di atas kampung dan melontarkan bom-bom bakar ke rumah-rumah penduduk. Kepolisian Republik Indonesia tidak peduli di dalam rumah tersebut ada Warga Negara sah Republik Indonesia –anak kecil, perempuan, laki-laki, orang tua, semua dibabat habis. Dua orang tewas korbannya: keduanya anak kecil, satu orang jatuh ke sumur akibat lari ketakutan, dan satu lagi balita 21 bulan terbakar akibat rumahnya dijatuhi bom.

Saya nggak tahu bagaimana perasaan polisi-polisi itu ketika menjatuhkan bom-bom tersebut ke rumah-rumah warga –apa mereka tersenyum, menyeringai, tertawa, atau dingin saja seperti zombie. Jangan-jangan mereka lagi giting dan nggak sadar. Atau jangan-jangan mereka semua mengidap schizophrenia dan berilusi menyangka dirinya Rambo yang sedang melakukan aksi melawan teroris.

Sayangnya yang mereka jatuhi bom itu bukan gudang senjata teroris, atau sarang penyamun. Sayangnya yang mereka buat terbirit-birit ketakutan itu bukan penjahat kelas kakap atau rampok garong yang meresahkan warga.

Apakah mereka sadar kenyataan itu?