god is great

Tahun-tahun terakhir ini saya merasakan blessings dari Yang Maha Kuasa dan kemurahhatianNya yang sangat luar biasa. Jadi ingat kalau tidak salah di akhir tahun 2016 saya membuat wish list apa-apa saja yang ingin saya lakukan dan saya capai. Dan seperti biasa, saya mengupayakannya secara tidak istimewa. Dan kemudian di tahun ini beberapa wish list saya terjadi begitu saja.

Tiba-tiba di awal Januari, ayah-ibu saya menyatakan kepingin umrah. Mereka kangen Mekkah dan Madinah, setelah berhaji 30 tahun yang lalu. Dan karena mereka sudah sepuh, mereka tentu saja perlu ditemani. Dan siapa lagi yang available setiap saat bisa diminta untuk nemanin selain anaknya yang masih belum punya tanggungan dan nggak repot harus mengurus keluarganya? Iya, saya. Maka jadilah di akhir Februari itu kami pergi umrah bertiga. Ini wish list saya yang utama.

Banyak pengalaman rohani dan jasmani yang saya rasakan selama pergi ibadah tersebut. Mungkin akan saya ulas lain kesempatan. Namun satu hal yang paling saya rasakan pasca umrah tersebut adalah bahwa saya merasa fulfilled. Content. Saya merasa kalau pun Yang Maha Kuasa memanggil saya satu hari setelah umrah, saya akan dengan senang hati memenuhinya.

Saya merasa cukup. Saya merasa tak ada lagi yang harus saya kejar di dunia. Saya sudah merasakan semua hal-hal esensial yang bisa ditawarkan kehidupan di bumi. I went places. Lima benua sudah saya injak semua. Dan melihat ka’bah dengan mata kepala sendiri –ditambah memegang, mencium, dan sujud hanya sekitar dua meter darinya, sudah lebih dari apa yang bisa saya harapkan. Tak ada lagi yang bisa bikin saya penasaran. Kalau pun ada keinginan-keinginan kecil –mendaki Everest, naik kereta Trans Siberia, atau free diving, itu semua bisa dikesampingkan.

I have felt all feelings that are possibly felt by human beings. Saya sudah merasakan yang namanya sedih, suka, gembira, jatuh cinta, dicintai, membenci, dibenci, rindu, malu, dipermalukan, dendam, deg-degan, takut, khawatir, memimpin, dipimpin, bangga, terhina, dihina, menghina, kasihan, marah, tertekan, kecewa, dan lain-lain.

Saya sudah mencapai apa yang mungkin dicapai manusia normal. Saya bisa sekolah di sekolah terbaik dengan hasil yang cukup baik. Saya bekerja di tempat yang bisa menyalurkan idealisme saya. I have created and initiated many things. Saya tidak berusaha merendah dengan itu semua, dan nggak mau sombong juga. Itu full campur tangan Allah saya. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Wish list saya yang lain adalah ikut lomba marathon. Well, memang saya belum sampai ikut full marathon, Tapi half-marathon —berlari 21,1 kilometer, jadi lah. Itu pun tak sekuat tenaga saya upayakan. Memang empat bulan sebelumnya saya berlatih dengan cukup sistematis dengan seorang pelatih profesional. Tapi menjelang lomba tersebut, sebenarnya saya sudah off berlatih karena jadwal saya yang semakin padat dan tidak mampu mengejar jadwal yang sudah ditetapkan pelatih.

Seperti pengalaman waktu naik gunung berapi tertinggi di Indonesia pertama kalinya, ikut half-marathon ini pun nekat-nekatan. Patokan saya, saya sudah pernah berlari 12 kilometer at one shot. Making it to be 21,1 km shouldn’t be a big problem. Itu pikir saya. So, it is a well calculated risk I was taking. Maka jadilah. Bukan lalu saya ikut HM, dan berhasil masuk finish hanya beberapa menit sebelum cut off time (batas waktubterkahir yg dibolehkan). Sekali lagi, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Nah, blessing tak terduga lainnya, yang baru saja kemarin saya alami, membuat saya mesem-mesem sendiri, geleng-geleng kepala sendiri. Kali ini kaitannya dengan jatcin yang saya rasakan akhir-akhir ini (cerita jatcinnya ada di sini). Setelah terjadinya sedikit interaksi, yang bersangkutan tiba-tiba mengontak saya! (Tuuh, menuliskannya aja bikin saya cengar cengir sendiri). Nggak ada yang spesial sebenarnya, cuma casual conversation. Saya tahu sedikit tentang dia, dan dia tahu sedikit tentang saya. Berkaca dari pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, saya akan lebih berhati-hati dan nggak mau GR juga. Apalagi yang bersangkutan ini banyak fans-nya. Apa lah saya ini, remah-remah rengginang. 😜😜😜

Dan seperti saya bilang di atas, saya udah pernah ngerasain perasaan seperti ini. Kalau pun awalan tadi cuma sampai di situ, ya udah gak apa-apa. Nggak penting. No big deal. Yang namanya jatcin ya begitu-begitu saja dari dulu. It’s just adding some excitements in life. And it came at the right time, when I started to feel a bit bored with my routines.

Yah begitulah saya, yang nggak ada apa-apanya tanpa campur tangan Yang Maha Berkehendak. Berbeda dengan orang yang meragukan keberadaan Tuhan, saya yakin sekali dengan keberadaanNya. Dia tahu apa yang ada di hati saya, apa yang ada di sel-sel otak saya –yang saya sendiri pun secara sadar tidak ketahui. What I know, I am just turning the wheel a bit. He fully decides where it will stop.

half-marathon pertama

Seperti yang sudah sering saya sampaikan, salah satu pertanyaan reflektif saya adalah, apa hal terakhir yang saya lakukan untuk pertama kalinya? Merasakan atau melakukan semua hal di dunia ini –jika mampu, adalah keinginan saya. Sehingga sering kali saya bertanya-tanya pada diri sendiri,”Mau bikin apa lagi gue ya?”

Tahun ini memang saya berencana untuk melakukan marathon atau half-marathon (HM) saya yang pertama. Ini dipicu dengan keikutsertaan saya dalam relay ultra-marathon Jakarta-Bandung yang diselenggarakan oleh ITB (sekolah saya dulu) pada bulan Oktober tahun lalu. Jarak Jakarta-Bandung 170 km dibagi menjadi 16 etape, dan dijalani oleh satu kelompok lari. Angkatan kuliah saya mengirimkan dua tim, sehingga dalam setiap etapenya kami lari berbarengan.

Kegiatan ini menjadikan kami teman seangkatan yang berasal dari berbagai jurusan yang berbeda ini akrab. Saya dan beberapa teman bahkan ikut latihan lari yang dilatih oleh seorang pelatih khusus. Gunanya, untuk memperbaiki teknik berlari dan berlatih kekuatan otot-otot tubuh. Selain latihan dasar ini, saya sendiri memang ingin agar suatu saat saya bisa melakukan keinginan saya di atas — lari marathon, atau half marathon.

Dan Alhamdulillah, hari ini, 15 Juli 2018, saya mengikuti lomba half-marathon yang diadakan oleh Universitas Indonesia (UI) bersama dengan Bank BNI. Dan Alhamdulillah, saya mampu berlari sejauh 21,1 kilometer tanpa cedera, walaupun dengan catatan waktu yang sangat tipis di bawah batas waktu terlama! Hahahhaa..

Saya senang sekali dengan hasil ini. Walaupun persiapannya tidak terlalu lama, dipotong bulan puasa dan perjalanan-perjalanan tugas saya yang tidak memungkinkan saya berlatih, saya berhasil melewati garis finih dan dapat medali (tidak didiskualifikasi).

Dan malam ini saya istirahat sambil urut2 merawat telapak kaki, betis dan lutut yang kebas, dan pegal. Semoga satu hari nanti saya bisa menyelesaikan marathon –full 42,2 kilometer. Amin.

jatcin

Sebenarnya saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menulis hal-hal yang bersifat personal, apalagi menyek-menyek di blog ini. Tapi apa daya, perasaan yang ada di dalam dada ini somehow harus dilepaskan. Hahaha.. Huek cuih!

Begini, saya jatuh cinta. Lagi. Jatuh cinta itu rasanya memang menyenangkan. Pantas saja ada yg pernah bilang first best is falling in love. Sementara kalau being in love-nya sendiri cuma second best.

Lagi-lagi saya jatcin ini dengan orang yang saya enggak kenal, dan enggak pernah saya temui. Tapi ya pattern-nya atau type orangnya serupa dengan yang sebelum-sebelumnya. Waktu saya perlihatkan foto orang itu kepada teman saya, teman saya itu bilang,”Ah, itu mah tipe elu banget!” Well, bukan hanya secara fisik yang “gue banget” tapi kepribadiannya –dari yang dia tampakkan ke publik, pun sealiran. Enggak usah lah saya sebutkan secara spesifik, tapi intinya, mereka-mereka yang beruntung pernah kejatuhan cinta saya itu bukan tipe orang kebanyakan.

Terus, apa?

Ya enggak ada. Saya senang dan menikmati saja perasaan ini. Menikmati kerja hormon-hormon yang lagi banjir di otak saya. Segi positif dari jatuh cinta, bagi saya, adalah bahwa akan selalu ada kejutan yang ditunggu di keesokan hari.

Yah begitulah! Recehan banget ya hidup saya? Hahahaa..

queen bee

Beberapa waktu yang lalu saya kebetulan membaca satu percakapan dunia maya tentang fenomena queen bee di tempat kerja. Mereka yang percaya pada keberadaan fenomena ini mengatakan bahwa pimpinan perempuan cenderung tidak memberi kesempatan kepada perempuan lainnya untuk maju. Pemimpin perempuan itu menghambat, menjegal, mem-bully, perempuan di bawahnya. Demikian opini terhadap queen bee.

Dan coba tebak siapa yang mengatakan hal-hal tersebut pertama kali dalam percakapan tersebut? Yup, seorang selebrita dunia maya berkelamin laki-laki.

Sedihnya, mansplaining di atas diiyakan pula oleh perempuan. Bahkan ada beberapa komentar agak bias yang mengatakan bahwa ini lah sebenarnya salah satu penyebab mengapa tidak banyak perempuan yang berada di posisi pimpinan, dan bahwa hal ini adalah satu hal yang tidak mau diakui oleh kalangan feminis. Mereka bilang bahwa feminis pasti akan menyalahkan sistem patriarki sebagai penyebab kurangnya perempuan di posisi pimpinan, dan bukannya kelakuan queen bee ini.

Saya tertarik dengan hal di atas karena beberapa hal. Pertama, karena saya baru tahu bahwa ada fenomena “queen bee” ini. Hehhee, iya, saya agak kudet. Alasan kedua, karena ini sangat relevan dengan saya –saya adalah seorang perempuan pemimpin organisasi yang didominasi laki-laki, dan kata banyak orang merupakan satu organisasi yang cenderung bersifat maskulin. Ketiga, sisi feminis saya nggak terima dengan stereotyping macam ini –mengapa hanya ada queen bee tetapi tidak ada fenomena king bee? Mengapa saling “jegal” di kalangan perempuan ada sebutannya, sementara saling jegal di kalangan laki-laki tidak ada sebutannya? Bukankah fenomena jegal menjegal ini tidak hanya dialami atau dilakukan oleh perempuan? Nah, alasan terakhir dan yang tidak kalah pentingnya, saya kebetulan sedang didera tuduhan queen bee ini, walaupun tidak disampaikan secara langsung dan hanya terdengar sebagai rumor yang sayup-sayup sampai di telinga saya.

Karena penasaran dan ingin tahu lebih lanjut, jadi lah saya googling kesana kemari. Dan syukur lah, saya menemukan artikel-artikel yang cukup akademis dan tidak didasarkan pada perasaan. Penelitian ini misalnya, diterbitkan dalam The Leadership Quarterly pada bulan April 2018, menemukan bahwa fenomena queen bee ini kemungkinan hanya mitos. Penelitian ini menyebutkan bahwa dalam lingkungan kerja, pemimpin perempuan bertindak sangat baik pada perempuan bawahannya, dan mereka juga mengangkat perempuan pada posisi-posisi penting. Mereka juga mencegah terjadinya ketimpangan pendapatan antara perempuan dan laki-laki di posisi yang sama. Penelitian ini dilakukan di Brazil dan mengambil sampel 8,3 juta organisasi di 5.600 municipaities (unit pemerintahann daerah).

Peneliti utamanya mengatakan bahwa penelitian-penelitian sebelumnya yang menyimpulkan adanya fenomena queen bee dilakukan berdasarkan studi kasus ilustratif yang tidak representatif, atau berdasarkan survey yang tidak menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang sebenarnya dari penunjukan perempuan dalam posisi kekuasaan.

Baiklah, itu hasil studi. Bagaimana realitasnya? Sebagai perempuan pemimpin, saya bisa bicara dari pengalaman saya sendiri. Menjadi perempuan pemimpin, apalagi di dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang tidak lah mudah. Di organisasi saya yang sudah berdiri sejak 1980 dan mengalami 10 kali periode suksesi, baru tiga orang perempuan terpilih menjadi pimpinan –saya yang ketiga. Untuk mengajukan diri dan membuat diri kita terpilih bukan lah hal yang mudah. Di dalam organisasi masih banyak juga yang meragukan kepemimpinan perempuan –dengan beragam alasannya.

Menjadi pemimpin perempuan, bagi saya, memerlukan kesadaran akan diri sendiri yang jauh lebih besar. Sensitivitas terhadap kesetaraan dan afirmasi bagi perempuan lain termasuk hal-hal yang menjadi perhatian utama saya. Dalam organisasi saya, tidak mudah mencari kader perempuan. Tidak usah lah dulu bicara kompetensi. Walau kesempatan untuk terlibat dalam organisasi saya buka seluasnya, dengan prioritas saya berikan kepada perempuan, tetap saja sulit mengisi posisi yang ada dengan perempuan.

Dilema lain, terkait kecakapan dan kompetensi. Ketika pada akhirnya saya harus melepas seorang perempuan dari posisi pimpinan lapis kedua karena alasan kompetensi despite segala dukungan dan kesempatan untuk perbaikan, deraan sebagai queen bee pun datang kepada saya. Rumor itu mengatakan, begitulah jika kamu punya boss perempuan, dia tidak akan bisa bekerja sama dengan perempuan lain. Hehehee.

Bagi saya, selama itu tidak disampaikan kepada saya secara langsung, itu semua saya anggap non-issue. Tidak eksis. Namun demikian, hal-hal tersebut tetap saya jadikan bahan refleksi, dan mengasah terus sensitivitas saya agar lebih baik lagi.

policik

Lama kelamaan saya sebal juga dengan dunia perpolitikan nasional di Indonesia ini. Saat ini yang terjadi bukan saling beradu gagasan, ide, dan cita-cita masa depan yang ingin ditawarkan, tapi lebih banyak saling beradu nyinyir dan cela. Incumbent entah kenapa merasa insecured, dan melahap segala umpan yang dilemparkan oposisi. Dicela oposisi begini, langsung di-counter begitu, tak jarang disertai dengan nada-nada mengancam. Kelihatan sekali kejumawaannya, mentang-mentang berkuasa.

Well, namanya juga oposisi, berasal dari kata oppose —artinya menentang, menolak. Jadi ya wajar aja kalau mereka selalu tidak bersetuju dengan pekerjaan rejim penguasa, atau mencari-cari kelemahan atau kekurangan rejim yang berkuasa. Justru disitulah terjadi dinamika dalam politik, disitulah terjadi mekanisme chek and balance. Berharap oposisi memuji-muji itu menurut saya sih aneh dalam dunia politik. Lemparan umpan berupa kritik dari oposisi ini harusnya dihadapi dengan elegan oleh incumbent. Kasih aja data-datanya, dan kalau bisa sekalian meng-kick si oposisi akan bagus juga. Kalau masih ada kelemahan ya akui saja, toh rejim ini juga membawa warisan dari rejim-rejim sebelumnya. Dengan cara seperti ini maka terjadi pendidikan politik bagi warga negara. Warga negara kita sudah pintar kok, sudah bisa memilah-milah.

Ketakutan berlebihan ini sangat terasa mewarnai rejim pemerintahan hari ini. Akhirnya mereka kehilangan fokus. Alih-alih memperbaiki kinerja dan memastikan janji-janjinya terpenuhi, rejim hari ini sibuk main pingpong, dan terus terang situasinya sedang kepayahan juga menghadapi serbuan smash dari oposisi. Yah, salah sendiri, you have chosen to play their game sih!

Sebagai non-partisan, saya terus terang hopeless melihat perkembangan yang ada saat ini. Kedua kubu –baik incumbent maupun oposisi, sedang berlomba untuk menuju ke titik nadir. Race to the bottom. Namun di sisi lain saya melihat ada keuntungannya juga bagi warga negara, karena mereka pada akhirnya saling membuka dan menguak borok-borok mereka sendiri. Seluruh blok politik yang ada saat ini di Indonesia pada dasarnya punya dosanya masing-masing. Nggak ada satu pun yang suci tanpa noda. Yang dulu oposisi dan sekarang memerintah ternyata nggak jauh berbeda dengan rejim yang dahulu dikritiknya. Ada sih perbaikan-perbaikan disana-sini, tapi struktur dan wajahnya masih sama. Tidak terjadi transformasi, apalagi revolusi –entah itu revolusi mental atau revolusi paradigma.

Tinggal lah para warga negara –kita mau apa? Sebenarnya tidak perlu susah-susah untuk mencari tahu bagaimana para elit yang sekarang seolah berseteru, dulunya saling berkelindan, dan menelisik motifnya. Apa iya mereka memperjuangkan kepentingan warga negara? Atau mereka sebenarnya hanya memperjuangkan kekuasaannya, dan menggunakan kita-kita sebagai alatnya?

Seperti kata filosof Jerman, Nietzsche, politisi itu membagi orang menjadi dua kelompok: alat atau musuh. Tinggal lah kita, warga negara, mau jadi yang mana?

pictures are additional

Seperti sudah sering saya ungkapkan dalam blog ini, bahwa saya pada dasarnya adalah pembosan. Teperangkap dalam rutinitas bisa jadi mimpi buruk bagi saya. Namun di sisi lain, saya juga pada dasarnya adalah pemalas. Saya tidak akan melakukan sesuatu hingga level di-bela-belain jika sesuatu itu tidak menarik buat saya, atau jika saya tidak memiliki kepentingan atas sesuatu tersebut, atau jika sesuatu itu tidak menyangkut orang-orang terdekat saya. I will not move, even an inch. 

Seperti halnya jogging, travelling, dan foto-memoto, semuanya itu saya lakukan selain karena saya suka, tapi juga karena itu bisa melarikan diri saya dari urusan pikir memikir yang memang jadi pekerjaan saya. Don’t get me wrong, I love my job and not consider it as burden. Tapi untuk terus berpikir tanpa jeda juga akan membuat saya suntuk. Hence, saya merasa membutuhkan aktifitas-aktifitas semacam di atas sebagai penjeda.

Makanya, dalam jogging misalnya, walaupun saya suka, tapi saya belum sampai level bela-belain bangun subuh untuk pergi ke tempat race dan mengikuti lomba lari itu sampai finish –apalagi sampai menang! Gak terpikir sama sekali. Dan travelling juga demikian. Walaupun saya suka travelling, jalan-jalan, dan naik gunung, saya belum sampai pada level bela-belain bepergian sendirian ke tempat-tempat yang jauh. Bagi saya, yah, kalau ada waktu, ada dana, dan ada yang nemanin, saya pergi. Kalau nggak ada salah satunya, malas lah. Mendingan leyeh-leyeh di rumah. Bepergian sendirian –kecuali untuk urusan kerja– is a big no buat saya. Apa enaknya coba?

Nah, sekarang untuk urusan foto memoto yang memang saya akui sekarang ini sudah menjadi kebiasaan buat saya. Bukan hobby, tapi kebutuhan. Sehari pokoknya musti njepret at least satu foto. 

 

Dijepret saat saya sedang jogging bersama adik di GBK Senayan
 
Tapi lagi-lagi untuk urusan ini saya belum sampai level bela-belain belajar teknik fotografi. Terus terang saya malas mikir. Apperture, speed dan istilah-istilah fotografi lainnya lewat begitu saja dari kepala saya, nggak ada yang nyangkut sedikitpun, walaupun ada teman yang mengajari saya. 

 

Dijepret saat sedang menunggu bus di satu halte
 
Ada sih keinginan untuk pursuing ini secara lebih serius, terutama dikaitkan dengan studi akademik saya. Nanti, kalau saya berkepentingan dengan urusan studi, saya tau saya pasti akan bela-belain belajar fotografi. Tapi itu nanti, bukan sekarang.

Dalam aktifitas foto memoto ini saya tidak berniat menghasilkan foto dengan kualitas tertentu, atau tema tertentu, atau misi tertentu. Ya, apa yang saya lihat, saya temui, saya suka, dan hati serta pikiran saya clicked, ya saya foto. Bagaimana menampilkannya, dan akan disandingkan dengan apa –entah dengan cerita, entah dengan puisi, entah dengan apapun, ya itu hal lain lagi, tergantung mood dan ide yang muncul di kepala saja. Atau bahkan beberapa foto cuma tersimpan apik di hard disk tanpa saya beri perlakuan apapun. Suka-suka lah pokoknya.

 

Dijepret saat sedang berjalan menuju gerbong kereta, dalam perjalanan pulang
 
Makanya, kalau diajak teman untuk hunting foto, saya merasa kurang sreg. Saya nggak mau dibebani misi berburu seuatu, atau berpikir bagaimana menemukan sesuatu. Wong aktifitas ini untuk melarikan diri dari urusan pikir memikir kok. Dan makanya pula, foto-foto yang saya hasilkan dan saya tampilkan di media sosial pun hampir semuanya candid dan tidak direncanakan atau diatur-atur. Foto-foto itu saya ambil pas ketika saya naik kereta atau bus menuju kantor, sedang dalam perjalanan ke tempat tertentu, lewat daerah tertentu, atau pas lagi pergi makan-makan sama keluarga –misalnya. Memang untuk memungkinkan hal itu saya selalu membawa kamera, ya paling tidak kamera dari iphone.. hahhaa.. Dan sejak saya mulai senang dengan kamera analog, ke mana-mana saya membawa kamera analog tersebut, yang memang ukurannya kecil, nggak bulky, gak macem-macem dan gampang dibawa ke mana-mana.

 

Dijepret dari dalam mobil, saat sedang macet di satu jalan di Jakarta
 
Demikianlah perilaku amatiran saya ini, melakukan apa yang saya senangi, dengan cara yang saya senangi, pada waktu yang saya senangi –dan kadang tanpa tujuan sama sekali.

 

Dijepret saat habis makan siang bersama keluarga, di depan restoran
  
Dijepret sesaat setelah turun dari kereta, dalam perjalanan ke kantor
  
Dijepret saat menuju ATM di dekat kantor, menggunakan kamera analog
  
Dijepret dari dalam pesawat, sesaat sebelum taxiing, menggunakan kamera analog
  
Dijepret saat berjalan di jembatan penyeberangan, dalam perjalanan menuju lokasi pertemuan/meeting
  
Dijepret saat sedang window-shopping dengan teman, di satu mal di Jakarta
 
 

my running diary: first 5k in 30 minutes

  
As an on/off runner I have nothing to be proud of. Since i start running more regularly in 2013 I always missed my target on the time planned. for example, I missed the target to reach my first 10k on time, although I finally reached it long time after. Thanks to my running buddies who accompany me in Senayan at that time. 

One of my long-pending targets was to reach the 5k within 30 minutes. It means I have to be able to run as fast as 6 minutes per kilometer (or runners usually say it as “pace 6”). Concerning my average pace had never moved from 8 or 7 and my on/off running habit, reaching the 5/30 seemed quite impossible for me –hence I forgot it.

Because of Ramadhan, I stopped doing the run this year during the fasting month–although last year the fasting did not stop me. But after Idul Fitri, I felt my muscles and body craved for some exercises. It is true what people say that exercises make you addicted. So, last Sunday, together with some friends from college time I did my first run after Id. I could only reached 2k that morning. Well, everything needs adjustments after hibernating for some time, including our body.

Like before, after running I felt refreshed, so I made promise to myself that I will be more committed this time. So last night, again I did my evening run. A friend from the office accompanied me. I infected him to start running, by the way. Hehehee.

So we run. He stopped after 10 rounds of the 400 meter track. I continued. I have said to myself that I won’t stop until 5k –it means at least 13 rounds. After finishing the run, I checked my running mobileapplication, and there it showed that I did 5/30!! And the last night’s run also set a new record as my fastest pace ever!

Pheww! I am so happy! 😄😄😄