god is great

Tahun-tahun terakhir ini saya merasakan blessings dari Yang Maha Kuasa dan kemurahhatianNya yang sangat luar biasa. Jadi ingat kalau tidak salah di akhir tahun 2016 saya membuat wish list apa-apa saja yang ingin saya lakukan dan saya capai. Dan seperti biasa, saya mengupayakannya secara tidak istimewa. Dan kemudian di tahun ini beberapa wish list saya terjadi begitu saja.

Tiba-tiba di awal Januari, ayah-ibu saya menyatakan kepingin umrah. Mereka kangen Mekkah dan Madinah, setelah berhaji 30 tahun yang lalu. Dan karena mereka sudah sepuh, mereka tentu saja perlu ditemani. Dan siapa lagi yang available setiap saat bisa diminta untuk nemanin selain anaknya yang masih belum punya tanggungan dan nggak repot harus mengurus keluarganya? Iya, saya. Maka jadilah di akhir Februari itu kami pergi umrah bertiga. Ini wish list saya yang utama.

Banyak pengalaman rohani dan jasmani yang saya rasakan selama pergi ibadah tersebut. Mungkin akan saya ulas lain kesempatan. Namun satu hal yang paling saya rasakan pasca umrah tersebut adalah bahwa saya merasa fulfilled. Content. Saya merasa kalau pun Yang Maha Kuasa memanggil saya satu hari setelah umrah, saya akan dengan senang hati memenuhinya.

Saya merasa cukup. Saya merasa tak ada lagi yang harus saya kejar di dunia. Saya sudah merasakan semua hal-hal esensial yang bisa ditawarkan kehidupan di bumi. I went places. Lima benua sudah saya injak semua. Dan melihat ka’bah dengan mata kepala sendiri –ditambah memegang, mencium, dan sujud hanya sekitar dua meter darinya, sudah lebih dari apa yang bisa saya harapkan. Tak ada lagi yang bisa bikin saya penasaran. Kalau pun ada keinginan-keinginan kecil –mendaki Everest, naik kereta Trans Siberia, atau free diving, itu semua bisa dikesampingkan.

I have felt all feelings that are possibly felt by human beings. Saya sudah merasakan yang namanya sedih, suka, gembira, jatuh cinta, dicintai, membenci, dibenci, rindu, malu, dipermalukan, dendam, deg-degan, takut, khawatir, memimpin, dipimpin, bangga, terhina, dihina, menghina, kasihan, marah, tertekan, kecewa, dan lain-lain.

Saya sudah mencapai apa yang mungkin dicapai manusia normal. Saya bisa sekolah di sekolah terbaik dengan hasil yang cukup baik. Saya bekerja di tempat yang bisa menyalurkan idealisme saya. I have created and initiated many things. Saya tidak berusaha merendah dengan itu semua, dan nggak mau sombong juga. Itu full campur tangan Allah saya. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Wish list saya yang lain adalah ikut lomba marathon. Well, memang saya belum sampai ikut full marathon, Tapi half-marathon —berlari 21,1 kilometer, jadi lah. Itu pun tak sekuat tenaga saya upayakan. Memang empat bulan sebelumnya saya berlatih dengan cukup sistematis dengan seorang pelatih profesional. Tapi menjelang lomba tersebut, sebenarnya saya sudah off berlatih karena jadwal saya yang semakin padat dan tidak mampu mengejar jadwal yang sudah ditetapkan pelatih.

Seperti pengalaman waktu naik gunung berapi tertinggi di Indonesia pertama kalinya, ikut half-marathon ini pun nekat-nekatan. Patokan saya, saya sudah pernah berlari 12 kilometer at one shot. Making it to be 21,1 km shouldn’t be a big problem. Itu pikir saya. So, it is a well calculated risk I was taking. Maka jadilah. Bukan lalu saya ikut HM, dan berhasil masuk finish hanya beberapa menit sebelum cut off time (batas waktubterkahir yg dibolehkan). Sekali lagi, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Nah, blessing tak terduga lainnya, yang baru saja kemarin saya alami, membuat saya mesem-mesem sendiri, geleng-geleng kepala sendiri. Kali ini kaitannya dengan jatcin yang saya rasakan akhir-akhir ini (cerita jatcinnya ada di sini). Setelah terjadinya sedikit interaksi, yang bersangkutan tiba-tiba mengontak saya! (Tuuh, menuliskannya aja bikin saya cengar cengir sendiri). Nggak ada yang spesial sebenarnya, cuma casual conversation. Saya tahu sedikit tentang dia, dan dia tahu sedikit tentang saya. Berkaca dari pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, saya akan lebih berhati-hati dan nggak mau GR juga. Apalagi yang bersangkutan ini banyak fans-nya. Apa lah saya ini, remah-remah rengginang. 😜😜😜

Dan seperti saya bilang di atas, saya udah pernah ngerasain perasaan seperti ini. Kalau pun awalan tadi cuma sampai di situ, ya udah gak apa-apa. Nggak penting. No big deal. Yang namanya jatcin ya begitu-begitu saja dari dulu. It’s just adding some excitements in life. And it came at the right time, when I started to feel a bit bored with my routines.

Yah begitulah saya, yang nggak ada apa-apanya tanpa campur tangan Yang Maha Berkehendak. Berbeda dengan orang yang meragukan keberadaan Tuhan, saya yakin sekali dengan keberadaanNya. Dia tahu apa yang ada di hati saya, apa yang ada di sel-sel otak saya –yang saya sendiri pun secara sadar tidak ketahui. What I know, I am just turning the wheel a bit. He fully decides where it will stop.

jatcin

Sebenarnya saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menulis hal-hal yang bersifat personal, apalagi menyek-menyek di blog ini. Tapi apa daya, perasaan yang ada di dalam dada ini somehow harus dilepaskan. Hahaha.. Huek cuih!

Begini, saya jatuh cinta. Lagi. Jatuh cinta itu rasanya memang menyenangkan. Pantas saja ada yg pernah bilang first best is falling in love. Sementara kalau being in love-nya sendiri cuma second best.

Lagi-lagi saya jatcin ini dengan orang yang saya enggak kenal, dan enggak pernah saya temui. Tapi ya pattern-nya atau type orangnya serupa dengan yang sebelum-sebelumnya. Waktu saya perlihatkan foto orang itu kepada teman saya, teman saya itu bilang,”Ah, itu mah tipe elu banget!” Well, bukan hanya secara fisik yang “gue banget” tapi kepribadiannya –dari yang dia tampakkan ke publik, pun sealiran. Enggak usah lah saya sebutkan secara spesifik, tapi intinya, mereka-mereka yang beruntung pernah kejatuhan cinta saya itu bukan tipe orang kebanyakan.

Terus, apa?

Ya enggak ada. Saya senang dan menikmati saja perasaan ini. Menikmati kerja hormon-hormon yang lagi banjir di otak saya. Segi positif dari jatuh cinta, bagi saya, adalah bahwa akan selalu ada kejutan yang ditunggu di keesokan hari.

Yah begitulah! Recehan banget ya hidup saya? Hahahaa..

pictures are additional

Seperti sudah sering saya ungkapkan dalam blog ini, bahwa saya pada dasarnya adalah pembosan. Teperangkap dalam rutinitas bisa jadi mimpi buruk bagi saya. Namun di sisi lain, saya juga pada dasarnya adalah pemalas. Saya tidak akan melakukan sesuatu hingga level di-bela-belain jika sesuatu itu tidak menarik buat saya, atau jika saya tidak memiliki kepentingan atas sesuatu tersebut, atau jika sesuatu itu tidak menyangkut orang-orang terdekat saya. I will not move, even an inch. 

Seperti halnya jogging, travelling, dan foto-memoto, semuanya itu saya lakukan selain karena saya suka, tapi juga karena itu bisa melarikan diri saya dari urusan pikir memikir yang memang jadi pekerjaan saya. Don’t get me wrong, I love my job and not consider it as burden. Tapi untuk terus berpikir tanpa jeda juga akan membuat saya suntuk. Hence, saya merasa membutuhkan aktifitas-aktifitas semacam di atas sebagai penjeda.

Makanya, dalam jogging misalnya, walaupun saya suka, tapi saya belum sampai level bela-belain bangun subuh untuk pergi ke tempat race dan mengikuti lomba lari itu sampai finish –apalagi sampai menang! Gak terpikir sama sekali. Dan travelling juga demikian. Walaupun saya suka travelling, jalan-jalan, dan naik gunung, saya belum sampai pada level bela-belain bepergian sendirian ke tempat-tempat yang jauh. Bagi saya, yah, kalau ada waktu, ada dana, dan ada yang nemanin, saya pergi. Kalau nggak ada salah satunya, malas lah. Mendingan leyeh-leyeh di rumah. Bepergian sendirian –kecuali untuk urusan kerja– is a big no buat saya. Apa enaknya coba?

Nah, sekarang untuk urusan foto memoto yang memang saya akui sekarang ini sudah menjadi kebiasaan buat saya. Bukan hobby, tapi kebutuhan. Sehari pokoknya musti njepret at least satu foto. 

 

Dijepret saat saya sedang jogging bersama adik di GBK Senayan
 
Tapi lagi-lagi untuk urusan ini saya belum sampai level bela-belain belajar teknik fotografi. Terus terang saya malas mikir. Apperture, speed dan istilah-istilah fotografi lainnya lewat begitu saja dari kepala saya, nggak ada yang nyangkut sedikitpun, walaupun ada teman yang mengajari saya. 

 

Dijepret saat sedang menunggu bus di satu halte
 
Ada sih keinginan untuk pursuing ini secara lebih serius, terutama dikaitkan dengan studi akademik saya. Nanti, kalau saya berkepentingan dengan urusan studi, saya tau saya pasti akan bela-belain belajar fotografi. Tapi itu nanti, bukan sekarang.

Dalam aktifitas foto memoto ini saya tidak berniat menghasilkan foto dengan kualitas tertentu, atau tema tertentu, atau misi tertentu. Ya, apa yang saya lihat, saya temui, saya suka, dan hati serta pikiran saya clicked, ya saya foto. Bagaimana menampilkannya, dan akan disandingkan dengan apa –entah dengan cerita, entah dengan puisi, entah dengan apapun, ya itu hal lain lagi, tergantung mood dan ide yang muncul di kepala saja. Atau bahkan beberapa foto cuma tersimpan apik di hard disk tanpa saya beri perlakuan apapun. Suka-suka lah pokoknya.

 

Dijepret saat sedang berjalan menuju gerbong kereta, dalam perjalanan pulang
 
Makanya, kalau diajak teman untuk hunting foto, saya merasa kurang sreg. Saya nggak mau dibebani misi berburu seuatu, atau berpikir bagaimana menemukan sesuatu. Wong aktifitas ini untuk melarikan diri dari urusan pikir memikir kok. Dan makanya pula, foto-foto yang saya hasilkan dan saya tampilkan di media sosial pun hampir semuanya candid dan tidak direncanakan atau diatur-atur. Foto-foto itu saya ambil pas ketika saya naik kereta atau bus menuju kantor, sedang dalam perjalanan ke tempat tertentu, lewat daerah tertentu, atau pas lagi pergi makan-makan sama keluarga –misalnya. Memang untuk memungkinkan hal itu saya selalu membawa kamera, ya paling tidak kamera dari iphone.. hahhaa.. Dan sejak saya mulai senang dengan kamera analog, ke mana-mana saya membawa kamera analog tersebut, yang memang ukurannya kecil, nggak bulky, gak macem-macem dan gampang dibawa ke mana-mana.

 

Dijepret dari dalam mobil, saat sedang macet di satu jalan di Jakarta
 
Demikianlah perilaku amatiran saya ini, melakukan apa yang saya senangi, dengan cara yang saya senangi, pada waktu yang saya senangi –dan kadang tanpa tujuan sama sekali.

 

Dijepret saat habis makan siang bersama keluarga, di depan restoran
  
Dijepret sesaat setelah turun dari kereta, dalam perjalanan ke kantor
  
Dijepret saat menuju ATM di dekat kantor, menggunakan kamera analog
  
Dijepret dari dalam pesawat, sesaat sebelum taxiing, menggunakan kamera analog
  
Dijepret saat berjalan di jembatan penyeberangan, dalam perjalanan menuju lokasi pertemuan/meeting
  
Dijepret saat sedang window-shopping dengan teman, di satu mal di Jakarta
 
 

travelling light

Gue memandang kehidupan ini adalah sebuah perjalanan, life is a journey, kata orang. Dan dalam perjalanan ini, gue pun percaya apa yang dibilang Lao Tszu, bahwa seorang true traveller itu nggak bermaksud untuk tiba di satu tujuan tertentu. Yang ada hanyalah persinggahan, untuk terus melanjutkan berjalan.

Sudah sering gue ungkapkan, bahwa gue suka heran dengan diri gue yang seolah gak punya ambisi ingin menjadi atau mencapai sesuatu –walaupun kenyataannya capaian-capaian itu terjadi juga pada diri gue, tanpa benar-benar gue rencanakan atau gue desain. Dan sekarang gue baru teringat lagi setelah membaca komen seorang teman gue dulu di kampus di salah satu postingan gue di blog ini (l i n k). Dia mengingatkan gue, bahwa dulu jaman kami masih kuliah, dia pernah tanya apa cita-cita gue. Dan saat itu gue menjawab dengan seriusnya bahwa cita-cita gue masuk surga.

Setelah gue refleksikan kembali, well, mungkin ini penyebab gue “seolah-olah” gak punya cita-cita di kehidupan ini. Backmind gue mungkin terprogram, ever since, untuk sebuah cita-cita masuk surga (Aamiin Ya Rabbal Alamiin). Mungkin itu juga kenapa gue mengambil jalur pengabdian sebagai jalan hidup gue di dunia ini (insya Allah untuk seterusnya).

Nah, perjalanan ke tempat-tempat gue bekerja, gue selalu berusaha untuk travelling light. Ini karena gue orangnya nggak suka ribet. Gue cuma bawa apa yang gue perlukan. The essentials.

Ini juga yang jadi prinsip perjalanan hidup gue. Bring only bags that make you happy. In life, travel light. Prinsip Zen juga banyak mempengaruhi pandangan hidup gue. Living in the now. Forget the past, don’t worry about the future. Be in the present. Khusyuk. Ya, gue ingin menjalani hidup ini dengan khusyuk.

Maka, ini pula yang membuat gue dengan mudahnya menghapus semua kenangan dengan my ex tanpa beban. Atau meng-unfriend teman yang annoying di Path, Facebook, Instagram. You name it. Buat gue, hal-hal itu adalah no big deal. Gue gak mau nambah-nambahin hal-hal gak penting di dalam otak gue yang kecil dan punya memori terbatas ini. Dan untungnya lagi, gue orangnya pelupa. Blessed those who are the forgetful, kata salah satu pengarang ternama yang gue lupa namanya.

Tapi yang susah, gue gak bisa lupa how people treat me, karena gue sangat peduli bagaimana gue memperlakukan orang. Hal-hal itu yang sering mengganggu pikiran gue. Misal ada yang tiba-tiba berlaku berbeda. Dulu akrab, sekarang jaga jarak. Dulu baik, sekarang jutek. Sering gue mikir, what did I do wrong? Gue pada dasarnya nggak mau punya masalah dengan orang. Tapi kadang, orang yang punya masalah dengan gue.

Seperti gue bilang, orang sering misunderstood dan salah duga sama gue. Gue baik, dikira naksir. Gue bikin puisi, dikira nyindir. So, sering gue tanya langsung sama yang bersangkutan. Tapi kalau mereka nggak ngaku, well, yang gue lakukan ya delete, delete, delete. No sweat. Drop the bags that weighing us. Bagi gue, see no evil, hear no evil, feel no evil.

What others think about me, is not my responsibility. My responsibility is making sure I don’t hurt people, and how I treat others.

Jadi, begitulah. Bagi gue, lebih baik gue punya 10 orang sahabat yang gak ribet-ribetin hidup gue, dibanding 1000 orang kenalan yang ribet. Toh, pada akhirnya, seperti kata sahabat gue si Duy, hidup kita itu harusnya happy-happy dan bahagia.

the first 100k

20140619-162109-58869879.jpg

Yeiiyyy..!!! Akhirnya pagi ini gue mencapai 100 kilometer gue yang pertama! Walaupun itu dicapai dengan bits and pieces selama kurang lebih 10 bulan, tapi tetap gue puas bisa mencapainya.

Hampir setahun yang lalu gue memulai kebiasaan jogging atau lari secara lebih rutin di pagi hari, setelah gue tahu ada satu tempat di dekat rumah yang bisa dijadikan jogging track. Tempat itu adalah jalan masuk ke kompleks perumahan baru yang sedang dibangun, yang lokasinya tepat di depan rumah gue.

Jogging track ini menyediakan track yang cukup lengkap dengan adanya tanjakan dan jalan mendatar. Di kanan kirinya pun masih berupa semak belukar serta pepohonan yang memastikan ketersediaan udara bersih yang kita hirup selama berlari. Jika kita datang cukup pagi, sebelum jam 05:30, kita bisa menyaksikan perubahan warna langit saat matahari perlahan-lahan mulai terbit.

Dengan situasi semacam itu, nggak heran kemudian mulai banyak orang yg berdatangan di pagi hari ke ruas jalan itu untuk berolah raga; ada yang jogging, jalan cepat, atau jalan santai bagi bapak-bapak dan ibu-ibu manula seumuran orang tuaku.

Entahlah apa jadinya jika kompleks perumahan itu sudah dibuka, apakah kami harus kehilangan jogging track favorit kami?

relativity

20110921-064729.jpg

Bagaimana kita menjelaskan teori relativitas Einstein? Cara termudah adalah dengan memberi contoh dari hal-hal yang tidak “ilmiah”. Misalnya, bagi dua orang yang sedang jatuh cinta, ngobrol di telpon semalam suntuk sampai mulit dower dan telinga budeg bukan masalah. Malahan kantuk seolah-olah tak menyapa dan semalam suntuk seolah berjalan bagai sedetik (haha…mungkin ini agak lebay ya…). Namun sebaliknya, jika salah satu atau keduanya tidak saling suka, maka telpon sedtik pun sangat mengganggu dan sudah terlalu lama rasanya, sehingga ingin cepat-cepat disudahi.

Dan kita semua, menjalani kehidupan ini, menurutku, akan selalu berada dalam kondisi relatif. Nisbi. Variabel. Bukan konstanta. Bahkan kita sedetik yang lalu sangat berbeda dengan diri kita saat sekarang ini.

Dalam relatifitas akan selalu ada referensi, karena relatifitas intinya adalah perbandingan. Dan untuk membandingkan kita butuh referensi. Misalnya, dulu begini sekarang begitu. Bumi, bisa dianggap bergerak, bisa juga dianggap tetap. Bergerak jika dibandingkan dengan matahari — yang notabene dijadikan titik yang tetap/referensi. Namun bumi juga bisa dianggap tidak berpindah jika dibandingkan terhadap poros bumi itu sendiri, misalnya.

Begitu juga dengan orang. Kita sering mendengar orang bilang,”Ah, dia sudah berubah!” Pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena bukan hanya si dia saja yang berubah, tapi juga orang yang membuat pernyataan tersebut. Masalahnya, apakah perputaran atau pergeseran atau perubahan itu mengarah semakin mendekati satu sama lain, atau sebaliknya menjauhi. Tentu saja pergerakan tersebut tidak lah steril, ada pengaruh gaya-gaya dan energi dari luar yang membuat perubahan atau pergeseran kita bukanlah sepenuhnya kemauan kita, tapi merupakan resultanta dari berbagai gaya yang ada tersebut.

Kembali pada titik awal perenunganku. Sering aku bertanya, mungkinkah orang berada di dua tempat sekaligus? berada di dua hati sekaligus?

Well, aku pernah berada di 2 tempat sekaligus pada saat yang bersamaan, yaitu ketika aku ke Greenwich Inggris. Tepat di garis bujur nol derajat yang membagi bumi dengan garis imajiner menjadi 2 belahan, kaki kiriku berada di belahan bumi barat, dan kaki kananku berada di belahan bumi timur. Ya, aku berada di dua tempat sekaligus! (lihat foto di atas). Tapi kalau kita lihat secara fakta, aku hanya berada di satu tempat, yaitu di Greenwich. Aku berada di dua tempat sekaligus itu relatif terhadap garis bujur nol derajat.

Jadi, dasar itu lah yang membuatkau mengambil kesimpulan bahwa tidak mungkin seseorang berada di tempat, dua hati sekaligus. Sebenar-benarnya dia hanya berada di satu tempat. Sejujur-jujurnya, hatinya hanya ada di satu tempat. Ketika terlihat ada di dua tempat, atau lebih, maka itu sebenarnya relatif. Relatif terhadap apa, hanya yang bersangkutan yang bisa menjawabnya.

Ada pula yang terlihat di banyak tempat, tapi sebenarnya dia tidak berada dimana-mana. Ini dikarenakan dia tidak tau apa yang dia mau. Seperti ada orang bijak yang berkata,”How can you be at two places at the same time, when you are not anywhere at all.”

madre

20110918-045714.jpg

Aku kembali membaca karya Dewi Lestari aka Dee. Terus terang karyanya yang terakhir, Perahu Kertas, tidak terlalu merangsang minatku untuk menyelesaikan membacanya. Entah kenapa alasannya. Mungkin aku perlu membuka kembali Perahu Kertas, siapa tahu kali ini tumbuh minatku untuk tak melepaskannya sampai halaman terakhir.

Nah, yang ini Madre judulnya. Buku ini adalah kumpulan beberapa cerita pendek yang ditulis Dee dalam kurun beberapa tahun ke belakang. Untuk cerpen Madre, terlihat Dee melakukan riset yang cukup cermat tentang seluk beluk dunia pembuatan roti. Sungguh cerita yang membuka mata dan menambah wawasan, dan membuatku mengapresiasi lebih lanjut dunia yang selama ini tak kukenal namun hanya kunikmati hasil akhirnya saja.

Cerpen-cerpen selebihnya masih berputar di tema klasik, ya apalagi kalau bukan cinta. Dan entah kenapa, cerita cinta racikan Dee selalu nancap di hatiku. Kisah-kisah cinta Dee dalam buku ini terkesan sebagi cerita cinta yang lebih dewasa, hati-hati, mengantisipasi.

Disana ada refleksi pengalaman mengalami kegagalan, tidak ingin terjerumus pada satu “kebodohan” atau pun kisah cinta yang sengaja tidak dituntaskan — digantung, tak dijelaskan bagaimana akhirnya.

Juga ada kisah dimana dua orang yang saling mencinta terpaksa harus berpisah, mengenakan topeng dan berpura-pura, menahan perasaannya untuk satu tujuan yang lebih besar. Ada kesakitan disana, ada kekecewaan, dan ada kemarahan. Namun mungkin itu lah yang dibutuhkan agar kita bisa melangkah maju, tidak terjebak pada masa lalu dan berhenti berandai-andai.

Tapi ada satu benang merah dalam cerita-cerita Dee kali ini menurutku: keberanian. Ya, keberanian! Keberanian untuk meninggalkan masa lalu. Keberanian untuk menghadapi hidup di saat ini. Keberanian untuk menghadapi ketidakpastian masa yang akan datang. Keberanian untuk berhenti bertanya. Keberanian untuk berhenti berandai-andai. Keberanian membiarkan hidup dan cinta menjadi dirinya apa adanya.