madre

20110918-045714.jpg

Aku kembali membaca karya Dewi Lestari aka Dee. Terus terang karyanya yang terakhir, Perahu Kertas, tidak terlalu merangsang minatku untuk menyelesaikan membacanya. Entah kenapa alasannya. Mungkin aku perlu membuka kembali Perahu Kertas, siapa tahu kali ini tumbuh minatku untuk tak melepaskannya sampai halaman terakhir.

Nah, yang ini Madre judulnya. Buku ini adalah kumpulan beberapa cerita pendek yang ditulis Dee dalam kurun beberapa tahun ke belakang. Untuk cerpen Madre, terlihat Dee melakukan riset yang cukup cermat tentang seluk beluk dunia pembuatan roti. Sungguh cerita yang membuka mata dan menambah wawasan, dan membuatku mengapresiasi lebih lanjut dunia yang selama ini tak kukenal namun hanya kunikmati hasil akhirnya saja.

Cerpen-cerpen selebihnya masih berputar di tema klasik, ya apalagi kalau bukan cinta. Dan entah kenapa, cerita cinta racikan Dee selalu nancap di hatiku. Kisah-kisah cinta Dee dalam buku ini terkesan sebagi cerita cinta yang lebih dewasa, hati-hati, mengantisipasi.

Disana ada refleksi pengalaman mengalami kegagalan, tidak ingin terjerumus pada satu “kebodohan” atau pun kisah cinta yang sengaja tidak dituntaskan — digantung, tak dijelaskan bagaimana akhirnya.

Juga ada kisah dimana dua orang yang saling mencinta terpaksa harus berpisah, mengenakan topeng dan berpura-pura, menahan perasaannya untuk satu tujuan yang lebih besar. Ada kesakitan disana, ada kekecewaan, dan ada kemarahan. Namun mungkin itu lah yang dibutuhkan agar kita bisa melangkah maju, tidak terjebak pada masa lalu dan berhenti berandai-andai.

Tapi ada satu benang merah dalam cerita-cerita Dee kali ini menurutku: keberanian. Ya, keberanian! Keberanian untuk meninggalkan masa lalu. Keberanian untuk menghadapi hidup di saat ini. Keberanian untuk menghadapi ketidakpastian masa yang akan datang. Keberanian untuk berhenti bertanya. Keberanian untuk berhenti berandai-andai. Keberanian membiarkan hidup dan cinta menjadi dirinya apa adanya.

ONROP! musikal

ONROP! musikal adalah pertunjukan drama musikal yang ditulis dan disutradari oleh Joko Anwar, seorang sutradara muda berbakat yang telah menghasilkan beberapa film Indonesia yang dianggap cukup berkualitas. ONROP! musikal merupakan satu kritik sosial yang dituangkan dalam bentuk parodi dan musik, sehingga walaupun tema yang diangkat cukup serius namun dengan pengemasan yang ringan dan dekat dengan keseharian maka pesan yang dibawa dapat dengan mudah ditangkap oleh penonton.

ONROP! –yang jika dibalik arah membacanya menjadi PORNO– bercerita tentang kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh dengan peraturan moral yang ketat sehingga menenggelamkan arti kebijakan dan cinta. Juga digambarkan bagaimana hipokrisi atau kemunafikan merupakan hal yang tak terpisahkan dari ketatnya peraturan moral tersebut, seperti suap-menyuap dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh para “Polisi Moral.”

ONROP! mengangkat dengan tepat bagaimana cara pandang moral yang berlaku saat ini di Indonesia, yang dipersempit hanya dalam hal-hal yang dikategorikan sebagai porno, telah menempatkan perempuan sebagai pihak yang bersalah dan dianggap memicu penurunan moral masyarakat. Perempuan disalahkan karena memakai rok yang tidak sampai menyapu lantai dan karena berada di luar rumah di malam hari. Peraturan moral ini pun melarang orang untuk mengatakan hal-hal yang dianggap tabu atau ‘porno’, seperti ‘telanjang’, ‘penis’ dan lain-lain, sehingga orang harus mengganti kata-kata ‘porno’ tersebut dengan ‘ho-oh’.

Penyajian drama musikal a la pertunjukan Broadway yang dibawakan oleh ONROP! ini dengan kerennya menunjukkan bahwa Indonesia tidak kekurangan orang-orang berbakat di bidang seni. Sepanjang kurang lebih dua jam penonton disajikan penampilan yang mempesona dan penuh stamina dari para artis yang menari, menyanyi dan sekaligus berakting! Luar biasa! Eko Supriyanto –yang pernah menjadi koreografer dan penari untuk Madonna– membuktikan kepiawaiannya kepada penonton dengan tarian-tarian yang dinamis dan nggak membosankan.

Rasa salut saya yang luar biasa kepada para pendukung ONROP! karena jelas pertunjukan semacam ini memerlukan latihan dan kekompakan antara tim yang tampil di atas panggung, di depan panggung (para pemusik dan paduan suara), dengan tim yang bekerja di belakang pangung: para penata lampu, perancang busana, teknisi pangung, penata suara, dan lain-lain, yang menurut saya nggak kalah dengan pekerja seni di Broadway sana (kebetulan saya pernah menonton satu pertunjukan Broadway, jadi lumayan lah punya referensi).

Tak kalah pentingnya para pemusik yang sudah memanjakan telinga penonton dengan permainan yang oke. Mereka ini berasal dari Nusantara Symphony Orchestra dan Rhythm Section. Saya terlebih suka dengan tema musiknya yang nge-jazz-swing, membuat drama musikal ini jadi bernuansa anak muda banget! Bravo buat Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro. Paduan suaranya pun nggak kalah oke!

Ah, rasanya nggak habis-habis saya ingin memuji ONROP! musikal. Bukan saja karena ONROP! sudah berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal dengan parodinya yang nggak murahan, namun yang lebih penting lagi ONROP! menyegarkan kembali seni pertunjukan Indonesia sekaligus membuktikan bahwa Indonesia bukan saja kaya raya alamnya tapi juga bakat masyarakatnya.

invictus

Walaupun kata “invictus” tidak bisa aku cari artinya dalam Bahasa Indonesia, namun setelah meng-google kata tersebut aku dapatkan bahwa kata itu adalah judul puisi yang digubah oleh Willian Ernest Henley. Judul puisi ini kemudian diambil menjadi judul film yang ingin kubahas dengan sepenuh hati berikut ini.

Film Invictus bercerita tentang Afrika Selatan di masa-masa awal pembebasannya dari politik rasis Apartheid. Nelson Mandela yang terpilih sebagai presiden memiliki tugas berat untuk menyatukan 43 juta rakyat Afrika Selatan, membebaskan mereka dari prejudice, dari ketakutan, dari dendam serta perasaan saling curiga dan saling membenci.

Nelson Mandela mengajarkan bagaimana memafkan dengan sepenuh hati — tidak dengan omongan dan peraturan, tetapi dengan tindakan dan tingkah lakunya. Mandela adalah seorang pemimpin yang melandaskan kepemimpinannya dengan memberi contoh dan keteladanan — leading by example. Mandela memberi contoh bagaimana memaafkan dan mencintai orang yang semula musuh. Forgiveness is a powerful weapon, begitu katanya.

Dia menunjukkan bagaimana dia menginspirasi bahkan orang-orang yang semula tidak mengakui keberadaannya, keberadaan negara Afrika Selatan dan warganya kebanyakan, sehingga mereka secara sukarela mengikutinya.

Uniknya Mandela memunculkan rasa persatuan warganya melalui sport. Dan sport-nya pun bukanlah sport yang dimainkan oleh warga mayoritas, namun dimainkan oleh warga minoritas kulit putih yang tidak menang dalam sistem yang demokratik, yaitu rugby. Tidak hanya akhirnya Mandela memudarkan sekat rasial diantara warganya, warga kulit putih pun mulai mengapresiasi presiden kulit hitam mereka. Bahkan tim rugby elit ini pun bersedia menyanyikan lagu kebangsaan Afrika Selatan yang semula tidak mereka akui.

Mandela menyebut negerinya the Rainbow Nation — bangsa Pelangi. Melalui film ini aku bisa merasakan beban yang sama yang harus dipikul oleh Soekarno di awal-awal berdirinya Negara Republik Indonesia ini, yang bhinneka, yang warna-warni, yang bak pelangi. Dan aku tidak rela bila keindahan pelangi itu harus diganti secara paksa oleh satu warna hitam, yang kelam, dan menakutkan. Na’udzubillahi min dzalik..

Benar-benar film yang sangat menginspirasi! Seharusnya film ini ditonton mulai dari SBY sampai lurah. Film ini pun sangat kontekstual dengan kondisi Indonesia saat ini, yang mulai terpecah belah akibat sentimen SARA dan munculnya kelompok-kelompok garis keras yang berusaha melawan sunatullah — keberagaman.

Puisi Invictus ini selalu dibaca Mandela di dalam penjara, dimana dia dijebloskan oleh pemerintah apartheid dan harus mendekam disana selama 30 tahun. Puisi ini membuatnya ‘tetap berdiri ketika apa yang dia inginkan hanyalah tiarap’. Puisi ini menginspirasinya dan memberinya kekuatan menjalani hari-hari yang berat dan membosankan di dalam penjara.

i n v i c t u s

OUT of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbow’d.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate;
I am the captain of my soul.

sang pencerah

Terkena imbas hip-nya film Sang Pencerah — film terbaru besutan sutradara Hanung Bramantyo dan diperani oleh Lukman Sardi dan Slamet Rahardjo, diantaranya. Film ini bercerita tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri salah satu organisasi muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, di awal-awal pendiriannya.

Sesuai dengan judulnya, Sang Pencerah, KH Ahmad Dahlan membawa perubahan yang cukup radikal di kalangan penganut Islam di Jawa dalam hal memperbarui cara pandang dan perubahan praktik-praktik ritual keagamaan. Beliau mendobrak praktik Islam kejawen yang masih diselimuti unsur mistik dan mengarah pada kemusyrikan seperti memberi sesajen, dan membongkar praktik pengkultusan imam Mesjid Besar Kauman sebagai sumber utama kebenaran.

Dalam mengajarkan agama Islam beliau memadukan unsur logika dan hati, otak kiri dan otak kanan, dan lebih berperan sebagai fasilitator dibandingkan guru yang menjadi sumber pengetahuan.Beliau juga mengajarkan bahwa praktik jauh lebih penting daripada hanya membaca ayat-ayat Quran yang tanpa implementasi. Bahwa besar atau kecilnya suara kita dalam mengaji tidak ada pengaruhnya pada Allah, karena Allah tetap dapat mendengar apa yang disuarakan oleh hati.

Tentu saja setiap perubahan pasti akan menimbulkan riak, bahkan gelombang. Demikian pula upaya pencerahan yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan mendapat tentangan yang tidak kalah kerasnya dari kaum staus quo yang khawatir bahwa perubahan ini akan menimbulkan gejolak yang negatif dalam masyarakat. Alih-alih dendam dan berusaha membalas dendam pada pihak-pihak yang memusuhi dan memfitnahnya, KH Ahmad Dahlan tetap fokus pada tujuan semula, dan secara sistematis melakukan berbagai langkah dan pengorganisasian hingga cita-citanya dapat terwujud.

Ah, banyak benar pelajaran berharga yang disampaikan dalam film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini. Belum lagi kenikmatan yang diberikan pada mata ini ketika melihat kain lurik, batik tulis, surjan, blangkon dan kebaya yang sangat jarang kita lihat tampil dalam film-film nasional kita.

Two thumbs up!!

Diputarnya film ini masih dalam suasana Idul Fitri dan di tengah karut marutnya kehidupan sosial keagamaan di Indonesia sangatlah tepat. Dan bila kelompok masyarakat yang peduli untuk mengambil alih kembali prinsip Islam sebagai ajaran yang penuh damai, kasih sayang, kesetaraan, keadilan dan mengakui keberagaman, maka inilah saatnya.

Masyarakat muslim Indonesia seharusnya menyimak kembali pelajaran yang telah dicontohkan oleh KH. Ahmad Dahlan dan tidak membiarkan kesucian agama dan misi damainya dibajak oleh kepentingan-kepentingan yang membenarkan teror dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama.

destination: phi-phi islands and around

No matter what, vacation is still something luxurious for most of us Indonesians, even to just visit areas inside Indonesia, which are by the way so tremendous and strikingly beautiful you will find it difficult to find top ten places you want to visit before you die (find my pick here).

So thank God last week I had a chance to have a semi-backpacking trip to one of the famous holiday destination in Southeast Asia, Phi-phi island and its surrounding. I and my friends managed to have a cost effective and efficient three-day tour around the area and enjoy most of the views you must see if you go to this area.

Traveling in Thailand for inexperienced foreigners like me, unlike in Indonesia, is quite easy. We took a 12-hour bus ride to go from Bangkok to Krabi, the nearest city to Phi-phi. Bus terminal in Bangkok is good, with no middle men following you and offering tickets, and quite comfortable, almost like Budget Airlines Terminal of Changi Airport in Singapore. We easily bought the tickets we need after getting sufficient information on options from the staff there as well.

So, in short, we survived the 12-hour ride (despite a bit back pain and uncomfortable sleep), and arrived in Krabi sound and safe.

avatar

Setelah hari Natal yang lalu, akhirnya bisa juga aku menonton film yang menghebohkan, Avatar. Film yang diputar di bioskop-bioskop Jakarta tepat sebelum liburan akhir tahun dalam dua versi — versi biasa dan tiga dimensi/3D, berhasil menyedot penonton hingga memerlukan usaha yang cukup keras untuk bisa mendapatkan tiket dengan posisi tempat duduk yang nyaman.

Film yang disutradarai oleh James Cameron ini masih mengusung tema yang biasa saja, yaitu aksi heroik dengan rasa Hollywood, hanya dikemas dalam format animasi yang keren.

Film ini menampilkan realitas yang telah terjadi berabad-abad sejak jaman kolonial sampai saat ini, yaitu bagaimana kepentingan korporasi berada di belakang semua upaya pencarian dunia baru yang pada akhirnya melahirkan kolonialisme oleh satu bangsa atas bangsa lainnya. Film ini juga menunjukkan bagaimana kedekatan industri ekstraktif, semacam pertambangan, dengan militer –seperti juga ditunjukkan oleh film Blood Diamond.

Pun ditunjukkan bagaimana proses penaklukkan selalu akan dilakukan oleh kepentingan kolonialis ini, baik secara halus (dengan menyamar dan melakukan asimilasi dengan penduduk lokal, mempelajari adat-istiadat dan budayanya, dengan harapan bisa membujuk secara halus warga lokal untuk meinggalkan tanahnya) maupun dengan cara-cara yang represif (mengancam, menyerang, mengusir paksa, dan menghancurkan kalau perlu).

Hanya satu aspek yang menggangguku dalam film ini, seperti halnya film-film heroik buatan Hollywood lainnya, kembali ditunjukkan dominasi kulit putih atas kulit berwarna, dimana ras unggulan ini lah yang justru kemudian menjadi pemimpin dan penyelamat bangsa kulit berwarna, yang notabene semula ingin ditaklukkannya.

Terlepas dari penglihatan saya atas film itu, secara umum, sebagai media hiburan film ini cukup menghibur –walaupun keseruannya tidak terlalu istimewa karena di beberapa bagian aku sempat mengantuk berat. Yah, tiga bintang sudah lebih dari cukup lah…