god is great

Tahun-tahun terakhir ini saya merasakan blessings dari Yang Maha Kuasa dan kemurahhatianNya yang sangat luar biasa. Jadi ingat kalau tidak salah di akhir tahun 2016 saya membuat wish list apa-apa saja yang ingin saya lakukan dan saya capai. Dan seperti biasa, saya mengupayakannya secara tidak istimewa. Dan kemudian di tahun ini beberapa wish list saya terjadi begitu saja.

Tiba-tiba di awal Januari, ayah-ibu saya menyatakan kepingin umrah. Mereka kangen Mekkah dan Madinah, setelah berhaji 30 tahun yang lalu. Dan karena mereka sudah sepuh, mereka tentu saja perlu ditemani. Dan siapa lagi yang available setiap saat bisa diminta untuk nemanin selain anaknya yang masih belum punya tanggungan dan nggak repot harus mengurus keluarganya? Iya, saya. Maka jadilah di akhir Februari itu kami pergi umrah bertiga. Ini wish list saya yang utama.

Banyak pengalaman rohani dan jasmani yang saya rasakan selama pergi ibadah tersebut. Mungkin akan saya ulas lain kesempatan. Namun satu hal yang paling saya rasakan pasca umrah tersebut adalah bahwa saya merasa fulfilled. Content. Saya merasa kalau pun Yang Maha Kuasa memanggil saya satu hari setelah umrah, saya akan dengan senang hati memenuhinya.

Saya merasa cukup. Saya merasa tak ada lagi yang harus saya kejar di dunia. Saya sudah merasakan semua hal-hal esensial yang bisa ditawarkan kehidupan di bumi. I went places. Lima benua sudah saya injak semua. Dan melihat ka’bah dengan mata kepala sendiri –ditambah memegang, mencium, dan sujud hanya sekitar dua meter darinya, sudah lebih dari apa yang bisa saya harapkan. Tak ada lagi yang bisa bikin saya penasaran. Kalau pun ada keinginan-keinginan kecil –mendaki Everest, naik kereta Trans Siberia, atau free diving, itu semua bisa dikesampingkan.

I have felt all feelings that are possibly felt by human beings. Saya sudah merasakan yang namanya sedih, suka, gembira, jatuh cinta, dicintai, membenci, dibenci, rindu, malu, dipermalukan, dendam, deg-degan, takut, khawatir, memimpin, dipimpin, bangga, terhina, dihina, menghina, kasihan, marah, tertekan, kecewa, dan lain-lain.

Saya sudah mencapai apa yang mungkin dicapai manusia normal. Saya bisa sekolah di sekolah terbaik dengan hasil yang cukup baik. Saya bekerja di tempat yang bisa menyalurkan idealisme saya. I have created and initiated many things. Saya tidak berusaha merendah dengan itu semua, dan nggak mau sombong juga. Itu full campur tangan Allah saya. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Wish list saya yang lain adalah ikut lomba marathon. Well, memang saya belum sampai ikut full marathon, Tapi half-marathon —berlari 21,1 kilometer, jadi lah. Itu pun tak sekuat tenaga saya upayakan. Memang empat bulan sebelumnya saya berlatih dengan cukup sistematis dengan seorang pelatih profesional. Tapi menjelang lomba tersebut, sebenarnya saya sudah off berlatih karena jadwal saya yang semakin padat dan tidak mampu mengejar jadwal yang sudah ditetapkan pelatih.

Seperti pengalaman waktu naik gunung berapi tertinggi di Indonesia pertama kalinya, ikut half-marathon ini pun nekat-nekatan. Patokan saya, saya sudah pernah berlari 12 kilometer at one shot. Making it to be 21,1 km shouldn’t be a big problem. Itu pikir saya. So, it is a well calculated risk I was taking. Maka jadilah. Bukan lalu saya ikut HM, dan berhasil masuk finish hanya beberapa menit sebelum cut off time (batas waktubterkahir yg dibolehkan). Sekali lagi, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Nah, blessing tak terduga lainnya, yang baru saja kemarin saya alami, membuat saya mesem-mesem sendiri, geleng-geleng kepala sendiri. Kali ini kaitannya dengan jatcin yang saya rasakan akhir-akhir ini (cerita jatcinnya ada di sini). Setelah terjadinya sedikit interaksi, yang bersangkutan tiba-tiba mengontak saya! (Tuuh, menuliskannya aja bikin saya cengar cengir sendiri). Nggak ada yang spesial sebenarnya, cuma casual conversation. Saya tahu sedikit tentang dia, dan dia tahu sedikit tentang saya. Berkaca dari pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, saya akan lebih berhati-hati dan nggak mau GR juga. Apalagi yang bersangkutan ini banyak fans-nya. Apa lah saya ini, remah-remah rengginang. 😜😜😜

Dan seperti saya bilang di atas, saya udah pernah ngerasain perasaan seperti ini. Kalau pun awalan tadi cuma sampai di situ, ya udah gak apa-apa. Nggak penting. No big deal. Yang namanya jatcin ya begitu-begitu saja dari dulu. It’s just adding some excitements in life. And it came at the right time, when I started to feel a bit bored with my routines.

Yah begitulah saya, yang nggak ada apa-apanya tanpa campur tangan Yang Maha Berkehendak. Berbeda dengan orang yang meragukan keberadaan Tuhan, saya yakin sekali dengan keberadaanNya. Dia tahu apa yang ada di hati saya, apa yang ada di sel-sel otak saya –yang saya sendiri pun secara sadar tidak ketahui. What I know, I am just turning the wheel a bit. He fully decides where it will stop.

half-marathon pertama

Seperti yang sudah sering saya sampaikan, salah satu pertanyaan reflektif saya adalah, apa hal terakhir yang saya lakukan untuk pertama kalinya? Merasakan atau melakukan semua hal di dunia ini –jika mampu, adalah keinginan saya. Sehingga sering kali saya bertanya-tanya pada diri sendiri,”Mau bikin apa lagi gue ya?”

Tahun ini memang saya berencana untuk melakukan marathon atau half-marathon (HM) saya yang pertama. Ini dipicu dengan keikutsertaan saya dalam relay ultra-marathon Jakarta-Bandung yang diselenggarakan oleh ITB (sekolah saya dulu) pada bulan Oktober tahun lalu. Jarak Jakarta-Bandung 170 km dibagi menjadi 16 etape, dan dijalani oleh satu kelompok lari. Angkatan kuliah saya mengirimkan dua tim, sehingga dalam setiap etapenya kami lari berbarengan.

Kegiatan ini menjadikan kami teman seangkatan yang berasal dari berbagai jurusan yang berbeda ini akrab. Saya dan beberapa teman bahkan ikut latihan lari yang dilatih oleh seorang pelatih khusus. Gunanya, untuk memperbaiki teknik berlari dan berlatih kekuatan otot-otot tubuh. Selain latihan dasar ini, saya sendiri memang ingin agar suatu saat saya bisa melakukan keinginan saya di atas — lari marathon, atau half marathon.

Dan Alhamdulillah, hari ini, 15 Juli 2018, saya mengikuti lomba half-marathon yang diadakan oleh Universitas Indonesia (UI) bersama dengan Bank BNI. Dan Alhamdulillah, saya mampu berlari sejauh 21,1 kilometer tanpa cedera, walaupun dengan catatan waktu yang sangat tipis di bawah batas waktu terlama! Hahahhaa..

Saya senang sekali dengan hasil ini. Walaupun persiapannya tidak terlalu lama, dipotong bulan puasa dan perjalanan-perjalanan tugas saya yang tidak memungkinkan saya berlatih, saya berhasil melewati garis finih dan dapat medali (tidak didiskualifikasi).

Dan malam ini saya istirahat sambil urut2 merawat telapak kaki, betis dan lutut yang kebas, dan pegal. Semoga satu hari nanti saya bisa menyelesaikan marathon –full 42,2 kilometer. Amin.

my running diary: first 5k in 30 minutes

  
As an on/off runner I have nothing to be proud of. Since i start running more regularly in 2013 I always missed my target on the time planned. for example, I missed the target to reach my first 10k on time, although I finally reached it long time after. Thanks to my running buddies who accompany me in Senayan at that time. 

One of my long-pending targets was to reach the 5k within 30 minutes. It means I have to be able to run as fast as 6 minutes per kilometer (or runners usually say it as “pace 6”). Concerning my average pace had never moved from 8 or 7 and my on/off running habit, reaching the 5/30 seemed quite impossible for me –hence I forgot it.

Because of Ramadhan, I stopped doing the run this year during the fasting month–although last year the fasting did not stop me. But after Idul Fitri, I felt my muscles and body craved for some exercises. It is true what people say that exercises make you addicted. So, last Sunday, together with some friends from college time I did my first run after Id. I could only reached 2k that morning. Well, everything needs adjustments after hibernating for some time, including our body.

Like before, after running I felt refreshed, so I made promise to myself that I will be more committed this time. So last night, again I did my evening run. A friend from the office accompanied me. I infected him to start running, by the way. Hehehee.

So we run. He stopped after 10 rounds of the 400 meter track. I continued. I have said to myself that I won’t stop until 5k –it means at least 13 rounds. After finishing the run, I checked my running mobileapplication, and there it showed that I did 5/30!! And the last night’s run also set a new record as my fastest pace ever!

Pheww! I am so happy! 😄😄😄

rinjani day 4-5: segara anak & senaru

Hari keempat perjalananku mengunjungi Anjani. Ketika bangun matahari sudah tinggi. Nyenyak sekali aku tidur semalam. Itulah tidur ternyenyakku selama berjalan-jalan di sini, karena hari sebelumnya memang hari super lelah buatku –bisa dikatakan aku berjalan secara total kurang lebih 15 jam, mendaki, merangkak, berseluncur, menuruni tebing, dan sempat pula manjat-manjat karena ada jalur yang putus.

Ketika keluar tenda, sebagian besar anggota grup sudah pergi memancing. Sebagian lagi siap-siap mandi di spa alami Aik Kalaq. Aik Kalaq adalah sumber mata air panas yang mengalir dari tubuh Anjani dan membentuk aliran sungai. Karena letaknya bertingkat-tingkat, kita bisa mendapatkan suhu air berjenjang pula. Yang terpanas –terletak di lokasi yang tertinggi, dijuluki level-1. Aku sendiri hanya berani menjajal level-3.

Untuk menuju ke sana dari camp di pinggir danau, kita perlu menuruni bukit. Yah seperti kukatakan, menikmati Rinjani tidak seperti berjalan-jalan di taman kota. Kita selalu perlu usaha. Semula, Wiwin sang ketua rombongan, menawarkan kami untuk mandi air panas di Gua Susu. Namun dia bilang lokasinya cukup jauh dan harus berjalan beberapa kilometer. Langsung aku tolak usulan itu dengan cepatnya. Hahhaa.. Next time, kalau aku datang ke sini lagi, aku akan eksplorasi lebih lanjut sekitar danau, karena ternyata masih banyak tempat-tempat menarik yang layak dikunjungi.

IMG_3997.JPG

So pergilah kami ke Aik Kalaq. Untuk menikmati Aik Kalaq ini kita perlu melakukan proses aklimatisasi tubuh. Pertama-tama masukkan kaki, lalu perlahan-lahan seluruh tubuh kita rendam di mata air mengalir yang membentuk kolam-kolam alami. Enak rasanya berendam air panas ini. Pegal-pegal serasa diberi pijatan alami. Apalagi di beberapa tempat, mata air keluar dari dasar kolam membentuk gelembung-gelembung udara yang bisa memijat-mijat kaki kita. Selain itu, batu-batuan di kolam-kolam ini pun mengandung lapisan belerang kekuningan. Kita pun bisa lakukan lulur sulfur alami kalau mau. Banyak penduduk lokal dari berbagai wilayah di Lombok khusus datang ke mari untuk berobat, maupun memohon sesuatu. Kata temanku, niat untuk berobat atau memohon sesuatu tersebut harus sudah diucapkan sejak berangkat dari rumah.

IMG_3995.JPG

IMG_3996-0.JPG

Setelah puas berendam, hari sudah siang. Kami kembali ke tenda dan disambut dengan hidangan brunch. Yumm.. Hari itu kami, aku khususnya, bermalas-malasan saja. Ya kami memang tinggal dua malam di sana. Pendaki lainnya sudah beres-beres dan pulang sejak pagi. So, suasana malam tadi yang bagai pasar, siang ini menjadi cukup lengang. Baru aku sadar bahwa semalam itu malam minggu. Tak heran banyak pendaki yang datang. Hari ini tak terlalu banyak pendaki yang turun dari Pelawangan Sembalun, sehingga suasana di tepi danau relatif lebih tenang.

Sekitar sore hari, kawan-kawan yang memancing sudah kembali. Jauh-jauh juga mereka pergi mancing. Maka malam itu menu makan malam kami adalah ikan, ikan, dan ikan –dibikin sup, digoreng dan dibakar.

Keesokan harinya, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Sedih juga rasanya meninggalkan tempat yang bagai surga ini.

IMG_3998.JPG

IMG_3999.JPG

Kami akan pulang lewat jalur Senaru. Syukurlaah.. walaupun beberapa teman bilang bahwa tanjakannya lebih gila, kubilang biarlah, yang penting aku nggak perlu merasakan jalur Turunan Penyiksaan kembali.

IMG_4002.JPG

IMG_4003.JPG

Oh iya, aku lupa bilang bahwa naik ataupun turun Rinjani, tetap aja kita harus mendaki. Hahhahaa.. Yup, dari Danau Segara Anak kita harus mendaki bukit hingga sampai di puncaknya, yang disebut Pelawangan Senaru. Danau Segara Anak ini memang danau kawah, sehingga menuju dan keluar dari danau ini kita harus melalui bukit-bukit.

IMG_4004-0.JPG

IMG_4005-0.JPG

Dan ternyata, temanku memang benar adanya. Walaupun bukit Senaru ini lebih rendah dari bukit Sembalun, tapi jalurnya lebih terjal, dan melipirnya tipiiiiss sekali. Di pertengahan jalur, kami sempat berhenti di lokasi yang disebut Batu Ceper. Foto-foto sejenak di sana, dan setelah berjalan kembali barulah aku diberi tahu bahwa Batu Ceper itu adalah lokasi pemakaman orang-orang yang meninggal di Rinjani. Hmmm.. oke deh…

IMG_4035.JPG

IMG_4033.JPG

Setelah 3 jam mendaki dan memanjat, sekitar jam 12:00 siang kami sampai di Pelawangan Senaru. Yeeiiyyy!!! Pemandangan dari sini pernah diabadikan di salah satu mata uang kertas lama Indonesia. Selama proses pendakian pulang ini, aku dikawal oleh Wawan dan Opik. Mereka berdua baik sekali membantu aku melewati jalur-jalur sulit yang memerlukan panjat memanjat.

IMG_4037.JPG

IMG_4038.JPG

IMG_4034.JPG

Turun dari Pelawangan Senaru adalah jalur yang benar-benar menguji mentalku. Yah mungkin karena kondisiku yang sudah lelah, kaki yang mulai sakit, panas yang sangat terik dan jalur turun licin berdebu yang tak ada habisnya ini benar-benar membuat pertahananku jebol. Aku menangis (untung nggak ada yang lihat). Kakiku semakin sakit karena saat menurun, harus menahan agar nggak meluncur tanpa kendali. Ujung-ujung jariku sampai mentok ke bagian depan sepatu. Berkali-kali. Nyeri sekali rasanya. Dan nggak terkatakan lagi rasanya lutut dan betis. Untung ada Wawan yang memegang tanganku dan berjalan di depan untuk menahanku juga. Belum lagi persediaan air yang menipis, dan sumber air baru akan ada di dalam hutan Senaru –setelah turunan penderitaan ini.

Saat akhirnya jalur savana ini berakhir dan kami tiba di batas hutan Senaru, kuputuskan melepas sepatu dan mulai berjalan dengan telanjang kaki, alias nyeker. Aku sudah tak tahan lagi. Lagian, di hutan itu jalurnya adalah tanah humus dan bukan batubpasir seperti jalur sebelumnya. Bagiku, jalur tanah lembab itu lebih mudah kujalani.

Memasuki hutan, aku merasa lebih tenang. Udara lebih sejuk, nggak terpapar matahari langsung, dan banyak batang-batang pohon sebagai pegangan. Saat istirahat di Pos-2, kawan-kawan mulai mengambil air dan memenuhi botol-botol minum kami. Aku juga ganti memakai sandal jepit. Karena khawatir kemalaman di dalam hutan, grup kami pun makan siang seadanya dengan nasi goreng sisa sarapan yang memang sengaja dibuat lebih banyak. Nggak ada acara masak-memasak seperti biasanya. Makan siang terlambat dan super kilat ini tak menggugah selera makanku. Aku cuma mau minum, dan minum, dan minum.

IMG_4039.JPG

Untuk mengantisipasi gelap, kami pun mengeluarkan head lamp dan senter masing-masing. Aku masih berjalan dengan Wawan, yang juga memgalami sakit lutut setelah menahanku beberapa lama di jalur turunan di atas tadi. Hiks, poor him.

Singkat kata, menjelang maghrib sampailah kami di gerbang Pintu Rimba Senaru, setelah melewati 3 pos dan 1 pos ekstra. Yeiiiyyy!!! Senangnya hatikuuuu.. Aku merasa seperti orang yang baru lulus ujian. Dan gerbang ini seperti upacara wisudaku.

IMG_4040.JPG

Memang, mendaki Rinjani ini memberi pengalaman yang sangat lengkap. Fisik, mental, dan pegalnya pun merata mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki –mendaki, memanjat, merangkak, memanjat, meluncur, bergelantungan. Pemandangannya pun lengkap: tanjakan, turunan, puncak gunung, lembah, danau, savana, hingga hutan hujan tropis dataran tinggi, sedang, hingga rendah. Di bawah ini adalah aku dan Wawan, teman seperjalanan yang dengan baik hati menjagaku dalam perjalanan pulang.

IMG_4041.JPG

Akhirnya, hanya ucapan Alhamdulillah sajalah yang bisa kuucapkan sebanyak-banyaknya. Semoga aku diberi kesempatan lagi mengunjungi Anjani. Aamiin.

rinjani day-3: muncak

Agustus adalah bulan favoritku, karena di bulan inilah aku dilahirkan. Dan istimewa banget bulan Agustus kali ini, karena diawali dengan mendaki salah satu gunung terindah di Indonesia. Malam itu aku tidur tidak terlalu nyenyak, karena udara yang dingin, dan mungkin juga karena hati yang excited menjelang waktu-waktu muncak. Yup, jam 02:00 nanti grupku akan memulai perjalanan ke puncak Anjani. Aku selalu menolak istilah-istilah yang biasa dipakai para pendaki yang menurutku melambangkan kesombongan dan dominasi manusia atas alam, misalnya “menaklukkan gunung”, atau “summit attack”. Entahlah, di sini, di tengah alam yang semesta ini, aku merasa sangaaaaat kecil. Apa pun bisa terjadi padaku. Makanya kalau ke gunung atau ke alam bebas seperti ini aku sangat menjaga omongan, bahkan pikiran. Aku ingin gunung ini ‘mengayomi’-ku dan menjagaku sebagai ‘tamu’-nya. Tentu saja sebagai tamu, aku nggak boleh kurang ajar, kan?

Malam itu langit indah sekali. Alhamdulillaah selama perjalanan cuaca ramah, cerah dan sumringah. Langit malam ditaburi bintang yang banyaaak sekali. Sayang aku nggak bisa mengabadikannya karena gak punya kamera dan kemampuan yang memadai untuk mengabadikan pemandangan itu. Makanya, sepuas-puasnya kupandangi langit malam itu dan kusimpan potretnya dalam kepalaku.

Menjelang jam 02:00 dibluar tendaku suasana sudah cukup ramai dengan suara-suara. Akupun siap-siap dengan pakaian lengkapku seperti biasa kalau muncak: jaket polar di atas kaos, jaket ringan windbreaker, dan raincoat. Tak lupa sarung tangan, penutup kepala dan kacamata hitam untuk di puncak nanti hahaa. Oh iya, headlamp tentunya juga!

Setelah briefing singkat dan berdoa, mulailah kami berjalan satu persatu. Memulai pendakian, kami harus antri. Tidak seperti Gunung Kerinci yang punggungan menuju puncaknya cukup terbuka, di sini jalurnya sempit, dan harfiah kita musti antri. Tak lama nafasku sudah ngos-ngosan. Aku nggak suka berjalan dalam gelap dan nggak tau apa yang ada atau tidak ada di sekitarku. Belum lagi jalur berpasir kerikil kecil-kecil sehingga menjadikan jalur ini licin dan kaki sering merosot.

Mungkin karena kasihan melihatku yang kepayahan, Hamzan, pimpinan grup dan guide kami yang sudah mengenal seluk beluk Rinjani, menawariku untuk berpegangan pada tali webbing yang diikatkan di badannya. Menyesal aku nggak jadi beli hiking stick atau nggak minta dibuatkan tongkat dari batang pohon. Memakai tongkat akan sangat membantu kita mendapatkan pijakan yang lebih ajeg dan menahan kaki kita agar tidak merosot. Selain aku, temanku Ahmad pun dibantu Hamzan dengan tali webbingnya, apalagi Ahmad mengalami cedera lutut.

Secara psikologis sesungguhnya aku nggak terlalu suka berada di belakang. Kondisi semacam ini bisa membuatku terdemoralisasi dan bisa menyurutkan semangatku. Being slow is fine, so long as I am not the last one. Maka, di setengah perjalanan, kuputuskan untuk melepaskan diri dari tali webbing dan berjalan sendiri. Walaupun, posisiku tidak terlalu jauh dari Hamzan dan Ahmad. Apalagi ketika matahari sudah terbit dan aku lebih bisa menilai kondisi sekitar, aku merasa lebih percaya diri untuk berjalan.

IMG_3451.JPG

Ketika hari semakin terang, semakin jauh pula aku meninggalkan Hamzan dan Ahmad. Kulihat jalur yang masih harus kulalui, Astaghfirullaah, jalurnya masih panjang dan terus menanjak. Kulihat pula di kanan-kiri jalur, jurang cukup curam di sebelah kanan, dan punggung gunung yang licin di sbelah kiri. Kulihat-lihat, jalur sempit yang menyerupai huruf E ini ibarat shirathal mustaqiim –titian serambut di belah tujuh, yang menentukan kita ke surga atau neraka. Heeuuu..

Beberapa kali pula aku berpapasan dengan anggota grupku yang ternyata sudah turun dari puncak. Hiks hiks.. tambahlah ciut hatiku. Namun kumantapkan tekad dan pelan tapi pasti aku terus berjalan. Benar kata Hamzan, mendaki Rinjani itu 80% psikologis. Tak berapa lama, Irvan, anggota grup kami yang termuda –dia kelas 3 SMP, berpapasan denganku dan menawarkan tongkat kayunya untuk kupakai. Alhamdulillaah.. Dengan tongkat Irvan, mempermudah dan mempercepat langkahku menuju puncak. Pun, Wawan, satu lagi anggota grup menyemangatiku dan bilang setibanya di batu besar di atas, jalur sudah lebih mudah. Yah, beberapa puluh meter menjelang batu besar yang seolah sebagai gerbang ke puncak adalah jalur terberat dari perjalanan muncak ini kurasa: terjal, berpasir-kerikil lepas-lepas.. pokoknya sangat menguji ketabahan dan kesabaran. Entah berapa kali tersebut nama Tuhan dalam perjalananku ke puncak Anjani ini.

IMG_3456.JPG

IMG_3454.JPG

Singkat kata, akhirnya dengan susah payah berhasil pula aku mencapai puncak Anjani!! Yeeiiyyy..!!! Aku harus menunggu beberapa saat di sana sampai Hamzan dan Ahmad tiba. Dan seperti pendaki-pendaki lainnya, puas-puas kami berfoto dan menikmati pemandangan dari puncak Anjani yang cantik jelita.

Alhamdulillaah..

IMG_3455.JPG

IMG_3452.JPG

IMG_3457.JPG

rinjani day-1&2: sembalun

Pagi jam 09:00 tanggal 31 Juli, grup kami sudah bersiap. Setelah melapor ke Pos Sembalun, kami pun memulai perjalanan. Perjalanan dari Sembalun menyajikan padang savana terbuka yang menghijau-kuning keemasan. Dinginnya udara –karena Sembalun berada di dataran tinggi, bercampur dengan teriknya matahari pagi yang tanpa malu-malu bersinar, serta langit biru bersih tanpa awan menambah keindahan pemandangan, namun akan mudah membuat kulit terbakar.

Tak lama berjalan, tubuhku sudah kurasakan memanas dan siap untuk berjalan jauh. Namun karena sedari awal kami sudah bersepakat bahwa ini perjalanan santai, maka kami pun tidak ngoyo dalam berjalan. Target kami hari ini adalah tiba di Pos-3 sebelum gelap, dan bermalam di sana.

Rute Sembalun menyajikan padang-padang dan bukit-bukit savana seluas mata memandang. Sepanjang jalan tak lupa kami mengambil sebanyak mungkin gambar. Pemandangan seindah ini tak seharusnya dilewatkan begitu saja.

IMG_3389.JPG

IMG_3387.JPG

IMG_3388.JPG

Sekitar jam 16:00 kami pun tiba di Pos-3 dan mendirikan tenda-tenda kami di sana. Karena aku perempuan sendiri, maka aku mendapat tenda spesial yang sudah disiapkan oleh teman-teman. Memang sedari awal sudah kusampaikan bahwa aku tidak membawa tenda dan logistik, dan meminta bantuan teman-teman untuk membawakannya. Maklum, aku kan pendaki senang-senang. Hahaha..

Sebelum tidur, Hamzan dan Wiwin, pimpinan pendakian kami mengatakan bahwa pendakian sesungguhnya akan terjadi esok hari. Esok kami akan mendaki punggung gunung menuju Pelawangan Sembalun, camp berikutnya tempat kami bermalam sebelum menuju puncak Anjani. Oleh karenanya kami harus beristirahat dengan baik.

Keesokan harinya, perjalanan menuju Pelawangan Sembalun pun dimulai. Setelah kembali melalui padang-padang dan bukit-bukit savana, kami pun tiba di penanjakan tanpa akhir yang terkenal sebagai Tanjakan Penyesalan! Hahaha..

IMG_3391-0.JPG

IMG_3392-0.JPG

Tanjakan Penyesalan ini sangatlah layak menyandang julukannya. Kemiringan lereng hingga 60 derajat, serta terrain licin berpasir-debu tanpa tempat berpegang, benar-benar memerlukan konsentrasi tinggi untuk melaluinya. Belum lagi aliran orang dari atas yang baru selesai muncak dan bergerak turun kembali ke Sembalun membuat trek ini menjadi Trek Penyesalan Berdebu yang aneh. Entah berapa kali aku harus memalingkan muka agar mataku nggak kelilipan. Dan walaupun sudah menggunakan penutup mulut dan hidung, tetap saja aku bisa merasakan butir-butir pasir yang mampir di mulutku.

IMG_3406-0.JPG

Sekitar pukul 15:00 tibalah kami di akhir Tanjakan Penyesalan, memasuki kawasan Pelawangan Sembalun. Sejenak kami beristirahat menikmati puncak Anjani di kejauhan. Sore ini Anjani terlihat malu-malu menampakkan puncaknya, kadang kabut dan awan tebal menutupinya. Seorang teman perjalanan bilang, Anjani malu-malu karena ada aku tamu dari jauh yang ingin menemuinya.

IMG_3408.JPG

Kawasan Pelawangan Sembalun adalah dataran di puncak bukit yang biasa digunakan oleh para pendaki sebagai camping ground sebelum perjalanan ke puncak, karena datarannya yang cukup rata dan ada sumber mata air yang banyak di sana. Kawasan ini juga jadi salah satu pintu masuk menuju Danau Segara Anak.

Pemandangan dari Pelawangan Sembalun sangatlah indah. Di timur kita bisa saksikan puncak Anjani yang menunggu, dan di barat bisa kita saksikan gagahnya puncak Gunung Senkereang serta pemandangan Danau Segara Anak di bawah kaki kita. Jika kita beruntung, kita pun bisa menyaksikan matahari yang perlahan terbenam di balik puncak Senkereang.

Maka senja hari itu kami habiskan dengan berfoto-foto dan menikmati pemandangan alam yang tak ada duanya di dunia. Entah bagaimana, segala kelelahan selama kami melalui Tanjakan Penyesalan hilang seketika.

IMG_3410.JPG

IMG_3409.JPG

IMG_3411.JPG

rinjani, i’m addicted to you

Banyak pendaki Indonesia bilang: Jangan mati dulu sebelum pergi mendaki Rinjani! Sudah sejak lama Gunung Rinjani menjadi semacam cita-cita bagi para pendaki gunung, paling tidak mendakinya sekali seumur hidup. Bagiku sendiri, Rinjani menjadi semacam what’s next yang logis setelah perjalanan mendaki Gunung Kerinci. Yah, kalau bukan Rinjani, Semeru lah.. begitu keinginanku.

Maka ketika seorang temanku menawari untuk menemaniku mendaki Rinjani, tanpa pikir dua kali kuiyakan tawarannya, dan kupastikan bahwa itu tidak menjadi hanya sekedar basa-basi. Setelah menyepakati waktu sehabis Lebaran tahun ini, maka kubeli tiket pesawat dengan kelas paling murah, alias nggak bisa diubah tanggalnya, yaitu 30 Juli 2014. Yup, itu hari ketiga Lebaran! Sesial-sialnya jika rencana ke Rinjani gagal –misalnya jika temanku sulit meninggalkan keluarga di dalam suasana Lebaran, aku toh masih bisa liburan ke tempat lainnya di Lombok. I am easy going. No need for drama.

Seperti halnya rencana-rencana lain dalam hiupku, kujalani rencana ke Rinjani ini dengan biasa-biasa saja. Nggak ngoyo, tapi juga dipersiapkan dengan matang. Soal fisik dan kesehatan misalnya, aku nggak mau main-main. Alhamdulillaah bulan puasa pun memberi kesempatan pada tubuhku untuk mendapat asupan yang lebih teratur dan sekaligus menjaga berat badan agar tidak berlebihan. Juga, kebetulan, klub lari di mana aku bergabung, mengikuti challenge dari satu produk olah raga, sehingga ini pun menambah semangatku untuk menambah dosis lari/joggingku di malam-malam bulan puasa lalu. Latihan jogging malam secara teratur 2-3 kali per minggu, plus 50 km komitmenku untuk berlari dalam satu minggu terakhir di bulan puasa, telah berhasil meningkatkan staminaku. Alhamdulillaah.

Sekitar 10 hari terakhir bulan puasa, kabar yang dinanti-nanti dari temanku pun tiba! Dia bilang, yup, kami akan ke Rinjani pada tanggal yang telah kami tetapkan. Bukan hanya itu, grup kami pun berkembang hingga 27 orang!! Woww!! Aku senang sekali mendengarnya. Teringat pengalaman mendaki Kerinci di akhir tahun 2013 lalu yang juga aku lakukan bersama grup besar 30 orang. The merrier the better! Selalu itu prinsipku.

Singkat cerita, tanggal 30 Agustus bersiaplah aku sedari pagi: mencek ulang semua perlengkapan, dan packing ulang semua bawaan di dalam carrier 26-literku. Tak lupa, aku juga membawa daypack kecil untuk perjalanan muncak.

Setibanya di Bandara Lombok, hari sudah malam. Temanku menjemput dan mengatakan bahwa kami akan langsung menuju Sembalun. Menginap semalam di sana, esok paginya kami akan segera melakukan perjalanan. Malam itu aku diperkenalkan dengan pimpinan rombongan dan pimpinan pendakian yang keduanya adalah saudara dari temanku. Tak lupa aku juga berkenalan dengan anggota grup yang lain. Dan barulah kusadari, dari 27 orang peserta pendakian, cuma aku perempuannya, dan nampaknya aku pula yang paling senior secara umur di antara mereka. Haha..

Temanku menginformasikan bahwa kami akan naik lewat jalur Sembalun, dan kembali pulang lewat jalur Senaru. Dengan demikian, pengalaman yang akan kami dapatkan menjadi lengkap.

Bismillaahirrahmaanirrahim..

IMG_3386.JPG