pengalaman-pengalaman kuliner pertama

Aku mau cerita tentang pengalaman-pengalaman kuliner pertamaku, yang mayoritas kualami saat aku berusia anak SD di tahun 1980-an. Salah satu keuntungan memiliki orang tua yang doyan jalan-jalan dan makan-makan adalah kita bisa mengalami dan mengetahui tempat-tempat makan enak di kota tempat tinggal kita –Jakarta, buatku.

Dulu, hampir setiap minggu kami sekeluarga pergi untuk makan di luar. Kadang hanya kami keluarga inti, tapi sering pula dengan para tante, para oom, para handai taulan yang sering menginap di rumah (maklum, rumah keluargaku di Jakarta dulu sudah dianggap basecamp untuk famili dari kampung asal kedua orang tuaku). Tidak hanya keluarga, bahkan kami pernah juga makan-makan ke luar bersama tetangga dekat. Aku ingat di suatu hari saat itu, kami sampai menyewa bus metro mini untuk ngangkut tetangga rame-rame makan burger di Blok M. Hahahhaaa… Yah memang kedua orang tuaku tuh punya kepedulian sosial yang agak tinggi, terutama kepada keluarga, sahabat, dan tetangga dekat.

Pengalaman-pengalaman kuliner pertama ini lah yang secara langsung atau tidak langsung jadi patokan atau benchmark kelezatan masakan tertentu bagi lidahku. Anyway, berikut ini ceritanya.

Seafood. Sampai hari ini, aku menganggap restoran Seafood 99 yang berlokasi (dulu) di Jalan Tendean Mampang (dekat sekolah Tarakanita) adalah restoran seafood terenak sedunia. Menu favoritku adalah udang rebus (dengan saus tomat yang rasanya khas) dan sup kepiting asparagus. Dua menu ini, masih menurutku, nggak ada yang ngalahin lah pokoknya. Aku masih ingat, begitu kedua menu itu dihidangkan, kami si anak-anak yang enam orang ini akan meletakkan mangkuk-mangkuk kecil kami masing-masing di dekat mangkuk besar sup kepiting asparagus, dan kemudian ibuku akan menyendokkan sup yang mengepul-ngepul itu secara merata di mangkuk-mangkuk kami. Hmmm… Sayangnya, restoran Seafood 99 ini pindah entah ke mana, dan gak bisa dilacak keberadaannya. Sejak saat itu, aku selalu mencoba sup kepiting asparagus yang ada di berbagai resto, untuk sekedar membandingkan rasanya. Dan tetap, resto 99 adalah juaranya.

Masakan Minang. Selain resto 99, restoran lain yang sering kami datangi adalah Restoran Minang Sari Bundo, di Jalan Juanda, Jakarta Pusat. Menu favoritku di sini adalah gulai otak dan gulai ayam kalio. Sesekali aku juga menyantap gulai kikil. Berhubung aku masih kecil, maka standar rasa masakan Minang yang menurutku enak ya di Sari Bundo ini. Untuk ayam kalio, bolehlah yang lain bisa menyamai rasanya, tapi gulai otak, Sari Bundo rajanya –menurutku. Yang aku ingat, potongan daun mangkokan yang selalu ada bersama hidangan gulai otaknya. Mungkin ini yang menambah rasa enaknya ya..

Sop Buntut. Cafe Bogor di Hotel Borobudur adalah tempat yang cukup sering kami datangi. Sop buntut di sini memang juara –empuk dan dihidangkan dengan suhu yang panas beneran. Sampai sekarang ini tetap menjadi living legend. Biasanya, setelah makan sop buntut, kami gak lupa membeli roti baguette –roti Perancis yang bentuknya seperti tongkat, panjang dan keras. Biasanya dua kakakku yang laki-laki akan main pedang-pedangan dengan roti ini sambil kami berjalan keluar dari restoran.

Kepala Ikan. Gulai kepala ikan yang paling mantab tentunya yang ada di rumah makan Medan Baru di daerah Krekot, Jakarta Pusat. Selain gulai kepala ikan, menu favoritku adalah burung punai goreng, dan minuman ketimun kerok. Dulu biasanya kami datang ke sini siang hari, dan meninggalkan piring-piring nasi yang bertingkat-tingkat tingginya. Maklum, porsi nasi putih di sini secuprit. Paling-paling langsung habis dalam dua tiga suapan.. Hahahhaa.. Padahal, bumbu gulainya aja leker sangat, sehingga walopun kepala ikannya sudah habis, tetap aja kami nambah nasi sampai kuah gulainya licin tandas! 🤣🤣

Fastfood Burger. Ya, apalagi kalau bukan American Hamburger atau AH di Blok M sana. Biasanya, kami ke sana bersama ibu, setelah ibu ngambil duit bulanan di bank. Hahhahaa.. Pulang sekolah (ya, anak SD jaman dulu pulang sekolah jam 12 siang ya, jangan samakan dengan anak sekarang yang tersiksa batinnya karena kebanyakan belajar.. 😅😅), bersama ibu kami naik bajaj ke Blok M. Selain menu burger, kami kadang juga pesan spaghetti, dan tidak lupa minuman milkshake yang jadi menu favorit. By the way, lokasi restoran AH di Blok M nggak berubah dari dulu sampai sekarang. Masih di situ-situ aja.

Decent Steak. Jaman dulu, yang namanya steak itu hidangan mahal, dan gak banyak restoran yang menjual hidangan itu. Resto steak yang cukup decent di masa awal pengalaman kulinerku adalah Gandy’s. Resto ini letaknya di Jalan Cokroaminoto, Menteng. Biasanya kalau ke sini kami gak bisa berpakaian seenaknya. Jadi musti rapi dan pakai sepatu. Hahhahaa.. Di resto ini lah juga aku mengenal yang namanya hot plate. Nah, restoran Gandy’s ini kemudian dapat saingan resto steak juga yang berlokasi di jalan yang sama. Namanya Black Angus. Kalau gak salah, Black Angus, atau biasa disebut BA, ini lebih murah harganya dari Gandy’s. So kemudian kami lebih sering ke BA daripada ke Gandy’s.

Decent Burger and Ice Cream. Dulu di Blok M ada restoran Maxim’s dan resto ice cream Gaston’s. Sebagai variasi, kalau ibuku habis ambil duit bulanan di bank (😅), kadang kami makan-makan burger yang agak beneran (beda dengan AH yang kelas fastfood) di Maxim’s. Juga, kadang-kadang kami ngemil eskrim banana split di Gaston’s. Gaston’s ini kemudian hilang entah ke mana, dan gantinya yang lebih ngetop adalah Swensen’s. Entah kenapa aku gak sering ke Swensen’s. Mungkin seumur hidup gak genap sebelah jari tangan jumlah kunjungannya.

Masakan Jawa Timuran. Karena orang tuaku sempat lama tinggal di Surabaya sebelum bedol ke Jakarta, mereka juga suka ngajak kami makan a la Jawa Timuran. Tempat makan langganan kita adanya di Ratu Plaza. Di situ lah aku pertama kali tahu ada gado-gado yang pakai daun selada. Konon sih begitu gado-gado Jawa Timuran. Di sini juga aku mengenal rujak cingur, yang sampai sekarang jadi salah satu makanan kesukaanku. Oh iya, biasanya kami ke resto ini sebelum atau sesudah dari tempat penyewaan kaset video di Ratu Plaza itu. Vista, kalau gak salah nama tempat penyewaannya. Namun setelah sewa kaset video ini bisa dengan door-to-door service, jarang deh kami ke Ratu Plaza lagi.

Masakan Jepang. Pertama kali ngerti makan model all you can eat ini yaa di restoran Jepang Nanaban Tei. Lokasinya di Menteng. Ini juga pertama kali tau ada restoran yang self service —kita masak sendiri lauk pauknya. Seorang oom-ku dari kampung ibu pernah marah-marah waktu diajak ke sini. Dia bilang, rugi banget kita ini sudah bayar mahal, eh disuruh masak sendiri, dan ngelayanin diri sendiri. Hahhahaa…

Yah, begitulah cerita pengalaman kuliner pertama yang cukup berkesan bagiku. Gak heran, aku jadi doyan makan, dan terutama sekali makan enak. Thanks to my parents! 😂😂

Blessed are the forgetful

Ada yang pernah bilang bahwa orang pelupa itu adalah orang yang terberkati, karena sering kali apa yang dia alami seakan bagaikan yang pertama kali bagi mereka, walaupun sudah pernah mereka alami sebelumnya. Maklum, udah lupa tuh gimana rasanya. Hahahaa…

Dan saya adalah orang yang sangat pelupa. Entah sejak kapan penyakit pelupa ini mulai saya alami, tapi semua orang yang mengenal saya –keluarga, teman main, teman kuliah, teman kerja — semuanya tahu bahwa saya pelupa. Bahkan hal yang sering kali menjadi bahan bully bagi mereka adalah, saya sering lupa kalau sudah makan. Entah kenapa “sensor” kenyang atau lapar yang menyebabkan orang berhenti atau merasa ingin makan gak nyambung dengan memori di otak saya. Sejak dulu saya memang tidak pernah menjadikan “lapar” sebagai alasan saya untuk makan. Saya ingin makan ya karena saya ingin makan –baik lapar atau kenyang. Selain suka lupa pernah makan, saya juga kadang lupa kalau belum makan. Efeknya, saya mengalami sakit kepala. Jadi kalau saya merasa sakit kepala, saya mulai mengingat-ingat, apakah saya sudah makan atau belum. Untung saja efeknya bukan ke sakit maag.

Kepelupaan saya ini sebenarnya semakin lama membuat saya semakin was-was. Saya ingat-ingat kembali, dulu semasa sekolah hingga kuliah, kayaknya memori saya baik-baik saja. Buktinya saya selalu juara kelas, dan mudah saja menyerap pelajaran, atau menghafal sesuatu –walaupun menghafal memang bukan metode belajar favorit saya. Saya sebenarnya khawatir jika saya menderita alzheimer, yang bisa berkembang menjadi dementia –penyakit kehilangan ingatan.

Terus terang saat ini saya memang tidak terlalu banyak lagi menggunakan otak saya untuk mengingat atau menghafal sesuatu. Saya sangat tergantung pada gadget dan perangkat pembantu. Semua nomor kontak teman ada di HP. Semua jadwal saya ada di cloud yang bisa saya akses di HP, atau perngkat komunikasi saya lainnya. Saya mugkin terpengaruh oleh Einstein(?) yang pernah bilang bahwa kita tidak perlu mengingat segala sesuatu, cukup kita tahu di mana kita bisa mencari hal tersebut sekiranya kita memerlukannya. Nah, dengan adanya Mbah Google, semakin lah kita tidak menggunakan lagi otak kita untuk mengingat.

Kekhawatiran saya ini kemudian membuat saya memberanikan diri bertanya pada seorang dokter ahli bedah saraf yang cukup beken di media sosial. Tanya iseng-iseng aja, karena saya masih takut untuk berkonsultasi secara serius kepada dokter. Untungnya pak dokter ini baik hati, dan mau sedikit menjawab pertanyaan saya. Saya tanya kepadanya, apakah saya yang sangat pelupa ini bisa kena alzheimer. Dokter menjawab bahwa pelupa itu belum tentu alzheimer. Dia bahkan menegaskan bahwa orang yang pelupa itu gampang sekali bahagia. Hehhehee. By the way, saya ngga tahu apakah memang ada hubungannya secara saintifik di otak kita, antara pelupa dan cepat bahagia, karena memang saya ini gampang banget bahagia dan gampang merasa senang/content –seperti yang sering saya sampaikan di postingan-postingan saya. Teman saya pun sering bilang, “Gampang banget bikin elu seneng?” Yaaah, alhamdulillaah.

Balik lagi ke pak dokter. Dia bilang bahwa alzheimer itu bukan menonjol di pelupa-nya, tapi ke perubahan afek(si?) dan emosinya. Misal, menjadi pranoid. Well, memang saya hampir nggak pernah sih ngerasa paranoid. Gangguan afeksi? Ini maksudnya apa ya? Apakah kemudian saya jadi kehilangan perasaan? Jadi nggak tegaan? Atau gimana ya? Hmm kayaknya saya harus tanya lagi ke dokter deh.

Yang terkakit dengan proses berpikir sih kayaknya nggak ada masalah ya, walaupun saya belum coba ngetes secara benar. Saya pernah iseng mencoba menyelesaikan soal-soal matematika dasar yang rada lumayan tingkat kesulitannya, dan saya masih mendapatkan nilai tinggi dengan waktu penyelsaian yang erlatif cepat. So, semoga itu bisa jadi indikasi bahwa kemampuan berpikir saya masih baik-baik saja.

Kekhawatiran ini memang membuat saya agak sedikit waswas. Apalagi dokter bilang bahwa tidak ada batas umur bagi orang untuk kena alzheimer. Saya cari-cari seidkit informasinya, kebanyakan penderita diketahui menderita alzheimer mulai usia 40 tahun ke atas. Yes, it’s my age group! Tapi, penyakit apa sih yang nggak mulai diderita oleh orang yang berumur 40 tahun ke atas?

Oke deh, terus what next? Yah, saya selalu percaya bahwa terus aktif –jasmani dan rohani, menjadi kuncinya. Olah raga teratur, jaga makanan, dan cukup tidur, kayaknya itu kuncinya. Menurut penelitian, tidur cukup itu penting, harus lebih dari 7-8 jam per malam. Waktu tersebut diperlukan untuk otak kita melakukan recycleing —selain proses sekresi lain di dalma tubuhh yang sudah kita ketahui.

Selain itu, saya harus lebih disiplin dan tertib membaca buku. Kebiasaan ini yang sudah cukup lama saya tinggal. Beli buku baru hampir setiap minggu, tapi tidak dibarengi dengan membacanya dengan bak dan benar. Yah, saya janji pramuka deh! 🙂

it’s (not) just another day

Apa yang terlintas di benak kita ketika kita bangun di pagi hari, dan bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja? Apakah kita berpikir dan merasa bahwa ini hanyalah satu hari lain dalam kehidupan? Just another day in life, dimana kita bangun, mandi, naik kendaraan ke kantor, tiba di kantor tunggu order kerjaan yang datang, lalu di akhir hari pulang kembali ke rumah, bersih-bersih, lalu tidur. Dan besok hari ritual yang sama kita ulangi kembali.

Sejak saya duduk di bangku sekolah menengah hingga hari ini, saya selalu teringat kisah yang diceritakam oleh guru sekolah saya dulu. Alkisah dalam suatu pekerjaan proyek pembangunan suatu gedung pencakar langit, seorang pimpinan proyek melihat perbedaan sikap dua orang tukang pemasang batu bata. Tukang yang pertama tampak sangat bersemangat, sementara yang lainnya tampak lesu dan ogah-ogahan. Kondisi ini dia amati hingga beberpa bulan, yang mendorongnya untuk bertanya kepada kedua orang tersebut.

Si pimpinan proyek bertanya kepada pekerja yang nampak lesu,”Apa yang sedang kamu kerjakan?” Si pekerja menjawab,”Saya sedang memasang batu bata, Pak. Seperti biasa.”

Kemudian, dia beralih kepada si pekerja yang bersemangat dan memgajukan pertanyaan yang sama,”Apa yang sedang kamu kerjakan?” Si pekerja menjawab,”Saya sedang membangun peradaban, Pak. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Saya pastikan dinding-dinding ini akan bertahan hingga berabad-abad lamanya.”

Apa pelajaran dari kisah di atas?

Sikap mental. Itulah yang membedakan si pekerja pertama dengan pekerja kedua. Walaupun secara konkrit jenis pekerjaan yang mereka lakukan sama, namun pekerja kedua mempunyai visi atau bayangan cita-cita, yang memberikan energi dorong tambahan pada apa yang sedang dikerjakannya. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau terlalu sepele, sehingga ia harus melakukan yang terbaik, mencari cara-cara atau ide-ide untuk selalu menyempurnakan hasil kerjanya.

Pekerja kedua tidak sekedar melaksanakan tugas dan kewajiban. Namun dia berhasil menempatkan dirinya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Beyond himself, melampaui dirinya. Dia menginspirasi dirinya sendiri bahwa apa yang dia kerjakan tidak boleh sekedarnya, dan tidak boleh seadanya, tanpa disuruh dan tanpa dipertintah, karena masa depan peradaban (seperti yang ada dalam visi dan cita-citanya) akan tergantung pada apa yang dia kerjakan hari ini.

Menengok sejenak ke negara tetangga, Perdana Manteri Malaysia yang baru terplih, Dr. Mahathir Muhammad, berusia 92 tahun tahun ini, ketika dilantik. Apakah kira-kira Datuk Mahathir akan kembali ke kancah politik jika ia tidak memiliki cita-cita yang ikut ia bangun, yang saat ini dianggapnya sedang terancam? Apakah Datuk Mahathir akan terus aktif, jika ia memiliki sikap mental seperti pekerja pertama —melalui hari-hari produktifnya dengan melakukan rutinitas yang seadanya, sekedar menggugurkan kewajiban, membiarkan waktu dan umur berlalu dengan biasa-biasa saja?

Bayangkan kita, yang umurnya saat ini hanya separuh, sepertiga, atau bahkan seperempat dari umur Datuk Mahathir. Mau jadi apa kita —jika Tuhan izinkan, di kelipatan umur kita yang kedua, atau ketiga? Apakah terpikir oleh kita dunia seperti apa yang ingin kita lihat di kelipatan kedua atau kelipatan ketiga umur kita saat ini? Adakah kita di dalam dunia masa depan itu?

Maka, kembali ke awal, coba tanya kepada diri kita, apa yang kita rasakan tadi pagi saat kita bangun tidur dan akan berangkat ke tempat kerja? Was it “It’s just another day.”?

kerja, kerja, kerja

Saya sering berkelakar dengan teman-teman terkait slogan yang sering diucapkan oleh Presiden Jokowi dan pemerintahannya, sebagaimana judul di atas. Saya bilang, kita sebagai rakyat harus gencar mendesak pemenuhan janji kampanye presiden di tiga tahun pertama pemerintahannya, karena tahun ke-4 dan tahun ke-5 beliau akan lebih sibuk mengurus kampanye pilpres; makanya penyebutan kata “kerja” hanya 3 kali saja.

Tentu saja itu hanya kelakar. Presiden Jokowi — dan para pembantunya, masih sibuk bekerja sampai saat ini, di tahun ke-4 pemerintahannya. Namun, memasuki tahun ke-4 pemerintahan presiden Jokowi ini nuansa politik dan kalkulasi potensi suara juga menjadi nuansa yang meliputi kerja-kerja pemerintahan ini. Apalagi sejak Pak Jokowi secara resmi didapuk oleh PDI-P sebagai usungan partai untuk menjadi bakal calon presiden Republik Indonesia 2019–2024.

Memasuki tahun ke-4 pemerintahannya, presiden Jokowi juga terasa semakin baperan — kata anak zaman now. Demikian juga para pendukungnya. Apalagi semenjak menjamurnya tagar #2019GantiPresiden yang tidak hanya menyebar di dunia maya, namun mulai termanifestasi di dunia nyata dalam bentuk cetakan di kaos — yang kemudian menyebar dalam berbagai bentuk seperti topi, serta poster dan spanduk yang dipasang di tempat-tempat umum.

Kalau boleh jujur, memanasnya situasi terkait kaos dan tagar tersebut akhir-akhir ini sebenarnya dipicu oleh Pak Jokowi sendiri, yaitu ketika beliau mengangkat soal ini dalam suatu kegiatan relawannya di bulan April 2018 yang lalu. Saat itu, Pak Jokowi di atas panggung menyindir orang-orang yang getol mengkampanyekan tagar #2019GantiPresiden dengan mengajukan pertanyaan retorik,”Masa’ kaos bisa ganti presiden? Yang bisa ganti presiden itu rakyat!” — yang serta merta disambut para pendukungnya dengan sorakan gegap gempita.

Sebagai orang yang senang menggunakan simbol-simbol dan kode-kode, baik dalam keseharian maupun dalam menjalankan pemerintahan, pernyataan Pak Jokowi itu sebenarnya kontradiktif. Tidak ada yang memungkiri bahwa kepopuleran dan citra Pak Jokowi sebagai representasi “orang kebanyakan” dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, dan kemudian sebagai Capres dalam pemilihan umum tahun 2014 juga ditopang oleh kemeja kotak-kotak. Bahkan hingga saat ini, kemeja putih dengan lengan tergulung masih konsisten digunakan beliau sebagai simbol untuk sosok yang selalu bekerja keras tanpa pamrih. Simbol-simbol itu lah sebenarnya yang menyatukan para pendukung kampanye Jokowi saat itu, dan yang mencerminkan cara kerja yang ingin dicitrakan oleh pemerintahan saat ini. Dan saya yakin, Pak Jokowi tahu betul bagaimana kekuatan simbol dalam mindset orang Indonesia.

Seandainya saya berada di posisi Pak Jokowi saat ini, saya tidak akan memberi perhatian yang berlebihan pada simbol-simbol tersebut. Apalagi dengan cukup spesial melontarkannya di acara publik. Ibarat umpan yang dilemparkan para pemancing ikan, tagar #2019GantiPresiden berhasil menjalankan misinya — disantap oleh presiden dan para pendukungnya dengan lahap. Dan ibarat partikel netron yang ditembakkan pada inti atom yang tidak stabil, reaksi Pak Jokowi terebut telah memicu terjadinya reaksi berantai yang akan sulit dihentikan. Dan jangan lupa, yang namanya reaksi berantai disertai juga dengan pelepasan energi. Nah lepasan energi ini lah yang sedang kita rasakan saat ini, yang menyebabkan situasi politik yang memanas.

Terlepas dari alasan mengapa Pak Jokowi melontarkan retorika tagar dan kaos tersebut (saya punya beberapa teori yang mungkin saya tulis nanti, kalau sempat), saya sebenarnya lebih ingin Pak Jokowi dan para pendukung fanatiknya melakukan refleksi diri, dan mencoba mencari substansi utama yang ada di balik noise tagar dan kaos tersebut, dan bukannya terjebak pada bungkus. Alih-alih mendorong presiden dan para pembantunya bekerja lebih giat lagi, pendukung fanatik Jokowi malah melakukan permainan berbalas tagar. Tagar “2019 ganti presiden” dibalas dengan tagar “dia sibuk kerja” dan lain sebagainya.

Tak ada yang memungkiri bahwa presiden dan para pembantunya sibuk kerja — walau ada juga diantara pembantunya yang justru menimbulkan masalah, atau tidak terlihat hasil kerjanya. Namun, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintahan ini akibat permasalahan rezim-rezim sebelumnya sejak orde baru sangat lah banyak. Saat ini, energi warga dan pembantu presiden tersita untuk melakukan respon pengamanan atas citra presiden, dibandingkan untuk benar-benar meng-address berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Infrastruktur dan investasi bukan lah peluru perak atau jawaban singular atas semua permasalahan bangsa ini. Jika masalah-masalah bangsa yang bejibun ini hanya dijawab dengan infrastruktur dan investasi, saya khawatir pemerintahan hari ini ibarat orang yang hanya memiliki palu. Akibatnya, semua hal akan dilihat sebagai paku.

Pemerintahan Jokowi masih memiliki waktu satu setengah tahun lagi. Dari pada menghabiskan waktu menari di gendang pihak lain, lebih baik segera melakukan pembenahan dan kerja-kerja pemenuhan janji — menggiatkan percepatan redistribusi lahan dan reforma agraria, menyelesaikan konflik-konflik sumberdaya alam, menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM, menemukan dan menghukum pelaku penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, menghentikan kriminalisasi terhadap warga yang mempertahankan tanahnya dari seroboton koporasi, menghukum perusahaan pencemar lingkungan, dan benar-benar mengimplementasikan ekonomi kerakyatan — bukan ekonomi berbasis investasi skala besar yang disokong korporasi.

Asimetris

Beberapa hari yang lalu saya diminta untuk menjadi pemantik diskusi film ‘Asimetris’ yang dibuat oleh WatchDoc. WatchDoc adalah kelompok pembuat film dokumenter independen yang kerap mengangkat permasalahan-permasalahan sosial-ekologis yang muncul di bangsa kita. Dengan gaya penyajian yang populer dan dengan data serta analisis yang kuat, film-film yang dibuat WatchDoc tidak membosankan, dan selalu berhasil membuka mata dan memprovokasi pemikiran dan hati para penontonnya.

‘Asimetris’ in a nutshell adalah tentang ketidaksetaraan, ketimpangan, ketidakadilan yang ada dalam industri perkebunan sawit. Dengan durasi sekitar satu jam ‘Asimteris’ mampu menyihir para penontonnya dengan fakta-fakta yang terjadi pada industri komoditi yang kerap kita gunakan sehari-hari. Bahkan bagi saya yang lumayan sering datang ke perkebunan sawit, melihat situasi dan mendengarkan secara langsung paparan warga yang terjerat maupun terdampak, film ini tetap mampu mengaduk emosi.

Satu yang membuat saya shock, dan saya sampaikan pula dalam diskusi pasca pemutaran film, adalah mendengar Presiden Joko Widodo berkata dalam satu acara peremajaan perkebunan sawit rakyat. ”Kalau perusahaan bisa produksi 8 ton perhektar, petani juga harus bisa produksi 8 ton perhektar,” katanya.

Kenapa saya shock? Pertama, angka ini mengandung ketidakbenaran. Menurut data terbaru Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, produktifitas perkebunan swasta berkisar di angka 3,9 ton/hektar/tahun. Angka ini jauh di bawah produktifitas kebun-kebun sawit di Malaysia yang bisa mencapai 12 ton/hektar/tahun. Entah siapa yang membisiki Presiden dengan angka fiksi 8 ton perhektar tersebut!

Kedua, sebagaimana saya katakan dalam diskusi, menyuruh petani untuk berproduksi seperti perusahaan, ibarat menyuruh tukang ojek untuk balapan dengan Valentino Rossi: jelas tak setara. Asimetris. Saya katakan, dalam hal ini, nampaknya Presiden kita mengalami kegagalpahaman realita yang terjadi di republik ini.

‘Asimetris’ memaparkan secara cukup lengkap isu-isu yang terkait dengan industri perkebunan sawit, yang di Indonesia mayoritas dikuasi hanya oleh sekitar 25 grup perusahaan. Luas tanah yang dikuasai oleh the Top25 ini kira-kira setengah Pulau Jawa, menurut organisasi Transformasi untuk Keadilan (TUK-Indonesia). Tak berlebihan jika mereka disebut sebagai taipan, alias tuan tanah.

Perampokan tanah oleh perusahaan terjadi di hampir seluruh propinsi di Indonesia, dan telah memicu terjadinya konflik terbuka, yang sering berakhir pada kriminalisasi warga yang menolak tanahnya dirampok. Bahkan dipapaparkan oleh seorang warga, ia terpaksa menanami tanahnya seluas 50 hektar dengan tanaman sawit agar tanah tersebut tidak diambil begitu saja oleh perusahaan.

Praktik pembukaan dan pembersihan lahan dengan membakar secara luas yang dilakukan perusahaan mengakibatkan tragedi kabut-asap di tahun 2015 yang membuat seperempat juta jiwa orang menderita ISPA (infeksi saluran pernafasan akut), serta 11 bayi meninggal dunia. Warga di Papua harus kehilangan sumber makanan pokoknya, sagu, karena hutan sagunya dibabat habis oleh perusahaan perkebunan sawit. Kerugian ekonomi yang harus ditanggung negara dan rakyat akibat tragedi kabut-asap mencapai sekitar Rp.200 triliun. Padahal, menurut Menteri Keuangan, pendapatan negara dari ekspor minyak sawit mentah (yang merupakan 80% dari produksi) ini berkisar di angka Rp.231,4 triliun.

Pencemaran air akibat limbah pabrik minyak sawit mengakibatkan berbagai kelompok warga kehilangan sumber pendapatannya dari menangkap ikan. Para laki-laki terpaksa migrasi ke kota mencari penghasilan lain, dan meninggalkan rumah tangga mereka di tangan para perempuan yang harus bertahan hidup dengan cara seadanya.

Orang-orang yang menjadi pekerja di perkebunan sawit situasinya juga buruk. Mereka dipekerjakan sebagai buruh harian, berangkat jam 2 dini hari, dan baru kembali ke rumahnya pada jam 3 sore. Pekerja perempuan biasanya ditugaskan untuk memberikan pupuk kimia atau melakukan penyemprotan herbisida kepada tanaman sawit. Jika ada kesalahan yang menurut mandor telah mereka lakukan, maka upah harian mereka akan dipotong.

Lalu bagaimana dengan nasib petani sawit skala kecil (smallholders) yang sering digadang-gadang dan dijadikan tameng bagi perusahaan? Nasib mereka pun tak kalah pahitnya. Kalau hanya punya kebun 1–2 hektar, tak akan cukup hasil kebun tersebut untuk menutupi kebuthan sehari-hari. Seorang Bapak mengatakan bahwa ia harus berutang di warung untuk mencukupi kebutuhan dasarnya sehari-hari. Bertani sawit tidaklah murah. Perlu pemeliharaan yang intensif, serta input bahan kimia yang banyak. Tak jarang, keluarga petani “mempekerjakan” anaknya di kebun.

Pertanyaannya sekarang, masih berharga kah mempertahankan industri dengan business model semacam ini? Apalagi, dengan adanya Rancangan Undang-Undang Perkelapasawitan yang sedang dibahas DPR saat ini — yang bukan hanya ingin melanggengkan business model yang buruk tersebut, tapi ingin menghisap habis sumber daya negara untuk memfasilitasi keberlanjutan profit perusahaan, masih kah kita mau diperdaya?

Tambora

Dua tahun yang lalu aku mendaki Tambora. Setiap perjalanan pendakian selalu memberikan pengalaman yang berbeda dan meninggalkan kenangan yang berbeda pula. Tambora memberikan arti tersendiri bagiku karena lokasinya yang terletak di kampung halaman bapakku di Pulau Sumbawa sana.

Tambora juga memiliki arti tersendiri bagi nusantara dan juga dunia. Setelah letusan Gunung Toba di masa pra-sejarah yang meninggalkan danau kaldera terbesar di nusantara, letusan Tambora adalah letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah dicatat oleh sejarah. Tahun 2015 yang lalu adalah tahun ke-200 pasca letusan dahsyat Tambora. Letusan tersebut mengakibatkan gunung terpotong hingga hanya tinggal setengahnya, dan konon letusannya menyebabkan musim dingin di Eropa berlangsung lebih lama, selain melenyapkan setengah penduduk pulau Sumbawa di masa itu.

Perjalanan kami ke Tambora dimulai dari Desa Pancasila, satu desa yang berada di kaki Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Tak lama setelah tiba di Desa Pancasila, kami segera packing dan bersiap untuk mendaki. Sudah agak sore ketika kami mulai bergerak. Diperkirakan kami akan tiba di Pos 1 menjelang maghrib. Di Pos 1 ini pula lah kami akan memasang tenda dan bermalam. Perjalanan dari Desa Pancasila menuju pintu rimba melewati kebun-kebun kopi warga. Setelah melewati kebun warga kami tiba di hutan tropis dataran rendah. Gunung Tambora bukanlah gunung yang sangat tinggi. Ketinggiannya sekitar 2.850 meter di atas permukaan laut. Namun perjalanan akan cukup panjang karena diawali dari titik pendakian yang tidak terlalu tinggi, yaitu sekitar 600 meter di atas permukaan laut.

Kami beruntung karena pada saat itu Festival 200 Tahun Tambora baru saja berlalu, sehingga gunung tidak ramai dan tidak sepenuh saat Festival. Pos 1 adalah suatu tanah lapang yang cukup luas dan dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Tak jauh dari sana terdapat sumber mata air yang cukup besar. Karena tiba saat maghrib, maka kami punya waktu yang cukup lama untuk berdiam di Pos 1 hingga keberangkatan kami ke pos berikutnya di keesokan harinya. Dari sekitar 20 orang anggota grup kami, hanya ada 4 orang perempuan yang ikut. Oleh karenanya kami bilang bahwa ini lah saatnya para lelaki yang melakukan tugas-tugas “domestik” semacam memasak. Kami para perempuan mau leyehleyeh saja. Hahhaa.. Sayangnya, satu orang teman perempuan kami menderita sakit, sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian. Pagi-pagi sekali temanku ini diantarkan kembali ke kamp di Desa Pancasila.

Keesokan pagi kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur pendakian adalah jalur yang cukup terbuka, berupa tanjakan landai yang seakan tiada berujung. Jalur mendaki tanpa jeda ini ternyata cukup membuat lelah. Apalagi rutenya yang relatif lurus cukup menguji kekuatan hati yang didera perasaan bosan. Namun seperti biasa, dalam setiap pendakian kita selalu mengalami situasi ‘maju kena, mundur kena’. Artinya, mau lanjut terus kok rasanya gak sampai-sampai, mau kembali pun rasanya nanggung. Maka tak ada solusi lain selain maju terus.

Pos 2 terletak di ujung jalur menanjak landai tak berujung ini. Kami tiba sesaat sebelum tengah hari. Oh iya, hampir lupa, selama perjalanan ke Tambora ini hampir sepanjang waktu kami didera hujan. Kembali, sepatu yang baik –kuat dan tahan air– adalah item yang esensial. Selain itu tentu saja raincoat yang juga berkualitas, serta carrier dan cara packing pakaian yang baik sehingga pakaian kita tidak mudah basah. Anggota tubuh basah kuyup adalah the big NO buat saya. Rute dari Pos 2 menuju Pos 3 adalah rute menanjak melalui lebatnya hutan Tambora. Keuntungannya, air hujan tidak leluasa menghampiri kita karena terhalang oleh rindangnya pepohonan.

Sesampainya di Pos 3 hari sudah menjelang sore. Karena kondisi hujan yang cukup lebat kami mulai mendiskusikan apakah kami mau lanjut berjalan atau buka kamp dan menginap kembali di Pos 3. Kalau kami menginap, maka akan terlalu banyak waktu yang terbuang, namun melanjutkan berjalan dalam kondisi hujan lebat pun tidak terlalu mengenakkan dan bisa memperlambat jalan kita. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan berjalan. Tentu saja perlengkapan jalan malam seperti senter atau head lamp langsung dipersiapkan.

Perjalanan dari Pos 3 ke Pos 4 adalah perjalanan yang cukup menegangkan, bukan karena jalurnya yang terjal, atau kondisi hari yang sudah menjelang malam, tetapi karena jalur ini dikenal jalur yang penuh dengan tanaman jelutung (Girardina palmata). Jelutung atau jelatang adalah sejenis tanaman perdu dengan daun berbentuk menjari seperti daun pepaya dan memiliki duri di sekujur tubuhnya sampai ke batang. Jika kulit kita tersentuh bagian dari tanaman ini maka niscaya kita akan merasakan gatal yang menyengat. Oleh karenanya mengenakan pakaian yang rapat sangat disarankan. Namun untungnya di sepanjang jalur yang dipenuhi semak jelutung ini terdapat batang pohon besar yang roboh dan bisa dijadikan jalan, sehingga paling tidak semak jelutung tersebut tidak sampai menyentuh wajah kita. Selain itu, waktu tempuh dari Pos 3 ke Pos 4 tidak lah selama yang diperkirakan semula. Sekitar waktu maghrib kami telah tiba di Pos 4 dan segera menyiapkan kamp tempat kami bermalam. Dari Pos 4 ini lah kami akan bergerak menuju puncak Tambora menjelang dini hari nanti.

Malam hari kami habiskan dengan ngobrol dan bercanda bersama teman-teman satu grup. Bisa dikatakan grup kami adalah satu-satunya grup yang pada malam itu berada di kaki puncak Tambora. Gunung sebesar ini sepi, seakan kami miliki sendiri. Namun kesendirian grup kami tak lama berubah. Menjelang tengah malam ada 2 grup lagi yang datang dan bikin kamp berdekatan dengan kami. Namun jumlah anggota grup tersebut tidak sebesar kami.

Sekitar pukul 2 dini hari, kami pun bersiap menuju jalur ke puncak. Untungnya cuaca sangat cerah tanpa awan. Mungkin hujan sudah tercurahkan sepenuhnya di dua hari terakhir yang menemani terus sepanjang perjalanan kami dari bawah. Menurut teman-teman yang menemani, ada dua jalur menuju ke puncak. Kami mengambil jalur yang punya nama agak seram, yaitu jalur kuburan, karena kita akan melewati kuburan seseorang yang pertama kali membuka jalur pendakian ke Tambora.

Hampir semua orang dari grup kami adalah pendaki veteran. Mereka adalah anggota kelompok pecinta alam ketika masa kuliah. Dan hanya beberapa orang saja yang masih aktif mendaki gunung. Yang lainnya sudah lama pensiun. Sementara aku adalah pendaki pemula, yang baru mulai mendaki gunung di tahun 2011, dan langsung jatuh cinta pada gunung. Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani adalah dua gunung yang sudah kudaki dan menambah perasaan bangga di hati. Hihihii.. Dan Tambora segera akan menjadi tambahan di dalam daftar kebanggaan diri. :))

Menjelang fajar kami memasuki jalur dataran berpasir yang berada di pinggir kaldera Tambora. Kaldera Tambora adalah salah satu kaldera terluas yang ada di Indonesia. Diameternya 7 km dan kedalamannya sekitar 1 km. Dan sempat aku mengira bahwa kaldera ini lah puncak dari Tambora dan titik akhir pendakian. Ternyata, puncak Tambora bukan berada di sini. Kami haru melalui jalur berbatu dan mendaki terjal dari pinggir kaldera untuk menuju puncak. Dibandingkan Rinjani dan Kerinci, perjalanan ke puncak Tambora tidaklah terlalu sulit. Tidak ada pasir terjal yang membuat kaki kita terseret ke bawah setiap kali kita melangkah, jika kita tidak memiliki pijakan yang kuat.

Puncak Tambora, akhirnya! Matahari sudah naik ketika kami tiba di puncak Tambora. Kami cukup banyak menghabiskan waktu di sana. Istirahat, foto-foto, dan sibuk mengagumi pemandangan dari atap bumi ini. Akibat terlalu lama berada di puncak, kami tiba kembali di Pos 4 dengan cukup terlambat. Tak lama setelah makan siang, kami pun segera packing dan bersiap untuk pulang.

Perjalanan pulang kali ini memiliki cerita tersendiri. Sekitar jam 14:00 kami mulai bergerak dari Pos 4. Seorang teman kami, Mukri, menderita sakit pada malam sebelumnya sehingga dia tidak ikut ke puncak. Namun entah apa yang terjadi, pada perjalanan pulang ini dia bergerak dengan sangat cepat. Temanku yang lain, Yufik, melihat hal yang aneh ini lantas bergerak cepat pula dan berada tepat di belakangnya. Semula aku ingin menjadi sweeper yang berada di belakang, namun ternyata aku tidak terlalu sabar melihat pergerakan teman-teman yang lambat. Yah, karena mayoritas dari kami sudah lama tidak pernah lagi naik gunung, stamina menjadi sangat lemah. Belum lagi beberapa mengalami cedera kaki sehingga musti berjalan pelan-pelan. Maka aku memutuskan untuk berjalan di depan. Bersama dengan seorang guide yang kami ajak dari basecamp Desa Pancasila, aku berjalan cepat mengikuti langkah temanku Mukri dan Yufik.

Memasuki Pos 3 hujan kembali turun, kali ini sangat deras. Teman-temanku yang lain memilihi untuk menunggu hujan agak mereda sebelum melanjutkan pergerakan. Namun aku menimbang-nimbang, dengan pergerakan yang sangat lamban akibat cedera dan kondisi cuaca yang buruk, nampaknya kami tidak akan bisa menembus hingga pintu rimba malam ini. Skenario kedua, kami harus kembali menginap satu malam di salah satu Pos, dan kembali besok pagi. Aku merasa sudah tidak nyaman dengan kondisi baju yang mulai basah, dan sepatu yang mulai basah. Maka aku putuskan untuk mengikuti Tim yang di depan, Mukri dan Yufik, dan menetapkan hati untuk tiba di Desa Pancasila malam itu juga.

Menjelang Maghrib rombongan tim advance –saya, Yufik, Mukri, dan seorang guide, sudah sampai di Pos 1. Hari sudah mulai gelap, kami menimbang-nimbang kembali apakah akan terus jalan atau bermalam satu malam lagi di Pos 1. Rombongan yang kami tinggal di belakang sudah dapat dipastikan akan menginap satu malam lagi, mengingat kondisi yang sudah lemah dan banyak yang cedera kaki. Di tengah-tengah diskusi, tiba-tiba guide kami bilang bahwa dia mengetahui jalan pintas, yaitu jalur di luar jalur yang biasa dipakai pendaki, tapi terkadang dipakai oleh penduduk sekitar dan guide. Dia bilang, kalau kami berjalan dengan pace seperti tadi kami turun dari Pos 4, maka kami bisa tembus sampai pintu rimba dalam dua jam. Karena kondisi sepatu dan baju yang sudah basah ditembus hujan deras selama dalam perjalanan, aku sudah tidak bisa lagi bermalam. Yang aku inginkan adalah segera tiba di basecamp, bersih-bersih, ganti baju, dan tidur dalam keadaan kering.

Maka bergerak lah kami. Jalur ini jarang dilewati, sehingga guide kami harus sering menggunakan goloknya dan menerabas semak-semak atau ranting-ranting yang menghalangi jalur. Terus terang selama perjalanan di jalur ini aku merasa degdegan, apalagi guideku cukup sering berdehem di tempat-tempat tertentu. Aku agak paham maknanya –semacam kode minta ijin lewat kepada makhluk apapun yang ada disana, namun sungguh aku tidak berniat menanyakan atau membahasnya.

Setelah dua jam yang penuh dengan degupan cepat jantung –karena berjalan dengan cepat dan faktor lainnya, tiba lah kami di pintu rimba. Di situ sudah menunggu banyak supir ojek dan motor-motor trailnya. Tanpa ba-bi-bu langsung kami masing-masing loncat ke boncengan. Perjalanan dari pintu rimba ke basecamp dengan menggunakan ojek memakan waktu lebih kurang 15-20 menit (aku tidak menghitungnya, hanya yang kurasakan waktu tempuhnya cukup lama).

Alhamdulillah, akhirnya aku tiba di basecamp. Dan mengingat persediaan logistik teman-teman yang sudah menipis, maka segera aku minta dibuatkan nasi bungkus untuk dibawa oleh guide lainnya kepada teman-temanku yang masih di atas. Dua trip logistik kami kirimkan, yang satu di malam hari sekitar jam 10, dan yang kedua menjelang dini hari untuk mereka sarapan.

Oh iya, saat tiba di pintu rimba, guideku bilang bahwa aku termasuk perempuan yang kuat, “hanya” 6 jam waktu yang kuperlukan untuk turun dari Pos 4 hingga ke Pintu Rimba. Record, katanya! Satu lagi, ketika kutanya kepada Mukri kenapa dia berjalan begitu cepat tanpa henti, tanpa tedeng aling-aling, membuat kami tersengal-sengal mengikutinya, dia bilang, “Gue naik kuda, makanya cepat.” Hahahaa… Tambora, tak akan pernah aku lupa.

pemilupres dan sepak bola

Pemilihan presiden kali ini memunculkan fenomena yang menarik, di mana terjadi perdebatan di antara warga negara yang akan menggunakan haknya di tanggal 9 Juli yang akan datang, yang suasananya mirip-mirip dengan keriuhrendahan supporter sepak bola menjelang pergelaran Piala Dunia. Kalau ditilik dan dilihat, perdebatan yang muncul mulai dari yang ideologis, teknis, sampai yang klenik atau berbau SARA. Beda-beda tipis lah sama argumentasi para penggemar sepak bola tentang tim favoritnya maupun tim lawan.

Saya ingat waktu Piala Dunia tahun 2006 (kalau nggak salah), di mana waktu itu Zinedine Zidane naik daun dan dielu-elukan seantero dunia karena kejagoannya bermain. Para penggemarnya saat itu, terutama yang muslim, merasa ikut bangga dan “terwakili” karena Zidane itu keturunan Aljazair dan konon kabarnya muslim. Padahal apakah kejagoannya bermain bola itu akibat dia memeluk agama Islam atau akibat dia rajin latihan, juga nggak jelas –belum ada yang meneliti, kan? Nah, mirip-mirip juga dengan mempermasalahkan keislaman atau ketidakislaman capres-capres. Memangnya kompetensi sebagai presiden ditentukan oleh agama apa yang dipeluk atau tidak dipeluk oleh capres? Kalau moral yang dipermasalahkan di sini, apa parameter moral itu? Berapa orang koruptor yang berkasus di KPK itu yang berkali-kali naik haji atau bangun mesjid di mana-mana?

Mengikuti perkembangan dinamika pemilihan presiden ini, saya justru khawatir bangsa Indonesia ini akan jadi tercerai berai, tawuran dan bentrok di mana-mana –mulai dari yang virtual sampai yang fisik. Saya khawatir kelompok-kelompok pendukung capres ini akan terjebak pada pengkultusan figur capres yang bersangkutan, yang pada akhirnya bisa melakukan pembelaan buta. Mirip-mirip lah dengan supporter  dan penonton pertandingan sepak bola. Padahal, apakah penonton sepak bola ini akan kecipratan duit transferan pemain-pemain dunia tersebut? Nggak juga, kan? 

Nah, belum jadi presiden aja sudah dibela secara buta, apalagi nanti sudah jadi presiden, bisa-bisa terjadi tirani satu kelompok pemenang terhadap kelompok lainnya. Beda-beda tipis juga dengan supporter tim yang menang pertandingan –arak-arakan keliling kota tanpa mengindahkan hak warga lain yang bukan penonton dan bukan supporter. 

Tapi saya harap, pendukung capres ini juga bisa berlaku fair terhadap capres yang dipilihnya kelak. Kalau memang kinerjanya nggak benar, jangan ragu-ragu juga untuk memprotes. Iya, seperti fans sepak bola itu lah. Kalau tim favoritnya bermain nggak benar, mereka nggak ragu-ragu marah-marah dan melempar apapun yang bisa dilempar dari tribun penonton. Bahkan kalau perlu turun ke lapangan.

Dan akhirnya, harapan saya, semoga pilpres tahun ini benar-benar seperti pergelaran pertandingan sepak bola. Habis pergelaran, kembali aja ke peran dan tugas masing-masing lah. Nggak usah dilanjutin tawurannya, dan tetap bisa ketawa-ketiwi bersama, tanpa amarah, tanpa dendam. 

Bisa?