menteng ‘resto’

Tempat ini sudah pasti tidak asing lagi bagi anak Jakarta. Sudah sejak lama jejeran pedagang makanan mangkal disini dan menjadi tempat hang-out open air yang digemari oleh anak muda, orang kantoran, bahkan pedugem yang kelaparan sehabis bergoyang di club-club malam.

Buka sejak habis maghrib sampai lewat tengah malam setiap harinya, tempat makan ini sekarang sudah lebih rapi tertata dan cukup teratur. Dulu, para pedagang memarkir gerobak-gerobaknya sembarangan di pinggir jalan dan trotoar, dengan bangku kayu panjang tanpa meja. Seringkali para pembeli harus rela lesehan di teras gedung kantor yang sudah tutup. Sekarang, mereka lebih tertata dengan gerobak yang seragam, dan punya meja makan lengkap sehingga lebih nyaman bagi pembeli.

Menu disana cukup beragam, mulai dari yang ringan macam pempek, batagor, dimsum, goreng-gorengan, hingga bubur ayam, sate padang, sop buntut dan nasi uduk. Pokoknya lengkap. Harganya, well walaupun agak sedikit lebih mahal dari harga pedagang gerobakan yang biasa lewat namun jelas kauh lebih murah daripada makanan yang dijual retso-resto ber-AC. Dan selayaknya warung-warung makan lainnya, disini pun kita akan sering didatangi kelompok musik hidup alias pengamen. Tinggal pilih, mau makan sambil diiringi musik atau memilih menghentikan si pengamen sebelum dia mulai membuka mulutnya.

bebek ginyo

Rumah makan ini cuma punya satu menu utama: bebek. It’s only bebek dan bebek only. Tinggal pilih, mau bebek bakar, bebek goreng tepung, bebek balado atau bebek…nggg apa ya…lupa. Menu bebek ini bisa ditemani pula dengan menu ringan lain seperti tahu, tempe, dan tentu saja lalapan. Oh iya, pilihan nasinya ada 2, bisa nasi putih biasa, atau nasi uduk. Yang jeas, rasanya…hhmmm..yummy deh pokoknya. Liat aja contohnya di atas.

Selain menunya yang khas itu, rumah makan ini juga punya desain interior yang unik. Dindingnya dipenuhi dengan iklan-iklan tempo doeloe, yang membuat kita senyum-senyum simpul sendiri membaca teksnya.

Oh iya, kalau mau mampir, langsung aja meluncur ke Tebet, di dekat SMP 115, Jakarta Selatan. Share ya reviewnya… Enjoyy!

kopi solong, ayam tangkap, dan mie razali

Sekali lagi saya menginjakkan kaki di Aceh. Pergi ke Aceh hampir selalu berarti menikmati pengalaman kuliner. Sudah sejak lama saya ingin membagi pengalaman tersebut sebenarnya, namun entah kenapa baru sekarang kesampaian. Mungkin karena baru sekarang saya tidak lupa mengabadikan beberapa jenis makanan dan minuman yang saya nikmati disana.

Pergi ke Banda Aceh tidak akan lengkap tanpa mampir di Warung Kopi Solong yang terletak di Jalan Ulee Kareng. Walaupun beberapa teman mengatakan bahwa kopi disana bukanlah yang terenak, namun sebagai tempat berkumpul warkop Solong adalah yang paling terkenal. Sejak pagi hingga larut malam, warkop ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

sanger


Disini dijual 2 jenis kopi, yaitu kopi hitam biasa dan kopi susu atau biasa disebut sanger (pengucapan huruf e-nya seperti pengucapan e dalam kata dengar). Seperti di warkop-warkop tradisional pada umumnya mereka sudah memasukkan sejumlah gula pasir ke dalam minuman. Ingin manis atau setengah manis, tergantung kita mengaduknya.

Selain kopi (dan teh), warkop Solong juga menyajikan berbagai jajanan tradisional, seperti di bawah ini. Mulai dari ketan, berbagai jenis kue yang saya tak tahu apa namanya, sampai srikaya. Yang terkahir ini  adalah favorit saya. Terbuat dari campuran telur dan gula merah yang dikocok sampai mengembang, dimasak, dan kemudian dimasukan cetakan dan didiamkan hingga mengeras. Euunnnaaak tenan!! Almarhum nenek saya dulu sering membuat srikaya yang dituang di atas ketan. Beliau bilang, ketan srikaya ini adalah makanan raja-raja.

dsc00270.jpg

dsc00269.jpg

Warkop Solong juga menjual martabak telur, mie kocok dan juga mie Aceh yang rasanya nyam…nyam… Bila memesan martabak telur di Aceh jangan membayangkan martabak telur atau martabak mesir seperti yang biasa kita temui di Jakarta. Disini yang namanya martabak ya basically cuma telur dadar yang dicampur daun bawang, kol, dan bawang. Yah, lumayan lah untuk cemilan di sore hari.

Selain warkop solong, tenpat lain yang juga wajib dikunjungi adalah restoran yang menyajikan menu ayam tangkap. Entah kenapa disebut ayam tangkap. Beberapa orang bahkan menyebutya ayam sampah. Mungkin penyebutan yang terakhir ini lebih bisa menggambarkan penyajian masakan ayam ini –ayam utuh atau setengah utuh dipotong kecil-kecil, digoreng dengan berbagai campuran daun seperti daun pandan dan daun temurui, yang kabarnya cuma terdapat di  Aceh. Jangan tanya pada saya apa bumbunya, karena saya bukan orang yang ahli dalam masak memasak. Kalau dalam urusan cicip mencicip lain ceritanya..he..he.. Yang jelas, kalau makan makan ayam ini kita memang harus mengais-ngais potongan-potongan ayam diantara tumpukan dedaunan tadi. Tak lupa diletakkan pula cabe hijau yang digoreng utuh bagi mereka yang suka pedas.

ayam.jpg

The last but not the least, mie Razali. Mie Razali menjual berbagai jenis makanan mie aceh. Bentuk mie aceh lebih menyerupai udon, mie khas Jepang yang bentuknya bulat agak besar. Di warung mie Razali mie aceh dimasak dengan dengan 2 cara, direbus atau disebut mie masak, dan digoreng. Campurannya macam-macam, ada kepiting, udang, dan daging. Jangan lupa juga untuk memesan minumam dingin ketimun kerok yang menyegarkan dan bisa meminimalisir kolesterol hehehe…

kpr dkk

Jangan salah duga. KPR yang saya tulis di atas itu bukan kependekan dari Kredit Pemilikan Rumah, melainkan Kapurung. Lebih lengkapnya lagi Kapurung Palopo. Seperti bisa diterka dari namanya, kapurung adalah makanan khas Palopo, Sulawesi Selatan. Menikmati kapurung dan teman-temannya merupakan pengalaman kuliner saya ketika berada di Makasar baru-baru ini.

kpurung

Kapurung adalah masakan berkuah dimana segala macam dicemplungkan disana. Campur aduknya rada mirip dengan bubur Manado, tapi jelas kapurung ini tak mengandung bubur. Bagian utama kapurung adalah kuah yang berasal dari air ikan, air sayur maupun air daging yang dicampur dengan asam patikala, asam khas dari Sulsel sana. Terbayang kan segarnya. Isi dari kuah asam tersebut sangat bervariasi, mulai dari sayur bayam, irisan jagung, tomat, jantung pisang sampai udang. Nah, yang unik, di dalamnya juga ada potongan sagu basah macam ongol-ongol. Jadi si sagu inilah sumber karbohidratnya. Menyeruput kuah kapurung di tengah hawa terik Makasar memang benar-benar menyegarkan…..sluurpp…

Teman si kapurung yang juga tak kalah dahsyat sensasinya, adalah lawa. Kata lawa berasal dari bahasa Makasar ‘dilawa’ atau artinya dihancurkan. Lawa ini dibuat dari jantung pisang, kelapa goreng, serta ikan segar yang dicampur dan dihancurkan. Tak lupa ditambah juga dengan asam, jeruk, dan cabe kalo suka pedas. Lawa ini paling enak dimakan dengan ruji atau dange, lempengan sagu kering. Anak-anak Makasar menyebutnya ‘kaset kosong’ karena rasanya yang tawar dan bentuknya yang pipih mirip bentuk kaset audio. Ruji atau dange ini dibuat dengan mencetak sagu semi kering pada alat cetak dari tanah liat dan dipanggang secara tradisional dengan kayu bakar. Hmmmm…maknyus deh pokoknya….

ruji

Satu lagi teman KPR yang juga asam-asam menyegarkan adalah kuah ikan parede. Parede berasal dari ‘pa’ yang artinya aktifitas masak memasak, dan ‘rede’ yang berarti mendidih, berasal dari bahasa Bugis Luwu. Ikan yang digunakan biasanya ikan bandeng atau kakap putih. Seperti biasa, asam patikala menjadi campuran wajib kuah asam-asam ini. Nyyaaaaammmm…..

Satu lagi oleh-oleh pengalaman kuliner saya adalah mie titi. Saya tidak tahu darimana asal muasal penamaan mie ini sehingga namanya mirip nama orang. Mie titi ini tak lain dan tak bukan adalah mie kering siram. Siramannya campuran potongan daging ayam, sayur sawi, siomay, dll dll. Lihat aja gambarnya di bawah ini. Sueeddaaap tenaann…

mie


Satu lagi yang tentu saja tidak boleh dilewatkan adalah mencicip kopi khas Toraja yang dijajakan di warung-warung kopi dan cafe-cafe yang bertebaran di seantero Makasar.

Mau?

mulailah dari perut

Menjamu tamu nampaknya memang jadi budaya orang Asia. Demikian yang gue temui juga di Korea. Walaupun sama-sama dari negeri Timur Jauh, orang Korea terlihat lebih easy going dan nyantai dibandingkan orang Jepang. Less stylish too ;P (no offense!). Menurut seorang temen Indonesia yang udah 7 tahun tinggal di Korea, memang demikian kebiasaan orang Korea. Nggak salah-salah, hidangan yang disajikan pun menuh-menuhin meja. Dan memang selalu begitu keadaannya.

dscn4209.jpg

Ketika kita duduk, pasti langsung disajikan kimchi dan kak-tu-gi. Kimchi adalah sawi putih yang berbumbu cabe merah. Rasanya asem-asem pedas. Sementara Kak-tu-gi adalah lobak yang disajikan dengan cara yang serupa. Memang orang Korea ini suka yang pedas-pedas. Setiap saat, setiap waktu, kalo yang namanya makan, ya pasti ada 2 jenis makanan pembuka itu.

Jenis hidangan utama yang umum dimakan oleh orang Korea adalah bi bim bap. Ini adalah sejenis nasi campur dalam porsi besar yang disajikan dalam mangkuk besar panas (hot bowl). Selain nasi, ada sayur, jamur, daging –whatever lah– yang dicampur dengan sejenis saos berwarna merah. Biasanya, di atasnya juga diletakkan telor goreng mata sapi setengah matang. Kemudian kesemuanya itu diaduk dan literally dicampur-campur. Bagi yang nggak terbiasa melihat nasi dicampur-campur begitu mungkin akan menjadi ilfil. Tapi gue kasih saran, mendingan tutup mata, dan makan aja. Rasanya enakkkkk banget!! (apa sih yang nggak enak buat gue, btw?).

Selain suka makanan yang pedas-pedas, mereka juga senang makanan yang panas-panas. Kadang gue suka heran, kok nggak jontor ya itu bibir, nyeruput sup yang masih panas-panas begitu? Dan untuk cuaca yang sedang hujan dan dingin, memang menu sup yang selalu jadi andalan. Tinggal pilih, mau sup ikan? sup daging (seol-leong-tang), atau sup ayam (sam-gye-tang)? Jangan pernah mbayangin hidangan sup seperti disini –yang dagingnya seuprit dan kecil-kecil. Untuk menuhin mangkuk yang besar itu, mereka menyajikan daging dan ayam dalam bentuk yang utuh! Gueddeee….Sebagai gambaran, untuk sup daging, daging yang dimasukkan ke dalam sup itu ya daging seukuran steak gitu lah…Asssoooyyy kan?

“Kericuhan” soal porsi yang kadang memerlukan perjuangan untuk menghabiskannya (nggak tega kalo harus mubazir) itu ditambah lagi dengan bentuk sumpit yang tipis, kecil, dan terbuat dari logam. Perlu konsentrasi yang cukup tinggi supaya makanan yang kita jepit dengan sumpit itu tidak tergelnicir berkali-kali.

Dan seperti pepatah orang Minang, untuk menjalin suatu hubungan, “..mulailah dari perut.” Nampaknya filosofi ini dihayati sekali oleh orang-orang Korea.

sam gye tang for the soul

 

dscn4251.jpg

Sam gye tang adalah sejenis masakan khas Korea, berupa sup kaldu berisi satu ekor ayam utuh yang isi perutnya sudah dikeluarkan dan diganti dengan nasi ketan. Dimasak dengan berbagai bumbu yang menyegarkan dan menyehatkan, seperti ginseng. Rasanya ueeennnaakkk tenan, terutama dimakan di tengah cuaca yang dingin karena hujan. Apalagi ditambah satu sloki kecil soju –traditional wine-nya Korea. Hmmm, nyam nyam nyam…Lupa temen deh pokoknya!

Seperti temen gue pernah bilang ke gue, gampang banget untuk bikin gue senang dan bahagia. Cukup makan dan tidur tanpa mimpi udah merupakan surga dunia buat gue. Kata nenek gue, itulah rejeki yang sebetul-betulnya –apa yang elu pakai, makan, minum, dan rasa pada saat itu. Dan bukan apa yang terparkir di garasi, atau yang tersimpan di brankas-brankas bank.

Semangkuk besar sam gye tang ditambah dengan warm-hearted companion sudah lebih dari cukup untuk membuat hati bahagia, dan ngerasain rejeki yang sebetul-betulnya. Tapi memang rejeki selalu ada waktunya, kadang nggak bisa dinikmati selamanya. Tapi untuk yang sejenak dan yang sedikit ini, gue ngerasa bersyukur banget. I finally feel my soul beats in the old rhythm that I thought I have lost.

Dan buat yang di seberang lautan, It WAS a very very special treat! Kamsa hamida!

crab and asparagus soup

Akhir-akhir ini terobsesi sama sup kepiting-asparagus. Nggak tau gimana asal muasalnya, tau-tau kangen sama sup kepiting-asparagus bikinan restoran seafood 99 yang dulu berlokasi di Jl. Kapt. Tendean Mampang (di sebelah sekolah Tarakajoni…eh, Tarakanita). Restoran ini adalah resto favorit keluarga besarku dulu. Dan ritual makan disana pasti dimulai dengan appetizer sup kepiting-asparagus yang ruasanya uennaaakkk tenan…Sayang sekarang resto ini udah nggak ada.

Obsesi sup kepiting-asparagus ini bermula waktu di Bali ngeliat menu, eh ada sup ini. Tiba-tiba teringat resto seafood 99 and pengen nyoba. Hasilnya? Mengecewakan. Padahal harganya cukup mahal dan diserve dengan potongan roti perancis yang macem gebukan maling itu. Dan obsesi ini terus berlanjut di beberapa resto berikutnya. Tetap mengecewakan. Instead of kepiting, supnya malah penuh dengan telur carut marut. Dikira gue nggak bisa bedain telur dan kepiting? Begitu juga di Bandung, nyobain makan di Dakken…sami mawon…gak enak. Barusan, nyobain menu serupa di resto dimsum di Kemang…huaaaa…masih sama nggak enaknya. Kuciwa deh pokoknya…

Halo..halo…ada yang tau sekarang resto seafood 99 itu pindah kemana? atau ada yang tau tempat makan yg jual sup kepiting-asparagus yang enak? Obsessed nih!