Asimetris

Beberapa hari yang lalu saya diminta untuk menjadi pemantik diskusi film ‘Asimetris’ yang dibuat oleh WatchDoc. WatchDoc adalah kelompok pembuat film dokumenter independen yang kerap mengangkat permasalahan-permasalahan sosial-ekologis yang muncul di bangsa kita. Dengan gaya penyajian yang populer dan dengan data serta analisis yang kuat, film-film yang dibuat WatchDoc tidak membosankan, dan selalu berhasil membuka mata dan memprovokasi pemikiran dan hati para penontonnya.

‘Asimetris’ in a nutshell adalah tentang ketidaksetaraan, ketimpangan, ketidakadilan yang ada dalam industri perkebunan sawit. Dengan durasi sekitar satu jam ‘Asimteris’ mampu menyihir para penontonnya dengan fakta-fakta yang terjadi pada industri komoditi yang kerap kita gunakan sehari-hari. Bahkan bagi saya yang lumayan sering datang ke perkebunan sawit, melihat situasi dan mendengarkan secara langsung paparan warga yang terjerat maupun terdampak, film ini tetap mampu mengaduk emosi.

Satu yang membuat saya shock, dan saya sampaikan pula dalam diskusi pasca pemutaran film, adalah mendengar Presiden Joko Widodo berkata dalam satu acara peremajaan perkebunan sawit rakyat. ”Kalau perusahaan bisa produksi 8 ton perhektar, petani juga harus bisa produksi 8 ton perhektar,” katanya.

Kenapa saya shock? Pertama, angka ini mengandung ketidakbenaran. Menurut data terbaru Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, produktifitas perkebunan swasta berkisar di angka 3,9 ton/hektar/tahun. Angka ini jauh di bawah produktifitas kebun-kebun sawit di Malaysia yang bisa mencapai 12 ton/hektar/tahun. Entah siapa yang membisiki Presiden dengan angka fiksi 8 ton perhektar tersebut!

Kedua, sebagaimana saya katakan dalam diskusi, menyuruh petani untuk berproduksi seperti perusahaan, ibarat menyuruh tukang ojek untuk balapan dengan Valentino Rossi: jelas tak setara. Asimetris. Saya katakan, dalam hal ini, nampaknya Presiden kita mengalami kegagalpahaman realita yang terjadi di republik ini.

‘Asimetris’ memaparkan secara cukup lengkap isu-isu yang terkait dengan industri perkebunan sawit, yang di Indonesia mayoritas dikuasi hanya oleh sekitar 25 grup perusahaan. Luas tanah yang dikuasai oleh the Top25 ini kira-kira setengah Pulau Jawa, menurut organisasi Transformasi untuk Keadilan (TUK-Indonesia). Tak berlebihan jika mereka disebut sebagai taipan, alias tuan tanah.

Perampokan tanah oleh perusahaan terjadi di hampir seluruh propinsi di Indonesia, dan telah memicu terjadinya konflik terbuka, yang sering berakhir pada kriminalisasi warga yang menolak tanahnya dirampok. Bahkan dipapaparkan oleh seorang warga, ia terpaksa menanami tanahnya seluas 50 hektar dengan tanaman sawit agar tanah tersebut tidak diambil begitu saja oleh perusahaan.

Praktik pembukaan dan pembersihan lahan dengan membakar secara luas yang dilakukan perusahaan mengakibatkan tragedi kabut-asap di tahun 2015 yang membuat seperempat juta jiwa orang menderita ISPA (infeksi saluran pernafasan akut), serta 11 bayi meninggal dunia. Warga di Papua harus kehilangan sumber makanan pokoknya, sagu, karena hutan sagunya dibabat habis oleh perusahaan perkebunan sawit. Kerugian ekonomi yang harus ditanggung negara dan rakyat akibat tragedi kabut-asap mencapai sekitar Rp.200 triliun. Padahal, menurut Menteri Keuangan, pendapatan negara dari ekspor minyak sawit mentah (yang merupakan 80% dari produksi) ini berkisar di angka Rp.231,4 triliun.

Pencemaran air akibat limbah pabrik minyak sawit mengakibatkan berbagai kelompok warga kehilangan sumber pendapatannya dari menangkap ikan. Para laki-laki terpaksa migrasi ke kota mencari penghasilan lain, dan meninggalkan rumah tangga mereka di tangan para perempuan yang harus bertahan hidup dengan cara seadanya.

Orang-orang yang menjadi pekerja di perkebunan sawit situasinya juga buruk. Mereka dipekerjakan sebagai buruh harian, berangkat jam 2 dini hari, dan baru kembali ke rumahnya pada jam 3 sore. Pekerja perempuan biasanya ditugaskan untuk memberikan pupuk kimia atau melakukan penyemprotan herbisida kepada tanaman sawit. Jika ada kesalahan yang menurut mandor telah mereka lakukan, maka upah harian mereka akan dipotong.

Lalu bagaimana dengan nasib petani sawit skala kecil (smallholders) yang sering digadang-gadang dan dijadikan tameng bagi perusahaan? Nasib mereka pun tak kalah pahitnya. Kalau hanya punya kebun 1–2 hektar, tak akan cukup hasil kebun tersebut untuk menutupi kebuthan sehari-hari. Seorang Bapak mengatakan bahwa ia harus berutang di warung untuk mencukupi kebutuhan dasarnya sehari-hari. Bertani sawit tidaklah murah. Perlu pemeliharaan yang intensif, serta input bahan kimia yang banyak. Tak jarang, keluarga petani “mempekerjakan” anaknya di kebun.

Pertanyaannya sekarang, masih berharga kah mempertahankan industri dengan business model semacam ini? Apalagi, dengan adanya Rancangan Undang-Undang Perkelapasawitan yang sedang dibahas DPR saat ini — yang bukan hanya ingin melanggengkan business model yang buruk tersebut, tapi ingin menghisap habis sumber daya negara untuk memfasilitasi keberlanjutan profit perusahaan, masih kah kita mau diperdaya?

policik

Lama kelamaan saya sebal juga dengan dunia perpolitikan nasional di Indonesia ini. Saat ini yang terjadi bukan saling beradu gagasan, ide, dan cita-cita masa depan yang ingin ditawarkan, tapi lebih banyak saling beradu nyinyir dan cela. Incumbent entah kenapa merasa insecured, dan melahap segala umpan yang dilemparkan oposisi. Dicela oposisi begini, langsung di-counter begitu, tak jarang disertai dengan nada-nada mengancam. Kelihatan sekali kejumawaannya, mentang-mentang berkuasa.

Well, namanya juga oposisi, berasal dari kata oppose —artinya menentang, menolak. Jadi ya wajar aja kalau mereka selalu tidak bersetuju dengan pekerjaan rejim penguasa, atau mencari-cari kelemahan atau kekurangan rejim yang berkuasa. Justru disitulah terjadi dinamika dalam politik, disitulah terjadi mekanisme chek and balance. Berharap oposisi memuji-muji itu menurut saya sih aneh dalam dunia politik. Lemparan umpan berupa kritik dari oposisi ini harusnya dihadapi dengan elegan oleh incumbent. Kasih aja data-datanya, dan kalau bisa sekalian meng-kick si oposisi akan bagus juga. Kalau masih ada kelemahan ya akui saja, toh rejim ini juga membawa warisan dari rejim-rejim sebelumnya. Dengan cara seperti ini maka terjadi pendidikan politik bagi warga negara. Warga negara kita sudah pintar kok, sudah bisa memilah-milah.

Ketakutan berlebihan ini sangat terasa mewarnai rejim pemerintahan hari ini. Akhirnya mereka kehilangan fokus. Alih-alih memperbaiki kinerja dan memastikan janji-janjinya terpenuhi, rejim hari ini sibuk main pingpong, dan terus terang situasinya sedang kepayahan juga menghadapi serbuan smash dari oposisi. Yah, salah sendiri, you have chosen to play their game sih!

Sebagai non-partisan, saya terus terang hopeless melihat perkembangan yang ada saat ini. Kedua kubu –baik incumbent maupun oposisi, sedang berlomba untuk menuju ke titik nadir. Race to the bottom. Namun di sisi lain saya melihat ada keuntungannya juga bagi warga negara, karena mereka pada akhirnya saling membuka dan menguak borok-borok mereka sendiri. Seluruh blok politik yang ada saat ini di Indonesia pada dasarnya punya dosanya masing-masing. Nggak ada satu pun yang suci tanpa noda. Yang dulu oposisi dan sekarang memerintah ternyata nggak jauh berbeda dengan rejim yang dahulu dikritiknya. Ada sih perbaikan-perbaikan disana-sini, tapi struktur dan wajahnya masih sama. Tidak terjadi transformasi, apalagi revolusi –entah itu revolusi mental atau revolusi paradigma.

Tinggal lah para warga negara –kita mau apa? Sebenarnya tidak perlu susah-susah untuk mencari tahu bagaimana para elit yang sekarang seolah berseteru, dulunya saling berkelindan, dan menelisik motifnya. Apa iya mereka memperjuangkan kepentingan warga negara? Atau mereka sebenarnya hanya memperjuangkan kekuasaannya, dan menggunakan kita-kita sebagai alatnya?

Seperti kata filosof Jerman, Nietzsche, politisi itu membagi orang menjadi dua kelompok: alat atau musuh. Tinggal lah kita, warga negara, mau jadi yang mana?

Tambora

Dua tahun yang lalu aku mendaki Tambora. Setiap perjalanan pendakian selalu memberikan pengalaman yang berbeda dan meninggalkan kenangan yang berbeda pula. Tambora memberikan arti tersendiri bagiku karena lokasinya yang terletak di kampung halaman bapakku di Pulau Sumbawa sana.

Tambora juga memiliki arti tersendiri bagi nusantara dan juga dunia. Setelah letusan Gunung Toba di masa pra-sejarah yang meninggalkan danau kaldera terbesar di nusantara, letusan Tambora adalah letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah dicatat oleh sejarah. Tahun 2015 yang lalu adalah tahun ke-200 pasca letusan dahsyat Tambora. Letusan tersebut mengakibatkan gunung terpotong hingga hanya tinggal setengahnya, dan konon letusannya menyebabkan musim dingin di Eropa berlangsung lebih lama, selain melenyapkan setengah penduduk pulau Sumbawa di masa itu.

Perjalanan kami ke Tambora dimulai dari Desa Pancasila, satu desa yang berada di kaki Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Tak lama setelah tiba di Desa Pancasila, kami segera packing dan bersiap untuk mendaki. Sudah agak sore ketika kami mulai bergerak. Diperkirakan kami akan tiba di Pos 1 menjelang maghrib. Di Pos 1 ini pula lah kami akan memasang tenda dan bermalam. Perjalanan dari Desa Pancasila menuju pintu rimba melewati kebun-kebun kopi warga. Setelah melewati kebun warga kami tiba di hutan tropis dataran rendah. Gunung Tambora bukanlah gunung yang sangat tinggi. Ketinggiannya sekitar 2.850 meter di atas permukaan laut. Namun perjalanan akan cukup panjang karena diawali dari titik pendakian yang tidak terlalu tinggi, yaitu sekitar 600 meter di atas permukaan laut.

Kami beruntung karena pada saat itu Festival 200 Tahun Tambora baru saja berlalu, sehingga gunung tidak ramai dan tidak sepenuh saat Festival. Pos 1 adalah suatu tanah lapang yang cukup luas dan dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Tak jauh dari sana terdapat sumber mata air yang cukup besar. Karena tiba saat maghrib, maka kami punya waktu yang cukup lama untuk berdiam di Pos 1 hingga keberangkatan kami ke pos berikutnya di keesokan harinya. Dari sekitar 20 orang anggota grup kami, hanya ada 4 orang perempuan yang ikut. Oleh karenanya kami bilang bahwa ini lah saatnya para lelaki yang melakukan tugas-tugas “domestik” semacam memasak. Kami para perempuan mau leyehleyeh saja. Hahhaa.. Sayangnya, satu orang teman perempuan kami menderita sakit, sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian. Pagi-pagi sekali temanku ini diantarkan kembali ke kamp di Desa Pancasila.

Keesokan pagi kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur pendakian adalah jalur yang cukup terbuka, berupa tanjakan landai yang seakan tiada berujung. Jalur mendaki tanpa jeda ini ternyata cukup membuat lelah. Apalagi rutenya yang relatif lurus cukup menguji kekuatan hati yang didera perasaan bosan. Namun seperti biasa, dalam setiap pendakian kita selalu mengalami situasi ‘maju kena, mundur kena’. Artinya, mau lanjut terus kok rasanya gak sampai-sampai, mau kembali pun rasanya nanggung. Maka tak ada solusi lain selain maju terus.

Pos 2 terletak di ujung jalur menanjak landai tak berujung ini. Kami tiba sesaat sebelum tengah hari. Oh iya, hampir lupa, selama perjalanan ke Tambora ini hampir sepanjang waktu kami didera hujan. Kembali, sepatu yang baik –kuat dan tahan air– adalah item yang esensial. Selain itu tentu saja raincoat yang juga berkualitas, serta carrier dan cara packing pakaian yang baik sehingga pakaian kita tidak mudah basah. Anggota tubuh basah kuyup adalah the big NO buat saya. Rute dari Pos 2 menuju Pos 3 adalah rute menanjak melalui lebatnya hutan Tambora. Keuntungannya, air hujan tidak leluasa menghampiri kita karena terhalang oleh rindangnya pepohonan.

Sesampainya di Pos 3 hari sudah menjelang sore. Karena kondisi hujan yang cukup lebat kami mulai mendiskusikan apakah kami mau lanjut berjalan atau buka kamp dan menginap kembali di Pos 3. Kalau kami menginap, maka akan terlalu banyak waktu yang terbuang, namun melanjutkan berjalan dalam kondisi hujan lebat pun tidak terlalu mengenakkan dan bisa memperlambat jalan kita. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan berjalan. Tentu saja perlengkapan jalan malam seperti senter atau head lamp langsung dipersiapkan.

Perjalanan dari Pos 3 ke Pos 4 adalah perjalanan yang cukup menegangkan, bukan karena jalurnya yang terjal, atau kondisi hari yang sudah menjelang malam, tetapi karena jalur ini dikenal jalur yang penuh dengan tanaman jelutung (Girardina palmata). Jelutung atau jelatang adalah sejenis tanaman perdu dengan daun berbentuk menjari seperti daun pepaya dan memiliki duri di sekujur tubuhnya sampai ke batang. Jika kulit kita tersentuh bagian dari tanaman ini maka niscaya kita akan merasakan gatal yang menyengat. Oleh karenanya mengenakan pakaian yang rapat sangat disarankan. Namun untungnya di sepanjang jalur yang dipenuhi semak jelutung ini terdapat batang pohon besar yang roboh dan bisa dijadikan jalan, sehingga paling tidak semak jelutung tersebut tidak sampai menyentuh wajah kita. Selain itu, waktu tempuh dari Pos 3 ke Pos 4 tidak lah selama yang diperkirakan semula. Sekitar waktu maghrib kami telah tiba di Pos 4 dan segera menyiapkan kamp tempat kami bermalam. Dari Pos 4 ini lah kami akan bergerak menuju puncak Tambora menjelang dini hari nanti.

Malam hari kami habiskan dengan ngobrol dan bercanda bersama teman-teman satu grup. Bisa dikatakan grup kami adalah satu-satunya grup yang pada malam itu berada di kaki puncak Tambora. Gunung sebesar ini sepi, seakan kami miliki sendiri. Namun kesendirian grup kami tak lama berubah. Menjelang tengah malam ada 2 grup lagi yang datang dan bikin kamp berdekatan dengan kami. Namun jumlah anggota grup tersebut tidak sebesar kami.

Sekitar pukul 2 dini hari, kami pun bersiap menuju jalur ke puncak. Untungnya cuaca sangat cerah tanpa awan. Mungkin hujan sudah tercurahkan sepenuhnya di dua hari terakhir yang menemani terus sepanjang perjalanan kami dari bawah. Menurut teman-teman yang menemani, ada dua jalur menuju ke puncak. Kami mengambil jalur yang punya nama agak seram, yaitu jalur kuburan, karena kita akan melewati kuburan seseorang yang pertama kali membuka jalur pendakian ke Tambora.

Hampir semua orang dari grup kami adalah pendaki veteran. Mereka adalah anggota kelompok pecinta alam ketika masa kuliah. Dan hanya beberapa orang saja yang masih aktif mendaki gunung. Yang lainnya sudah lama pensiun. Sementara aku adalah pendaki pemula, yang baru mulai mendaki gunung di tahun 2011, dan langsung jatuh cinta pada gunung. Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani adalah dua gunung yang sudah kudaki dan menambah perasaan bangga di hati. Hihihii.. Dan Tambora segera akan menjadi tambahan di dalam daftar kebanggaan diri. :))

Menjelang fajar kami memasuki jalur dataran berpasir yang berada di pinggir kaldera Tambora. Kaldera Tambora adalah salah satu kaldera terluas yang ada di Indonesia. Diameternya 7 km dan kedalamannya sekitar 1 km. Dan sempat aku mengira bahwa kaldera ini lah puncak dari Tambora dan titik akhir pendakian. Ternyata, puncak Tambora bukan berada di sini. Kami haru melalui jalur berbatu dan mendaki terjal dari pinggir kaldera untuk menuju puncak. Dibandingkan Rinjani dan Kerinci, perjalanan ke puncak Tambora tidaklah terlalu sulit. Tidak ada pasir terjal yang membuat kaki kita terseret ke bawah setiap kali kita melangkah, jika kita tidak memiliki pijakan yang kuat.

Puncak Tambora, akhirnya! Matahari sudah naik ketika kami tiba di puncak Tambora. Kami cukup banyak menghabiskan waktu di sana. Istirahat, foto-foto, dan sibuk mengagumi pemandangan dari atap bumi ini. Akibat terlalu lama berada di puncak, kami tiba kembali di Pos 4 dengan cukup terlambat. Tak lama setelah makan siang, kami pun segera packing dan bersiap untuk pulang.

Perjalanan pulang kali ini memiliki cerita tersendiri. Sekitar jam 14:00 kami mulai bergerak dari Pos 4. Seorang teman kami, Mukri, menderita sakit pada malam sebelumnya sehingga dia tidak ikut ke puncak. Namun entah apa yang terjadi, pada perjalanan pulang ini dia bergerak dengan sangat cepat. Temanku yang lain, Yufik, melihat hal yang aneh ini lantas bergerak cepat pula dan berada tepat di belakangnya. Semula aku ingin menjadi sweeper yang berada di belakang, namun ternyata aku tidak terlalu sabar melihat pergerakan teman-teman yang lambat. Yah, karena mayoritas dari kami sudah lama tidak pernah lagi naik gunung, stamina menjadi sangat lemah. Belum lagi beberapa mengalami cedera kaki sehingga musti berjalan pelan-pelan. Maka aku memutuskan untuk berjalan di depan. Bersama dengan seorang guide yang kami ajak dari basecamp Desa Pancasila, aku berjalan cepat mengikuti langkah temanku Mukri dan Yufik.

Memasuki Pos 3 hujan kembali turun, kali ini sangat deras. Teman-temanku yang lain memilihi untuk menunggu hujan agak mereda sebelum melanjutkan pergerakan. Namun aku menimbang-nimbang, dengan pergerakan yang sangat lamban akibat cedera dan kondisi cuaca yang buruk, nampaknya kami tidak akan bisa menembus hingga pintu rimba malam ini. Skenario kedua, kami harus kembali menginap satu malam di salah satu Pos, dan kembali besok pagi. Aku merasa sudah tidak nyaman dengan kondisi baju yang mulai basah, dan sepatu yang mulai basah. Maka aku putuskan untuk mengikuti Tim yang di depan, Mukri dan Yufik, dan menetapkan hati untuk tiba di Desa Pancasila malam itu juga.

Menjelang Maghrib rombongan tim advance –saya, Yufik, Mukri, dan seorang guide, sudah sampai di Pos 1. Hari sudah mulai gelap, kami menimbang-nimbang kembali apakah akan terus jalan atau bermalam satu malam lagi di Pos 1. Rombongan yang kami tinggal di belakang sudah dapat dipastikan akan menginap satu malam lagi, mengingat kondisi yang sudah lemah dan banyak yang cedera kaki. Di tengah-tengah diskusi, tiba-tiba guide kami bilang bahwa dia mengetahui jalan pintas, yaitu jalur di luar jalur yang biasa dipakai pendaki, tapi terkadang dipakai oleh penduduk sekitar dan guide. Dia bilang, kalau kami berjalan dengan pace seperti tadi kami turun dari Pos 4, maka kami bisa tembus sampai pintu rimba dalam dua jam. Karena kondisi sepatu dan baju yang sudah basah ditembus hujan deras selama dalam perjalanan, aku sudah tidak bisa lagi bermalam. Yang aku inginkan adalah segera tiba di basecamp, bersih-bersih, ganti baju, dan tidur dalam keadaan kering.

Maka bergerak lah kami. Jalur ini jarang dilewati, sehingga guide kami harus sering menggunakan goloknya dan menerabas semak-semak atau ranting-ranting yang menghalangi jalur. Terus terang selama perjalanan di jalur ini aku merasa degdegan, apalagi guideku cukup sering berdehem di tempat-tempat tertentu. Aku agak paham maknanya –semacam kode minta ijin lewat kepada makhluk apapun yang ada disana, namun sungguh aku tidak berniat menanyakan atau membahasnya.

Setelah dua jam yang penuh dengan degupan cepat jantung –karena berjalan dengan cepat dan faktor lainnya, tiba lah kami di pintu rimba. Di situ sudah menunggu banyak supir ojek dan motor-motor trailnya. Tanpa ba-bi-bu langsung kami masing-masing loncat ke boncengan. Perjalanan dari pintu rimba ke basecamp dengan menggunakan ojek memakan waktu lebih kurang 15-20 menit (aku tidak menghitungnya, hanya yang kurasakan waktu tempuhnya cukup lama).

Alhamdulillah, akhirnya aku tiba di basecamp. Dan mengingat persediaan logistik teman-teman yang sudah menipis, maka segera aku minta dibuatkan nasi bungkus untuk dibawa oleh guide lainnya kepada teman-temanku yang masih di atas. Dua trip logistik kami kirimkan, yang satu di malam hari sekitar jam 10, dan yang kedua menjelang dini hari untuk mereka sarapan.

Oh iya, saat tiba di pintu rimba, guideku bilang bahwa aku termasuk perempuan yang kuat, “hanya” 6 jam waktu yang kuperlukan untuk turun dari Pos 4 hingga ke Pintu Rimba. Record, katanya! Satu lagi, ketika kutanya kepada Mukri kenapa dia berjalan begitu cepat tanpa henti, tanpa tedeng aling-aling, membuat kami tersengal-sengal mengikutinya, dia bilang, “Gue naik kuda, makanya cepat.” Hahahaa… Tambora, tak akan pernah aku lupa.

unsaved by the rain

  

It has been almost three months now most areas in Sumatera and half part of Kalimantan are blanketed by smoke and haze resulted from the burning of lands, especially on the peatlands.

The impacts are enormous. According to the National Disaster Response Agency (BNPB) 40 million people are exposed to the smoke and haze, and more than 400 thousand people are suffered from the acute respiratory infection (ISPA) according to the Ministry of Health. Hundreds of flights have been canceled, thousands of students can not enjoy proper education. The economic loss is predicted to reach 20 trillion rupiahs (approximately USD 2 billion).

For eighteen years now Indonesians have experienced smoke and haze that disrupt their daily lives and affect their livelihoods. And for those years lessons have not been learnt. Moral hazards and bad practices of natural resources extraction persist and unpunished, deep-rooting like cancer that eats up the body piece by piece.

For eighteen years the fires, smoke and haze have been treated as a given situation, and tackled in a responsive mode. If we are honest, none of those responsive mode of action could actually put off the fires in peatlands completely. All these years it has been ‘the hands of God’ that put off the fires once and for all –in the form of rains; heavy heavy rains. And we human forget easily. The bad practices are repeated year after year. And every time we have been ‘lucky’: we have been saved by nature. Nature actually teaches us, but we are too stupid and ignorant to learn. We forget that we can not push our luck.

And this year the most waited rain –heavy heavy rains, has not come yet. Parts of government and corporations –whose concession areas are located on the peatlands, are starting to put the blame on El Nino. Plantation concession holders said that they don’t burn their lands, and that it is burnt automatically because of the hot temperature, and that it is difficult to put off the fires in the peatlands. Yes it is indeed difficult to put off the fire once it happens on the now-naked-and-dried peatland forest! That is why the peatland forest –a wetland in its natural undisturbed condition, must not be clearcut at all in the first place!

Now it seems like nature teaches us harder. But greeds and moral hazards can not be dimmed easily. And unfortunately, the costs of the hard lesson from nature must be borne mostly by the parties that even have nothing to do with those behaviors –like children. Five children from different provinces have died –suffocated and failed to breathe, triggered by the smoke-haze exposures.

For eighteen years the state have done little, and even giving impunities to the perpetrators of the felony. For eighteen years the most fundamental rights of the citizen –human beings, to breathe in good and healthy air has been violated. For eighteen years the state has subsidized corporations –through policies and peoples money, to maintain their moral hazards.

Five casualties and millions of sufferers; Is it not enough? How many more lives it needs to open the eyes that have been blinded by the mantra of profit maximization? How many more lives it needs to make the ears that have been plugged by the whispers of economic growth myth really listen?

pictures are additional

Seperti sudah sering saya ungkapkan dalam blog ini, bahwa saya pada dasarnya adalah pembosan. Teperangkap dalam rutinitas bisa jadi mimpi buruk bagi saya. Namun di sisi lain, saya juga pada dasarnya adalah pemalas. Saya tidak akan melakukan sesuatu hingga level di-bela-belain jika sesuatu itu tidak menarik buat saya, atau jika saya tidak memiliki kepentingan atas sesuatu tersebut, atau jika sesuatu itu tidak menyangkut orang-orang terdekat saya. I will not move, even an inch. 

Seperti halnya jogging, travelling, dan foto-memoto, semuanya itu saya lakukan selain karena saya suka, tapi juga karena itu bisa melarikan diri saya dari urusan pikir memikir yang memang jadi pekerjaan saya. Don’t get me wrong, I love my job and not consider it as burden. Tapi untuk terus berpikir tanpa jeda juga akan membuat saya suntuk. Hence, saya merasa membutuhkan aktifitas-aktifitas semacam di atas sebagai penjeda.

Makanya, dalam jogging misalnya, walaupun saya suka, tapi saya belum sampai level bela-belain bangun subuh untuk pergi ke tempat race dan mengikuti lomba lari itu sampai finish –apalagi sampai menang! Gak terpikir sama sekali. Dan travelling juga demikian. Walaupun saya suka travelling, jalan-jalan, dan naik gunung, saya belum sampai pada level bela-belain bepergian sendirian ke tempat-tempat yang jauh. Bagi saya, yah, kalau ada waktu, ada dana, dan ada yang nemanin, saya pergi. Kalau nggak ada salah satunya, malas lah. Mendingan leyeh-leyeh di rumah. Bepergian sendirian –kecuali untuk urusan kerja– is a big no buat saya. Apa enaknya coba?

Nah, sekarang untuk urusan foto memoto yang memang saya akui sekarang ini sudah menjadi kebiasaan buat saya. Bukan hobby, tapi kebutuhan. Sehari pokoknya musti njepret at least satu foto. 

 

Dijepret saat saya sedang jogging bersama adik di GBK Senayan
 
Tapi lagi-lagi untuk urusan ini saya belum sampai level bela-belain belajar teknik fotografi. Terus terang saya malas mikir. Apperture, speed dan istilah-istilah fotografi lainnya lewat begitu saja dari kepala saya, nggak ada yang nyangkut sedikitpun, walaupun ada teman yang mengajari saya. 

 

Dijepret saat sedang menunggu bus di satu halte
 
Ada sih keinginan untuk pursuing ini secara lebih serius, terutama dikaitkan dengan studi akademik saya. Nanti, kalau saya berkepentingan dengan urusan studi, saya tau saya pasti akan bela-belain belajar fotografi. Tapi itu nanti, bukan sekarang.

Dalam aktifitas foto memoto ini saya tidak berniat menghasilkan foto dengan kualitas tertentu, atau tema tertentu, atau misi tertentu. Ya, apa yang saya lihat, saya temui, saya suka, dan hati serta pikiran saya clicked, ya saya foto. Bagaimana menampilkannya, dan akan disandingkan dengan apa –entah dengan cerita, entah dengan puisi, entah dengan apapun, ya itu hal lain lagi, tergantung mood dan ide yang muncul di kepala saja. Atau bahkan beberapa foto cuma tersimpan apik di hard disk tanpa saya beri perlakuan apapun. Suka-suka lah pokoknya.

 

Dijepret saat sedang berjalan menuju gerbong kereta, dalam perjalanan pulang
 
Makanya, kalau diajak teman untuk hunting foto, saya merasa kurang sreg. Saya nggak mau dibebani misi berburu seuatu, atau berpikir bagaimana menemukan sesuatu. Wong aktifitas ini untuk melarikan diri dari urusan pikir memikir kok. Dan makanya pula, foto-foto yang saya hasilkan dan saya tampilkan di media sosial pun hampir semuanya candid dan tidak direncanakan atau diatur-atur. Foto-foto itu saya ambil pas ketika saya naik kereta atau bus menuju kantor, sedang dalam perjalanan ke tempat tertentu, lewat daerah tertentu, atau pas lagi pergi makan-makan sama keluarga –misalnya. Memang untuk memungkinkan hal itu saya selalu membawa kamera, ya paling tidak kamera dari iphone.. hahhaa.. Dan sejak saya mulai senang dengan kamera analog, ke mana-mana saya membawa kamera analog tersebut, yang memang ukurannya kecil, nggak bulky, gak macem-macem dan gampang dibawa ke mana-mana.

 

Dijepret dari dalam mobil, saat sedang macet di satu jalan di Jakarta
 
Demikianlah perilaku amatiran saya ini, melakukan apa yang saya senangi, dengan cara yang saya senangi, pada waktu yang saya senangi –dan kadang tanpa tujuan sama sekali.

 

Dijepret saat habis makan siang bersama keluarga, di depan restoran
  
Dijepret sesaat setelah turun dari kereta, dalam perjalanan ke kantor
  
Dijepret saat menuju ATM di dekat kantor, menggunakan kamera analog
  
Dijepret dari dalam pesawat, sesaat sebelum taxiing, menggunakan kamera analog
  
Dijepret saat berjalan di jembatan penyeberangan, dalam perjalanan menuju lokasi pertemuan/meeting
  
Dijepret saat sedang window-shopping dengan teman, di satu mal di Jakarta
 
 

my running diary: first 5k in 30 minutes

  
As an on/off runner I have nothing to be proud of. Since i start running more regularly in 2013 I always missed my target on the time planned. for example, I missed the target to reach my first 10k on time, although I finally reached it long time after. Thanks to my running buddies who accompany me in Senayan at that time. 

One of my long-pending targets was to reach the 5k within 30 minutes. It means I have to be able to run as fast as 6 minutes per kilometer (or runners usually say it as “pace 6”). Concerning my average pace had never moved from 8 or 7 and my on/off running habit, reaching the 5/30 seemed quite impossible for me –hence I forgot it.

Because of Ramadhan, I stopped doing the run this year during the fasting month–although last year the fasting did not stop me. But after Idul Fitri, I felt my muscles and body craved for some exercises. It is true what people say that exercises make you addicted. So, last Sunday, together with some friends from college time I did my first run after Id. I could only reached 2k that morning. Well, everything needs adjustments after hibernating for some time, including our body.

Like before, after running I felt refreshed, so I made promise to myself that I will be more committed this time. So last night, again I did my evening run. A friend from the office accompanied me. I infected him to start running, by the way. Hehehee.

So we run. He stopped after 10 rounds of the 400 meter track. I continued. I have said to myself that I won’t stop until 5k –it means at least 13 rounds. After finishing the run, I checked my running mobileapplication, and there it showed that I did 5/30!! And the last night’s run also set a new record as my fastest pace ever!

Pheww! I am so happy! 😄😄😄

261k and keep going

It has been a year now since I started running regularly. Well I wanted it to be an everyday run, but unfortunately because of my busy schedule (uhuk..) that required me to go out of the city, and my chronic laziness, that ‘regularly’ has become not so regularly.

IMG_7136-0.JPG

So far I have run as far as 261.6 km! Yes! And I think it’s not that bad, is it? This morning I finished a 10k –although it was done in a very slow pace. Well It has been a month now since the last time I run, so I don’t want to hurt my feet. Besides, I have just come back from travel that made me sit for 20 hours –one way! Poor my back and my feet, so I need to stretch them out a little bit.

I love running, because it clears my mind, makes me calm, not to think about anything but my step. It is a kind of meditation for me. The sore in the angkle or the leg doesn’t matter, it is part of the experience.

I am not really fond of joining the fun-run competition, as I found it difficult to really run, and just too much efforts to do.. (for example, waking up very early and going to the race place.. eugh!) Hahaaha.. Yes, I am pathetic lazy b*tch! 😜

But, as I plan to go hiking again by the end of this year and need to maintain my health and body strength –so I will not become a burden for someone else, I need to keep my spirit high and drag myself out of my comfy bed for running more often. Besides, I have targetted myself to join and finish a full marathon some time next year. Aamiin.

By the way, currently I am reading an unusual book of Hiraki Murakami’s “What I Talk About When I Talk About Running”. I didn’t know that he is a runner. So when I saw the book at Strand Bookstore, Manhattan, I just grabbed and bought it. Knowing the real side of the authors is one of my interests, understanding their background, how they grew up etc can help me understand their writings, or why they chose a theme for their book, for example. And Murakami’s book makes me smile all the time as I feel quite the same as him, as runner –although I am not that good runner compared to him. But somehow I can relate.

Anyway..

IMG_7137-2.JPG