gunung gede, part-3

Menjelang sore, sampailah rombongan kami ke Alun-alun Suryakencana — aku dan Mbak Sandra menjadi yang terakhir tiba. Alun-alun Suryakencana adalah sebuah lapangan datar yang luas yang berada di ketinggian 2.750 di atas permukaan laut (dpl). Penampakan fisik lapangan ini adalah padang rumput dan padang tanaman Edelweiss (Anaphalis javanica). Sayangnya pada saat kami kesana bunga-bunga Edelwiess belum bermekaran sehingga hanya terlihat rumpunan pohon Edelweiss bertebaran dimana-mana. Kata para senior pendaki, dulu rimbunan Edelweiss jauh lebih banyak. Pun, membelah alun-laun tersebut adalah aliran sungai yang saat ini sudah kering. Menurut cerita teman-teman seperjalananku, dulu mereka bahkan bisa mandi-mandi di sungai tersebut. Namun sekarang setitik pun tak ada air mengalir di ex-sungai tersebut. Menyedihkan.

Setelah sejenak beristirahat dan berfoto-foto, kami segera bergerak ke lokasi dimana tenda kami akan didirikan. So, malam ini kami akan bermalam di alun-alun ini! Yeeeiiiyyyy!!!!

Ketika kami mulai bergerak hujan pun mulai turun, tidak lebat, tapi cukup efektif untuk memanggil kabut. Kami berjalan cukup jauh di tengah kabut dan baru lah kusadari bahwa alun-alun ini besaaaaar adanya. Menurut infromasi yang kuperoleh dari hasil googling, luasnya kurang lebih 50 hektar.

Setelah berjalan beberapa saat, tibalah kami di pojokan tempat dimana tenda-tenda rombongan kami didirikan. Letaknya cukup terlindung, berada di balik pepohonan sehingga tidak akan terlalu terkena terpaan angin malam yang menggigilkan. Sayangnya malam itu hujan turun dengan derasnya. Sepanjang malam kami hanya berdiam di dalam tenda. Untuk bergerak ke tenda makan dan menyantap makan malam pun malas rasanya, karena dingin dan basah. Sementara di dalam tenda kami sudah bergelung di dalam slepping bag setelah berganti pakaian dengan yang tebal dan hangat.

Saking lelahnya rasanya aku ingin langsung tidur saja. Walaupun kondisinya tidak terlalu nyaman — dibandingkan dengan tempat tidurnu di rumah (ya iyaa laah, c’mon deh!). Pengalaman tidur beralasnkan tanah di dataran yang tidak rata benar-benar sesuatu buatku. Aku ingat terakhir kali camping dan tidur di tenda adalah ketika aku SD dan ikut camping pramuka dalam acara persami — perkemahan Sabtu-Minggu!

Sekitar jam 04.00 pagi aku terbangun oleh seruan,”Gorengan, gorengan… Nasi uduk, nasi uduk..” Sejenak aku mencoba menyadarkan diri — apakah aku bermimpi? Apakah aku benar-benar berada di gunung? di ketinggian 2.750 meter dpl..? Karena di luar masih terlalu gelap, aku lanjutkan tidur ayamku sejenak dan mengurungkan niatku untuk mencari tahu ke luar. Ngeri juga, jangan-jangan itu demit atau makhluk jadi-jadian.

Ketika di luar sudah agak terang dan sudah kudengar suara-suara temanku dari tenda sebelah, aku pun keluar dari tenda untuk menghirup udara segar. Kukenakan sandal jepitku dan kulihat sudah ada Kak Lily dan Kak Ida. Kak Ida memegang bungkusan di tangannya: gorengan! Ho..ho..ho..jadi benar yang kudengar subuh tadi adalah memang mamang-mamang penjual gorengan dari desa-desa di kaki gunung ini. Mereka tidak hanya menjual gorengan dan nasi uduk, tapi juga kopi, minuman kesegaran, dan lain-lain. Hahhaahaa, dahsyat!

Sambil menunggu sarapan disiapkan, kami pun berjalan-jalan di seputar alun-alun Surya Kencana. Menikmati pemandangan Gunung Gede yang akan kami daki menuju puncaknya pagi ini, mengambil air di mata air yang sangat kecil alirannya — dan kotor lingkungan sekitarnya. Susngguh sayang sekali! Masih banyak di antara pengunjung gunung ini yang bukan benar-benar pecinta alam. Sampah berserakan. Belum lagi buangan biologis manusia bertebaran di sela-sela pohon. Euughh..!

Walaup demikian, kami tetap happy dan ceria. Lihatlah di bawah ini. Apalagi untuk beberapa saat Puncak G. Gede bersih tak tertutup awan. Jadilah kami berfot-foto dengan senangya.

Setelah sarapan, kami pun packing kembali. Bersiap-siap menuju puncak!

Pendakian ini pun dimulai. Dan ini benar-benar terjal. Namun pemandangan sepanjang pendakian pun tak kalah amazing-nya! It is all just worth it. Sepanjang pendakian ini Bang Martua berperan sebagai dosen yang menjelaskan jenis-jenis tanaman dan ekosistem hutan. Tak lupa ia menceritakan pengalamannya ketika masih bermukim di dalam hutan di Kalimantan Timur sana.

Setalah kira-kira 2 jam mendaki, sampailah kami di puncak Gunung Gede. Hoorrreeeee…! Akhirnyaaaa!! Campur aduk rasanya hatiku: senang, bangga (bangga pada diri sendiri, bisa juga lo.. gitu kata hatiku), dan juga terharu (biasa, gue kan suka mello orangnya). Di puncak, kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk mbak Sandra (unique way to celebrate birthday!). Dan tak lupa foto memoto juga dilakukan. Foto grup, foto sendiri-sendiri, foto gaya, dan lain-lain.

Puas sekali rasanya! Mendaki gunung adalah satu kegiatan yang menurutku harus dilakukan setiap orang, at least once in their life time. Banyak sekali manfaatnya, bukan hanya menggerakkan kembali otot-otot tubuh kita, tapi yang paling kurasakan bermanfaat adalah kalibrasi pikiran, perasaan dan emosi kita. Menyatu dengan alam membuat pikiran kita lebih jernih, dan ada kepasrahan yang luar biasa pada kuasa Tuhan Yang Maha Segala.

gunung gede, part-1

20111228-154914.jpg

Baiklah, sekarang aku akan memenuhi janji menceritakan pengalamanku mendaki Gunung Gede. Sudah lama sebenarnya keinginan menuliskan pengalaman ini tetapi selau tertunda akibat campuran kesibukan, kemalasan dan kelupaan. So, here we go…

Semuanya berawal dari ajakan seorang temanku, Mbak Sandra, yang tiba-tiba mengirimkan message di inbox Facebook mengajak aku dan dua orang teman lainnya untuk mendaki Gunung Gede. Dua orang temanku menolak karena mereka sudah ada kegiatan lain pada hari yang sama, sementara aku langsung menyambut baik ajakan itu. Beberapa alasan yang mendasari sambutan baikku itu, pertama, pikiranku lagi suntuk banget, so suatu pengalih perhatian menjadi sesuatu yang exiting buatku. Kedua, aku memang sudah lama ingin mencoba mendaki gunung yang sesungguhnya, bukan hanya sekedari piknik dan jalan-jalan, tapi benar-benar mendaki dan camping di atas gunung sana. Ketiga, waktuku sedang lowong. Sudah sering aku merencanakan perjalanan bersama teman-temanku namun selalu tidak kejadian akibat berbagai halangan waktu. Seperti orang banyak bilang, sesuatu yang tidak direncanakan malah sering kejadian dibandingkan dengan sesuatu yang telah direncanakan dengan matang. Segeralah aku mendaftar pada teman Mbak Sandra yang menjadi organizer dari pendakian ini, Joan. Itu satu minggu sebelum keberangkatan yang direncanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Oktober 2011.

Eh, ndilalah ndilalah, tiba-tiba muncul urusan pekerjaan yang tidak memungkinkan aku untuk pergi pada tanggal tersebut. Dengan berat hati aku batalkan keikutsertaanku, sambil merutuk dalam hati ‘gagal maning, gagal maning!!’. Tapi orang bilang kalau tidak jodoh kemana-mana, tapi kalau jodoh nggak kemana-mana, beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Mbak Sandra dan temannya, Mbak Ida di suatu acara. Dan yang terjadi terjadilah. Mbak Sandra dengan sepenuh hati membujukku untuk mendaftar kembali dan bilang, “…kalau kerjaan aja sih akan selalu ada yaa…”. Hmmmm…she has the point. So dengan sedikit keahlian dalam pendelegasian (hehehhee…) dan pengelolaan waktu, jadilah kuputuskan untuk kembali mendaftar. Yeaaayyyy!!!

But, thhe devil is always in the detail. Bilang ikut mendaki adalah satu hal, tapi mempersiapkannya adalah hal lain. Mulailah aku berpikir, peralatan mendaki apa yang aku punya? Carrier? ada, tapi entah dimana keberadaannya. Sepatu mendaki? Nope. Sleeping bag? errrr…gak punya. Matras? ooh perlu ya? (nanya balik). Satu-satunya barang outdoor yang aku punya ya jaket dan celana panjang cepat-kering. Mulailah aku mengontak kawanku si Mai yang berhobby mendaki untuk meminjam sepatu gunungnya. Oke, dia bilang “Ambil aja di kantor gue hari Jumat ya!”

So the plan was, hari Jumat malam, rombongan akan berangkat ke Cibodas dari terminal bus Kampung Rambutan. Bermalam di satu warung di Cibodas dan hari Sabtu pagi sekali berangkat ke jalur pendakian. Alright. Jumat sore bergegas aku kantor temanku untuk mengambil sepatu gunung. Tak disangka tak diduga, si sepatu tidak ada disana. Aku telpon temanku, dan dia bilang lupa. Oh nooo! Singkat kata, aku putuskan untuk segera pergi ke toko outdoor dan membeli sepatu gunung baru! Tapi itu berarti aku akan sangat terlambat sampai di terminal bus. Akhirnya kuhubungi Joan dan bilang bahwa aku akan menyusul ke Cibodas besok sebelum subuh diantar oleh adikku. By the way, pada saat aku menelpon Joan aku belum tahu apakah adikku akan pulang ke rumah malam ini. Well, kubilang dalam hati ‘que sera sera’. Setelahnya, segera kutelpon adikku dan memaksanya untuk mengantarkan aku ke Cibodas besok pagi-pagi. Dan dia mengiyakan! Alhamdulillaah.